Pengisi yang Kosong

Baru saja aku berniat untuk tersenyum (paksa), namun menjadi urung ketika sebuah belaian mengusap punggungku. Aku memang sensitif. Saking sensitifnya, sebuah sentuhan saja bisa membuat aku rentan. Seperti saat ini.Seakan itu menjadi titik kelemahanku di saat-saat terendah. Anehnya, Nisa, teman dekatku, selalu tahu titik itu, juga kapan saat terendah itu. Salahku sendiri, mengapa tak bisa menyembunyikan raut wajah.
Nisa diam mendengarkanku yang tak berhenti berceloteh ditengah derai air mata. Masalah finansial selalu sukses membuatku menjadi lemah, meski terkadang hanya di awal, sesudahnya ya aku bangkit. Memang begitu seharusnya, mengapa kita harus mau lama-lama terkekang dalam ketidakberdayaan? Kalau kenyataannya kita memang tak mampu, maka kita harus menjadi mampu. Orang lumpuh sekali pun, tak mungkin terus meratapi nasibnya dengan diam, tak bergerak, tak berjalan, dan menunggu ajal tiba. Maka sesungguhnya setiap manusia itu lumpuh! Yang membedakan hanyalah mau sejauh mana ia mencoba berjalan atau mungkin berlari, atau bahkan memilih diam di tempat sekali pun.
Hanya saja, detik ini, aku belum siap untuk bangun. Aku merasa tak punya tongkat untuk bangun. Sendiri. Aku benar-benar tak tahu harus bersikap apa dan bagaimana kedepannya. Setidaknya, biar hanya aku yang tahu masalah ini, kelemahanku ini, kekuranganku ini. Aku masih terisak. Hingga kalimat itu terdengar,
“Tenang, Sis. Elo masih punya gue,”
Ya, aku lupa, ada Nisa disebelahku. Teman yang selama ini bersedia berkali-kali disusahkan olehku. Seperti tak tega harus menyusahkan orang yang sudah sangat baik mau menerima kita apa adanya.
Bikun pun datang. Keseka wajah lusuhku yang masih lembab air mata. Nisa merangkulku untuk bangun. Tentu saja kusambut ajakannya dengan senyum (lagi-lagi senyum paksa). Kujatuhkan tanganku yang sejak tadi memenuhi saku yang kosong, lalu menyambut lengan Nisa. Kuusahakan untuk tersenyum saat meendekap genggamannya dengan jemariku yang seharusnya saat ini menggenggam uang, sambil berdoa dalam hati,
semoga besok, gue bisa makan.
amin.
“If you know that you are nothing, so you have to become something”
.al inayah fathin diin