Jawaban

Sore itu kulihat Gea sedang terduduk lemah di pinggir tempat tidurnya. Berkali-kali menengok layar handphone-nya, lalu tak lama menangis. Beberapa kali, ia menyebutkan namaku. Sempat aku memerhatikannya menelpon beberapa orang yang tidak bisa tersambung, baru pada nomor yang terakhir, panggilan itu terjawab. Dari berdiri mondar-mandir kesana-kemari, lalu terduduk lemah lagi, membanting tubuhnya yang sekejap nampak hilang tenaga. Setelahnya, Gea menangis lagi. Mungkin tak seharusnya aku senang, tapi aku tidak menyangka, bahwa Gea bisa sebegitunya merasa kehilangan tentang aku.
Sudah kurang lebih satu jam, Gea menangis, berteriak, sesekali histeris. Mamanya yang baik hati itu berusaha menenangkannya sudah berkali-kali. Aku tak suka bagian ini. Geaku yang murah senyum, sekarang tidak lagi. Senyum yang mempercantik wajahnya setiap hari. Senyum yang selalu kunanti saat bertemu dan menyapanya. Sudah lenyap. Aku telah membuatnya menangis separah ini. Merasa bersalah, sudah pasti. Aku tak mau mendekat dan membuatnya lebih terluka lagi.
Gea kemudian menengok foto kami saat SMA dulu, menyentuh tepat pada wajahku, lalu menangis lagi. Kurasa ia sudah kelewatan karena terlalu banyak menangis. Aku tak pantas untuk ditangisi sesedu-sedan itu. Maka kuberanikan diri untuk mendekatinya. Dekat sekali. Aku duduk di sebelah kursi-meja belajarnya. Benar-benar dekat.
“Dil, kenapa lo cepet banget ninggalin gue? Kenapa?”
Baru satu kalimat, kemudian ia menangis lagi. Mengusap air mata yang deras. Mencari nafas untuk kembali bertanya.
Mbak Gea, ini yang terbaik buat gue. Elo tau kan kenapa? Gue nggak mau orang tua gue berbohong untuk yang lebih lama lagi, juga elo.
“Gue minta maaf, Dhil. Udah nyembunyiin semuanya. Gue nggak pernah bilang kalo lo itu mengidap penyakit serius dengan pembuluh darah lo. Gue nggak mau lo tau, gue nggak mau lo berubah. Begitu juga dengan orang tua lo,” 

Mbak Ge, kenapa harus minta maaf? Toh semua terbongkar dengan sendirinya. Meskipun agak terlambat, setelah gue kaku dan nggak bisa bergerak lagi.
“Elo orang yang hebat, Dhil. Elo bisa sejauh dan sekuat ini. Aktif PASKIB. Gue bangga sama lo! Elo mesti tau itu!”

Gue tau kalo lo bangga sama gue, tapi gue nggak tau kalo gue sehebat itu. Yang gue tau, gue itu lemah banget, Mbak Ge. Elo lupa waktu MOS, siapa yang sering pingsan pas bari-berbaris? Nggak nyangka itu jadi pemacu gue sampai bisa jadi anak PASKIB. Ha…ha…
“Dhil, Gue pengen banget ketemu sama lo. Gue kangen! Gue pengen ketemu!!”
Gea berteriak, meronta, masih dalam keadaan berhujan air mata.
Kalimatnya itu, membuat aku berani menyentuh Gea. Membelai rambutnya perlahan, berharap air matanya kan berhenti menetes. Maka ia bisa tersenyum lagi.
Kita kan udah ketemu sekarang, Mbak Ge, aku tersenyum padanya, yang masih menangis. Tersedu. Ah, bodoh! Sekarang mana bisa dia melihatku! Percuma berarti sejak tadi aku ngomong! Ya sudahlah, kumohon Mbak Ge, berhentilah menangis. Aku sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi kok. Waktunya tidur. Ijinkan aku istirahat yang tenang ya?
“Life? Life? It’s Death that makes life worth living for.”
Aaron Howard

This story is dedicated to my best, Annisa Aulia Jasmy.  

Ternyata

“Vit, Mbak pulang dulu ya?” Mbak Endah telah siap dengan tas tangan dan sebuah tas jinjing di lengan kirinya.
“Loh, kok nggak bilang-bilang? Bareng, Mbak!” aku tersontak, langsung melepas padanganku dari tumpukan kartu elektronik di layar monitor. Main games di komputer kadang menjadi pilihan terakhir untuk mengisi waktu kosong setelah bekerja seharian.
“Sudahlah, Vit. Nggak usah nggak enakan begitu. Aku nggak apa-apa kok pulang sendiri,”
“Maksudnya?”
“Kalau malam ini kamu mau pulang bareng Alvi lagi, nggak apa-apa kok,” lirik Mbak Endah pada cowok di meja seberang yang masih sibuk membenahi tumpukkan dokumen.
“Mbak, sudah kubilang, aku sama dia nggak ada apa-apa. Kemarin aku bareng dia karena ditemenin ngirim paket aja!” nadaku naik satu oktaf.
“Vit, ada apa-apa juga nggak apa-apa kok. Alvi kan single,” kedua mata mbak Endah mengerjap beberapa kali dengan kilat, menggoda. Aku hanya bisa menghela nafas berat.
“Aku nggak tahu harus ngomong gimana lagi biar Mbak percaya,”
“Tapi, Vit, kamu suka kan sama dia?”
“Nggak, Mbak! Kepikiran aja nggak pernah! Sumpah deh, aku nggak punya perasaan apa-apa sama Alvi,”
“Ha..ha..eh, aku pulang duluan ya? Vi, titip Vita ya!” teriak mbak Endah.
“Oh iya, Mbak!” Alvi menyahut tersenyum.
Sekeluarnya dari parkiran motor, Alvi memanggilku sambil tetap berfokus pada kendali motornya.
“Apa, Vi?” aku membuka kaca helm dan mencoba memenangkan suara Alvi dari terpa angin malam yang bising.
“Mbak Endah hebat ya?”
“Maksud lo?”
“Iya, dia senyum terus. Kayak nggak pernah ada masalah,”
“…..”
“Enak diliatnya. Bikin semangat,”
Mulutku tak bisa menjawab apapun atas kalimat itu. Hatiku yang panas. Detik itu refleks aku menepuk dahi dengan kencang. Rasa ini. Aku……cemburu.
Iris Murdoch

Putus

Sudah seharian ini Tifa menangisi pacarnya yang mulai hari ini resmi jadi ex.
“kenapa kamu tidak berhenti menangis? Katanya kamu tidak mencintainya lagi?”
“memang tidak,”
“jadi? Karena kamu tidak suka dia sudah bersama yang lain?”
“bukan begitu. Itu haknya,”
“atau kamu merasa tidak pantas disamakan dengan gadis itu?”
“bukan juga, aku tidak perduli dengan gadis itu,”
“kalau begitu jangan menangis lagi, cari pacar baru!”
“justru itu…”
“ng?”
“apa ada lagi laki-laki yang mau denganku?”
“…”

“Pain is inevitable. Suffering is optional” 

About Me


Nayadini.

 

Biasa dipanggil Naya, sedangkan Dini adalah nama kecilnya. Memiliki darah seni yang entah diturunkan oleh siapa karena tak satupun di keluarganya yang merupakan seniman. Menyukai musik indie khususnya pada genre rock atau folk. Sering kali menghabiskan waktu dengan bermain bersama Guitarlele dan Ukulele, keduanya adalah hadiah pemberian orang-orang di sekelilingnya. Juga senang melukis dari mulai sketsa realis dengan pensil di buku gambar, lukisan akrilik di kanvas, hingga catatan kuliah di buku sketsa karena ia tidak suka kertas bergaris.

Ia juga merasa diberkahi dengan kata-kata, maka ia menulis. Ia gemar menulis perjalanan yang dilakukannya karena ia memiliki passion bertualang dan bermain dengan resiko. Dulunya penyuka pantai dan lautan, lama-lama kecanduan main di hutan dan puncak pegunungan. Senang juga menjelajah kota untuk wisata sejarah dan kuliner. Ke mana saja yang penting melangkah dan belajar lebih banyak lagi! Selain itu, juga hobi bertualang ke coffee shop atau cafe yang nyaman untuk menulis. Sebagai balas budi karena telah memberikannya kesempatan dan gairah untuk menulis, biasanya ia akan menulis review tentang tempat nongkrong tersebut yang menurutnya worth-to-visit, bisa dicek di kategori Lifestyle. Namun di luar itu,ia juga menulis untuk sejumlah media dengan beragam kategori.

Sebagai seorang muslimah ia selalu ingin menginspirasi perempuan lain dengan hijabnya. Apalagi kini semakin banyak perempuan berhijab yang berprestasi dalam bidang berbeda-beda. Ia pun gemar memberikan tips dan trik seputar hijab kepada perempuan lainnya, khususnya mengaitkan mode dengan kegiatan outdoor seperti yang ia lakukan.

Kontak ia melalui email nayadini@icloud.com atau melalui berbagai jejaring sosial dengan ID @nayadini.

Salam,
The Hijabtraveller 🙂

Berikut ini merupakan tulisan-tulisan karyanya yang dipublikasikan di sejumlah media cetak maupun online:

 

Fashion

 

Health Advertisement

Icon Interview

 

Makeup Advertisement

 

Makeup Advertisement

 

Beauty

 

Business

 

Home & Decor (1 & 2 out of 6 pages)

 

Home & Decor (Interview)

 

Travel

 

Icon Interview (1 & 2 out of 7 pages)

Fashion & Environment

 

Lifestyle

 

Tokoh

 

Tokoh

and many more