Kangen

Piip piip!
Sms alert dari HP-ku tiba-tiba berbunyi. Kali ini masuk sebuah pesan yang tak pernah kuduga. Ini SMS terbaru darinya setelah hampir setengah tahun tidak pernah menghubungi. Pertanyaannya klise. Berusaha membuat SMS itu menjadi penting. Aku tahu, sebenarnya dia kangen. Kalau aku boleh ge-er sedikit.
Sudah kutanya jujur padanya, apakah ia rindu. Tapi ia tidak mau mengaku. Habis tumben sekali dia tiba-tiba mengirim SMS setelah sekian lama. Dasar mantan gadisku itu, tetap saja bilang tidak dan sifat keras kepalanya tak berubah. Jadian dua tahun sudah membuat aku mengenalnya terlalu jauh. Sudah terlihat sekali dari cara ia mengirim pesan, dari isi pesannya, bahkan dari cara bagaimana ia memanggilku. Ya, kami dulu punya panggilan khusus. Dan ia punya panggilan khusus kalau lagi sebal padaku. Malam ini, ia tidak begitu. Itu namanya kangen, bukan?
Fera masih tak mengaku kalau dia kangen. Memang dasar akunya usil, kali ini kucoba untuk tidak membalas sms terakhirnya. Benar kan, dalam hitungan menit, ia misscall dan mengirim pesan bertanya kenapa tidak dibalas. Terbukti. Dia kangen.
“Kalau kangen, jangan gengsi,” akhirnya aku membalasnya dan berani berkata begitu. Ajaib. Kali ini dia yang tidak membalas pesanku. Mungkin ia memang sedang butuh perhatian. Baru aku ingin menelponnya, sedetik kemudian ada pesan masuk.
“I do miss you!” SMS itu datang dari nomor yang tidak dikenal. Sejenak aku tertawa geli membacanya. Fera, oh Fera, mengapa harus pura-pura menjadi orang lain segala? Aku mengenali cara kamu menulis pesan. Saat kutanya ke orangnya, ia tidak mengaku bahwa pernah mengirim pesan itu dengan nomor lain. Fera, padahal aku juga merasakan hal yang sama saat ini!
“Missing is a part of Love. So never miss someone who’s missing you,”

Me

Malam Kami

Menikah mungkin adalah hal yang didambakan setiap orang. terkadang aku bingung, apa yang mereka harapkan dari sebuah pernikahan. Aku pribadi, membutuhkan pasangan hidup, tapi entah kenapa aku takut dengan sebuah kata pernikahan. Dan ketakutan ini tak pantas untuk menghalangi pernikahanku. Cepat atau lambat, pernikahan itu harus dilaksanakan. Sampai akhirnya benar-benar terlaksana. Dan ini adalah hari kelima aku sah menjadi seorang istri. Namun belum sehari pun aku “berbakti” kepadanya.
Suamiku mungkin tidak sepenuhnya manusia, tetapi setengah malaikat. Dia begitu penyabar dan pengertian. Tak pernah sekali pun ia memaksa untuk melakukan “itu”. Padahal ia sudah menguras kocek untuk honeymoon di bali selama tiga hari. Tapi tak ada yang kami lakukan selama di hotel. Aku takut, malu mungkin lebih tepatnya. Ah tapi sungguh aku takut.
Malam pertama setelah pesta pernikahan, suamiku, Jay, langsung membawaku ke Bandara. Pesta pernikahan kami tidak terlalu meriah. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat yang datang. Bahkan teman sekolah kami saja tidak. Kami sengaja menamakannya sebagai syukuran. Sehingga pestanya pun berlangsung hanya 5 jam, hingga pukul tiga sore. Ya, kami tak punya banyak waktu karena masing-masing kami adalah seorang pekarya di perusahan orang. Bos hanya memberikan waktu tiga hari untuk cuti honeymoon di Bali.
Sesampainya di Bali, hari sudah malam. Jay begitu memahamiku yang lelah, maka malam itu kami pergi tidur. Tidur saja, ini pertama kalinya untukku tidur seranjang dengannya. Dan hanya tidur.

***

Malam kedua, aku cemas kembali. Takut. Ini malam terakhir kami di Bali. untuk beberapa jam aku duduk di dalam kamar mandi dengan alasan mandi. Ya, mungkin hampir tiga jam aku mengeram di dalam. Berharap Jay telah tertidur saat aku keluar. Sayangnya, Jay masih duduk tegap di depan laptop dan terlihat jelas bahwa ia sedang…..menungguku. Aku salah tingkah. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku berpakaian lengkap seutuhya. Masih dengan kerudung yang kukenakan. Ya, bahkan rambutku seperti apa saja masih menjadi misteri bagi Jay. Oke, aku memang jahat. Tapi aku takut!
Aku duduk di sisi ranjang, pura-pura membereskan pakaian kotor dan mengemasnya ke dalam koper. Jay menghampiriku dari belakang. Suaranya dekat sekali. Tepat di telingaku ia berbicara.
“Sayang, ‘itu’ yuk?”
Deg!
Degup jantungku seperti meloncat. Tiba-tiba tubuhku panas. Bagaimana ini, aku belum siap! Ilmu yang diajarkan ibu dan mbak Re seperti tidak sama sekali tidak bekerja. Panik.
“Maaf ya, Mas. Aku haid,” aku berusaha memenangkan ajakannya. Ketika itu wajahnya berkerut, alisnya bertaut.
“Loh, kok bisa? Bukannya kamu haid di akhir bulan? Karena itu kan kita memilih menikah di awal bulan?”
Oh, tidak! Habislah diriku!
“Iya, mungkin ini karena aku terlalu capek. Maaf ya, Sayang?” Baik, aku telah berbohong di awal pernikahan ini. Istri macam apa aku?
“Ya sudah, kamu tidur ya, ‘itu’ bisa kapan-kapan. Yang penting kamu jangan sakit,” Jay menatap kedua mata ini lalu mengecup dahiku. Tak lama kemudian ia menarik selimut dan tidur membelakangiku. Tanpa maksud marah sedikit pun. Ya, aku mulai mengenali cara tidurnya, posisi miring.
Maafin aku, Mas. Aku belum siap. Aku takut.
***

Malam ketiga, sekembalinya kami dari Bali, Jay lagi-lagi tak menuntutku karena kami tiba di rumah sudah sangat larut sekali. Aku bersyukur. Namun, agak sedih, besok kami sudah harus pergi kerja. Sedangkan kami belum melakukan apapun. Ini semua salahku.

***
Malam selanjutnya, Jay tumben-tumbenan sampai lebih dulu di rumah. Seharusnya ia baru pulang kerja jam 7 malam. Ya, mungkin ia memang sengaja mempersiapkan untuk ‘itu’. Tapi kenyataannya malah aku yang lembur. baru sampai pukul 9 malam.
“Yang, malam ini bisa kan?” tiba-tiba Jay melingkarkan tangannya di pinggangku saat aku berusaha membuka blazer. Kepalanya bersandar di bahuku. Suaranya lembut, manja. Ia hanya mengenakan sebuah handuk baju yang masih sedikit lembab. Aroma tubuh ini, Vanilla, favoritku. Rupanya ia memang mempersiapkan malam ini begitu matang.
“Maaf, Sayang, aku capek banget abis ngurusin kantor tutup buku. Jangan malam ini ya?”
Aku melirik wajah Jay yang terpantul di cermin. Kecewa. Aku tahu itu berarti kecewa. tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung keluar kamar dan tidak kembali sampai pagi. Pasti ia tidur di ruang tamu. Jahatnya aku!
***
Dan sekarang adalah malam kelima. Aku ijin kepada bos untuk pulang lebih awal. Ini masih jam 5. Lebih cepat sejam dari yang seharusnya. Aku hanya ingin menebus semua kesalahanku. Setidaknya, aku sudah dapat pencerahan yaitu keberanian setelah aku berkonsultasi dengan kakakku, yang marah sekali karena aku telah berbuat seperti malam-malam sebelumnya. Tapi ia maklum, ya namanya juga pengantin baru. Untungnya aku punya suami malaikat.
Sesuai perhitungan, setengah jam kemudian pintu terbuka. Jay pasti bingung mengapa pintu tidak terkunci seperti biasanya saat ia pulang ke rumah. Ia lebih terperangah lagi ketika melihat isi rumah gelap dan cahaya yang diganti dengan lilin-lilin yang berbaris memanjang di sisi kanan dan kiri, memberi jalan di tengahnya, dan mengantar hingga ke dalam kamar. 
Pintu kamar juga sengaja tak kukunci. Kamar tetap gelap. Aku sengaja membiarkan pintu kaca balkon terbuka lebar. Angin kencang menerobos masuk ke dalamnya membuat satu persatu lilin mati. Terdengar suara Bruk dari dalam, pasti lemparan tas. Kemudian terdengar derap langkah mendekat.
“Sayang?”
Jay memastikan wanita yang berdiri di pinggir balkon, sedang minkmati angin segar dari luar apartemen dan pemandangan Ibu Kota di malam hari. Jay pasti tidak mengenali. Seketika aku membalik badan. Kuharap senyumku terlihat dibalik cahaya yang remang-remang. Jay terkejut senang saat melihat aku yang sebenarnya. Wajah yang utuh dengan rambut hitam panjang yang tergerai dan mengayun terbang dihempas angin malam yang kencang.
“Iya, ini aku, Mas,” jawabku meyakinkan. Jay langsung memelukku erat. Membelai rambutku yang selama ini tak pernah dilihatnya. Mencium aroma yang khas aku. Lalu mengangkatku masuk ke kamar dengan bisik ‘i love you’ yang tiada henti. Membuatku merasa seperti Permaisuri tercantik untuk sang Raja yang Murung. Malam itu akhirnya menjadi milik kami.


“Happiness is seeing you smile,”

Kau Tak Kan Pernah Tahu Part II

“Tolong editin foto ini dong, kan lo jago ngedit tuh! Mau gue jadiin PP di Facebook!” Luna berseru. Tak lama kemudian muncul kekasihnya yang juga sahabatku, Dio.
“Kenapa, Say?” tanyanya sambil merebut minum di tangan Luna.
“Kamu liat deh, fotonya bagus ya? aku lagi minta tolong Jonas buat editin foto ini, dikasih quote gitu!”
“Wah ide bagus tuh! nanti kita cetak yang gede, dipigurain, taro di kamar deh!” seru Dio mendukung. 
“Bisa kan, Nas?” Luna menepuk pundak gue.
Sure,” gue mengangguk. Bisa apa lagi gue?
***
Laptop terbuka dengan layar berisi screen saver yang bergeliat kesana-kemari. Sudah sejam lebih laptop itu terbuka tanpa ada sentuhan. Gue nggak yakin apa gue sanggup ngedit foto itu, melihat Luna bersama orang lain.
Baiklah, setidaknya, Luna akan menghadiahi gue dengan senyumnya kalo gue bisa menyelesaikan editan ini. Bukankah itu satu-satunya yang gue mau dan…bisa? membuat Luna tersenyum.
Tak banyak yang kulakukan pada foto itu. Hanya mengubah sedikit contrast, melakukan sedikit touch up, dan memberi efek embun agar foto kelihatan lebih romantis. Di tengahnya ada lahan kosong yang cukup tak bagus bila dibiarkan begitu. Maka aku berniat menambahkan puisi di sana. Puisi? Kira-kira, puisi apa yang cocok dengan foto sepasang kekasih yang sedang bertukar cincin? Gue nggak sanggup menjawabnya.
***
“Jonas, editannya keren banget! Dio juga suka banget!! It’s truly so sweet!! Thanks banget ya!”
Luna menelpon dan langsung berteriak. Tanpa salam, tanpa memastikan apakah ada suara di seberang sana. Gue nggak tau harus bersikap apa, senang tapi sedih.
“Gue suka banget puisinya! Elo emang sahabat terbaik gue!”
Sahabat katanya….

Klik!
Hp itu gue non-aktifkan. Detik itu juga gue malah merasa telah melakukan suatu kebodohan, menyiksa perasaan sendiri. Gue pengecut. Gue pecundang.
Entah kenapa Luna suka dengan puisi itu, malah terdengarnya kayak isi hati gue. Apa dia nggak nyadar? Apa dia benar-benar nggak merasakan keanehan ini? Percuma, Luna tak akan pernah tahu yang sebenarnya.
Kekasih,
Telah bulat hati
Untuk ucapkan sebuah janji
Bila engkau mau menanti


Bagaimana caranya aku
Mengungkapkan maksud hatiku
Andai engkau mau mengerti*
Puisi itu, gue persembahkan buat lo, Luna. Tulus dari gue. Perasaan gue yang sebenarnya. Tapi sayang, lo nggak akan pernah tau itu.  
*nb: Puisi tersebut diambil dari lirik lagu Naif-Nyali

“The Worst of Love is when i love you, but you don’t know it.”
Me

Kau Tak Kan Pernah Tahu Part I

“Nas, kok mojok aja? Nih!” gue agak syok pas tiba-tiba Luna duduk di sebelah gue dan menawarkan potongan kue ulang tahunnya, padahal gue udah sengaja ngumpet di sudut ruangan.
“Iya. Ng…” gue bingung harus jawab apa. “Gue….lagi enggak enak badan. Iya, enggak enak badan,” entah ini jujur apa bohong. Kenyataannya bukan badan gue aja yang nggak enak, tapi hati gue juga!
“Elo sakit? Kalo mau pulang duluan, nggak apa-apa kok,” spontan Luna khawatir. lebih baik lagi kalau lo nggak usah baik sama gue, Lun. Bikin perasaan gue makin sakit.
“Nggak kok, cuma kecapean aja paling. Besok kan libur tuh, tidur seharian juga sembuh,” jawab gue untuk mengakhiri kecemasan Luna yang tidak seharusnya.
“Oh, oke,” Luna mengangguk. Kemudian melirik ke dalam garasi yang keramaiannya tidak wajar mengingat ini sudah tengah malam. Ini ulang tahunnya, tetangga-tetangganya sudah maklum, seperti tiap tahunnya. Malam itu orang tua Luna memang memberi kebebasan untuk membuat party kecil-kecilan khusus di hari ultahnya ini, maka mereka sengaja menginap dulu di rumah keluarga kakaknya untuk malam ini. Di garasi, teman-teman membuat acara berantakan dengan bersulang dan persiapan BBQ. Sambil mendengarkan Like A G6, semua bersorak layaknya sedang ada di bar yang ramai. Luna tentu tak senang bergoyang seperti itu.
“Eh, gue liat foto-foto yang tadi dong!” Luna berseru, menunjuk pada kamera DSLR yang ada di pangkuan gue. Ya, malam ini tugas gue adalah sebagai dokumenter. Mm…sebenanya selalu sih.
“Ya ampun, Nas! Yang ini bagus banget!” Luna berteriak kagum, ditunjukkannya foto yang dimaksud kepada gue. Foto yang gue ambil saat Dio mengenakan cincin emas putihnya ke jari manis tangan kiri Luna, sebagai simbol keseriusannya. Bagus. Memang, bagus sekali. Dan bermakna dalam. Gue berusaha menanggapi dengan senyum.
“Eh, Nas, gue boleh minta tolong nggak?” tiba-tiba Luna menyudahi bahagianya. Apa yang bisa gue bantu buat lo? Bikin lo bahagia aja gue nggak bisa, tersungut. Gue menggerutu.

to be continued………

Kalender Kehidupan

Dia bukan patung. Aku berani sumpah, dia benar-benar manusia. Bukan replika tubuh kakek tua dengan wajah penuh kerutan disana-sini. Dia tidak selalu diam, sesekali ia akan bergerak jika merasa pegal dengan mengganti posisi duduknya atau ketika akan pergi melayat. Yang seram itu justru matanya, menerawang ke langit, jarang berkedip. Dia tak akan pernah berbicara sebelum ditanya. Jika kau bertanya apa yang ia lihat di atas langit sana, kalender kehidupan jawabnya. Entah, tak ada yang mengerti.
Kalender kehidupan yang dimaksud Rohim mungkin berisi tanggal-tanggal kematian orang-orang terdekatnya. Ia hapal betul kapan istri dan anak sematawayangnya wafat, begitu juga dengan kerabat dan tetangga-tetangganya. Setiap hari, ia yakin, adalah hari kematian untuk seseorang. Rohim berusia hampir delapan puluh tahun, tetapi masih jago berhitung. Menghitung kalender kehidupan.
Setiap hari ada saja teman-teman seusianya yang wafat. Baru ketika itu ia akan bangkit dari kursinya dan pergi untuk solat jenazah, kalau bisa ikut menguburkannya. Untuknya, mengurus jenazah orang-orang terdekatnya adalah sebuah kebanggaan dan kebahagiaan. Seperti bukti seorang sahabat sejati, teman setia. Setia sampai mati. Karena memang tak ada lagi yang dapat ia lakukan di hidup ini.
Pagi itu sama seperti pagi biasanya. Rohim kembali duduk di atas kursi bambu reyot itu, yang tepat ia letakkan di depan rumah gubuknya. Dia bahkan lebih sering menghabiskan waktu di atas kursi kecil itu daripada di dalam rumahnya. Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendiri, padahal hanya berukuran tak lebih dari 7×5 meter. Kesendirian yang membuat rumahnya terasa tak berguna.
Ada yang berbeda di pagi itu. Parman, tetangganya yang paling setia datang dan mengabarkan ada orang wafat setiap harinya, hari ini tidak datang. Ditunggu sampai siang, belum juga datang. Sore, tidak datang. Bahkan, ketika adzan maghrib berkumandang, Parman tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Kuilhat Kakek Rohim masih terduduk tanpa ada posisinya yang berubah. Sabar menunggu. Aku tahu apa yang ada dipikirannya, mempertanyakan mengapa hari ini tidak ada warga kampung yang wafat. Ini aneh, karena diluar perhitungannya. Setelah adzan maghrib mengalun. Parman akhirnya datang. Hari itu dia tidak tergesa seperti biasanya. Tetapi ia datang untuk mengabarkan bahwa hari ini (entah sayang sekali, atau untungnya) tidak ada warga kampung yang wafat. Parman memberi salam, tapi Rohim tidak menjawab. Ia merasa menyesal membuat Kakek Rohim menunggu hingga ketiduran seperti itu. Parman mendekati pria renta itu, memanggil, menggerakkan tubuhnya. Tidak ada perlawanan. Ternyata hari itu adalah harinya. Di kalender kehidupan, ya, seharusnya bernama kalender kematian.
.
.
.

Voltaire

Harga Mati

Hari ini, aku menjadi saksi lagi, atas musibah yang diderita orang lain. Teman terdekatku, terbaikku.
“Maaf, Wir, kamu sudah tidak tertolong lagi,” kalimat itu, diucapkan selembut apapun tetap saja menghasilkan kekecewaan. Aku mau bantu pun, bisa apa? 
“Mungkin jalan ini bukan yang terbaik buat lo,” Wira sama sekali tidak terhipnotis kalimat yang kuucapkan. Matanya menerawang jauh, tanpa tujuan. Bibirnya sesekali menyunggingkan senyum (paksa). Aku yakin itu untuk menutupi rasa sedihnya, sebaliknya, ia sangat ingin menangis, sayangnya menangis tidak dapat mengubah kedaan. Ia tegar dan dewasa, jadi menangis untuknya tidak akan membayar segalanya yang terlanjur terjadi.
“Gue nggak kebayang gimana reaksi orang tua,” lanjutnya dengan kepala tertunduk. Tak ingin melihat ke arahku.
“Gue ngerti,”
“Elo mesti tau, nyokap gue udah mewanti-wanti ini bakal terjadi. Baca deh!” Wira menyodorkan HP-nya. SMS itu cukup panjang, tiga halaman mungkin. Kurang lebih isinya nasehat dan mengingatkan untuk belajar agar tidak DO, dari mamanya.
Aku tak bisa bicara lagi. Salah siapa, aku bingung. Kalau Franky harus keluar, menurutku wajar, ia jarang masuk kelas dan sering nongkrong di kantin, begitu juga dengan Ical yang sering kabur-kaburan dan bersikap 11-12 dengan si Franky. Mengingat Wira adalah nama yang ikut terdaftar rasanya membuat miris. Dia kontras sekali dengan Franky maupun Ical. Wira anak yang baik pada semua orang, rajin belajar, dan memang introvert. Entah dimana letak kesalahannya. Sekarang salah siapa? Siapa yang harus kutuntut atas kenyataan ini? Andai aku tidak beriman, sudah kutantang sang Tuhan. 
Benci rasanya tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang kita sayang. Benci sekali bila harus melihat mereka bersedih.
“Sabar ya. Elo mesti semangat!” tukasku sambil pura-pura ceria. Wira pun tersenyum, tetapi tidak matanya. Telah tergenang air mata, entah sampai kapan sanggup tertahan disana.

“Learn from yesterday, 
live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning.”
Albert Einstein

Menjemput Akhir

“Kamu!”
“Apa maumu? Aku ini ayahmu!!” Tia tak peduli, jemarinya telah mantap menggenggam sebilah pisau buah yang diambilnya barusan. Kemudian diacungkannya pisau itu.
“Ti? Tia!!” Raha berteriak, namun langkah Tia tak berhenti maju mendekatinya. Semakin dekat, Raha semakin mundur menghindar.
“Oke, kalau menurut kamu saya salah, tapi tidak dengan cara begini!” Raha membentak, menutupi perasaannya yang kalang-kabut takutnya. Peluhnya bercucuran menetes dari seluruh wajah.
Tia masih tetap maju, sambil diacungkannya pisau itu. Tepat di depannya dan di deapan wajah Raha. Nafasnya menggebu-gebu, kedua bola matanya bulat berkilat-kilat, di sisinya air matanya turun, entah apa artinya.
“Ah!” Raha mendesah, di belakangnya sudah tak ada jalan lagi, hanya sebuah pagar balkon yang tebal. Dengan tinggi yang hanya satu meter, sangat mungkin baginya untuk melompat. Tidak ada pilihan lain, lompat atau mati di tangan anak sendiri.
“Ini!!” Tia menyodorkan pisau itu. Raha cemas, rasanya seperti tak ada pilihan akhir.
“Apa maksudmu dengan ‘ini’?” Raha balik bertanya, nafasnya tersengal. Ia benar-benar tidak menyangka, Tia yang sekarang, tepat saat ini, jauh berbeda dengan yang ia kenal. Penurut, pendiam, nerimo, bukan. Tetapi Tia yang terpaksa bersabar, menahan dan memberontak. Ini memang waktu yang ditunggu-tunggunya, Raha tidak pernah tahu.
“Ayo ambil! Bunuh aku!”
“Apa maksudmu?”
“Ini kan yang kau mau? Ini lebih baik daripada kau bunuh aku perlahan dengan sikapmu!” Tia mendengus kesal. Air mata tetap mengalir dari kedua matanya yang melotot.
“Nggak mungkin!!” Raha menggeleng, tatapannya kosong.
Tia makin maju melangkah. Mendekatinya lebih jauh lagi,
“Selamat bersenang-senang,” ia tersenyum, lalu menusukkan pisau itu, tepat ke dadanya.
“Not you or anyone” 
unknown

Sebelum Gelap

Pagi itu kuharap sama seperti pagi lainnya. Kupastikan saat terdengar kicau burung yang hinggap di balkon atau di saat secercah cahaya mentari pagi berusaha menyelinap dan menembus balik tirai kaca yang menjadi dinding kamar. Aku takut kalau tak bisa mendengar kicau burung itu, aku takut kalau pagi itu tak bisa merasakan sinar matahari. Tak hanya pagi itu, tetapi setiap pagi. Semalam, berjam-jam, menit, detik. Gelap, aku tak mau gelap itu datang. Dimana tidak ada cahaya sedikit pun yang kutangkap, tidak ada seorang pun kutemukan, tidak ada cinta.
Ketika itu, kutarik nafas sedalamnya. Berusaha menenangkan jantung yang tak berhenti berdegup kencang. Mencuri dengar kehidupan yang nyata sebelum berani membuka mata. Kumohon, jangan gelap. Belum, kali ini!
Sampai suatu sentuhan membelai kepalaku. Perlahan mengalun mengikuti gelombang rambutku dan jarinya masuk ke sela-selanya. Lalu menyisirnya turun dengan jemari, perlahan mengikuti gelombang rambutku. Degup jantungku melunak.
“HAH!!”  aku terbangun, memuntahkan semua rasa takut yang berganti lega. Ini detik pertama yang kesekian kalinya setelah aku berhasil melewati gemuruh itu. Mimpi buruk yang selama beberapa hari ini menjadi musuh malamku.
“Sayang? are you okay?” tanyanya dengan lembut, masih membelai rambutku. Aku mendekat, merilekskan tubuh dengan bersandar di bahunya. Hal itu membantu, pasalnya suhu tubuhku panas dan gemetaran, kini renyuh oleh dinginnya tubuh Riza.
“Hh…hhh…” nafasku memburu, melunak, tidak teratur. Riza dengan lembutnya menenangkan degupan jantung dag-dag-dig itu, hanya dengan sepasang bibirnya.
“Kamu kenapa sih setiap bangun tidur selalu ketakutan kayak begini?” tanya Riza lagi, iempol dan jari telunjuknya mengangkat ujung daguku, lalu mengusapnya dengan hati-hati.
“Hh…aku…” nafasku, mana nafasku!
Riza menunggu sabar, alis tebalnya terangkat.
“Aku mau kamu selalu ada disini saat aku bangun tidur! Please!!” tukasku tegas, seraya menunjuk pada bagian pinggir tempat tidur, posisi tepat dimana Riza duduk.
“Udah?” tanya Riza dengan nada yang 180 derajat berbeda irama dan tingginya, “bisa nggak sekali-kali kamu minta hal yang nggak bisa aku lakukan?”
Senyum itu menjadi pelindung tidak hanya di pagiku, tapi juga di setiap detik yang kupunya. 
“Harmony is pure love, for love is a concerto.”
Lope de Vega

Tak Bersyarat

Tatapan mata Haidar tak lepas dari layar monitor laptop yang besarnya tak seberapa. Lupa makan, sudah biasa baginya. Bahkan sudah seharian penuh bertengger di depan meja kerjanya juga ia tidak sadar.
“Dar, bagi pop mie dong! laper gue!” Fauzan tiba-tiba masuk ke kamar Haidar tanpa salam, nyelonong, seperti biasanya.
“Dar? Haidar!” seru Fauzan akhirnya saat menyadari lawan bicaranya tidak menanggapi.
“Hah? Apa? Kenapa?” sahut Haidar terkejut. Seketika keluar dari dunia imajinya.
“Gile lo! msn, facebook, twitter, sekarang blog si do’i juga lo buka-bukain. Kepo* banget lo!” ujar Fauzan setelah mendekati layar monitor sobatnya.
“He…he…” Haidar terkekeh. Tak punya alasan untuk mengelak. Memang inilah profesi barunya selama liburan, menjadi Stalker.
Fauzan menyabet bangku plastik, kemudian duduk di sebelah Haidar. Menatap lekat-lekat foto sang empunya akun.
“Gue heran, kenapa sih lo bisa suka sama dia? Dia kan nggak cantik-cantik amat,”
Haidar menatap Fauzan dengan pandangan kosong, setuju.
“Emang,”
“Umm…dia juga nggak famous di kampus kan? ya nggak sepopuler Grace yang model itu atau pun Dwina si Mapres**”
Haidar masih memandang Fauzan dengan ekspresi yang sama, “Emang.”
“Lah, terus kenapa lo bisa suka sama dia?” akhirnya Fauzan to the point. Haidar menggumam, tetap dengan raut wajah yang sama, lalu menggeleng karena tak berhasil menemukan jawaban dari otaknya.
“Nggak tau,”
Fauzan tercengang, rahangnya terbuka lebar. Tapi sayang tetep aja ganteng, playboy ulung Pulogadung.
“Hah, gimana bisa? Lo suka sama dia dari apanya?” Ia memastikan.
“Itu dia, itu jawabannya. Karena gue nggak tau,”
Kedua alis Fauzan yang tebal bertaut menjadi satu. Tangannya menggaruk kepala hingga rambutnya makin awut-awutan, jelas tidak membantu rasa bingungnya.
“Maksud lo?”
Haidar tertawa renyah, sambil terus menatap foto-foto sang pujaan hati yang berhasil ia curi dari album sebuah akunnya yang tidak terproteksi.
“Yang namanya cinta itu nggak bersyarat, Zan, seharusnya.”
Fauzan masih diam, sabar mendengarkan. Ia mengaku tak begitu pintar soal cinta-cintaan, apalagi hati perempuan. Hal yang paling sulit ditebak dan dicerna akal!
“Itu menandakan perasaan gue sama dia tulus. Gue bahkan nggak tau gue suka dia karena apa. Ini berarti chemistry!”
Fauzan termanggu, manggut-manggut saja. Terbuka memori di dalam ingatannya tentang Fio dengan harta orang tuanya, Gadis yang finalis nona Banten 2008, dan Gadis-Gadis lainnya yang memiliki hal luar biasa. Fauzan menoba berpikir sebentar, lalu manggut lagi, ia bahkan tak tau cinta itu apa dan bagaimana.
 
“Gue mencintai dia dalam diam, Zan. Nggak meminta syarat apapun,” tegas Haidar sekali lagi, tersenyum.
catatan
*Kepo: memata-matai seseorang (istilah baru di kalangan anak muda)
**Mapres: Mahasiswa Berprestasi
“Love distills desire upon the eyes, love brings bewitching grace into the heart.”
Euripides

Tawa yang jujur

Tawa itu kedengarannya jujur
Menggambarkan isi hatimu yang merasa menang
Oh, menurutmu ini pertandingan?
Tentu kau salah
Karena aku tak pantas menjadi lawanmu
Tahu kenapa aku tak pantas menjadi lawanmu?
Karena kita jauh berbeda
Kau memang diciptakan untuk juara
Menjadi juara di tanahmu sendiri
Sedangkan aku, dilahirkan untuk cinta
Terlalu banyak cinta yang kumiliki saking banyaknya
Aku jelaskan, kau tak akan paham
Tawa itu kedengarannya jujur
Menggambarkan isi hatimu yang merasa puas
Patutlah kau mendapatkan apa yang kau inginkan
Apa yang kau dapatkan memang sesuai dengan apa yang kau berikan
Kau dapati banyak emas seperti maumu
Karena engkau memberi mantra
Sesuai bukan?
Sudahlah, aku tak seharusnya peduli
Mau bagaimana pun kita berbeda
Dan sedikit pun aku tak boleh iri
Dan memang tak pernah iri
Sebesar apa pun pengaruhmu
Secemerlang apa pun sosokmu
Aku tetap memiliki satu hal
Terindah dan kau tak punya
Oh, malangnya!
Aku punya Gusti.
Milikmu????????