I’ll Forget About You, Cinta.

Malam ini, aku menghitung. Genap untuk kesekian kalinya aku merasakan kehancuran. Lima huruf yang sukses membuat aku jatuh berjuta kali. Ini bisa saja sebuah kewajaran, kalau semua hal juga merasakan hal yang sama. Namun, ini bisa menjadi hal yang sungguh tidak adil, jika pada kenyataannya aku tahu, hanya aku yang terus-menerus begini. Aku. Korban sesuatu yang bahkan bukan aku yang perbuat. Jahatnya ia, cinta.

Malam ini, aku melemah. Lagi-lagi air mataku jatuh karena dan untuk seseorang yang tak bisa kumiliki. Bahkan aku menangisi orang yang mungkin saja tak pernah ada rasa apapun terhadapku. Ia terlanjur pergi, penyesalanku seumur hidup adalah, banyak hal yang ingin kukatakan dan belum sempat. Yang tak kumengerti mengapa semua itu terbanting ketika kuucap. Menghancurkan segalanya. Semuanya terlanjur hancur. Sebelum aku sempat membertitahumu bahwa semalam aku bermimpi tentangmu dan aku senang sekali. Sebelum aku punya keberanian untuk bialng tentang rinduku yang tak dapat terbendung lagi. Sedetik sebelum aku sempat menyatakan bahwa aku suka kamu.

Malam ini, aku mengerti. Cinta pergi lagi. Aku tahu satu arti, cinta adalah sesuatu yang belum pernah kumiliki. Sesuatu yang baru kusentuh lalu terbang lagi. Sesuatu yang kemudian menghilang sebelum sempat kupeluk untuk bertahan. tepatnya, sesuatu yang belum sempat kurasakan. Aku hanya mengerti luka. Dan cinta adalah kamu.

Malam ini, aku menyesal. Sedang apa disana kau, Cinta? Aku disini sedang menangisimu. Seingatku, aku belum pernah menangis sesedih ini. Tidak sewajar ketika aku kehilangan cinta yang lain. Jutaan arimata ini untukmu. Meskipun aku tahu, dengan hujan airmata kau tetap tak akan kembali. Kumohon pun kau tetap tak akan pernah bisa menjadi milikku. Tapi setidaknya, dengan tangis ini, aku tahu, ternyata aku kehilanganmu. I want you so bad.

Malam ini, aku menyadari. Kita baru sadar betapa berharganya orang itu, ketika ia sudah pergi. Apakah kau merasakan hal yang sama, Cinta? Apakah detik ini kau juga menangis maka kau non-aktifkan ponselmu? Kau boleh marah sebisamu, tapi ingat, sebisamu. Jangan paksa dirimu terlalu keras, aku tahu kau bukan orang yang begitu. Kau orang yang lembut. Aku tahu siapa kamu, sebenarnya, meskipun kamu bersikeras ketika kamu bilang: “you don’t know me,”

Malam ini, aku ingat. Betapa aku telah dewasa. Seharusnya aku lebih dewasa setelah luka-luka yang ada. Seharusnya aku belajar dan tumbuh menjadi lebih kuat lagi. Seharusnya aku bisa kembali biasa seolah tak ada apa-apa. Mencari hati yang baru. Yang mau menerimaku. Bukan! Yang bisa membantuku melupakan kamu. Sayangnya, aku bukan seorang dewasa tanpa kamu. Kamu adalah dewasaku, meskipun bukan masa depanku. 

Selamat malam, Cinta. 

Salam untuk kekasihmu yang cantik dan baik hati.

Aku,
gadis terlambat dan yang tak seharusnya muncul di hidupmu kemarin-kemarin.



P.S. Oh ya, jangan khawatir, aku kuat kok. Berkat Nina.
She heard me, see said, I have to say these to you:

Someday you’ll gonna realize
One day you’ll see this through my eyes
But then i won’t even be there
I’ll be happy somewhere
Even if i can’t

I know
You don’t really see my worth
You think you’re the last guy on earth
Well I’ve got news for you
I know I’m not that strong
But it won’t take long
Won’t take long

Coz someday, someone’s gonna love me
The way, i wanted you to need me
Someday, someone’s gonna take your place
One day I’ll forget about you
You’ll see, i won’t even miss you
Someday, someday

But now
I know you can’t tell
I’m down, and I’m not doing well

But one day these tears
They will all run dry
I won’t have to cry
Sweet goodbye

Coz someday, someone’s gonna love me
The way, i wanted you to need me
Someday, someone’s gonna take your place wo oh oh
One day I’ll forget about you
You’ll see, i won’t even miss you
Someday,

I know someone’s gonna be there
Someday, someone’s gonna love me
The way, i wanted you to need me
Someday, someone’s gonna take your place
One day I’ll forget about you
You’ll see, i won’t even miss you
someday, someday
oh yeah yeah

doakan aku ya, Cinta. Semoga aku bisa 🙂



“One day I’ll forget about you” 
 

Arti Cinta Andin

“Ha…ha…makanya punya pacar dong!” 
Seru Mas Adit seperginya dari kamarku. Malam minggu, lagi-lagi ia meledek aku yang sudah sembilan belas tahun hidup dalam kejombloan. Aku punya alasan kenapa sampai sekarang aku masih ‘sendiri’, bukan karena nggak laku. Ah, suka sok tahu mas sematawayangku itu. Rasanya jomblo lebih baik daripada merasakan cinta yang menyakitkan. Biar beigini, aku jauh lebih beruntung dari sahabatku, Andina.
Aku biasa memanggil dia dengan sebutan Andin. Wajahnya sangat indo, tidak begitu cantik, tapi memeiliki banyak talenta, mungkin itu alasannya mengapa ia tak pernah mengalami status single. Namun kisah percintaannya tidak semulus itu. Andin sudah beberapa kali mengalami jatuh bangun soal cinta. Kadang aku jadi merasa iba. 
Percaya atau tidak, Andin sudah mengalami masa merah jambu itu sejak di SD. Di kelas 6, ia menyukai teman sekelas kami, ketua kelas lebih tepatnya. Faldi adalah cowok yang berprestasi di sekolah. Kemudian masuk ke SMP yang sama. Di SMP karirnya makin gemilang, ia menjadi ketua OSIS, rutin memenangkan lomba karya tulis, tapi juga aktif dalam ekskul futsal dan menjadi kaptennya. Sosok sempurna untuk seorang Andin yang memang juga sempurna. Ia manis dan bertalenta. Pintar bermain musik dan sering membuat konser bersama tim orkestra se-Nasional-nya.
Hubungan mereka seperti tak pernah mengalami masalah. Mulus sekali hingga sukses membuat semua teman-teman merasa iri. Membuat kami yakin, bahwa cerita pangeran dan permaisuri di dalam dongeng bisa jadi kenyataan. Sampai pada akhirnya ia mendapat kabar yang mengenaskan; Faldi menutup usia akibat kanker hati yang dideritanya. Tidak seorang pun menyangka, tidak seorang pun tahu Faldi ternyata ‘sakit’, jangankan Andin, orang tuanya saja tidak tahu. Janji Andin dan Faldi untuk masuk ke SMA unggulan di Jakarta gagal. Andin terpukul sekali, gadis pitnar itu lulus Ujian Nasional dengan nilai yang sangat pas-pasan. Aku belum pernah lihat dia sesedih itu. Setidaknya, kami bisa masuk ke SMA yang sama, SMA Negeri di Jakarta yang tidak terlalu bagus, bukan unggulan. 
Semenjak kepergian Faldi, Andin tidak mau lagi menjalin hubungan dengan siapapun. Dia tumbuh menjadi gadis yang keras. Phobia dengan rumah sakit, obat-obatan, apalagi sesuatu yang berbau kanker. Trauma. Untungnya aku bisa merayunya, untuk tidak trauma dengan organisasi, khususnya OSIS.
“Faldi juga pasti sedih liat lo jadi begini. Mana Andin yang ceria dan berprestasi?”
Aku inget banget, kalimat itu akhirnya berhasil membuat dia kembali menjadi Andin yang aktif, yang murah senyum. Mesti tidak seceria dulu lagi. Ia sensitif sekali dengan kata-kata pacar. Parah. Apa ia mau jadi jomblo seumur hidup?
Untungnya tidak, sekarang kami sudah menjadi mahasiswa. Aku akhirnya bisa berkuliah di sebuah Universitas Swasta jurusan design. Andin, makin cemerlang, ia berhasil masuk Universitas Negeri ternama di Depok. Beberapa hari lalu, akhirnya ia main lagi ke rumahku. Lama tak bertemu, sahabatku, teman sepermainanku, kini makin sukses saja. Sekarang, setelah mendapatkan cita-citanya untuk masuk Kampus impian itu, ia menjadi lebih ceria. Jauh lebih ceria dari Andin yang kukenal dulu, sebelum kematian Faldi. Ah, nama itu. Faldi si tampan dan cerdas, apa Andin masih memikirkan dia? Faldi pasti bangga melihat Andin yang sekarang. Hebat, seperti dirinya. Sedangkan aku, masih begini, asyik dengan dunia mode dan menjadi fashionista sejati, tanpa pernah menggandeng seorang cowok pun. Ah, sendiri lebih baik daripada sakit hati bukan?
Terakhir kali, Andin pernah chatting denganku. Terakhir kali, ia bercerita, bahwa ia jatuh cinta (lagi)! Sayangnya waktu itu sudah malam, Andin belum sempat bercerita banyak tentang sosok ketua BEM yang ternyata diam-diam selama ini menyukainya bahkan sering mengajak jalan. Andin terdengar begitu senang. Seperti tak ada lagi bekas-bekas jejak Faldi di dalam pikirannya. Aku tahu itu sudah lama sekali, tiga tahun lebih telah berlalu, tapi bukankah cinta tak bisa hilang begitu saja?
“Din, apa kabarmu dengan si ketua BEM?” akhirnya aku berani memulai pertanyaan itu. Andin yang sedang tergeletak membaca novel di atas kasurku langsung terbatuk.
“Oka maksudnya?” Andin pura-pura lupa. Pantas sejak tadi tidak ada percakapan di antara kami, ternyata Andin menghindari percakapan ini. Aku jadi menyesal telah bertanya, sayangnya, kami memang sudah berjanji akan cerita tentang apapun dan tidak ada yang ditutupi. Apalagi hampir setiap malam kami main bersama, bagiamana bisa menutupi?
“Elo tau kan, Nis? Gue sayang banget sama dia?”
Andin tersenyum. Tapi di matanya tergambar sesuatu yang menyiratkan kepedihan. Dan aku tahu isyarat itu bukan tentang Faldi, sosok yang lama telah kami lupakan dan hindari. 
“Ya, gue tau. Enam bulan bersama kan bukan waktu yang sebentar untuk menyayangi satu sama lain!” teriakku senang, seru. Akhirnya Andin bisa jatuh cinta lagi.
“Elo percaya kan, cinta tak harus memiliki?” Andin bertanya lagi, tersenyum lagi. Sejak kapan Andin suka main teka-teki? ah, sejak ketidakadaan Faldi. Ia menjadi terlalu introvert.
“Maksudnya, lo putus sama Oka?”
“Ha…ha….memangnya kapan gue pernah jadian sama Oka?” Andin tertawa geli sekali. Oh iya, selama enam bulan ini Andin dan Oka hanya menjalin HTS. Hubungan Tanpa Status.
“Terus?’ gue makin nggak ngerti sama teka-teka ini. Dan Andin tahu, bahwa gue paling nggak suka main teka-teki, kita tepatnya.
“Gue mundur. Nggak seharusnya gue ganggu hubungan orang,” Andin masih tersenyum, bijak. Namun matanya makin menggambarkan perasaan miris, menahan tangis. Aku merapatkan duduk, balik menatapnya iba.
“Jadi, alasan selama ini Oka nggak pernah nembak lo adalah…..?” aku nggak kuat melanjutkan pertanyaan ini. Please, Din, gue nggak maksud bikin lo sedih!
“Iya, gue cuma dijadiin selingkuhannya. Oka bohong, dia belum putus sama Heni,” Andin tersenyum makin lebar. Hatiku malah tersayat menatapnya. Andin nggak mau lagi menangisi cowok. Air matanya hanya untuk Faldi, ia pernah berkata begitu. 
Secara sepihak, mungkin Oka terlihat jahat. Tega-teganya ia menjadikan Andin sebagai nomor dua. Membagi hatinya yang tersisa. Menyisihkan nama untuk wanita lain di dalam hatinya dan tidak sepenuhnya untuk Andin yang mencintainya seluruhnya, melebih Faldi. Tapi, cinta bisa hadir bahkan tanpa permisi kan? Andin sadar itu, maka dia nggak menyalahkan siapapun. Akhirnya, malah menyalahkan dirinya sendiri. Sementara tetap tulus mencintai Oka, dalam diam.
“Din…” aku menggenggam tangan Andin erat. Berusaha menguatkannya agar ia tidak trauma lagi, tidak down lagi, seperti tiga tahun lalu. Tapi sepertinya ia terlanjur membenarkan pemikirannya, bahwa tak akan ada cowok sebaik Faldi untuknya. Ekspresi Andin justru membuatku takjub, ia seperti tak kelihatan sedih. Tak ada suara sesenggukan. Tiada jerit kehilangan. Andin bersikap seolah kuat, aku tahu justru itu jauh lebih sakit.
“Gue udah berhasil menghilang dari Oka,”
“Menghilang gitu aja? Tanpa ucapan selamat tinggal?”
Lagi-lagi Andin tersenyum, mengangguk. Diperlihatkannya puluhan missedcall dari Oka yang tidak dijawabnya, beberapa sms dari Oka juga tidak dibalasnya. Oka pasti panik sekali. Panik sepanik-paniknya karena orang yang ia sukai menghilang begitu saja tanpa alasan yang jelas. Tanpa kata.

Oka  pasti marah. Tapi apa bisa ia marah pada orang yang tulus mencintainya? Andai saja Oka tahu yang sebenarnya. Bahwa gadis ini, telah berkorban untuknya, untuk kebahagiaannya dengan Heni.

“Oka kan nggak pernah mengucakan selamat datang,”
Aku mengerti, Oka nggak pernah nembak kan maksudnya? Please Din, kuatlah!
“Elo tau kan, Nis, gue sayang banget sama Oka? Gue udah terlanjur sayang, Oka berhasil membuat gue melupakan Faldi tanpa bekas,”

Ya, gue tau, Din, gue tau semua tentang lo!
“Heni juga pasti menyayangi Oka. Bahkan mungkin jauh lebih sayang karena mereka pacaran sudah hampir dua tahun,”

Jadi, lo ngalah?
“Gue perempuan, Nis. Heni juga perempuan. Gue tahu betul gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang!”
Ya, Andin pernah mengalami masa itu. Aku terenyuh. Tak bisa menanggapi apappun. Ya, nggak ada perempuan yang mau dijadikan nomor dua. Andin benar.

“Ucapan selamat tinggal nggak berarti bahwa cinta gue usai, Nis.”
Andin menatapku dengan masih tersenyum, bedanya, kali ini dia menangis. Tatapannya yang menyiratkan kepedihan telah terpudar oleh genangan air mata. Andin mengajariku segalanya tentang cinta, lewat tangis dalam senyumnya. Andin mengalah, atas nama cinta. Oka tak pernah tahu. Andin telah berkorban untuknya, untuk kebahagiaannya, mungkin.
“Shit! Cinta tak harus memiliki”
Me

Catatan Hati Gue-Adrian

Gia nggak akan ngerti, bahwa dengan kepergian Nyokap, semuanya berubah. Gia nggak ngerti bahwa gue butuh waktu untuk diri gue sendiri, untuk menyembuhkan diri, walau nggak mungkin seratus persen. Yang dia paham dan harapkan dari gue adalah, pelan-pelan gue akan mengatasi kesedihan ini dan kembali ke diri gue yang dulu. Raut wajahnya bilang dia ingin gue begitu. Jadi, gue lebih sering berpura-pura nggak terjadi apa-apa.
Gue pikir, gue udah terlalu nyaman dengan Gia. Gue pikir, gue nggak akan pernah pasang topeng di depan dia. Dari dulu, dia melihat gue apa adanya, baik sedih amupun senang. Namun, sekarang gue nggak bisa begitu. Kalau gue sedih, dia akan menyalahkan dirinya karena nggak bisa mengerti gue.
Dan, ada Freya. Malam itu, dia memeluk gue. Gue masih inget perasaan gue saat itu. Waktu itu, gue nggak bisa mikir; yang ada di otak cuma suata yang mengingatkan kalau Nyokap  udah nggak ada, begitu berulang-ulang seperti gema. Gue pengin teriak supaya suara itu bungkam, tetapi yang ada gue malah ngerasa hilang. Hampa.
Pelukan Freya yang membuat gue sadar, gue nggak sendirian. Hangat. Tatapanya mengandung kesedihan yang sama. Dia mengerti.
Apakah tiba-tiba menyukai seseorang karena dia mengerti itu salah? Apa menyimpan perasaan yang lain untuk seseorang yang selama ini nggak gue perhatikan itu mungkin? Kenapa sekarang gue nggak bisa memperlakukan Gia seperti dulu?
Gue bingung. Tadi siang, di bursa buku, gue keceplosan mengatakan sesuatu yang membuat Freya kaget. Gue tahu sampai sekarang dia menghindari gue. Tadi, dia langsung tersenyum kaku dan mencari Moses, pulang tanpa bicara sepatah kata lagi.
Apa gue salah?
Kalau gue ngomong yang sebenarnya….apa gue salah?

dikutip dari karya Winna Efendi, Remember When : Ketika kau dan aku jatuh cinta

Yang Kedua (Lagi)

Sepulang ini, sepanjang jalan, aku telah berikrar pada hati dan otakku sendiri. Mungkin juga pada angin yang mendengarkannya. Gue benci lo, gue nggak suka sama lo. Gue benci lo, gue nggak suka sama lo. Terus begitu, berulang hingga aku pun tak sanggup menghitungnya sudah berapa banyak. Tidak kah kau merasa kupingmu panas? Atau mungkin kau akan tersedak jika sedang makan.  Biar! Aku sedang bersugesti, menghapus segala yang telah terlanjur ada.
Senja seperti enggan beranjak. Aku menentangnya, karena rasaku ingin sekali lari, dari kenyataan yang terlalu indah ini. Kenyataan macam apa lagi? terkadang aku berpikir, Tuhan terlalu baik. Apa iya aku harus membutuhkan cinta? Lalu kenapa yang datang selalu lelaki yang salah? Membuat hati kembang-kempis. Rasanya hidupku sudah cukup lengkap dan menyenangkan, keluarga yang utuh, teman-teman yang seru, lantas aku tak butuh apapun lagi. Jahatnya, rasa sakit itu datang berkali-kali mengatasnamakan cinta, kemudian pergi lagi dengan meninggalkan bekas luka. Cukup adilkah semua ini untukku?
Bahkan masih terngiang saat pertama kali kamu mengajak “jalan”. Aku berdandan setengah mati, panik memikirkan harus bersikap seperti apa, bahkan nyempet-nyempetin belanja beli baju baru. Hei, aku nggak akan nge-date dengan Taylor Lautner kan? Otakku seperti mau pecah rasanya, detik itu. Satu hal yang membuatku terheran, apa alasannya aku berhias diri habis-habisan begini? Bukankah, kalau cinta, ia akan menerimaku apa adanya? Sekali pun kenyataannya aku memang tidak cantik.
Lebih bodoh lagi ketika kau bilang cinta. Aku tak hanya melompat, bahkan jantung ini bakal meledak kalau bisa. Cinta akhirnya datang lagi. Kamu berhasil membuat aku merasa menjadi gadis tercantik di dunia kala itu. Cinta yang membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung. Di lain sisi, mengapa aku harus merasa senang? Atau setidaknya aku sempat tersenyum saat kata itu terlontar. Aku cinta padamu. Secara refleks, syarafku mengirim pesan bahagia itu menuju otak. Diproses, diterjemahkan. Lalu kembali ke alam sadar dan kalimat itu terdengar seperti, Mau kan kamu jadi selingkuhanku?
Terakhir kali kau mencuri pandang, aku terpaksa membuat pandangannya kabur. Kau pikir aku sanggup untuk tidak menatapmu barang sehari saja? sejam? semenit? sedetik? Rasanya seperti tercekik kalau kau mau tahu! Kau mungkin akan bertanya-tanya dan berteriak di dalam hati, aku rindu! Teriakan itu berasal dari dalam lubuk hatiku sebenarnya, saking kerasnya hingga aku tak dapat mendengar teriakan milikmu. Suara terdalam yang tak pernah kau dengar, tak perlu kau ketahui. Lho, selama ini kan aku hanya menjadi bonekamu. Mainanmu. Selagi majikanmu tidak ada. Lalu kau akan menyembunyikanku di bawah keset atau ke dalam tempat sampah sekalian agar ia tidak tahu. Iya kan?

Dengan santainya kamu bercerita, mengajakku tertawa, menunjukkan rasa bahagia yang secara tidak langsung terbaca bahwa itu karena aku. Tidak kah kamu merasakan perih di hatiku ini? Melihatmu bercengkrama dengan gadis yang mungkin masih menjalin hubungan denganmu atau setidaknya masih mengharapkanmu. Aku wanita, dijadikan nomor dua tak pernah halal bagi kami. Pertanyaannya, siapa yang menjadi nomor dua di hatimu? Aku atau dia? Kujawab, aku. Tak seharusnya aku menjadi pengganggu ikatan yang telah terjalin lama itu, bahkan siapapun tahu. Kau hanya sedang mencari pelarian, itu kan alasanmu mengatakan cinta dengan berbisik di telingaku sekali dan setelah itu tak pernah lagi?

Kadang aku membayangkan bagiamana rasanya menjadi wanita pertamamu, pasti sakit sekali kalau ia tahu kekasihnya sedang bercinta dengan yang lain, bahkan tanpa sepengetahuannya. Jangan tanya aku: siapa yang salah. Kesalahannya adalah, ia terlalu percaya padamu. Sedangkan, menurutmu aku percaya atas apa-apa yang terujar dari mulutmu? yang terucap syahdu seolah-olah dendangan indah penutur tidurku? yang terngiang mengantarku bangun dan berteriak bahwa Hai! ini bukan mimpi! Biar kutanya, dibagian manakah kau letakkan aku di dalam hatimu? Kau tak bisa jawab kan? coba kau tanya balik padaku! maka jawabku, seutuhnya hatiku bisa kau miliki!
Mencintai itu katanya fitrah. Tapi kalau yang kau cinta itu adalah aku, artinya adalah sebuah kesalahan. Aku begitu mengharapkanmu bahkan sebelum kau bilang suka. Tumbuh menjadi apa aku sekarang? Seorang gadis pengganggu hubungan orang. Dengan begini, aku gagal. Tidak ada lagi harapan “yang tidak muluk-muluk” untuk menjadi wanita yang lebih baik, apalagi di masa depan. Ini kenyatannya. Aku adalah wanita keduamu, wanita simpananmu. Sama seperti ibuku, yang menjadi simpanan orang yang sudah memiliki istri dan beberapa anak. Terlanjur cinta terlalu dalam, kemudian dibuang di pinggir jalan. Apa aku juga perlu berharap “yang tidak muluk-muluk” kepada anak gadisku nantinya? Doaku, jangan sampai. Setidaknya, aku tak mau ia menjadi telantar seperti aku yang ditelantarkan ibuku dulu, karena ia sudah cukup terlantar.
Aku wanita pengganggu, dulunya ibuku juga. Aku ditelantarkan, dulunya ibuku juga. Like mother like daughter. Lucu ya?
BRUKK!!
“Aw..!!”
Aku berteriak, ada yang mengikuti teriakan itu di waktu bersamaan. Bodohnya! Aku tidak memperhatikan jalan hingga menabrak orang.
Seorang gadis sebayaku tengah terduduk di atas jalan setapak kampus lantas mengusap tempurung kepalanya yang tadi beradu denganku. Kemudian ia segera bangkit, mengulurkan tangan dengan maksud memberikan bantuan untuk ku bangun.
“Maaf ya!” senyumnya tulus. Aku hanya mengangguk diam, sedikit tersenyum canggung tanpa ekspresi, mencoba mengenali wajahnya. Lalu ia permisi dari hadapanku dengan sopan. Hatiku seperti meloncat, lirih. Seharusnya aku yang minta maaf, karena telah menculik (hati) lelakimu diam-diam.

 “Falling in love is awfully simple, but falling out of love is simply awful.”
unknown
 

Kepada Cinta

Atas nama cinta, akhirnya berani kutulis surat ini. Surat yang kutujukan tepat untukmu, namun melalui angin. Beritahu aku setelah ini apakah ia sampai kepadamu atau belum sampai menembus ke dalam hatimu. Let me know, Sweety.

Kisah hidup yang pahit bukanlah sesuatu yang pernah diharapkan orang. Di sisi lain, justru itu terasa menyenangkan. Karena berkat kepahitan itu aku bertemu kamu, Reno. 

Lama tak bertemu. Kau muncul membawa banyak cerita. Dirimu bilang ingin menjadi introvert, biar misterius. Sayangnya aku sudah terlanjur mengenalmu terlalu jauh. Kau bilang agar tak ada yang mengasihani, padahal aku tak sedikitpun berpikir begitu. Justru aku yang seharusnya dikasihani, karena kau tak pernah sadar, bahwa gadis ini, yang dihadapamu, mencintaimu telah bertahun-tahun dengan sabar.

Rasa itu telah tumbuh sejak kita sekolah dulu dan entah kapan berakhir atau tak akan pernah. Kau bilang, teman-teman kita sekarang sama saja, tidak ada yang berubah. Tentu, seperti cintaku padamu. Saat ku menyalahi, kubilang tidak, teman-teman kita berubah namun secara fisiologis, kau mengiyakan. Padahal maksudku, yang berubah itu kamu. Jauh lebih tampan dari Reno kecil yang kukenal dulu. Itu hadiah bagiku, pasalnya aku mencinaimu bukan karena ketampananmu, tapi karena betapa istimewanya dirimu.

Hari ini kau akan pulang lagi ke tempat asalmu. Aku tak peduli, seberapapun jauhnya kamu, dimanapun adanya kamu, perasaanku kepadamu tetap sama, masih sama, dan selalu sama. Jika suatu saat kau lelah mengejar gadis itu, jangan sedih. Aku disini, selalu siap kau persunting. Semoga kau dengar.

With love,
teman sekolahmu dulu, yang kau anggap sahabat.

Di Balik Bintang

Seorang pria bertampang preman menghampiriku. Bau rokok tercium tajam saat ia meminta ongkos. Kondektur ini pasti sering melihatku, setiap senja naik bis yang sama, di tempat yang sama. Terkadang ada beberapa penumpang yang juga berbarengan denganku, dia-dia lagi, aku hapal wajahnya. Tapi tak pernah ada tegur sapa di antara kami. Bukannya aku sombong, tapi aku tipe orang yang tindak mudah berinteraksi dengan orang asing. Memang sombong sih, sedikit.
Beberapa kali bapak tua di sebelahku melirik, ke arah tas dan wajahku secara bersamaan. Sampai akhirnya Bintang, pangeran kecilku, menegur.
“Bu, Hp-nya bunyi tuh!” ia menunjuk dengan dagu runcingnya. Ibu tahu nak, ibu hanya pura-pura tidak tahu. Sudah ditegur anak, rasanya malu kalau berbohong. Baiklah, aku menurut.
Kurogoh HP itu dari dalam tas yang tak begitu besar. Kemudian langsung kusodorkan pada Bintang.

Nah, benar kan dugaanku.

“Halo, iya, Yah! Masih di bis, macet!” Bintang berseru layaknya orang dewasa.
“Ayah, mau ngomong sama ibu,” Bintang menyodorkan HP itu. Ah, kamu, polos sekali. tak bisa kah kau baca raut wajah ibu yang enggan?
Piip!
“Lho, kok dimatiin, Bu?” hardik Bintang ketika aku memasukkan HP ke tempat semula.
“Kepencet,” ujarku singkat. Membohongi Bintang bukanlah hal yang mudah. Perlu trik agar tidak ketahuan bohong. Terkadang aku berpikir, anak itu terlalu cerdas untuk menjadi anak kami, ayah dan ibunya.
Kubuang pandanganku ke luar kaca jendela bis. Lalu membuang nafas berat selepas-lepasnya. Hidup ini tak boleh disesali, tapi yang kupertanyaan adalah kapan ini berakhir? masalahnya, bukan usiaku. 
Dalam sehari ini sudah dapat dihitung sudah berapa kali si Ayah menelpon. Tentu, langsung kuserahkan pada Bintang. Aku kenal siapa kamu. Dengan caramu bersikap seperti itu, berarti kau sadar bahwa dirimu salah. Sayangnya, sadar saja tak cukup.

***
“Ayah!” Bintang berteriak lalu lari menghampiri ayahnya yang tengah berdiri di depan pintu.
“Uh, jagoan Ayah baru pulang!” Ia membuka lengan lebar-lebar lantas memeluk balita itu. 
“Ayo mandi dulu. Sudah mau maghrib!” Aku segera merebut Bintang, tanpa memandangnya, tanpa peduli ia sedang bercinta dengan puteranya.
Memandikan Bintang tak perlu waktu lama. Setelah selesai langsung kupersilahkan ia keluar dan mencari ayahnya untuk memakaikan baju. Baiklah, sekarang waktunya untukku sendiri. Bermain air semoga dapat menenangkan pikiranku yang sedang kacau sekali. Dingin, menentramkan. Tapi tetap saja otakku penuh dengan Boni, yang saat ini masih menjadi suamiku. Apa sih yang ada dipikirannya? Memenangkan emosi sendiri dan gengsi tanpa memikirkan anak dan istri. Berkelahi, bertengkar, adu mulut. Apa nggak bisa, tidak mencari masalah dengan rekan kerja apalagi bos? sekali saja. Apa dia tidak lelah terus-terusan resign dan mencari kerjaan baru yang sulitnya setengah mati. Dia tidak ingat, bahwa Bintang sebentar lagi harus masuk SD. Ah, aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya. Jangan sampai kau tahu bagaimana Ayahmu, Nak.
Air ini, dingin, mengalir. Membuatku lebih mudah bernapas. Seketika tubuhku menjadi lebih nyaman meski dingin. Di dalam, justru aku merasakan kehangatan. Suasana nyaman yang hanya kubuat dan kumiliki sendiri. Otot-otot yang seharian tadi dipaksa bekerja telah meregang. Punggungku terasa hangat, lalu rasa hangat ini melingkar ke perutku.
“Ah!” tiba-tiba aku baru menyadari, bahwa diam-diam Boni masuk ke kamar mandi dan memelukku dari belakang. Aku menghindarinya.
“Kenapa? aku kan suamimu!” Boni yang tak biasa romantis itu mendadak begini? Buru-buru aku meraih handuk dan mengikat rambut dengan handuk lainnya.
“Seorang suami itu memberi nafkah untuk istri dan anaknya!”
BRAKK!
Aku tahu, aku kasar untuk ukuran seorang istri yang baik. Tapi aku bersumpah, ini adalah puncak dari kesabaran yang telah kutahan selama ini. Dan ini harus.

“Love is not about the money. But it could be broke up ’cause money”
Me

Anak Magang

Kalenderku berganti bulan. Musim liburan telah tiba. Mungkin seharusnya kami senang, karena di setiap liburan ini pasti ada saja anak magang yang tentunya dapat (sangat) membantu. Tapi ya judulnya saja anak magang, tahu apa mereka tentang dunia kerja? Terakhir teman satu tempat kerjaku, Tere, bercerita bahwa ia dapat anak magang baru. Kebetulan sekali, selama liburan ini banyak perayaan di Jakarta. Itu berarti banyak juga yang artikel yang harus ditulis untuk edisi bulan depan.
Kata Tere, anak magang itu sebenarnya ‘bisa kerja’. Hanya saja dia sering ijin nggak jelas dan tidak masuk kerja. Padahal ya itu tadi, banyak artikel yang harus ditulis selama liburan ini. Lagi-lagi, kami hanya mengelus dada dan mengambil alih semua pekerjaan yang sebenarnya memang punya kami. Namanya juga anak magang. Sebut saja dia Elin. Umurnya mungkin belum ada dua puluh. Tentu ia berbeda dengan kami. Kami ini orang majalah masa kini, berbicara Lifestyle, tentu harus mengikuti mode baru tiap bertambahnya waktu. Sedangkan Elin? Simpel saja. Hanya dengan kaos pendek, jeans, dan sneakers belelnya. Sama seperti mahasiswa pada umumnya. Mungkin style itu terlihat keren dan casual, bila di kampus, sedangkan di kantor kami? di gudang lemari Mode? dandanannya jauh dari kata modis. Kuno.
Aku jujur saja, pernah beberapa kali mendapati Elin sedang melamun ke luar kaca kantor yang tidak ada apapun terlihat dari sana selain gedung-gedung tinggi menjulang. Sering sekali. Ekspresinya pun tak wajar, bak seorang pedagang Mangga Dua yang sedang memikirkan krisis naiknya pajak Bea Cukai. Seperti ada beban. Mungkin, yang entah apa itu, mengganggu pikirannya. Wajar sih, Tere tidak mengenal Elin, begitu pun aku. Lagipula untuk apa mendekati diri dengan ABG? yang ada nanti kami tertular menjadi ababil*. Sebenarnya sih kaminya lah yang tidak ingin bergabung dengan anak magang, apalagi saat istirahat siang, takut terlihat terlalu tua. Meskipun sebenarnya umur kami tak jauh dari mereka. Bedanya kami sudah bersuami, berkeluarga.
Pernah suatu kali aku memergoki meja Elin yang kosong. Mejanya kebetulan terletak tepat di tikungan, lorong, jadi mau tak mau pasti aku lewat dan menengok kesana. 
“Nggak, dia ijin. Katanya ada urusan beasiswa dari Menteri Pendidikan, ada apaan tau,” Tere menjelaskan saat kutanya dimana keberadaan Elin.
“Bayangin aja, baru masuk berapa hari, udah berani ijin!” sungut Tere kemudian.
Beasiswa? aku agak takjub mendengar bahwa Elin yang gadget-nya serba ada, dari mulai BB hingga Macbook, itu mendapat beasiswa. Eh, untuk apa juga aku mikirin dia? bukan urusan kita kan kalau Elin dapat beasiswa? asal jangan ia melepas tanggung jawab atas kerjaannya. 
“Sabar ya. Mungkin memang penting banget,” cuma kalimat itu yang bisa kuberikan untuk menangkan hati Tere yang panas saking banyaknya pekerjaan yang menumpuk. 
Antara kami dan anak magang biasanya memang ada jarak, itu sengaja. Biar mereka tidak melunjak dan tetap menghargai kami sebagai seniornya. Mekipun kami ber gue-elu. Tapi anak magang yang kali ini berbeda sekali. Kinerjanya baik tetapi sering bolos, dengan alasan yang berbeda dan tidak jelas. Selalu ada saja alasannya. Tapi ia tidak banyak bicara tentang dirinya. Disitu juga bedanya dengan yang lain dan yang dulu-dulu, biasanya anak magang banyak cerita tentang dirinya, agar mendapat simpatik dari kami. Tapi sayangnya, Elin tidak begitu. itu yang membuatku makin penasaran dengannya. Siapa sangka, mahasiswi serba ada seperti dia ternyata asal muasal ‘keserbaadaannya’ itu berasal dari uang beasiswa. Jauh dari dugaan kami bahwa dia anak orang kaya. Siapa sangka?
***
Secangkir cokelat panas lumayan menghangatkan tubuhku di suhu kantor yang dingin. Jemariku mengaduk-aduk asal, sambil aku terus menatap meja seberang, meja tempat anak magang, Elin. Anak magang yang baru masuk dan yang pertama. 
Terlalu kencang mengaduk dan karena melamun, tanganku menabrak cangkir hingga tumpah setengahnya. Warna cokelat muda itu berceceran menetes ke atas meja putihku. Gawat kalau tidak buru-buru dibersihkan. Aku melangkah cepat ke pantry dan mencoba menemukan kanebo. Tapi apa yang kudapat? seorang gadis tengah duduk dan membenamkan kepalanya di atas meja. Lemas.
“Elin?”
Gadis itu terkesiap dan segera merapikan rambutnya, mengelap wajahnya dengan telapak tangan, “eh, Mbak Tassia!”
“Kamu ngapain disini? dikirain kamu bolos lagi?” aku mengambil kursi yang ada di sebelahnya, mencoba mendengar apa yang terjadi pada dirinya.
“Aku nggak tahu lagi harus ijin apa sama Mbak Tere. Tapi kali ini memang aku harus pergi, Mbak!” matanya yang bulat berkaca-kaca. Aku tak tahu ia akan pergi kemana, aku juga tidak mau mencari tahu, gengsi sih.
“Bilang aja kamu sakit,” bodohnya, aku yang mengajarinya berbohong. Ini refleks, karena kasihan saja. Sungguh!
“Nggak mungkin, Mbak. Aku nggak bisa bohong. Pamali!” mendengar jawabannya, aku jadi speechless. Sedetik kemudian ringtone dari HP Elin berdering keras.
“Tuh, aku sudah ditelpon! Aku harus pergi sekarang juga mencari bapak kandungku!” Elin meronta. Aku tak paham siapa yang menelponnya, untuk apa, dan ada masalah apa ia dengan bapak kandungnya. Yang jelas, ia sedang dalam masalah besar, yang mungkin saja karena itu selama ini ia sering bolos. Masalah yang berat sekali, tak akan ada yang mengerti, begitu juga denganku. Tiba-tiba saja, perasaan serba salah muncul di benakku.
“Pergilah!” tukasku lembut.
“Lalu urusan dengan Mbak Tere?” tanyanya menggantung. Ah, si galak itu, ia lebih-lebih tak akan mengerti masalah yang mungkin rumit ini. Atau ia bisa malu kalau tahu anak magangnya yang selama ini ia anggap tidak becus, ternyata sedang berjuang mati-matian untuk hidupnya yang keras. Ya, tidak ada yang tahu.
“Gampang. Biar gue yang urus,” aku tersenyum. Sok malaikat sekali. Tapi lagi-lagi, ini refleks. Elin pun pergi, meninggalkan sejuta pertanyaan di otakku, yang kutahu tak mampu menjawabnya. Satu hal yang pasti, selama ini Elin bolos dan beralasan tidak pernah berbohong, memang hidupnya yang memaksa dia begini.
“Sometimes mouth is lying, but eyes always show you the truth,”
Me

Karena Aku Benci

 Ijinkanlah aku pergi menjauh                   atau kau saja yg menghilang
Karena    aku    tidak  suka  ini         Sungguh   aku   benci  sekali
Aku benci harus terus memikirkanmu setiap detik lalu melupakan kewajibanku
Aku  benci  harus  selalu  merindukanmu  padahal  kau  orang asing
Aku   benci   harus   mendambakan  tawa  manismu  sementara  kau  menyimpan  dusta
Aku  benci  harus  terpaku  menunggu  kau  menyapa, persis  orang  sakau
Aku benci harus mengharapkan kau kembali menjemputku memberi kebahagiaan
Aku benci harus menerjemahkan perasaan yang tak seharusnya ada ini
Aku benci harus mengatakan padamu aku tidak suka
Aku benci diriku
yang tak bisa membohongi hati ini
bahwa sebenarnya
ada rasa



Puisi ini kupersembahkan untuk mu, Mas. Dengarkah suaraku?

Trauma Eyang Akung

Nesha duduk tegang di bawah kaki-kaki kursi goyang yang sedang diam itu.
“Pokoknya, Eyang enggak setuju kalau kamu kuliah di Jepang!!” Teriak Eyang akung sambil membanting koran. Nesha terkejut sekali. Jarang Eyang Akung marah apalagi yang seperti ini.
“Tapi ini beasiswa lho, Yang! Bayangkan, ratusan orang lainnya yang pengin dapat kesempatan ini tapi mereka nggak lolos!” Nesha terus membujuk sang Eyang.
“Sudah, Eyang ngantuk!” tiba-tiba Eyang masuk ke dalam rumah dan beralasan ingin pergi tidur. Padahal jarang sekali beliau tidur siang, ya apalagi alasannya kalau bukan karena kesal?
Nesha murung sendiri. Mama dan Papa tentu bangga sekali atas beasiswa S2 ke Jepang ini. Tinggal meminta restu kepada Eyang kesayangannya. Ah, Eyang! Ada apa sih dengan Jepang? Dulu waktu Nesha ingin masuk S1 Sastra Jepang di sebuah Universitas Negeri ternama juga dilarang.
“Eyang enggak setuju kalau kamu ambil jurusan Sastra Jepang!”
“Kenapa, Yang? Karena Sastra?” Nesha butuh penjelasan.
“Bukan! Karena Jepang!”
Ujungnya, sama seperti tadi, Eyang ngambek dan pergi ke kamar. Bedanya hanya pada saat itu masih ada Eyang Uti di rumah ini, yang bisa dengan suksesnya membuat Nesha mengalah dan menurut.
***
“Eyang Uti, gimana kabarnya?” Nesha mendekati wanita tua berambut putih berkilau yang sedang duduk sambil menyisir rambut.
“Lho! Eyang kan selalu baik-baik saja,” seru Eyang Uti seperti tidak kelihatan sakit sama sekali. Dan tetap dengan senyum khasnya. Tak berbeda dengan tiga bulan lalu, ketika ia masih sehat dan tak perlu pengawasan dokter.
“Bagus deh,” Nesha berujar singkat dengan muka cemberut.
“Kok kayaknya kamu yang nggak baik kabarnya? ada apa, Permaisuriku?” Eyang menarik lengan Nesha agar duduk di sisi kasurnya.
“Nesha dapat beasiswa, Yang,” tukas Nesha pelan. Eyang Uti merebut dagu runcingnya, langsung terheran.
“Dapat beasiswa kok sedih? Bagus dong! Cucu Eyang memang hebat!”
“Nesha senang sekaligus sedih, karena beasiswanya ke Jepang,”
“Lho! Katanya itu negara idaman kamu? Pengin lihat sakura secara langsung kan?”
“Justru karena Jepang, Yang! Eyang Uti kan kenal siapa Eyang Akung,” Nesha mendesah, dahinya makin berkerut. Eyang Uti mengerti lantas menarik kepala Nesha ke dadanya dan membelainya perlahan.
“Haduh, Eyangmu yang satu itu memang susah sekali kalau soal Jepang. Dia benci. Trauma!” jelas Eyang Uti bijaksana.
“Memang ada apa sih, Yang, dengan Jepang? Apa hubungan Jepang dengan Eyang Akung?”
Eyang Uti tersenyum, lalu menatap jauh sekali. Menerawang masa 50 tahun yang lalu. Dimana ia dan kekasihnya, Eyang Akung, masih belia. 
“Waktu Jepang menjajah Indonesia, Eyang masih SMP. Dulu orang pribumi wajib belajar bahasa Jepang dan militer. Yang laki-laki kepalanya harus digundul, lalu menggali dan membuat lobang di setiap sisi jalan,”
“Lobang?” tanya Nesha bingung.
“Iya, di situlah Eyang Akung marah pada Jepang. Mereka menembaki para pribumi yang tua-tua, lalu membuang mayatnya langsung ke lobang itu. Dan ayah-ibu Eyang Akung menjadi salah satu korbannya. Karena pernah mencoba melawan saat dipekerjakan menjadi Romusha,”
Nesha manggut-manggut mengerti,
“Jepang ingin menjadikan negara kita ini sebagai Jepang kedua,” Eyang Uti melengkapi.
“Jadi, alasan Eyang Akung tidak pernah menjelaskan kematian kakek-nenek Uyut….”
“Iya,” Eyang Uti mengangguk manis, tahu bahwa Nesha tak sanggup meneruskan kalimatnya.
“Eyang Uti dan Eyang Akung sudah merawat Nesha dari kecil. Sekarang gantian Nesha yang nurut sama Eyang,” Eyang Uti berlinangan air mata. Cucu sematawayangnya yang sejak dulu dirawatnya kini tumbuh dengan baik. Rela melepaskan impiannya demi orang yang dikasihinya. Eyang Uti dan Eyang Akung yang lebih ia kenali dibandingkan Mama dan Papa-nya. Ya, resiko orang tua sibuk yang suka memindahkan tanggung jawab soal anak pada Nenek dan Kakeknya.
“Family give us everything, 
’cause Family is everything,”
Me

Cinta untuk Jera

Bukan Cinta yang membuatku dewasa
Tapi Luka
Seribu yang lama bahkan masih membekas dihati
Pahit dan, hebatnya, manisnya juga
Hentikan siklus ini bila tak indah
Kata-kata yang bermakna
Aku bahkan tak ingin menerjemahkannya
Sekali ini saja ijinkan hati ini yang menang
Meski kali ini terasa tidak mungkin
Jera
Adalah jawaban dari ketidakberdayaanku
Jangan lagi kendalikan perasaan ini
Aku sudah tak butuh penawar
Kesembuhanku hanya bila tiada lagi kata cinta