Dibalik Air Mata

Siapa bilang aku kuat? aku hanya pandai menyembunyikan segalanya. Sayangnya jika kamu mengenalku jauh, maka kau akan tahu bahwa aku adalah orang yang sangat lemah, cengeng. Air mataku itu kasat mata, dan baru akan turun jika kau sentuh aku perlahan. Maka itulah alasannya mengapa aku menghilang di setiap sedih ku. Karena, ya, aku mudah menangis. Dan menangis di depan orang lain adalah aib bagiku.
Aku pro terhadap orang yang cengeng. Ini masalah hak asasi. Bayangkan jika kau dalam keadaan dimana tidak ada orang mempercayaimu, keluargamu hidup diantara amarah demi amarah, studimu semakin memburuk, omelan dari pengajar yang sentimen, dan parahnya, sahabatmu yang biasanya satu-satunya harapan terakhir untuk menemani dan menyemangatimu ternyata juga tak lagi percaya kepadamu. Sahabatmu pergi, menganggapmu salah, dan lainnya mengikuti, mengucilkan. Lantas apalagi yang bisa kau lakukan di kala itu selain menangis? hanya itu bukan? Jawaban yang mungkin tak semua orang terima. Tapi itu pilihan akhir bagi orang yang kuat. Semua orang yang kuat, pernah menangis. Pasti pernah menangis.
Menangis seakan memperbaiki segalanya. Tangis adalah sahabat barumu. Bukankah sahabat adalah yang akan setia menemani di kala susah dan senang? Nah, hanya air mata kan yang begitu? Kau menangis saat kau sedih, juga saat kau terharu. Tangis adalah sahabat barumu. Tatkala sahabat yang kau percaya tak lagi ada.
Kau mungkin akan menangis di saat kau merasa bersalah, tapi bagaimana jika kau memang sebenarnya tidak bersalah? saat kau menimang-nimang bahwa segalanya sudah kau lakukan dengan sebaik mungkin, tapi ternyata selalu ada cacatnya di mata orang lain. Dan di matanya, kau tetap SALAH. Kau bertindak seperti orang bodoh, karena pada dasarnya kau memang tidak tahu. Hebatnya, orang-orang di dekatmu, yang biasanya selalu mempercayaimu malah ikut menyalahkanmu. Oke, mungkin mereka tidak menyalahkanmu sedikitpun, tapi sayangnya tak ada secuil rasa peduli untuk mendamaikan kau dan si “korbanmu”. Perasaanmu? ingin marah, kesal, malu, ya, tidak lagi punya muka. Ingin lari saja kalau bisa dan tak pernah kembali. Pasti, untuk orang secengeng aku, menangis adalah jalan terbaik yang akan kau pilih untuk mengurangi rasa terlemahmu. Mungkin selama ini kau tak menyadari itu. Tapi kau tidak memiliki jalan lain selain menangis, ternyata.
Kalau jelas-jelas kau mengaku tidak bersalah, lantas mengapa harus sedih? mengapa harus menangis? apa yang kau tangisi? kebodohonmu yang mau diperbodoh oleh sahabat sendiri karena terbuai oleh permainan bodoh yang sangat tidak masuk akal? terbuai suasana yang mengecammu hingga akhirnya kau merasa seolah bersalah. Akhirnya kau mengakui yang bukan kesalahanmu itu. Atau kau menangis karena, kau tidak tahu lagi harus berbuat apa karena semua orang tiba-tiba berubah menjadi orang lain yang tak pernah kau kenal dan berbeda?
Di dalam sanubariku, satu hal yang selalu kutanam, bahwa, semua orang pasalnya akan mengalami sesuatu yang berbalik, berbeda. Saat semua tak lagi sama, saat orang-orang di sekitarmu berubah menjadi tidak biasa dan tak kau kenali, saat semua berjalan menjadi semua yang tak pernah kau kehendaki. Dibalik berjuta beban yang kau tanggung, ternyata masih ada saja peluh yang tertinggal, yang harus kau elap juga. Dan membungkuk saat sedang memanggul beban berat untuk setitik noda di tanah sungguh tidaklah mudah. Percayalah, setiap orang pasti akan mengalaminya, termasuk dia yang memojokkanmu. Dunia itu berputar, dan sekarang saatnya kau berada di bawah. Bukankah atas membutuhkan bawah? Bukankah siang membutuhkan malam? Mungkin semua tak lagi sama, noda yang tertinggal mungkin akan berbekas, tapi ingatlah, siang pasti membutuhkan malam, dan atas pasti membutuhkan bawah 🙂

Maka menangislah, karena itu hakmu.

Menangislah….


What soap is for the body, tears are for the soul. 
Jewish Proverb

It is such a secret place, the land of tears. 
Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince

Kisah Kasih Penggemar Rahasia

Beri aku tiga abjad favorit, maka dengan senang hati akan kupilih huruf A, E, dan Z. Lalu akan kusambung menjadi kata favoritku, EZA. Nama seseorang yang telah bersarang di hati dan pikiranku selama bertahun-tahun. Kata yang lebih dari luar biasa, mungkin akan lebih pas untuk menggambarkan betapa hebatnya ia. 
Terhitung sudah hampir setahun aku mendambanya. Lewat sebuah jejaring sosial, blog.  Makin senang kuintip situs YouTube hanya untuk menemukan video terbarunya apaka sudah ter-upload disana. Aku selalu jadi penonton pertama, kuharap ia tahu itu. Semua film yang dibuatnya menurutku sangat bagus, bukan karena aku menyukainya, tapi memang karena ia pintar dalam mengemasnya. Suatu saat nanti, kuyakin, ia pasti menjadi Sutradara hebat dan terkenal. Maka aku tentu, akan menjadi saksi pertamanya, sebagai penggemar rahasianya. 
Lalu berlanjut kutemukan akun FB dan twitternya. Sering kutemukan ia sedang online. Ingin sekali aku sekedar menyapanya, bukan agar ia balik menyukaiku, tapi karena aku ingin dia tahu bahwa aku ada. Dan hasilnya? Aku menggigit bibir, keringatku bercucuran, otakku kosong, ujungnya pasti tak ada sepatah kata pun yang berhasil kuketik. Lagi-lagi, selalu, aku melewatkan kesempatan. Sebenarnya tak ada yang salah dengan sekadar menyapanya, tapi salahnya adalah otakku tak bisa diajak bekerjasama setiap aku ingin menyapanya. Sudahlah, aku lelah, berhenti. Kunikmati hari-hari hanya dengan menatap halaman profilenya. Meski bulan terus berganti dan menahun, perasaanku tak ada yang berubah, bahkan lebih. Semakin aku mengenalnya, maka semakin aku menyukainya. Aku mengenalinya dengan sangat baik. Aku tahu makanan kesukaannya, kegiatan sehari-harinya, apa rencananya ke depan, bahkan hal-hal kecil tentang dirinya. Andai kamu tahu, waktu yang hampir setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa bertahan menyukai seseorang. 
Kunikmati kepengecutanku ini dan kubiarkan semuanya mengalir begitu saja. Aku belajar bagaimana caranya mencintai dengan sabar, bukan mencintai sebelah tangan, tetapi mencintainya secara sepihak selama hampir setahun. Orang yang bahkan tak pernah kutemui secara langsung, yang aslinya tidak kukenal sama sekali. Bukankah cinta bisa datang tiba-tiba? Bukankah cinta tak bersyarat? Maka, kuanggap tak ada yang salah dengan perasaan ini. Aku akan terus mencintainya dalam diam, dengan sabar.
Anehnya, dunia seolah mendengar isi hatiku. Aku, akhirnya, meninggalkan desa kecilku di bagian tengah jawa dan pindah ke Depok untuk melanjutkan studi. Dan di Depok itulah kisahku berlanjut. Ah, bukan berlanjut, tetapi dimulai. Akhirnya, kisahku bermula. Siapa sangka, aku ternyata berada di kampus dan fakultas yang sama dengan pangeran malamku?! Yang dulu bahkan kami tinggal berbeda propinsi. Ini bukan mimpi!! Ya, kami bertemu! Dan seperti dugaanku, ia memiliki fisik yang Maha Sempurna; tubuh tinggi tegap, dada yang bidang, betis yang terbentuk akibat terlalu sering mengayuh sepeda. Ciri-cirinya menggambarkan ia seperti seorang olahragawan, padahal ia adalah seniman sejati, berasal dari ayah-ibu yang mengalirkan darah seni. Ia hanya terbiasa hidup sehat dan menikmati hidup dengan cara yang manual. Satu dari sekian banyak nilai plus yang tiada hentinya kupuja-puja dari seorang Eza.
Setiap harinya di kampus, aku selalu mencari dan mencuri pandang padanya. Seperti vitamin, melihatnya setiap hari seperti sebuah kewajiban. Bodohnya, kepengecutanku masih saja sama dan tidak berubah, sering kali aku hanya diam mematung atau bertindak bodoh ketika berpapasa dengannya. Entah untungnya atau sayangnya, Eza tak pernah menyadari itu, menyadari bahwa sekarang ada orang bodoh di hadapannya, yang menyukainya sejak lama. 
Tak terasa, tahun pertama perkuliahan sudah berhasil kulewati. Tapi selama itu, belum sekalipun aku berhasil menyapa Eza.Sudah hampir dua tahun. Hubungan ini sama sekali tidak ada perkembangan, sama sekali belum dimulai. Teman-teman dekatku makin gemas, ada Nesha, yang ingin sekali membantu mencomblangi aku dan Eza, tapi ia urung ketika ingat bahwa ia pernah gagal mencomblangi adik kelasnya dulu karena malah ia yang akhirnya jatuh cinta kepada target, Nesha trauma. Beberapa teman lain sebenarnya juga ingin sekali membantu, tapi tak satu pun dari mereka yang dekat dengan Eza, sehingga rencana tak ada yang terlaksana. Lagipula, mereka berpikir bahwa tak ada yang salah dengan kediamanku ini, selama aku menikmatinya.
Sampai suatu hari, semuanya dimulai dengan sempurna, oleh Fio. Sudah tiga bulan ini Fio dekat dengan Eza, untuk sebuah misi perlombaan tingkat kampus. Ya, Fio anak BEM di fakultas, dan ia dengan sangat tepat mencalonkan Eza untuk lomba film, sebagai perwakilan fakultas kami. Tidak, tentu bukan Fio yang menceritakan itu semua kepadaku. Sudah pasti, aku akan tahu, Eza sedang dekat dengan siapa dan untuk apa. Aku tahu, tanpa harus ada yang memberitahu. Mungkin itu bakat terpendamku, menjadi seorang Stalker.
“Za, kenalin, ini Sheva!” Tiba-tiba Fio menarikku, ke hadapan Eza, pada sore itu, di sebuah acara BEM.
Deg!! Jantungku seperti mau copot. Wajahku seratus persen cengo. Tapi, kali ini, aku tak ingin lengah lagi, aku harus memanfaatkan kesempatan ini!
“Nilla,” akhirnya, entah dapat kekuatan darimana, aku berani menyodorkan tanganku, mengajak berkenalan duluan. 
“Loh, katanya Sheva?” Eza yang bingung lantas menatapku kemudian Fio.
“Iya, nama gue Shevanilla. Cuma Fio yang manggil gue Sheva hehe,” sukses, aku tersenyum garing.
“Oh, oke, Nilla, Hai! Gue Eza,” tangan besar itu menyambutku dengan hangat, tangan yang kokoh, mengayomi. Dan akhirnya hari ini terjadi, hari yang kuimpikan di setiap malam di tidurku selama hampir dua tahun. Senyumnya memecah kegugupanku, tubuh tinggi itu ternyata benar adanya dan aku tak seberapa tinggi dibandingkannya. Rambut ikalnya mengilat sekali, tergantung jatuh akibat dikuncir kuda. Eza yang asli, jauh lebih indah dari yang di layar monitorku.
Fio beranjak, harus kembali mengurus acara, aku membuntut di belakangnya. Sebenarnya berat meninggalkan Eza, tapi lebih berat lagi bila harus menatap wajahnya. Ah, aku tak boleh mengharap lebih padanya, mungkin setelah ini ia pasti akan melupakanku. Bukankah Eza adalah orang terkenal di kampus dan ia tidak mungkin mengingat nama semua orang di kampus ini?
“Eh, nama lo Shevanilla Azatta ya? yang selalu komen di blog gue kan?” suaranya setengah berteriak. 
Deg!! Ketahuan!

Dia ingat! Dia mengingatku!!
Aku berbalik, kudapati alis Eza bertaut. Raut wajahnya menggambarkan harapan; “semoga tebakan gue benar”.
Dengan senyum yang tertahan, aku mengangguk, wajahku yang merah padam berusaha kusembunyikan.Tak kusangka, dia mengingatku. Setelah itu, ia tersenyum terperangah. Kuanggap itu adalah sebuah permulaan yang cukup baik untuk hubungan ini.
Ya, Eza, kisah kita baru saja dimulai, akhirnya.

“Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud.  It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.”


Corinthians
cerita ini dipersembahkan untuk sahabat terbaik, 
Annisa Aulia Jasmine.
Ini kado kecil atas kebaikan-kebaikanmu.

Salam Sampai Jumpa

Sama seperti malam-malam sebelumnya, seperti bulan yang tak pernah lagi datang. Mungkin malam memang akan tetap hitam. Semua masih sama, namun tetap saja ada yang hilang. Seperti matahari yang merasa sepi meski jutaan bintang menemani. Aku rindu malam yang biasanya. Dimana selalu kau panggil namaku syahdu, dimana selalu kau kutip pesan rindu untukku. Dimanakah suara-suara itu sekarang?

Sesekali ingin sekali kujemput rindu. Tapi apakah ada rindu untukku? Perasaanmu itu mungkin saja telah hilang sebelum sempat kugenggam. Aku tak menyangkal bahwa aku terjatuh, haha terjembab tepatnya. Mungkinkah hatiku jatuh kepada orang yang salah?

Tidak pernah ada kata salah dalam mencinta. Yang salah adalah bila kau membohongi sendiri bahwa kau mencintai seseorang, seperti kamu. Ya, kamu yang tak pernah mengaku. Atau memang tak pernah adakah rasa itu? Dan aku adalah satu dari puluhan orang gadis mainanmu? Oh, indahnya jadi lelaki.

Sesekali aku tentu ingin tahu apa alasanmu tak datang lagi. Ternyata benar dugaanku,, ada yang lain, ada yang baru. Kau seharusnya tahu aku cemburu, lantas untuk apa selalu kau sundut api cemburu itu? untuk apa selalu kau pancing amarahku? Mengapa harus terus menusuk-nusuk perasaanku seperti ini?

Kepergianmu yang aneh dan begitu saja adalah pelajaran bagiku. Pelajarannya, kepergianmu adalah sebuah pembuktian dan tak perlu disesali. Karena ternyata aku tak sespesial itu bagimu. Jadi silahkan pergi. Silahkan kembali lagi jika kau menyesal dan (perasaan) aku telah menjadi pelajaran bagimu. Sampai jumpa!