Kisah Kasih Penggemar Rahasia

Beri aku tiga abjad favorit, maka dengan senang hati akan kupilih huruf A, E, dan Z. Lalu akan kusambung menjadi kata favoritku, EZA. Nama seseorang yang telah bersarang di hati dan pikiranku selama bertahun-tahun. Kata yang lebih dari luar biasa, mungkin akan lebih pas untuk menggambarkan betapa hebatnya ia. 
Terhitung sudah hampir setahun aku mendambanya. Lewat sebuah jejaring sosial, blog.  Makin senang kuintip situs YouTube hanya untuk menemukan video terbarunya apaka sudah ter-upload disana. Aku selalu jadi penonton pertama, kuharap ia tahu itu. Semua film yang dibuatnya menurutku sangat bagus, bukan karena aku menyukainya, tapi memang karena ia pintar dalam mengemasnya. Suatu saat nanti, kuyakin, ia pasti menjadi Sutradara hebat dan terkenal. Maka aku tentu, akan menjadi saksi pertamanya, sebagai penggemar rahasianya. 
Lalu berlanjut kutemukan akun FB dan twitternya. Sering kutemukan ia sedang online. Ingin sekali aku sekedar menyapanya, bukan agar ia balik menyukaiku, tapi karena aku ingin dia tahu bahwa aku ada. Dan hasilnya? Aku menggigit bibir, keringatku bercucuran, otakku kosong, ujungnya pasti tak ada sepatah kata pun yang berhasil kuketik. Lagi-lagi, selalu, aku melewatkan kesempatan. Sebenarnya tak ada yang salah dengan sekadar menyapanya, tapi salahnya adalah otakku tak bisa diajak bekerjasama setiap aku ingin menyapanya. Sudahlah, aku lelah, berhenti. Kunikmati hari-hari hanya dengan menatap halaman profilenya. Meski bulan terus berganti dan menahun, perasaanku tak ada yang berubah, bahkan lebih. Semakin aku mengenalnya, maka semakin aku menyukainya. Aku mengenalinya dengan sangat baik. Aku tahu makanan kesukaannya, kegiatan sehari-harinya, apa rencananya ke depan, bahkan hal-hal kecil tentang dirinya. Andai kamu tahu, waktu yang hampir setahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa bertahan menyukai seseorang. 
Kunikmati kepengecutanku ini dan kubiarkan semuanya mengalir begitu saja. Aku belajar bagaimana caranya mencintai dengan sabar, bukan mencintai sebelah tangan, tetapi mencintainya secara sepihak selama hampir setahun. Orang yang bahkan tak pernah kutemui secara langsung, yang aslinya tidak kukenal sama sekali. Bukankah cinta bisa datang tiba-tiba? Bukankah cinta tak bersyarat? Maka, kuanggap tak ada yang salah dengan perasaan ini. Aku akan terus mencintainya dalam diam, dengan sabar.
Anehnya, dunia seolah mendengar isi hatiku. Aku, akhirnya, meninggalkan desa kecilku di bagian tengah jawa dan pindah ke Depok untuk melanjutkan studi. Dan di Depok itulah kisahku berlanjut. Ah, bukan berlanjut, tetapi dimulai. Akhirnya, kisahku bermula. Siapa sangka, aku ternyata berada di kampus dan fakultas yang sama dengan pangeran malamku?! Yang dulu bahkan kami tinggal berbeda propinsi. Ini bukan mimpi!! Ya, kami bertemu! Dan seperti dugaanku, ia memiliki fisik yang Maha Sempurna; tubuh tinggi tegap, dada yang bidang, betis yang terbentuk akibat terlalu sering mengayuh sepeda. Ciri-cirinya menggambarkan ia seperti seorang olahragawan, padahal ia adalah seniman sejati, berasal dari ayah-ibu yang mengalirkan darah seni. Ia hanya terbiasa hidup sehat dan menikmati hidup dengan cara yang manual. Satu dari sekian banyak nilai plus yang tiada hentinya kupuja-puja dari seorang Eza.
Setiap harinya di kampus, aku selalu mencari dan mencuri pandang padanya. Seperti vitamin, melihatnya setiap hari seperti sebuah kewajiban. Bodohnya, kepengecutanku masih saja sama dan tidak berubah, sering kali aku hanya diam mematung atau bertindak bodoh ketika berpapasa dengannya. Entah untungnya atau sayangnya, Eza tak pernah menyadari itu, menyadari bahwa sekarang ada orang bodoh di hadapannya, yang menyukainya sejak lama. 
Tak terasa, tahun pertama perkuliahan sudah berhasil kulewati. Tapi selama itu, belum sekalipun aku berhasil menyapa Eza.Sudah hampir dua tahun. Hubungan ini sama sekali tidak ada perkembangan, sama sekali belum dimulai. Teman-teman dekatku makin gemas, ada Nesha, yang ingin sekali membantu mencomblangi aku dan Eza, tapi ia urung ketika ingat bahwa ia pernah gagal mencomblangi adik kelasnya dulu karena malah ia yang akhirnya jatuh cinta kepada target, Nesha trauma. Beberapa teman lain sebenarnya juga ingin sekali membantu, tapi tak satu pun dari mereka yang dekat dengan Eza, sehingga rencana tak ada yang terlaksana. Lagipula, mereka berpikir bahwa tak ada yang salah dengan kediamanku ini, selama aku menikmatinya.
Sampai suatu hari, semuanya dimulai dengan sempurna, oleh Fio. Sudah tiga bulan ini Fio dekat dengan Eza, untuk sebuah misi perlombaan tingkat kampus. Ya, Fio anak BEM di fakultas, dan ia dengan sangat tepat mencalonkan Eza untuk lomba film, sebagai perwakilan fakultas kami. Tidak, tentu bukan Fio yang menceritakan itu semua kepadaku. Sudah pasti, aku akan tahu, Eza sedang dekat dengan siapa dan untuk apa. Aku tahu, tanpa harus ada yang memberitahu. Mungkin itu bakat terpendamku, menjadi seorang Stalker.
“Za, kenalin, ini Sheva!” Tiba-tiba Fio menarikku, ke hadapan Eza, pada sore itu, di sebuah acara BEM.
Deg!! Jantungku seperti mau copot. Wajahku seratus persen cengo. Tapi, kali ini, aku tak ingin lengah lagi, aku harus memanfaatkan kesempatan ini!
“Nilla,” akhirnya, entah dapat kekuatan darimana, aku berani menyodorkan tanganku, mengajak berkenalan duluan. 
“Loh, katanya Sheva?” Eza yang bingung lantas menatapku kemudian Fio.
“Iya, nama gue Shevanilla. Cuma Fio yang manggil gue Sheva hehe,” sukses, aku tersenyum garing.
“Oh, oke, Nilla, Hai! Gue Eza,” tangan besar itu menyambutku dengan hangat, tangan yang kokoh, mengayomi. Dan akhirnya hari ini terjadi, hari yang kuimpikan di setiap malam di tidurku selama hampir dua tahun. Senyumnya memecah kegugupanku, tubuh tinggi itu ternyata benar adanya dan aku tak seberapa tinggi dibandingkannya. Rambut ikalnya mengilat sekali, tergantung jatuh akibat dikuncir kuda. Eza yang asli, jauh lebih indah dari yang di layar monitorku.
Fio beranjak, harus kembali mengurus acara, aku membuntut di belakangnya. Sebenarnya berat meninggalkan Eza, tapi lebih berat lagi bila harus menatap wajahnya. Ah, aku tak boleh mengharap lebih padanya, mungkin setelah ini ia pasti akan melupakanku. Bukankah Eza adalah orang terkenal di kampus dan ia tidak mungkin mengingat nama semua orang di kampus ini?
“Eh, nama lo Shevanilla Azatta ya? yang selalu komen di blog gue kan?” suaranya setengah berteriak. 
Deg!! Ketahuan!

Dia ingat! Dia mengingatku!!
Aku berbalik, kudapati alis Eza bertaut. Raut wajahnya menggambarkan harapan; “semoga tebakan gue benar”.
Dengan senyum yang tertahan, aku mengangguk, wajahku yang merah padam berusaha kusembunyikan.Tak kusangka, dia mengingatku. Setelah itu, ia tersenyum terperangah. Kuanggap itu adalah sebuah permulaan yang cukup baik untuk hubungan ini.
Ya, Eza, kisah kita baru saja dimulai, akhirnya.

“Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud.  It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.”


Corinthians
cerita ini dipersembahkan untuk sahabat terbaik, 
Annisa Aulia Jasmine.
Ini kado kecil atas kebaikan-kebaikanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s