Surat , Bukan Diari, Tentang Kanda

Diari Surat tentang Kanda,

Tak perlu kutanya, kabarmu pasti baik kan, Kanda, selama cinta kita masih bersatu? Selama aku ada untukmu dan kau begitu, maka semua akan baik saja.

Kanda, kuharap kau sudi mendengar. Terlalu banyak peristiwa ber’arti’ hari ini bila dilewatkan. Aku mencoba mengingat-ingat lagi, ya, sudah sejak baru membuka mata di pagi hari, hingga saat ini saat kuberanjak ingin tidur, terlalu banyak hal baru yang terjadi. Bukan baru sebenarnya, tapi aku yang baru tahu dan itu membuatku terkejut.

Di luar itu, banyak hal yang berkaitan dan melulu kupikirkan. Terkadang mungkin jenuh hanya bertanya pada diri sendiri dengan pertanyaan yang itu lagi-itu lagi. Tapi sayangnya, aku bisa apa? Bisa menahan sabar saja rasanya sudah cukup. Aku tak punya alasan untuk berlaku jahat pada Kanda yang sudah sebaik malaikat terhadapku.

Sementara itu, aku tetap menjalani hari dengan Kanda sambil terus tertawa dan bercanda, seperti biasanya. Kanda, apakah gerangan yang membuatmu bisa terus sebahagia itu? Kehadiranku disisi mu kah? Atau itu adalah salah satu usahamu agar kau seperti terlihat punya dunia yang baru alias melupakan masa lalu? Aku ragu, Kanda. Aku menyimpan tangis dalam tawamu. Ya, tawa kita.

Malam tadi, aku bermimpi buruk lagi. Mimpi burukku hanya dua, kalau bukan kehilangan kamu, ya tentang kita. Entah bagaimana, kenapa Felis bisa hadir dalam mimpiku? Dan dengan senyum yang sama. Senyum sinis dan penuh kebencian terhadapku. Seperti yang terjadi di dunia nyata. Senyumnya seolah seperti memberti peringatan, bahwa aku hanya dapat bertahan hidup untuk waktu yang bisa dihitung jemari. Ah, aku tak mungkin cerita. Kau saja pura-pura lupa tentang dia.

Selanjutnya, siang tadi, saat aku sedang bercengkrama bersamamu. Sadarkah kau ada yang mengintai kita dengan tatapan tidak suka? Aku sebenarnya. Ia menatap kepadaku. Tatapan penuh bisa. Begitu pula teman-temannya. Pepatahku kini, dapat satu, pergi seribu. Aku risih, merasa terganggu. Tapi pasti bercerita kepadamu tak akan membantu, kau saja seperti tak pernah mengenalnya lagi, kini.

Ternyata penderitaanku tak hanya sampai disitu. Beberapa waktu kemudian aku baru menyadari sesuatu. Gadis Itu, Hae namanya, yang sekali sempat kau ceritakan padaku, ternyata adalah orang yang dekat sekali denganku. Dekat dalam jarak, tentu bukan gelagat. Tapi jarak. Kami sering berpapasan, saat bercermin di toilet, melirik wajah satu sama lain dan setelah kuamati, Oh ternyata dia orangnya. Yang dulu berhasil merebut perhatianmu, entah seberapa banyak.

Tahukah kau, Kanda, bahwa aku sesak? Kemana pun aku melangkah selalu kutemukan bayangan hitammu dalam wujud gadis-gadis itu! Tak pernah kah kau mengerti bahwa aku sekarang punya musuh. Musuh bukan atas kesalahanku, tapi karenamu. Gadis-gadis itu kini membenciku. Kenapa harus aku, Kanda? Aku salah apa? 

Tak perlu kuteriakkan lagi, bahwa aku mencintaimu setulus hatiku, Kanda. Tapi aku mencintaimu, bukan untuk membenci orang lain. Apalagi dibenci. Engkau ternyata tak hanya terlalu baik untukku, tapi juga terlalu jahat. Lindungi aku dari kejahatan masa lalumu. Bahkan buat aku percaya bahwa kau yang ini tak lagi sama.

Tak perlu kau balas surat ini bila kau tak merasa, Kanda. Akan kutulis alamat yang salah agar surat ini tak pernah sampai padamu. Karena sekali lagi, aku mencintaimu setulus hatiku, kau tak perlu tahu apa itu ragu yang membelenggu hatiku, apalagi ragu akan cintaku kepadamu. Biar nanti kutanyakan pada waktu. (Waktu kan cerdas sekali, senang menjawab pertanyaan manusia kan?)

Milikmu (kini),

Dinda.

Saksi Bisu

Bagi dua orang yang saling menyukai, hal buruk seakan tak akan pernah terjadi. Padahal dengan saling memiliki mereka mencoba membunuh masa lalunya, masa lalu tentang hatinya, perasaan yang pernah ada tentang seseorang sebelum kehadiran seseorang.
Aku telah berkali-kali menjadi saksi bagi kehidupan Endro, sahabat terbaikku. Aku mengenalnya jauh dari siapa pun. Malam ini kudapati Endro tersenyum begitu bahagia. Nia juga sama. Mungkin Nia berpikir inilah senyum terbaik Endro di dalam hidupnya. Senyum yang ditujukan hanya untuknya, senyum atas kemenangannya. Dibalik itu, aku tahu sebenarnya Nia resah, apakah Endro belum pernah tersenyum sebahagia itu sebelumnya, saat bersama gadis lain, saat sebelum bersama dirinya. Nia tidak tahu.
Ya, Nia memang nyonya baruku. Tapi aku juga mengenal baik siapa nyonya-nyonya Endro terdahulu. Endro banyak bercerita tentang hatinya. Hanya padaku. Ya maklumlah, membicarakan cinta bagi pria adalah persoalan tabu. Dari kesemua hubungan yang pernah dibentuknya, akhir yang tidak baik yang selalu terjadi. Endro juga pernah bercerita bahwa Nia berbeda. Ia begitu menyukai Nia, entah bagaimana bila dibandingkan dengan gadis-gadis lamanya. Sepertinya, Endro benar-benar menyukai Nia saat ini. Hanya Nia. 
Endro dan Nia terus berceloteh dan tertawa saat bersiap-siap menaikiku. Mesinku telah dinyalakan, aku siap melaju kencang membawa pasangan baru ini ke tempat yang Endro kehendaki. 
Hingga hal buruk terjadi. Kegundahan di wajah Nia tercipta. Ya, sejak tadi aku lihat Nia khawatir akan sesuatu. Saat mereka tertawa, ditengah lajuku, Nia menemukan sosok Hani, gadis lama Endro. Sialnya, Hani duluan yang menatapnya. Hani tercengang, terkejut saat mendapati Nia menggantikan posisinya, disini, di atas tubuhku. Nia yakin, cowok yang ada di sisi Hani adalah pacar barunya. Tapi mengapa tatapan Hani harus begitu? haru sesinis itu?
Aku merasakan kegundahan Nia yang tiba-tiba. Tawanya lenyap, senyumnya pudar. Betapa ia merasa kesal harus menjadi nomor kesekian dan tidak bisa menghapus bayang-bayang sosok mantan Endro dari hidupnya. Mengingat mereka hanya akan merenggut kebahagiaannya dengan Endro. Tapi Nia kesal, kenapa harus ada Hani dan gadis lainnya sebelum ia? 
Sayangnya, detik itu juga, aku menangkap pikiran Hani yang sama kesalnya. Ia mungkin tidak berhak marah pada Endro karena toh ia duluan yang sudah punya pacar baru. Tapi Hani tetap merasakan kekesalan. Siapa gadis itu? Apa karena dia, hubungan aku dan Endro memburuk beberapa bulan lalu? 
Mereka akhirnya terpaksa berpapasan. Nia tak yakin apakah Endro melihat sosok Hani dengan pacar barunya, Nia ingin tahu apa pendapatnya. Endro tidak bereaksi, ia bergelagat bak orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi tawanya berhenti, candanya tak ada lagi. Ia membisu seketika. Itu yang janggal. Nia benci, ia ingin tahu apa yang dipikirkan Endro. 
Hani pun demikian, saking terkejutnya ia sampai melupakan pria disisinya. Diabaikannya omongan pacar barunya itu, matanya menjauh, mengintai Nia dan Endro yang makin lama menghilang. 
Nia membuang nafas berat. Ah, Nia, kau harus terbiasa. 
Suasana hening seketika. Aku menjadi saksi bisu malam itu dan mungkin seterusnya.
Nia

Benci katanya

Ijinkan aku pergi menjauh
Karena aku benci
Aku benci harus terus memikirkanmu setiap detik lalu melupakan pekerjaanku
Aku benci harus selalu merindukanmu padahal kau orang asing
Aku benci harus mendambakan tawa manismu sementara kau menyimpan dusta
*Puisi ini dibuat tepat dua bulan yang lalu.

Delete

Hari ini tentu akan selalu kuingat. Mungkin ini bukan pertama kalinya bagi mereka, tapi IYA bagiku. Akhirnya dengan mata kepalaku sendiri, aku menjadi saksi bahwa aku telah menjadi korban. Korban perasaan dari apa itu cinta. 
Andaikan aku bisa memilih, maka aku akan pilih bukan untuk berlari, apalagi sambil menangis. Yang aku pilih adalah tenaga tambahan, agar bisa menjadi kuat. Atau aku akan memilih untuk menjadi mati rasa, selamanya setelah ini, tidak hanya untuk detik tadi.
Dan aku meminta keadilan mengapa pembagian waktu tidak sama. Di saat-saat tidak enak seperti itu, malah waktu terasa lama sekali berlalu. Setiap detiknya menjadi menit, menit seperti enggan berganti jam. Namun “kelamaan” itu membuat aku bisa menatap baik-baik siapa gadis di sisinya, yang diimpikannya selama ini. 
Belum pernah kuduga sebelumnya, dialah orangnya. Permainan Ardi begitu rapi. Tak akan ada yang tahu tentang siapa saja gadis yang sedang dekat degannya dan yang mana yang sesungguhnya dingiinkannya. Semua terasa sama, ia memperlakukanku bahkan seperti sangat mendambaku, bahkan mungkin ia sudah merasa memilikiku. Ya, dia penipu.
Aku masih pura-pura tidak memperhatikan. Dari sudut mataku, mereka terlihat begitu bahagia, bercanda dan sesekali saling menepuk pundak saking gelinya tawa mereka. Apakah tidak boleh jika aku berpikir, You belong with me atau I should be there next to you? Tapi itu nyatanya perasaanku, isi hatiku, bukan hanya di mulut seperti yang sering kau lakukan kepadaku, Di.
Setelah menuruni tangga, kemudian mereka berjalan bersama keluar gedung. Biar kutebak, mungkin menuju kantin, mereka akan makan siang bersama. Aku masih berpura-pura sibuk dengan stand event yang sedang kujaga. Seharusnya aku tak perlu pura-pura tidak lihat mereka, toh mereka tak akan menyadari bahwa ada aku disana. Memperhatikan mereka, mencaci-maki Ardi dalam hati, dan mempertanyakan kenapa harus gadis itu dan bukan aku.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan gedung aula, tidak terlihat lagi, menghilang bersama tawa mereka yang terdengar perih di telingaku. Mereka akhirnya pergi menyeret sejuta harapan dan air mata yang tak sanggup kukeluarkan. Bukan mereka, tapi Ardi. Pria yang sudah berhasil membuatku jatuh hati selama beberapa tahun ini. Banyak kata yang ingin kusampaikan padamu, Ardi. Banyak sekali. Seharusnya kau tak pernah memberi harapan palsu padaku, seharusnya jangan aku yang kau manfaatkan sebagai pelarian saat kau belum bisa mendapatkannya,  seharusnya aku tak disini tadi menyaksikkan kalian berdua, seharusnya aku tak pernah mengenalmu, seharusnya aku yang ada di sampingmu bukan hanya kemarin, tapi juga saat ini dan nanti. Dan kini mungkin hanya satu “seharusnya” yang ingin kuungkapkan dan cukup mewakili semuanya; seharusnya aku tak mencintaimu apalagi sedalam ini.
Aku tak ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan sampai bisa sesenang itu. Yang ingin kutahu adalah bagaimana caranya Ardi dengan hebat mempermainkan dua hati dalam satu waktu, dua gadis dalam satu hati, atau mungkin lebih, aku tak tahu. 
Kedua lututku terasa lemas sekali, aku mendadak rapuh. Bukan hanya hati, tapi seluruh badanku. Masih berartikah kalau aku menyemangati diriku sendiri untuk menjadi kuat? Masih berpengaruh kah? Tidak akan ada artinya lagi.
Kuraih Handphone dari saku celana. Dengan hanya beberapa kali tekan tombol, nama itu muncul disana. 
From: Ardi
To: Me
Sayaaaaaaaang :*
Pesan itu baru dua bulan yang lalu muncul di HP-ku. Secepat itukah Ardi? Perasaanku selama dua tahun ini harus kandas dalam hanya dua bulan saja? Atau memang perasaan itu memang tidak pernah ada padamu?  Tak dinyana, air mataku tumpah akhirnya, menetes satu per satu, berkali-kali, membasahi layar HP hingga membuatku tak yakin apakah telah berhasil kupencet tombol delete. Bukan hanya untuk pesan, tapi juga contact-nya.

“I love you for everything, 
but I hate you for ONE, 
for not letting me have you”
unknown 

Kau Pemiliknya

Sebut saja kau ingin
Namun itu tak bertepi
Semua tak semudah kedengarannya
Tidak semudah jika kau tak pernah ada
Atas nama yang muncul di benak setiap hari
Ternyata kau pemiliknya
Ribuan pesan tak mampu lagi berucap
Mawar berkaca kepada pengirimnya
Gundah yang ini tak jelas apa namanya
Meraung dalam pikiran berkecamuk
Berusaha mendobrak dunia nyata
Menghapus penat dalam kebahagiaan apa adanya
Kemudian kucoba ungkapkan kegelisahan itu
Tanpa suara yang berarti
Di atas sebuah batu kali yang tak mungkin hancur
Gelisah itu karena aku cinta kamu

Rasa Penyesalan

Siang hari di Essen begitu sejuk. Tidak seperti di Jakarta. Di setiap istirahat, biasanya ada sebuah email yang menanti untuk gue baca. Selalu ada yang masuk setiap hari, setiap siangnya, menemani gue menikmati lunch yang hampir selalu fastfood. Siang itu gue putuskan untuk makan di luar kampus. Burger King bukanlah pilihan akhir, tapi mencari nasi di Jerman susah sekali. Sepertinya, di negara lain selain Asia juga begitu, mungkin. Disini  Burger King menjamur jumlahnya, seperti McD di Indonesia. Jadi, ya, BK lagi BK lagi.
Semenjak tinggal di negara ini, email menjadi amat penting bagi gue. Satu-satunya media yang aktif menghubungkan gue dengan keluarga maupun teman-teman di tanah air. Namun, maaf sekali, di setiap siangnya, hanya ada satu pesan yang gue cari. Pesan darinya selalu menjadi priority. Gue men-scroll layar Mac dengan hanya sentuhan jari. Mencari satu nama di antara pengirim pesan baru lainnya. 
Ya, ketemu!
1 Neue Nachricht von Chila*
Klik!
Selesai.

Bahkan tak ada sekalimat pun dari Chila yang menanyakan kabar gue. Mari berpikir positif, mungkin ia memang sedang panik dan butuh saran secepatnya. Ya, seingat gue, Chila sering ditembak cowok,tapi anehnya dia belum pernah sebingung ini sebelumnya. Emmm…mungkin Egi memang jodohnya.

Detik itu juga, setelah menyadari dunia nyata, bahwa Chila disana sedang membutuhkan (saran) gue, buru-buru gue klik Antworten** dan mulai meluncurkan jemari selincah mungkin, semantap mungkin, menekan rasa yang selalu tertahan di hati.
Jawab iya. Atau lo akan menyesal, saat ia suatu saat nanti berpaling pada yang lain.
Jangan lupa makan teratur, jangan galau mulu.
your past secret admirer,
Daniel.”
Gue membaca ulang apa yang telah gue tulis, apa yang telah gue ketik. Memahaminya dengan akal sehat. Malah nyatanya, hati yang bereaksi. Rasa perih tertoreh disana.
Jawab iya. Atau lo akan menyesal….seperti gue yang menyesal telah menyiakan lo waktu dulu. Memberi jawaban tidak kemudian menangis setelahnya saat lo jadian dengan cowok lain, sahabat gue. Dan karena lo, gue melarikan diri kesini. Negara yang begitu jauh dari Indonesia. Tapi ternyata tak mengubah apapun. Rasa gue kepada lo masih sama sampai sekarang, tetap sama; Rasa Penyesalan.

*1 Pesan Baru Dari Chila
**Balas/Reply

“At least I know what love is…”
Niki Yan

Rinduku Belum Sampai

Berkali-berkali aku menahan gelora yang akan tumpah
Berusaha mengalahkan akal sehatku
Memenangkan perasaan ini
Sayang egoku mengalami pendewasaan
Sejak kemarin aku mencoba terbang sendiri
Pendaratanku buruknya tak pernah mulus
Selalu terseok
Baru kusadarai
Aku terbang dengan hanya sebelah sayap
Ingin kuutarakan bila kau memang tak sadar
Tidak bisa kemarin
Tidak bisa sekarang
Tidak juga esok hari
Ia tak akan pernah tiba
Rinduku belum sampai

Aku Rindu

Sesuatu menyeruak di dalam keheningan jiwa. Bergulung-gulung di dada dan berkembang makin besar tiap waktunya. Dampaknya? Tak  ada hal lain yang mampu kau pikirkan. Mengertikah kau apa itu? Bukankah itu rindu? Tahukah kau apa itu rindu? Coba tolong jelaskan padaku pengertiannya.
Nah, sayangnya kau pasti tak akan mampu. Karena…..
Rindu adalah saat aku dan kamu lama tak bertemu sementara selama itu hatiku menjerit.
Rindu adalah ketika aku tak bisa mengingat apa pun selain satu nama kamu di pikiranku.
Rindu adalah jika kau tak ada setelah pernah memberi waktu terbaikmu untukku, bersamaku.
Dan tahukah kau bahwa rindu itu amat menyiksa? Rindu begitu jahat. Membuatku tak bisa tidur bermalam-malam. Berhasil membuatku uring-uringan seharian penuh padahal ada yang harus kukerjakan. Sukses membuatku lalai dalam hal-hal penting yang seharusnya tak kulupa.
Sayangnya, rindu mesti ada bagi orang yang mencintai. Entahlah jika saling. Tapi sungguh aku merasakan kerinduan kepadamu yang begitu utuh. Rinduku tak bersyarat, tak beralasan, tak masuk akal. karena, mengapa harus kamu? 
Ya, bukankah rindu adalah buah dari cinta? Dan cinta adalah hal yang tak bisa dijelaskan dalam kata-kata?
Rindu adalah ketika kita bertemu tetapi rasanya aku ingin menangis. Menangis untuk membiarkanmu tetap tinggal disini dan tidak pergi lagi. Membiarkanmu pergi adalah sebuah dosa besar untukku. Menyiakanmu tentu lebih bodoh lagi. Karena tahukah kau bahwa ternyata kau adalah nafasku. Jika tak ada kamu, aku sesak, aku kehilangan udaraku. Aku sulit bernafas. Tidak bisa bertahan hidup. 
Kau adalah nafas. Jika kau menjadi nafas orang lain, maka aku akan sesak. Sekalipun aku melepaskanmu, mengikhlaskan kepergianmu untuk mempertahankan nyawa orang lain, agar orang itu tetap hidup. Sebenarnya, perlahan-lahan aku sedang membunuh diriku sendiri. Aku tinggal menunggu waktu, karena aku tak lagi punya udara untuk bernafas. Nafas milikku. Aku telah kehilangan nafasku. Separuh dari hidup yang kupunya. Dan aku tak dapat menemukan nafas pengganti. Karena nafasku ya adalah kamu.
Jadi, kau sudah mengerti apa itu rindu?
Rindu itu bukan kamu, sebenarnya. Rindu adalah aku. Ya, aku merindu. Merindu kamu yang selalu kurindukan dalam kerinduan yang teramat merindukan.
Aku rindu.

“You may be out of my sight,
but never out of my mind…”
Unknown

Hati Untuk Yang Lain

Pukul sembilan malam, kampus tentu sudah sepi. Yang tersisa tinggal suara bola basket yang berdecit dan menggelinding perlahan, selain suara serangga sang pemecah kesunyian di sekeliling kami. Suara-suara serangga itu bahkan lebih kencang dan berhasil menenggelamkan kediaman di antara kami. Mungkin setengah jam telah berlalu, tapi tubuh kami masih terbaring diam di atas lapangan ini, dengan mata yang masih menengadah ke terang bulan tanpa arti. Kutengok Rama sebentar, matanya masih menatap lurus ke atas sana. Ia sadar aku memperhatikannya, namun tetap diam tak bergeming. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menghela napas berat. Kami, dua orang yang jelas saling mencintai, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin, bulan yang kami tatap sedang menertawakan kami, atau malah iba atas anehnya situasi ini?
“Friska itu siapa?”
Bodoh! Aku sedang pura-pura bodoh. Padahal aku sudah tahu banyak tentang gadis itu. Lewat berbagai cara, lewat orang lain, lewat media. Tentu saja aku harus mencaritahu siapa gadis yang saat ini berhasil mengganti posisiku di hati Rama.
“Umm…..”
Rama tahu, sebenarnya aku sudah mengetahui siapa Friska. Ia hanya menggumam pelan, lantas gantian membuang napas berat.
 
“Aku sering lihat kamu pulang bareng dia, jalan bareng, ngobrol bareng,”
Rama masih diam. Pandangannya  terlihat kabur. Sepertinya pikirannya kini sedang berkecamuk. Aku tahu, ada sesuatu yang sedang dipendamnya, sesuatu yang besar. Namun ia masih berusaha mendengarkan.
“Dia sering bikinin kamu kue ya? Ha…ha..pas banget tuh, kamu kan doyan makan,”
tawaku garing. Membuat suasana makin kikuk. Kusisasati salah tingkahku itu dengan menggeser punggung ke posisi yang lebih nyaman. Lebih mendekatinya. Lalu ia mencari tanganku, segera digenggamnya kelima jemari tangan kiriku.
“Kayaknya, dia benar-benar suka kamu,” 
kali ini aku menatapnya, tersenyum tulus penuh makna. Rama memandangku iba. Ia menggenggam tanganku lebih erat lagi,  meremasnya, merengkuhnya seperti tak ingin dilepas untuk selamanya. 
“Tujuh bulan itu waktu yang terlalu lama. Aku capek harus menunggu tanpa kepastian,” akhirnya Rama buka suara.
“Kepastian? Memangnya kamu pernah tanya gimana perasaanku terhadap kamu? Memangnya kamu pernah ngomong serius? Selama ini kamu cuma memberi sinyal, sebenarnya aku yang butuh kejelasan,”
Rama mengehela napas lagi.
“Kalau saja sore tadi aku nggak minta kamu kesini buat nolongin aku yang cidera pas latihan, kalau saja malam ini aku nggak memulai percakapan, apa kamu pernah tahu isi hati aku? Enggak kan?”
Emosiku memuncak. Semua keluar seperti gulungan ombak yang lama tertahan karang. Nadaku naik satu oktaf lebih tinggi. Rama mengusap punggung tanganku perlahan dan tidak meninggalkan pandangannya ke sudut mataku.
“Friska itu pelarian aku dari kamu,”
Kemudian hening. Tapi kalimat itu sudah ada dalam benakku sejak sekian lamanya. Kalimat yang kusimpulkan sendiri. Dan kini terbukti benar. Bahwa kehadiran Friska, sengaja disambut Rama untuk melupakanku.
“Aku itu nggak gampang suka sama cowok. Aku adalah orang yang bisa suka karena terbiasa. Dan tujuh bulan sudah cukup membuat aku suka padamu,”
Detik itu, aku merasa lega sekali. Beban yang selama berbulan-bulan ini kupendam akhirnya terbuang, tersampaikan.
“Kenapa semua terlambat? kenapa semua baru jelas sekarang?” Rama malah balik bertanya. Justru ini salahmu. Mengapa tak dari dulu kau nyatakan langsung bagaimana dan apa yang kau inginkan dariku.
“Enggak ada yang terlambat. Memang seharusnya begini kok,” senyumku membuat Rama makin bingung. Terlihat dari alisnya yang bertaut, menyatu.
“Aku tahu gimana rasanya sakit hati…”
mataku menerawang lagi. Menatap langit yang malam itu cerah sekali. Gemintang, rembulan, warna  langit biru tua yang cerah, seolah menyediakan ruang bagi kami menyelesaikan urusan hati ini. Hati kami yang tak mungkin bersatu.
“….sakit!  Jadi, aku nggak mau orang lain merasakannya juga. Biar aku aja,”
aku tersenyum lagi. Kemudian kuangkat tubuhku. Aku bangkit. Kuraih tas yang sejak tadi menjadi alas kepalaku, juga bola basketku yang statis tak bergelinding, menjadi saksi bisu peristiwa malam ini.
Rama refleks ikut bangun. Lalu menunggu jawab mau kemana perginya aku.
“Ingat ya, jaga perasaannya,” 
pesan terakhirku sebelum aku menoleh dan melangkah pergi. Pulang. Aku tak ingin menangis di hadapan Rama. Aku ingin terlihat tegar dan terlihat memang ikhlas melepasnya untuk Friska. Setelah itu, sepeninggalku, ada suara lain disana. Bukan hanya suara jangkrik,  melainkan isak tangis, yang kutahu pasti bukan milikku.
Selamat tinggal, Rama.
“A part of you has grown in me,
together forever we shall be, 
never apart, maybe in distance,
but not in the heart”
Unknown