Melaluinya Bersama Dengannya

Bulan-bulan silih berganti siap menutup tahun. Masalah demi masalah kian bertambah, pastinya. Bukankah masalah dimiliki juga oleh semua orang? Ya aku juga begitu. Masih dengan beban yang kupikul. Setiap orang memiliki masalahnya sendiri. Tapi aku tak yakin apakah semua orang diberikan tanggungan masalah yang sama beratnya. Karena aku merasa ada ketidakadilan Tuhan atas Nikmat Masalah-Nya yang diberikan kepadaku. Mungkin Tuhan buta, ia tak dapat melihat betapa kecilnya pundakku untuk memanggul beban berat dan besar. Mungkin juga Tuhan tuli, jika ia tidak pernah mendengar setiap tangis ketidakberdayaan dan keluh-kesahku akiibat terlalu lemah untuk menanggung semua masalah ini. Masalah pribadiku. Aku menuntut keadilan Tuhan Sang Maha Adil.
Itu tuntutan dari alam bawah sadarku kalau kau mau tahu. Setidaknya, kau ada gambaran. Bahwa hidupku tak seenak yang kau pikirkan. Mungkin aku pernah hidup susah, namun aku sudah pernah merasakannya dan mungkin sekarang saatnya kalian yang merasakan. Atau mestinya kalian berpikir bahwa memang aku mungkin saja sedang banyak masalah, tapi kalian tidak tahu. Ya, aku yang tak pernah cerita. Pun untuk apa? Dengan bercerita, masalahku tak lantas selesai. Kau tak akan bisa membantu.
Beberapa kali aku bahkan mendapati diriku tak sadarkan diri dan mencoba berbagai cara untuk mati. Pecahan gelas, mengurung diri di kamar berhari-hari, tidak makan terus menerus untuk beberapa lama, bahkan pernah juga ternyata aku berusaha lompat dari lantai dua rumahku dan sayangnya digagalkan oleh kakek tersayang. 
Jadi, aku tak mau lagi mendengar suara-suara sirik tentang hidupku. Setidaknya kau menyadari, aku juga sama sepertimu, bermasalah. Hanya saja aku pandai menyembunyikannya, dan sesuatu telah membuatku berhasl melupakannya. Semua terasa jauh lebih mudah, tak ada lagi aku yang penakut menghadapi hari esok, lari dari masalah, atau menangis setiap hari lantaran tak kuat akibat merasa serba sendiri. Semua lebih mudah, semua jauh lebih indah, setelah keberadaannya.
Mungkin itu mengapa orang-orang iri terhadapku. Semua melihat demikian, hidupku terlihat begitu indahnya. Kita khususnya. Aku bisa menyelesaikan masalah sendiri, aku kuat, tidak manja, tidak berketergantungan, namun aku lebih berani jika melaluinya bersama denganmu. Kamu, sayang.

Masih Sama

Jariku berputar pada teh yang sebenarnya telah larut dengan gulanya. Aku hanya sengaja membuat suara di tengah keheningan ini, berusaha menghancurkan kikuk. 
“Apa kabarmu?”
Pertanyaan itu sebetulnya tak perlu. Kau jelas-jelas tahu, semua tak lagi sama setelah kepergianmu. Kuhela nafas berat tanpa suara yang terucap. Kedua tanganku masih sibuk bermain dengan secangkir teh yang hangatnya tak membantu cairnya suasana. 
“Aku masih sama seperti dulu,” masih mencintaimu.
Kini ganti ia yang menghela nafas panjang. Hela itu menyiratkan ada hal berat yang kau tahan. Seharusnya kini giliranku bertanya, ia jelas-jelas memberiku kesempatan. Namun aku memilih untuk bertingkah pura-pura lupa. Menanyakan kabarnya sama saja bertanya bagaimana kabar gadis barunya, seberapa bahagia ia sekarang, mungkin itu lebih tepatnya. Dan dadaku tak ingin kambuh lagi untuk merasakan sesaknya. Bulan berganti pun sesak itu masih terasa hebat. Menghisap seluruh amarah dan sedihku secara bersamaan. Namun tetap tak mengubah erasaanku.
“Mana Bunda?”
Tanyamu sadar mengapa tumben sekali Bunda tak muncul seperti biasanya, datang membawakan kue bikinannya yang terbaru, menyuruhmu mencicipinya, kemudian membawakan sedikit sebagai buah tangan saat kau beranjak pulang.
“Bunda marah padaku?” 
Kediamanku dapat kau baca dengan baik. Ya, siapapun akan marah bila ingat perlakuan jahatmu terhadapku. Sementara itu, aku masih diam bergeming. Tak sudi melihat kedua matamu yang teduh itu. Hanya akan membuatku melihat kenyataan yang tak indah, hanya akan membuatku menangis.
“Untuk apa kamu kesini?”
Akhirnya aku berani galak seolah tak menginginkan keberadaannya. Kau agak terkejut mendapati reaksiku. Tanganmu menelungkup ke ujung dagu dengan kokoh, tanda kau merasa bersalah. Aku sudah tahu terlalu banyak tentangmu. Bahkan mengenai hal-hal kecil yang tak pernah kau beritahu, mungkin juga tak pernah kau sadari. Aku bahkan masih ingat dengan baik, bagaimana caramu menggenggam jemariku hangat dengan iibu jari mengusap kuku-kuku kecilku. Aku terlampau mengenalmu.
“Aku ingin kita kembali seperti dulu,” ucapmu pelan.
“Maksudmu!? Kau ingin mempermainkanku lagi? Kau ingin menjadikanku sebagai selingkuhanmu?” tukasku malah dengan nada yang jauh lebih tinggi.
“Bukan begitu, aku ingin kita dekat lagi. Sebagai teman,” ucapmu meyakinkan.
Sebagai teman, hanya sebatas itu ternyata ia menghargaiku. Genggaman tangannya, panggilan sayang, puisi-puisi mesra, hanya perlakuan sebatas teman ternyata. Aku tak yakin apakah bisa melupakan semua itu dan mengenalnya sebagai sosok baru yang sama sekali belum kukenal. Aku tak yakin aku bisa melupakannya dengan baik selama ia masih ada di hadapanku. Aku tak yakin bisa menyudahi perasaan ini.

Tes…
Air mata itu entah sejak kapan terjatuh, mengalir di pipi dengan kedua bibirku yang terkatup menahan isak. Ia terperangah dan salah tingkah.
“Lebih baik sekarang kamu pulang, sebelum satpam rumahku ikut membencimu,”
Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kubanting pintu dengna tergesa. Biar ia masih disana dan tak mau pergi, itu urusannya. Aku masih pusing menyelesaikan masalahku. Masalah tentang bagaimana caranya agar memaafkan kebodohanku sendiri. Mau dibodohinya, dulu.
“When I see your smile
and I know it’s not for me, 
that’s when I’ll miss you”
Unknown

Tiadanya Jawaban Atas Pertanyaan Yang Tak Ada

Semua berjalan dengan sangat indah. Tak satupun dari kita berdua yang tidak merasa bahagia. Kau tahu pasti soal itu. Dunia serasa hanya milik kita berdua. Cinta dimana-mana, yang ada hanya bahagia dan sedih yang kita hadapai berdua. Dan aku tak pernah merasa takut jika harus selalu sedih pun, karena ada kamu. Hanya kita, di dunia yang seolah milik kita. 
Di tengah itu, aku memendam keraguan. Aku bungkam dengan suara yang tertahan. Sayangnya, kenyataan mendukungku. Lingkungan mengiyakan praduga dalam benak yang selalu kututupi. Selama ini bukannya aku tidak tahu, tapi aku menahan untuk bertanya. Di sisi lain, dirimu pun selalu menyembunyikan. Kau berperan seolah sesuatu tak pernah terjadi. Bagimu itu tak penting, bagimu itu sudah lalu, yang ada sekarang hanya kita dengan semuanya berjalan secara wajar dan biasa saja. Beberapa kali aku sering bertanya, kapan sesuatu ini akan terungkap. Ataukah memang semua tak akan pernah diselesaikan. Mungkin menurutmu tidak. Tak ada yang perlu diselesaikan, karena memang tak ada yang kau mulai. Ya, aku selalu tahu itu. Aku selalu tahu apa jawabanmu bahkan sebelum kutanya.
Sebuah kabar buruk sampai di ujung telingaku tadi siang. Aku senang, karena itu tentang kamu. Sayangnya berita tak sampai disitu, kabar itu berceritera tentang kamu dan dia. Sosok yang mungkin saja sebelum aku. Sesuatu yang tak pernah ada di pikiranku, namun sebenarnya kupendam. Kusimpan dalam hati sebagai prasangka buruk yang hanya sebatas hipotesa hingga belum terbukti kebenarannya. Dan sekarang kau tahu apa? Itu akan menjadi sebuah fakta, mungkin. Karena alam berkata iya. Dalam cara yang tak dinyana. Selalu ada energi yang masuk melalui celah dalam hatiku. Membenarkan setiap prasangka lalu yang kian membatu dan bertambah edisi baru. Selalu tentangmu dan dia. Selalu tentang dia. DIA.
 
Sayang, pertanyaanku bukan, “Bisakah kita bertahan begini saja seperti biasanya?” , melainkan, “Bisakah kau hapus masa lalumu dari kenyataan?” Hapus semuanya. Dari otakmu, dari memori semua orang, dari siapapun yang pernah menjadi saksi masa lalumu yang entah indah atau tidak sebenarnya amat ingin kuketahui. Yang kusesali, mengapa yang lain bisa tahu sementara aku tidak. Mengapa aku harus dengar dari orang lain sehingga mau tak mau aku harus percaya. Kau harus tahu sayang, sungguh aku benci harus percaya suara-suara gaib itu. Namun aku lebih benci lagi harus mendengar penjelasanmu yang tak mungkin pernah ada. Aku benci caramu.
Kamu jahat. Sebenarnya. Tanpa kau tahu. Bingung kan? Coba kau ingat bagaimana caramu menyembunyikan semua itu. Kemudian bayangkan ekspresiku ketika kuketahui semua dari orang lain. Kau tahu apa rasanya?  Berkali lipat perihnya. Karena apa? Aku harus mendengar berita buruk tentang kamu yang amat kucintai. Dan aku juga harus percaya,  karena aku sama sekali tak tahu apapun dari kamu yang tak pernah berbicara. Ada bagian dari hatiku yang tak dapat kau sentuh. Karena ada buih dalam dirimu dan kau batasi aku dengan jeruji itu diantara kita.
Percuma kau balut hatimu dengan kasa yang rapi sekalipun. Akan tiba saatnya ia terlepas dan terbuka perlahan-lahan. Perlahan hingga semuanya akan terlihat dengan jelas, untuk siapa hatimu kau persembahkan. Atau jahatnya adalah, siapa saja nama yang pernah terukir disana. Aku ingin tahu, ingin tahu lebih dari sekadar. Dari apa yang diketahui semua orang tentang kamu. Dengarkan sekali lagi, aku ingin tahu. Segalanya yang kau sembunyikan.
“Jealously is always born with love 
but it does not die with it.”
Francois De La Rochefoucauld

Teruntuk Kamu di Masa Mendatang

Untuk kamu yang tersayang, 

Apa yang akan kuceritakan adalah hartaku, harapanku adalah tulisan ini jua bisa menjadi harta berharga untukmu. Bukan tentang siapa, tapi apa pelajaran yang kau dapatkan. Bukan agar semua tidak terulang, melainkan agar kau tak salah dalam memilih jalanmu. Sedikit pun aku tak bermaksud menggurui, sama sekali bukan. Aku hanya meminta waktumu sejenak untuk mau mendengarkan. Bisa kan?

Apa kabarmu sayang? Lalu apa kabar dunia pada masamu? Mungkin dunia tak lagi sama ketika kau baca tulisan ini. Karena aku datang dari masa yang tak lagi muda. Tapi yang namanya cinta tak kenal waktu, bukan? Cinta akan tetap ada meski pada abad lalu, esok, atau seribu tahun yang akan datang. Cinta akan tetap ada. Jadi, apa yang akan kuutarakan kepadamu pasti akan (sedikit) berguna. 
Sweetheart, cinta ada bagi yang percaya. Mencintai dan dicintai, cinta tercipta untuk keduanya. Jika kau hanya memiliki salah satunya berarti cinta itu belum ada dalam genggamanmu. Pesanku, janganlah lupakan dirimu, perasaanmu. Mungkin mencintai memanglah indah. Ketika kau bersorak kegirangan jika bertemu si dia, tidak tahan bila sehari saja tidak bertemu, atau yang lebih sering adalah berkat si dia kadang mood mu yang sedang buruk sekalipun bisa berubah membaik 180 derajat. Bukan begitu? Senyummu memberi jawaban iya, sayang. Namun, sesuai pesanku tadi, berlakulah adil untuk dirimu sendiri. 
Jangan pernah siakan cinta yang datang. Bahkan kalau bisa, cintailah ia yang mencintaimu. Dicintai itu luar biasa indahnya, sayang. Apalagi jika yang mencintaimu begitu baik, seperti malaikat yang berwujud manusia. Mungkin berlebihan, tapi aku berkata apa adanya. Sulit menggambarkan bagaimana rasanya dicintai dan mencintai d iwaktu yang bersamaan dan kepada dan atau oleh orang yang sama. Sulit untuk dijelaskan bagaimana indahnya. Itu yang sedang Bunda rasakan. Tak ada yang lebih indah dari cinta yang mencintai dan dicintai. Bunda pernah merasakannya. Ketika cintaku tepat jatuh kepada orang yang tepat. Sempat Bunda berpikir, “apakah kekasihku nyata adanya? atau mungkinkah ia sebenarnya hanya bentuk dari ilusi saja?” tapi itulah kenyataannya, sayang. Lelaki itu nyata. Kebaikannya seperti dewa, membuat Bunda ragu akan eksistensinya yang seperti tidak real. 

Mungkin bayanganmu, lelaki idaman adalah yang tampan seperti Orlando Bloom (bintang Hollywodd jaman Bunda sekarang), atau setidaknya berbadan kekar seperti Talor Lautner (Film terbarunya adalah The Twilight Saga: Breaking Dawn. Bunda akan simpan Copy film-nya untukmu), dari segi matrealistik mungkin kau akan mengidamkan ada seseorang yang menjemputmu dengan mobil mewahnya. Semua orang boleh bermimpi, sayang. Tapi kenapa harus memimpikan hal yang tidak mungkin? Karena tak ada orang yang sempurna. Kau mau tahu, ketika kau menemukan seseorang yang kau cintai, semua hal yang kau impikan itu menjadi sepele. Ketika kau menemukan orang yang mencintaimu, semua hal itu juga tak ada gunanya. Begitulah yang Bunda rasakan pada lelaki itu. Kebaikan dan ketulusannya mengalahkan semua kriteria sosok seorang pria idaman. 
Sikapnya yang membuat ia menjadi tampan. Kesederhanaannya dalam mencintaiku yang membuatnya terlihat kaya. Kaya akan cinta yang dimilikinya. Yang seperti tak ada habisnya diberikan kepada Bunda. Ia berhasil membuat Bunda merasa tak perlu lagi hal lain. Ia jawaban dari segala doa yang Bunda berikan. Saat Bunda menulis ini, kamu pasati tertawa. Bunda menangis, sayang. Menangisi kebaikan yang diberikan lelaki itu. Menangis betapa Bunda teramat beruntung bisa mendapatkan lelaki sebaik itu. Kami saling mencintai dengan cara yang sederhana, cara yang sama. Layaknya pasangan kekasih pada umumnya. Yang membuat hubungan ini istimewa adalah dia. Bagaimana ia memperlakukanku bak permaisuri kerajaan. Dirawat, dihibur, dan tak pernah dibiarkan sendirian.

Ia selalu ada di saat Bunda senang, bahkan sakit. Ia selalu setia menemani bahkan ketika Bunda sedang dirundung amarah yang menggelora. Ia yang meredakannyna. Ya, ia seperti teman. Ada di saat susah maupun bahagia. Ia adalah segalanya yang berwujud satu. Ia selalu ada untukku. Ya, ia adalah ayahmu. Bunda berkata, mungkin. Mungkin saja ia menjadi ayahmu di masa nanti. Bila iya, selamatlah, sayang. Aku berani jamin, kau telah mendapatkan ayah terbaik di dunia. Namun bila tidak, doakan saja iya, karena Bunda tak mau selain ia. Kau tau nak, Bunda terlalu cinta. Cinta kepada calon ayahmu nanti. Salam untuk ayahmu di masa depan. Bila lelaki itu adalah pria yang kuceritakan, sampaikan, aku mencintainya sejak dulu hingga tak tau kapan. 

Semoga kamu mendapatkan pria sebaik calon ayahmu. Semoga kamu seberentung aku, Bundamu.

Salam rindu untuk calon anakku,

Bundamu di usia 18 tahun.


P si Pembaca Pikiran

Seharusnya hari itu kita tak bertemu. Sejak siang, bukannya aku sudah menjaga jarak denganmu? Tapi kamu tetap datang. Maka aku terpaksa tetap pergi dengan rasa enggan yang kusembunyikan. Sementara itu, kau tersenyum senang menyambut kedatanganku. Lantas segera murung tatkala kau dapati ada yang lain dimataku, cekungan hitam yang berkantung.
“kamu abis nangis ya?”
Pertanyaan itu berhasil membatku kikuk. Seperti biasa, aku tersenyum. Dan kamu selalu tahu, bahwa itu adalah sebuah jawaban ya.
Sepenuh tenanga aku masih berusaha tersenyum, sejauh itu kau malah menatapku awas. Hebatnya kamu, selalu bisa membaca pikiranku jauh sebelum aku ingin mengutarakannya. Atau bahkan memang tak akan pernah kuutarakan.

Tanganmu yang dingin mengenggam jemariku seluruhnya. Itu senjatamu, kemudian aku tak akan bisa mengelak lagi untuk menahan sedih ini. Aku masih dapat menahannya. 

Setelah aku bercerita, tentang kesedihanku, kamu tak henti-hentinya menyemangatiku. Ya, kamu juga yang menyadarkanku bahwa aku telah menjadi bukan diriku. Kau mengenalku jauh. Teramat jauh. Lebih jauh daripada diriku sendiri. Maka semua kalimatmu kubenarkan.
Sementara mulutmu membabi buta berceloteh ini dan itu, aku malah terharu. Kamu ternyata bukan seorang kekasih, tetapi lebih. Kamu sahabatku, karena selalu ada di saat susah dan senangku. Kamu seorang ayah, karena kamu selalu dengan tulusnya menjaga aku yang begitu lemah. Bersamamu, aku tak pernah khawatir tentang esok. 
Malam itu, aku sukses merusak rencana kita untuk menonton film komedi terbaru di bioskop. Rencana kita batal. Tapi kau bersikukuh bahwa yang kau inginkan ya hanya kehadiranku di sisimu.
Betapa aku merasa paling bahagia sedunia. Mungkin banyak hal yang pergi, tapi kepergian mereka seolah terganti dengan sesosok dirimu. Lengkap. Dan kamu adalah satu-satunya harta berharga yang kumiliki saat ini.
Angin malam menusuk dingin. Aku mencoba merapat ke pundakmu. Mungkin mencari kehangatan, dan juga mencari sandaran untuk jalur air mataku yang siap mengalir deras.
Kau diam. Merasakan guncangan kecil yang berkepanjangan dari daguku. Kemudian kau sadar, lantas meraih tanganku dan menggenggamnya erat ke dalam saku jaketmu.
Ya, malam itu aku menangis. Menangisi kenyataan betapa beruntungnya aku bisa memilikimu. Dan betapa menyesalnya kalau dulu aku melewatkanmu.
Seperti malam yang kita harap tak kunjung berakhir, seperti itulah kuharap cinta kita.
For my beloved, P.

Mata Biru Thomas = Stev

“Cause when i’m with him i am thinking of you…”
Suara Katy Perry mengalun dari radio yang baru saja kuputar. Lagu itu, membuat malamku terasa amat dingin, sekaligus membawaku ke masa yang tertoreh rasa perih beberapa bulan silam.
Perlahan kutanggalkan satu per satu segalanya yang membungkus tubuhku. Mengenakan dress memang tak senyaman memakai kaos dan celana jeans. Lebih tidak nyaman lagi kalau harus datang ke pesta dimana hanya akan membuat sedih karena datang sendirian, sementara Gisel dengan bangga mengenalkan pacar barunya, Thomas, kelahiran Australi asli.
Aku masih menikmati kebebasan tubuhku yang tak lagi terkurung dress. Kubiarkan dress itu tergeletak di sisi kasur. Sengaja aku merebahkan tubuh, melayangkan pikiran jauh, menggali sesuatu yang tak pernah mau kusebut sebagai kenangan. Kedua bola mata Thomas yang memaksaku kembali terjembab dalam memori lalu. Mata yang juga dimiliki Stev, ya, Steven Ecklohome. 
“….You’re like an Indian summer in the middle of winter. Like a hard candy with a surprise center…”
Detik itu aku segera menghampiri laci meja belajar. Di dalamnya ada sebuah kotak kaleng pipih berwarna kayu jati. Empat abjad tertera dengan jelas disana, diukir dengan kikiran pensil sketsa dengan ragam gradasinya. S-T-E-V. 

Malam ini seolah memaksa untuk kembali menyadari keberadaaan Stev yang pernah mengisi hatiku. Munculnya Thomas dengan mata birunya, lagu Katy Perry yang dulu pernah kunyanyikan dalam video untuk ulang tahun Stev yang ke-22, dan yang paling ajaib adalah kejadian tadi sore; tiba-tiba entah bagaimana ada pemberitahuan di inbox BB yang ternyata adalah pesan lama dari Stev yang sudah pernah kubuka. Stev seolah minta diingat.
Kubuka kotak itu dengan ragu. Semua kenangan tentang Stev tersimpan rapi disana. Ah, tidak semua. Hanya sebgaian kecil, karena sisanya masih melekat dalam pikiranku. Ku pilah-pilih satu per satu foto Stev. Juga ada beberapa foto yang kutambah dengan wajahku. Mata biru Stev, rambut ikal kecokelatan, dadanya yang lebar, kulit putihnya.Kehadiran Stev selalu nyata bagiku. Rasa sayang itu masih tersimpan utuh disini. 
Saling percaya, hanya itu yang dulu kita punya. Mencinta dalam jarak itu memang tidak mudah. Tapi Stev, tak pernah ada rindu yang bosan memanggilmu di dalam hati ini.

Stev, kehadiranmu selama hampir setahun adalah terlalu nyata bagiku. Terlalu nyata untuk hanya menjadi sebuah kepalsuan. 
“..You’re the best and yes I do regret. How I could let myself. Let you go..”
Ya, Stev. Seutuhnya aku merindumu. Sama seperti setahun lalu, saat kita ditakdirkan bertemu dalam waktu yang tak pernah ada. 
Aku mengadu pada foto yang berserak di genggamanku. Lama-lama kuperhatikan gambar-gambar itu buyar kesemuanya. Sesuatu menghalangi penglihatanku. Kudapati ada yang jatuh membasahinya; air mataku. 
“With love, everything could be possible”
Me

Dari Linguistik Aku Belajar Hidup

Kuasa Tuhan, entah bagaimana caranya, semua begitu berkesinambungan dan membuat bingung. Saling terkait, berantai, dan menyambung satu sama lain meski magnet yang bertolak belakang.

Belajar Linguistik pun begitu ternyata. Sudah beberapa jam ini Ola hanya memandangi selembar A4 di hadapannya yang penuh berisi tabel pelafalan huruf konsonan dan vokal dalam bahasa Jerman, bidang yang sedang digelutinya. Bingung, tentu. Sudah berkali-kali ia mencoba mengahafal namun tak kunjung ingat. Manusiawinya, mana bisa menghafal lebih dari 40 abjad beserta cara memproduksinya, posisi lidah, bibir, apalah itu. Rumit sekali. Sungguh tidak manusiawi pelajaran ini.

Masih. Ola masih memikirkan bagimana caranya agar ia bisa dapat ilham dalam hitungan detik? Karena UTS akan tiba beberapa jam lagi. Ola tak percaya takhayul, seperti membakar kertas itu dan meminum abunya yang dicampur air dalam gelas. Tapi lebih tak mungkin lagi mencuri otak Einstein. Oh, tidak. Pelajaran ini telah sukses membuatnya jadi gila.
Rehat dulu, begitu batin Ola. Kamudian ia hanya memandangi kolom-kolom di hadapannya tanpa arti. Ia harus belajar, sementara ia sadar betul ada beban berat yang sedang dipikirkannya. Bukan sebuah masalah mungkin, tapi ini masalah yang begitu jelas baginya. Masalah yang tak dapat dilihat lewat sudut pandang orang lain.
Rantai kasat mata. Begitu Ola mencoba mengambil judul bagi masalah ini. Dunia ini terlalu luas baginya untuk dipelajari. Semua terjadi melebihi akal sehatnya. Yang tak pernah diduga, terjadi. Yang tak pernah diharapkan, kejadian. Bukan tentang adil tak adil, tapi aneh saja, mengapa semua bisa begini? Mengapa harus terjadi? Kenapa tidak masing-masing saja? Kenap harus saling berkaitan?

Pikiran Ola menerawang terlalu jauh. Kemudian kembali ke secarik kertas Hafalan dan tergambar lagi dengan jelas Abjad-abjad disana. Tak ada lagi suara hafalan yang berulang-ulang. Matanya yang kini menjamah tanpa batas.
 
Untuk konsonan, yang diucapkan dengan palatal  (langit-langit keras) ternyata hanya dua abjad: [j] dan [ç]. Malah yang diucapkan dengan glotal (glotis) hanya [h]. Selebihnya kebanyakan diucapkan dengan bilabial (bibir) dan labiodental (bibir dan gigi), ah itu mudah dibedakan. Yang sulit adalah membedakan alveolar  (gusi atas), post-alveolar (belakang gusi), dan velar (langit-langit lunak). Untuk alveolar (gusi atas) misalnya, ada [d], [l], [n], [ts], [r], [s], [z] . Sedangkan post-alveolar (belakang gusi) jumlahnya lebih sedikit, yaitu [∫] dan [3], begitu juga dengan velar (langit-langit lunak), contoh konsonannya adalah [x] dan [ŋ],  Ola masih berusaha memahami isi kertas itu. Sedikit mengerti setidaknya jika tidak hafal.
Tadi itu adalah letak pelafalan abjad yang baik dan benar. Ternyata tidak semua abjad diucapkan menggunakan pita suara, ada yang ia dan tidak. Yang iya, hanya sedikit, seperti [b], [t], [d], [g], [z], [3], [j], [l], [r] dan ternyata semua yang diucapkan dengan cara nasal (dengung) sudah pasti menggunakan pita suara, yaitu [m], [n], dan [ŋ]. Tak hanya itu, faktanya semua yang diucapkan secara plosiv (letupan) sudah pasti diucapkan tidak dengan hembusan (unaspiriert) contohnya [p], [t], [k]. Tuhan Maha Adil bukan? Yang tidak diucapkan dengan pita suara, mendapat bantuan hembus angin dari paru-paru. Yang belum dapat pasangan ternyata sudah ada takdirnya, jodohnya. Seperti pelangi pada hujan. Seperti itu pula harapan Ola untuk hubungannya dengan Setya.
Ola terperangah, baru saja ia menghafal isi kertas tersebut dengan lancar dan penuh pemahaman! Bagaimana bisa?? Ia penasaran, dibaliknya kertas itu dan mencoba memahami anjad vokal. Apakah ia masih bisa mencernanya semudah memahami konsonan? Mengidentifikasinya kemudian menerapkan pada kasus yang terjadi di kehidupan nyata.
Abjad vokal itu bentuknya bermacam-maca ternyata, atak hanya a i u e o. Untuk satu huruf a saja bisa memiliki beberapa variasi. Sayangnya, a ini kasihan sekali. Untuk letak pengucapan secara vertikal, hanya dialah yang diletakkan di dalam atau bawah, untuk pengucapan secara horizontal pun hanya dia yang diletakkan ditengah. Tapi  lagi-lagi, Allah itu Maha Adil, [a] tidak sendirian, ada [a:] yang menemani. Keduanya merupakan pasangan yang cocok dan selalu bersama, sama-sama ungerundet (tidak bulat), meskipun ada kalanya ia sendiri karena [a] diucapkan dengan bentuk rahang yang offen (terbuka), sdeangkan [a:] diucapkan secara tertutup. Maha Baiknya Allah dibuktikan lagi, saat [a:] ditinggal [a], ia diberikan teman-teman baru, yang kesemuanya berjenis sama dengannya, memiliki tanda [:] di tubuhnya. Namanya teman, tak akan menemani hanya di satu keadaan, selain untuk Oeffnungsgrad [a:] juga ditemani semua teman-temannya untuk Laut qualitaet (Gespannt : tegang) dan juga Quantitaet (Lang : panjang). Dari kesemuanya, sebenarnnya hanya satu vokal yang hidup sendiri dan sangat mandiri, yaitu [ ]. Ia satu-satunya yang berjenis Zentriert dalam kategori Stellung. Tapi ia tak pernah sedih, karena ia punya keluarga besar; Keluarga Vokal.
 
Ola mengakhiri belajarnya dengan senyum lega. Ternyata begitulah hidup. Memang berputar, tak bisa ditebak, dan berkaitan satu sama lain. Ia jadi belajar banyak lewat Linguistik, bahwa semua yang ada di dunia ini, berkaitan. Mengikat dan terikat satu sama lain. Semua berhubungan. Dan semua memiliki makna tersendiri. Itu lah jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi menjadi beban pemecah konsentrasi belajarnya.


Kalau pelajaran ini adalah replika kehidupan, berarti aku juga harus bisa mengatasi masalah di hidupku dengan cara ini; memahami dan memandangnya dari berbagai sisi, kemudian simpulkan. Karena semua hal ternyata ada maknanya, Ola tersenyum pada refleksinya di cermin.

“Life is full of beauty.
Notice it.
Notice the bumble bee, 
the small child, and the smiling faces.
Smell the rain, and feel the wind.”
Ashley Smith