Mad for Nothing

Terhitung ini sudah kesekian kalinya aku mendapati keanehan ini. Seperti peluru yang lepas tanpa sasaran, terbidiklah ia ke sembarang korban. Mungkin saja memang aku korban sebenarnya. Siapa tahu. Sudah genap kita merusak malam milik kita, untuk kesekian kalinya. Bukan yang pertama. Dan kita sama-sama tidak pernah belajar dari apa yang telah terjadi, saat pertama insiden tidak mengenakkan itu akhirnya kejadian. Kita ternyata, belum dewasa. Aku jelas. Ternyata, kamu juga.
Ada hal janggal yang seolah memaksa kita berpisah saat sedang bersama. Pertanyaannya, dimanakah hal janggal itu? Berasal dariku pikirmu? Atau mungkin sebenarnya tak pernah ada dan kita sendiri yang bersama-sama menciptakannya? 
Sayang, disaat kita sama-sama rindu dan kau tahu bahwa tidak ada cara untuk mengatasinya selain menghabiskan waktu bersama. Maka sesudahnya kita selalu membuat acara untuk jalan bersama entah kemana saja yang penting bersama dan lama. Namun pernahkah kau menyadari bahwa setelahnya justru kita tidak menjadi senang. Malah saling diam. Ada sebuah dinding invisible yang tahu-tahu muncul membatasi kita meski dalam jarak yang sangat dekat. Kebahagiaan itu harus ditakar darimana? Apakah kebahagiaan itu ada limit-nya? Terasanya selalu ada bahagia yang berusaha direnggut entah oleh siapa saat kita sedang bersama. Padahal menurutku, Tuhan saja sepertinya tidak akan tega. Ia tidak akan sejahat itu pada kita yang telah sebersikeras mungkin menjaga satu sama lain baik hati dan fisiknya. Tuhan yang menciptakan apa itu cinta, yang setiap malam selalu kau sebut sebagai penutup hariku.
Aku hanya ingin menyadarimu, bahwa, Sayang, sungguh ini bukan pertama kalinya “dating” kita berakhir aneh dan penuh kebisuan. Dengan tingkah yang kikuk dan lain dari biasanya. Kebahagiaan itu hilang beriringan dengan hal-hal kecil yang ikut terseret menjadi tiada. Seutas senyum tulus, sorot matamu yang tajam namun teduh, sekutip kalimat penutup malam, bahkan sebuah kecup manis sederhana pada lengan jaket itu juga menjadi tidak berarti sama sekali. Ada yang salah dengan cara aku menyikapi diriku, dengan caramu menanggapiku, dan dengan kita. Ada yang salah dengan kita. 
Seperti kata Ne-Yo, a solo singer man yang sama-sama kita sukai, “Both of us are mad for nothing…“. Pernyataan itu lagi-lagi kita alami. Aku juga jadi teringat tentang statement jomblo bijak yang berkata, “Pendekatan, pacaran, pertengkaran…” selanjutnya bisa kau tambah sendiri. Sudah pasti : Putus. Tapi, Sayang, bukankah kita bahkan tidak pernah berpikir bahwa itu tidak akan pernah terjadi pada hubungan kita ini? Cukup sampai tahap pertengkaran dan tak bisa lagi kubuat kemungkinan yang memaksa kita untuk mengambil keputusan untuk berpisah. Tidak sanggup membayangkan. Pun karena kamu terlalu baik. Terlalu berharga dan aku tak akan dengan bodohnya menyiakan kebaikan-kebaikanmu begitu saja. 
Atau mungkinkah kemarahan tanpa sebab ini kita sendiri yang sengaja membuat, mengingat fakta bahwa sebuah hubungan harus mengalami pasang-surutnya, pertengkaran, dan saling diam. Karena kita memang tidak punya alsana untuk saling marah dan bertengkar? Lalu kita sendiri yang menciptakan itu agar terlihat seperti pasang kekasih pada umumnya? umm…sebagai kedok agar dibilang pasang kekasih manusiawi. Atau sebagai formalitas untuk mengingatkan semua orang bahwa kita berdua juga manusia sebenarnya, dan bisa bertengkar. Maka kita membuat alasan tidak jelas. Karena hubungan kita memang terlampau indah. Bahkan untuk sekadar perkelahian. Kita saling mencinta dengan cara yang tak biasa. Orang lain jelas tidak akan ada yang mengerti. 
Lalu ada apa dengan kita?
Kita mungkin terlalu marah pada masing-masing kita atas sedikitnya waktu yang kita miliki, yang bisa kita habiskan bersama. Kita ingin waktu yang lebih lama lagi. Kemudian kita marah pada diri sendiri, pada masing-masing pasangan. Itu hipotesa sementara yang dapat kusimpan dalam otakku yang tak lagi bisa berpikir sepeninggalmu. Seperginya senyum hangatmu yang selama ini selalu membuatku dapat tertidur nyenyak dan bangun dengan penuh semangat. Aku yakin, beberapa jam yang lalu itu bukan kamu. Bukan kamu.

Khilafku Besertamu Dan Dia

“Hati-hati di jalan ya,” Kamu sempat berpesan begitu padanya. 
Di lain kesempatan kau berkata lagi, kangen katamu.
Banyak pertanyaan yang menumpuk dalam benakku yang selama ini hanya kupendam; sejak kapan, bagaimana prosesnya, yang terpenting adalah mengapa bisa?
Sering kudapati kau melempar kemesraan di hadapanku. Bahkan lewat foto, oh tidak. Bukan aku iri, malah jijik. Wow kan?
Terkadang aku merasa lucu dengan maksudmu bertingkah seperti itu. Tak mengertikah kau bahwa kalian berdua sama sampahnya? Belum pahamkah dirimu bahwa dia adalah bekas pacar mantan pacarku? Ah ya, kalian sama-sama bekas. Sama-sama barang yang sudah tak terpakai .Cocoklah kalau begitu 🙂
Salam ini ingin sekali kusampaikan pada gadismu jua. Selalu kupertanyakan, apa maksud kata teman yang selalu disusungnya. Sahabat, untung sekali kita belum menyelami kata satu itu. Karena ternyata ada maksud yang selama ini dia sembunyikan. Atau mungkin kalian? Wow!
Sekali saja sebenarnya ingin sekali aku menyapanya setelah tidak sekian lama. Tapi lucunya, ia menjauh. Padahal seingatku dulu kau yang bersikukuh mengajak bertemu. Sebentar, aku ingin berbicara sekelebat pada gadismu: Saat ini, aku murni hanya ingin berkata, hai. Karena ekspresimu pada saat itu akan menentukan apa yang kau sembunyikan dariku. Kau telah membuatku cerdas. Oh, aku juga mulai cerdas sekarang, berkat kamu. Berkat pertemanan kita yang kau culasi secara cerdas. Kau butuh sampah lainnya? Aku  masih punya  banyak jika kau mau.
Oke. Kembali padamu sang pria malang.
Ketika cinta bisa membuatmu angkuh dan merasa pernah berharga. Sayangnya aku bahkan tak pernah berpikir begitu. Apa yang kau pikirkan sehingga kau yakin bahwa aku dulu begitu memujamu? Kau punya bukti? fakta? Bukan hanya sekarang, kau yang dulu adalah sama sampahnya. 
Wajahmu saja supel. Hobi pun terhitung sangat anak muda dan gaul pas seusianya. Tapi sayang otakmu polos pelontos. Kau tak bisa membedakan mana cinta, mana dusta. Tak ingatkah bahwa aku hanya mencarimu di saat aku susah? Atau di saat aku sedang membutuhkan pelepas emosiku? nafsuku? segala hal buruk yang tak kuinginkan maka kubuang padamu.
Jadi tak usahlah kau bersikap manis di hadapku. Kalian. Karena mau seperti apapun wujud kalian tetap tergambar seperti sampah di mataku.

Sayang, terimakasih banyak atas jiwa dan raga yang pernah kau serahkan padaku. Menyenangkan. Dan cukup.
Teman, terimakasih atas pertemanan singkat yang kau berikan. Semoga pilihanmu membuatmu senang. Aku bersyukur bisa sadar untuk tidak lagi berteman denganmu.
Maaf sayang, maaf temanku. Tapi ini kenyataannya. Maaf untuk kalian berdua. Yang diam-diam mengkhianatiku, jauh sebelum kusadarai adanya pengkhianatan itu dia antara kita. Di belakangku.

BRUKK!!
“Ness? Aness?!” tiba-tiba sebuah suara yang khas mengesalkannya membuatku masuk ke zona lain. Suara itu berhasil kutangkap setelah sebuah benda empuk mendarat tepat di atas wajahku; bantal.
“Hah? Apaan?? Kenapa?” tentu aku terkejut. Melompat dan spontan terduduk di sisi dipan.
“Elo tuh kenapa?! Tidur teriak-teriak! Gue nggak bisa tidur nih, kedengeran!” Aku diam. Aku diam. Sontak enggan menyahut untuk berkelahi. Terputar kembali apa yang terjadi di dalam mimpi tadi. Ada dia dan gadis itu.
“Gue mimpi buruk,” ucapku lirih. Tatapan kosong cukup menjawab semuanya. Tidak, aku tidak sedang bermimpi tadi. Aku hanya berbicara fakta pada diri sendiri.
“There is no friend who betrays,
There is no love who hurts”