Setelah Tiga Tanda

Semua wanita mendambakan pangeran ber-mercy hitam, alias pangeran berkuda putih versi masa kini. Di sisi lain, jumlah pria yang setia dan penuh perhatian sepertinya bisa dihitung di dunia ini. Apalagi kalau dapat bonus, wajahnya lumayan ya jika tidak terlalu tampan. At least, good looking. Laki-laki seperti itu adalah pria idaman yang menurut semua wanita hanya ada di dunia dongeng. Tapi maaf, pria seperti itu nyata untukku. Beruntungnya aku mendapatkan salah satu pria limited-edition-in-the-world itu. Bagas namanya.

Baru sekitar jam tujuh malam waktu itu, saat aku akhirnya menghubungi Alvi, satu-satunya yang bisa dihubungi selain Rere yang entah kenapa HP nya mailbox. 
“Vi, lo harus tahu sesuatu!” aku bahkan hampir tidak pernah mengucap salam dan sapaan jika menelpon Alvi. Dan sebuah kalimat panjang selalu lancar kulontarkan sebagai pembuka. Bukan sengaja untuk mengundang perhatian Alvi, tapi karena memang aku begitu, ekspresif. Toh dia sudah mengenalku teramat jauh. Sejak berbelasan tahun lalu.
“Apaan? Skripsi lo udah selesai?”
“Bukaaaan!”

“Terus?”

“Gue….dilamar Bagas!”

Tiba-tiba keheningan  muncul di seberang sana. Kalimat seruku anti klimaks sebelum akhirnya Alvi berbicara lagi.
“Wow. Terus lo terima?”
“Mmm…belum. Gue minta waktu,”
“Selamat ya. Gue mau meeting dulu,” jawabnya buru-buru.

Baru kusadari sekarang bahwa kalimat itu terdengar seperti, mm….., mengantung. Tidak bisa kuterjemahkan. Bahkan ekspresi ‘wow’ nya saja diucapkannya tanpa tanda seru. Pikiranku mengenai mungkin-dia-sibuk-maka-sebaiknya-nanti-saja-kudatangi-apartemennya ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Dua hari setelah telponku waktu itu, Alvi tiba-tiba menghilang entah kemana dan sama sekali tidak bisa dihubungi.  Aneh. Setahuku ia sidang perceraian orang tuanya sudah selesai bulan lalu dan Alvi tidak pernah mempermasalahkanya lagi. Lantas apa? Bisnis yang pasang surut bisa jadi penyebabnya. Tapi Alvi tentu akan mencariku untuk bercerita dan meminta saran. Tidak dengan cara menghilang seperti ini. Sungguh bukan Alvi.

Kemarin aku sempat meninggalkan pesan untuknya via email. Kali ini ia tidak mungkin bisa menghindar. Setiap hari ia pasti mengecek dan menggunakan email sebagai media penghubung baik dengan supplier maupun customer. Alvi pasti membacanya,

Alvi,
Gue nggak ngerti kenapa lo harus menghilang begitu aja. Lo ada masalah apa? Atau gue pernah melakukan salah? Lo kenapa sih? Plis Vi, jangan kayak gini. Kita udah berteman belasan tahun. Gue juga butuh pendapat lo mengenai kelanjutan hubungan gue dan Bagas. Gue nggak nyangka lo akan bersikap sekanak-kanakan gini buat mengatasi masalah. Lo udah 23, Bro! Pengecut ah!

Gue nggak akan kemana-mana setelah menikah nanti. Gue akan tetap jadi sahabat lo, kalo emang itu yang lo khawatirkan. Plis deh Vi, email-email-an kayak gini bikin gue jadi lebay. Makanya mendingan lo udahan deh acara mengurung dirinya. Kadang-kadang gue juga butuh temen berantem macam lo buat hiburan. Kapan lagi kita bisa senang-senang bareng sebelum gue jadi….istri orang?


Bales ya nyet!

Amelcantik.

Kemarin kukirimkan email itu dengan keyakinan yang tidak genap. Agak ragu, takut kalau ternyata keberadaan email itu nantinya sungguh tidak membantu malah membuat Alvi makin kesal. Tapi kesal untuk apa? Seharusnya aku yang kesal. Kenapa dia tidak ada di saat aku membutuhkannya? Bukan sahabat namanya. Cih!

Di sisi lain dari akal sehatku, ada sesuatu yang bergejolak dan tidak kumengerti. Firasat itu juga yang sudah beberapa hari ini terus menghantui hari-hariku, selama Bagas menunggu jawabku, selama menghilangnya Alvi. Sesuatu itu membuat hatiku terasa perih dan lelah untuk mempertimbangkan persahabatan atau cinta. Aku dan Alvi sudah berteman sejak kecil. Ia jelas tahu mana yang baik dan tidak untukku. Kalau memang Alvi tidak setuju, lantas begitu juga aku. Tapi Alvi tidak pernah bilang apapun. Ia tidak pernah berkata, bahwa Bagas bukanlah pria yang baik. Berkali-kali saat aku bercerita tentang Bagas, ia buang muka, menatapku tidak suka. Komentarnya hanya, hati-hati dengan dia. Itu saja. Hati-hati untuk apa? Jelas-jelas Bagas adalah orang yang baik dan Alvi tahu itu.

Perasaan bimbang di hatiku itu kujadikan tanda kedua. Setelah Alvi menghilang, aku jadi meragu. Alvi sahabatku, aku butuh dikuatkan sehingga yakin bahwa pilihanku tidaklah salah nantinya. Memilih cinta atau sahabat bukanlah sesuatu yang mudah, tentu aku akan selalu memilih Alvi. Ya karena Alvi sahabatku. Tapi  kenapa aku merasa sedih dan terus-terusan memikirkan Alvi semisal kuterimanya lamaran ini? Kenapa juga Alvi harus menghilang setelah telpon kami waktu itu dan malah tidak membantu?  Keragu-raguan itu melahirkan niatanku untuk mengembalikan cincin lamaran yang telah melingkar manis di jariku ini, kepada Bagas. Tapi bukankah itu terlalu jahat? Bagas lelaki yang sempurna. Cintanya untukku juga sempurna. Tidak menerima cintanya sungguh bukanlah perlakuan adil untuk laki-laki se-malaikat Bagas.

Tanda terakhir yang paling membuatku marasa yakin. Baru saja kualami dan sadari sore tadi. Saat sebuah suara berat itu muncul dari balik pintu yang baru kubuka.

“Halo, Sayang,”

“Bagas? Mm…aku belum bisa kasih jawaban sekarang,” memang belum. Selama keragu-raguan itu belum juga sirna.

“Aku kesini bukan untuk itu…” Bagas menghampiriku yang sejak tadi menempelkan punggung di pintu. Terlihat seperti membuat jarak. Ini pasti karena perasaan bersalahku yang masih ragu dan belum bisa memberi jawaban,

“…aku kesini karena kangen kamu, Sayang,” lantas Bagas menarik tubuhku. Wajahnya mendekat dengan tatapan menenangkan, tulus. Itu justru membuat rasa bersalahku makin meraja. Kemudian kurasakan bibirnya yang dingin mengecupku lembut. Penuh nafsu namun sangat hati-hati. Aku tenggelam. Mencoba tenggelam. Ciuman yang memberi isyarat kebahagiaan dengan sangat jelas. Di sela itu, tangan kanannya melingkar di pinggangku dan menariknya. Kami terus menjaga konsistensi posisi sampai akhirnya jatuh tepat di atas sofa lipatku yang lumayan lebar. Berapa menit kemudian terasa tangannya menyentuh kulit punggung hingga bahuku.  Tangannya menjajaki setiap jengkal tubuh dari balik kaos tipisku. Belaiannya terlampau lembut sampai membuat ingin tertidur. Mmebuatku bergidik dan terus menunggu apa selanjutnya. Caranya membelaiku seperti memperlakukan boneka porselen yang mewah dan mudah pecah. Hati-hati dan penuh kasih sayang.  Tangannya yang lain mengangkat daguku tinggi-tinggi. Meskipun kami sekarang dalam keadaan duduk, tubuh Bagas yang lebih tinggi membuatku tetap harus mendongak bahkan saat sedang berciuman. Lantas kemana gairahku. Si gadis penggila sentuhan ini bahkan tidak bisa melakukan  perlawanan atau hanya sekadar menikmatinya. Kemana nafsu yang menggebu-gebu itu? Kemana keahlianku dalam bercinta?

Jemarinya dengan lembut bermain di wajahku. Diusapnya daguku perlahan dan penuh kelembutan. Bagas laki-laki yang penuh kharismatik dan anggun. Dan tetap begitu saat sedang berciuman.

“Ng…? Ada apa?” tanyaku bingung setelah ia melepas kecupannya. Setelah ia mengelus tangan kiriku dan menggosok pelan cincin itu disana.

Bagas menatapku teduh, lalu tersenyum. Membuatnya terlihat begitu menawan., namun tetap tak lebih tampan dari Alvi. Ups!

“Nggak apa-apa. Cocok dengan kamu,” lantas mengecupku lagi. Kali ini lebih agresif. Lidah kami saling bertemu dan  lidahnya dengan  lihai menyentuh gigiku. Lalu kecupannya berpindah pada dagu, kemudian leherku dan berhenti disana. Tidak basah namun dingin. Membuatku bergidik dan mendesah pelan. Di saat seperti itu mataku  malah tak bisa terpejam. Kudapati kancing kemejanya tak tertutup di bagian atas. Memperlihatkan dadanya yang bidang dengan kedua bahu cukup lebar. Tulang lehernya dengan lantang membuat tubuhnya terlihat tegap. Pandangan itu menampar pikiranku yang kosong. Seksi sekali. Dan seharusnya aku tidak melewatkan itu. Ya, seharusnya.

Selesai itu, aku terpaku. Baru kesadari, kedua tanganku sejak tadi hanya diam saja. Tidak melanglang buana.  Tidak seperti biasanya,  bibirku hanya menerima tanpa menyambut. Kedua mataku yang tak mau terpejam menandakan bahwa aku tak menikmatinya. Ada yang salah dengan diriku setelah lamaran itu ditandangkan. Ada juga perasaan bersalah di hatiku selama aku dan Bagas dekat, berciuman. Rasa bersalah padanya, juga pada orang yang sejak tadi namanya terus mendengung di telingaku dan membuatku kaku, Alvi.

Otakku beku. Tubuhku tak mau digerakkan. Bagas akhirnya sadar saat ia mulai mencoba melepas kaosku namun aku tak bereaksi apapun. Perasaan ganjil yang tersirat di mataku tertangkap oleh Bagas. Ia menerjemahkannya sebagai arti bahwa aku masih butuh waktu untuk shocktherapy akibat lamarannya yang terlalu mengejutkan. Hatiku berdesir lirih. Bukan itu, Gas. Ada hal lain yang jauh menyakitkan daripada itu. Matamu menggambarkan kekecawaan. Aku telah menoreh kecewa disana. Dan pandanganmu mengatakan lain. Ada hal lain yang kau mengerti, tapi tidak kau utarakan. Itu baiknya dirimu, Gas. Dan itu pula jahatnya aku, sering berbohong demi kesenanganmu.

Lagi-lagi aku harus mempertarungkan otak dan hati di saat bersamaan. Semua sungguh tidak masuk akal. Aku pasti mencintai Bagas. Seharusnya aku mencintai pria  setengah malaikat itu. Ya, seharusnya aku menyambut ciumannya dengan senang dan tidak kaku seperti tadi. Seharusnya aku merasa senang akan segera menjadi calon Nyonya Bagas dan menjalani hidup bahagia. Bukan malah memikirkan orang lain. Begitu batinku terus berteriak. Tapi di dalam hatiku ada yang berdenyit. Ada rasa perih yang mencoba untuk keluar dan dipertimbangkan. Suara hati.

Kubuka jendela kamarku agar ada udara yang masuk. berharap itu bisa menenangkanku dari isak tangis yang sebenarnya tidak membantu. Aku masih tersedu sambil mencoba melawan teriakan-teriakan dari dasar hati yang sejak tadi berkata kontra. Pipiku semakin basah. Jerit tangis pun tetap tidak membuat lega. Aku butuh kedamaian itu! Lantas cincin yang basah air mata itu terlempar jauh entah kemana. Terlempar. Aku yang melemparnya.

Kekhawatiranku mengenai Alvi, ternyata lebih dari hubungan sahabat belaka. Ada hal lain yang lebih kucemaskan selain itu, perasaanku.

Sedetik kemudian kudengar pintu diketuk berkali-kali. Lagi dan lagi seperti tak bisa menunggu barang semenit pun. Kukeringkan wajahku dengan kaos sekenanya. Mencuci muka dan mengambil tissu sudah tidak sempat. Orang diluar menggedor pintu semakin keras saja dan berteriak, tanpa terdengar apa yang diucapkannya.

Saat ini aku hanya butuh beberapa langkah lagi untuk tiba di pintu utama. Suara diluar sana semakin dekat, juga semakin jelas hingga membuatku mematung kaku. Semua sudah semakin jelas sekarang. Alvi sedang berdiri di luar pintu rumahku dan berteriak seperti orang akan mati sejam lagi.

“Mel, gue tau gue pengecut! Gue emang pengecut seperti kata lo! Emang!”

Ada sejuta kebingungan sekaligus amarah yang searasa ingin tumpah dari dalam hatiku untuk Alvi. Tapi di saat bersamaan, aku juga merasakan energi hebat menjalar di tubuhku. Rasa hangat atas kerinduan yang akhirnya akan terbalaskan, membuat senyumku mengembang.

“Gue minta maaf, Mel! Plis, gue minta maaf!”

Ucapannya makin tidak beres dan membuat bingung. Sudah cukup Alvi berteriak-teriak sebelum tetangga berdatangan ke rumahku atau paling tidak, membuat gosip baru.

“Apaan sih berisik banget? Maaf buat apa?” Kubuka pintu secara tiba-tiba dengan langsung menghardik ini dan itu.

“Amel? Lo ada di rumah? Kenapa nggak bukain pintunya dari tadi sih?!” Alvi justru balik marah, sikapnya itu kentara sekali dikalukan untuk menutp wajah malunya yang tengah merah padam. Seperti biasa, kami ‘perang’ lagi.

“Lah, orang mah bertamu salam dulu makanya. Main teriak-teriak aja. Ya udah, cepetan bilang! Maaf buat apa?” aku menunggu di muka pintu, seraya melipat tangan dengan acuh tak acuh.

“Gue minta maaf, kalo gue suka sama lo,” detik itu terasanya seperti ada sebuah petir menyambar akal sehatku. Alvi, bocah ingusan yang sering ngompol di sekolah dan bikin aku malu waktu SD dulu, ternyata menyimpan perasaan itu entah sejak kapan. Pengakuan itu mengejutkan, tapi membuatku bahagia tak karuan dan merasa seperti lepas semua beban.

“Lo nggak usah dengerin omongan gue barusan. Gue kesini cuma mau buktiin kalo gue bukan pengecut seperti kata lo. Happy Wedding for you! dah!” setelah itu Alvi melengos begitu saja. Aku masih tidak percaya apa yang dikatakannya, tapi semua sudah jelas. Dan senyumku keburu mengembang.

“Vi, tunggu!” sebelum tubuh gempal itu menghilang dengan motornya, aku segera mengejarnya. Mencoba untuk tidak merasakan penyesalan di kemudian hari.

“Apa? Gue nggak mau nangis depan lo. Buruan!” bentaknya lagi. Aku sudah tidak bisa berkata apapun. meledaknya juga sudah tidak mampu. Kuperlihatkan telapak tangan kananku yang kosong. Ya, cincin itu sudah tidak ada. Demi Alvi. Dan imbalanya adalah sebuah pelukan yang rasa bahagianya lebih nyaman dari sebuah ciuman mesra.

“I love you too, Nyet!” sahutku padanya, kalimat itu keluar begitu saja. Sementara otakku sibuk memutar fakta,

Bagas, maaf aku egois karena tidak memikirkan perasaanmu. Namun lebih egois lagi kalau aku membohongi dua hati, aku dan Alvi. Dan membohongimu dengan berkata aku cinta. Karena aku selama ini, ternyata, hanya tak mau kehilangan kesempatan untuk dicintai pria sesempurna kamu. Ya, aku sudah egois sejak pertama kali kita bersama. Kau terlalu baik untuk wanita egois sepertiku.

“I believe that two people are connected at the heart,
and it doesn’t matter what you do,
or who you are or where you live;
there are no boundaries or barriers if two people are destined to be together.”
Julia Roberts 
 

Hati kita tertinggal di masa lalu II

Ferdy
Di acara seminar kampus, pasti ada  kamu Anjani ,disana. Tentu tidak sulit untuk menemukanmu di acara itu. Karena kamulah pembawa acaranya. Segera mungkin setelah usai acara, kuhampiri kau meski dengan ragu-ragu. 
“Jani,” panggilku pelan. Kamu yang sedang berbincang dengan salah satu kru acara di belakang panggung lantas menoleh. 
“Fer…dy?” Kau mendekatiku hati-hati. Dan aku selalu tidak suka tatapanmu yang sekarang. Semacam warning alert.
“Yap. Selamat ya, tadi keren. As usual. You bring the person to the theme perfectly,” semoga basa-basi ini tidak terlalu garing, celetukku dalam hati.
“Kok lo bisa ada disini? Sejak kapan lo suka dateng ke seminar kesehatan?” Ah, kau malah tidak menggubrisku.
“Gue diajak temen. So, udah makan belum?” Kau hanya menggeleng dan masih dengan tatapan hati-hatinya itu. Please, Jani. Jangan buat aku bertingkah makin aneh dan kikuk. 
“Sama. Yuk, bareng aja!” Semoga kali ini kamu nggak menolak tawaranku lagi setelah beberapa lama kau terus menghilang dari peredaran hidupku dan tidak menyambut segala ajakan yang kutawarkan. Apa yang salah, Jani? Kemana Jani yang dulu?
Sepanjang perjalanan, kamu diam saja. Aku ingin tahu apa yang sedang kau pikirkan, atau mungkin apa yang sedang kau rasakan sampai harus diam seperti itu saat ini. Aku juga ingin tahu mengapa kau berusaha menjauhiku selama beberapa bulan ini. Kalau saja Bowo tidak memberitahuku bahwa kamu jadi pembawa acara di seminar tadi, mungkin kebersamaan kita ini tidak akan pernah terjadi. Dengan begini, kau tidak bisa lari lagi. Namun yang kuherankan, kau berlari atas apa? Aku hanya ingin kita dekat lagi. Dan kau berhutang padaku untuk menjelaskan ada apa sebenarnya denganmu dan apa kabarmu selama kita tidak bertemu.

Sejak tadi kita hanya diam. Saling bertukar pandang yang kemudian menimbulakan suasana kikuk. Berceritalah, Jani, tentang apapun. Kecuali, tentang percintaan. Aku juga tidak tahu kenapa, bercerita tentang gadisku kepadamu, rasanya menjadi suatu hal yang tabu sekali. Kurasa kau juga mengerti yang kumaksud. Tapi, aku ingin tahu, apakah sudah ada lelaki yang mengambil hatimu? Yang memberikan perhatian kepadamu setelah aku tidak ada? Tidak mungkin kutanyakan padamu. Sebelum kau memulai; berbicara tentang percintaanmu.

“Tampilan baru nih?” ledekku sekadar untuk memecah kesepian sambil memperhatikan dandanan dan pakaianmu. Lebih modis dan feminin dari seorang Anjani yang kukenal dulu. Apa yang terjadi selama aku tidak ada, Jan?  Semoga berita bahwa kau sudah punya pacar itu benar adanya. Kusimpulkan, kau pasti berubah demi dia. Atau perubahan itu memang tidak kau sengaja, terproses begitu saja karena rasa cinta. Sehingga kau selalu ingin tampil cantik di hadapan pacarmu. Syukurlah. Dengan begitu, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Dengan pacar masing-masing.

Sayangnya, sekarang aku malah terpaksa untuk sering berbohong kepadamu. Kalimat tadi seharusnya, “kau sekarang semakin cantik.” Tapi sepertinya tidak mungkin. Untuk apa? Untuk membuat hancur hati kekasihku disana? Aku bahkan tidak suka dengan kata playboy. Tidak, Jani. Maaf aku tidak bisa jujur kepadamu.

Sejak tadi, sebenarnya beberapa kali aku mendapati kau menatapku dalam. Entah apa artinya itu. Tapi tolong, Jani. Jangan lagi tatap aku seperti itu. Pandangan itu membuatku bingung. Dan kau harus tahu apa yang terlintas di kepalaku saat kau menatapku begitu; merasa bersalah. Entah untuk apa.

“Sejauh ini masih ngemsi, tapi mungkin bulan depan udah nggak bisa sesering ini. Gue dapat tawaran kerja di Koran,” jelasmu saat kutanya, sedang sibuk apa sekarang. Ya, seperti itulah kamu. Seorang multitalent. Kau bahkan bisa melakukan beberapa hal yang tidak bisa kulakukan sebagai seorang laki-laki. Terkadang aku berkaca padamu, tentang menjadi diri sendiri dan bagaimana caranya untuk berprestasi. Melihat sederet prestasimu, juga aku, entah mengapa, merasa bangga. Padahal aku tidak berperan apa-apa di setiap prestasimu. Tapi rasa bangga itu selalu ada.

Cerdas, aktif, dan cantik. Tiga kata itu yang tepat untuk menggambarkan siapa dirimu. Bahkan keahlianmu yang serba bisa itu selalu saja membuatku merasa bangga. Rasa bangga itu terasa seperti sebuah emosi untuk memiliki. Yang kemudian menjadi ego bahwa aku yang harus menguasaimu. Seperti itu kasarnya, tapi di luar itu semua, menurutku kau lah wanita idaman. Dan aku bukanlah lelaki yang pantas untuk mendampingi wanita sehebat kau, Jani. Pertemuan ini bukanlah reuni atau perpisahan. Pertemuan ini sebagai tebusan rasa bersalahku, maaf selama ini aku hanya memberikan kenyamanan semu untukmu. Maaf aku selalu berbohong, bahwa ada cinta yang tersimpan di dalam sanubari ini. 
Aku yakin, ada lelaki di luar sana yang jauh lebih pantas untukmu. Selama dia belum muncul, ijinkan aku menjagamu dulu.
That my feelings are true
I really love you
Oh you’re my best friend…

Queen

Hati kita tertinggal di masa lalu

Anjani
Kali itu hanya senja yang mungkin menjadi saksi tunggal. Aku masih bersikap dengan kikuk, kamu juga ternyata. 
“Sakit?” tanyaku seefisien mungkin. Tidak lagi ada embel-embel, yang biasa orang sebut dengan panggilan akrab atau sayang, di sebelum maupun sesudahnya.
“Nggak,” kamu pun imbas membalasnya dengan hanya satu kata. Juga dengan seutas senyum. 
Keadaan sudah tidak lagi sama. Kondisi yang mengharuskan kita menjadi orang lain. Namun aku masih diriku yang dulu, yang menjadi temanmu. Kau juga begitu. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bertegur sapa. Teman tidak ada batas masa. Begitulah aku menasehati diriku sendiri.
“Biasa makan disini sekarang?” tanyamu memecah kegamangan. Tentu, kau pasti baru tahu aku sekarang sering makan di tempat makan ini, yang kamu baru tahu. Sejak enam bulan tidak makan denganmu. Maka banyak perubahan yang terjadi dan kau tak tahu. Karena selama itu pula kita tidak bertemu. 
“Gue ini aja deh,” lantas kau menunjuk pada salah satu menu yang ada. Sambil terus mengigit bibir dan pandangan menyapu ke seluruh menu. Rambutmu yang lumayan gondrong menutup sebagian dahi, jatuh, detik itu kurasakan jariku gatal ingin membenarkannya agar tampak lebih rapi. Namun kenyataan menyadarkanku. Aku urung melakukannya. Sudah tidak pantas.
Tiba-tiba kau mengaduh. Kudapati lehermu merah, juga terdapat bintil-bintil kecil disana. Segera kuambil minyak angin yang sering kubawa. Lalu kubalurkan ke lehermu. Beberapa kali. Sampai mata kita bertemu dan kikuk itu muncul lagi. Sejak kapan kamu alergi seafood, ah aku tidak lagi mengenalmu yang sekarang.
Setelah itu kita jadi salah tingkah. Namun diam-diam menatap satu sama lain. Ferdy, mungkin seharusnya kita tidak disini sekarang. Berdua. Bersikap seperti dulu dan apapun belum pernah terjadi. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing yang berbeda. Yang menuntut kita tidak boleh lagi sedekat ini, semesra dulu. 
Banyak yang sebenarnya ingin kusampaikan padamu setelah berapa bulan aku menjauh dan tidak bertegur sapa. Banyak rindu yang kutahan, yang tidak sampai padamu hingga akhirnya berusaha kuhapus segala memori tentangmu, bahkan juga komunikasi. Tapi aku bisa apa. Jalan kita berbeda. Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk bersama. Seperti Hujan dan Pelangi. Mereka diciptakan untuk saling mengagumi, melengkapi, namun tidak untuk bersama. Semua orang tahu itu.
Seperginya kamu, semua memang berubah. Namun tak lantas menjadi semakin baik. Awalnya buruk. Saat aku menjalani segalanya sendiri. Dengan kemandirian yang kupaksakan. Beberapa kali memang kau sempat mengajakku jalan atau sekadar makan seperti ini, kau juga sering mengirim SMS menanyakan kabar, tapi kau lupa saat aku berulang tahun. Dan aku tidak menyesalinya. Aku hanya butuh kekuatan untuk melupakanmu. 
Kamu mungkin masih sama, tapi kondisimu sekarang berbeda. Itu yang tidak bisa kuterima. Aku tidak punya alasan mengapa aku begitu membencimu yang sekarang. Setelah aku sadar mengapa, aku langsung bungkam. Ketika sebuah pertanyaan tidak bisa dijawab dengan rasio, maka pertanyaan itu pasti kembali pada hati. Karena akal dan perasaan sangat bertentangan. Bukankah begitu?
Aku tidak bicara tentang rasa suka apalagi cinta. Hanya saja selalu ada bahagia yang lahir ketika aku mendapati kehadiranmu. Jika kudapati tatapan matamu, ada rasa hangat yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhku. Memori masa kini terbolak-balik dan mundur dengan runtun menggambarkan kisah kita dulu setiap harinya. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya, intinya yang kutahu, di sisimu aku merasa nyaman.
Mungkin hanya aku yang merasakan kejanggalan ini. Kutahu, aku bertepuk sebelah tangan. Maka dari itu, aku tak pernah mau memulai kisah kita yang tidak pernah ditakdirkan ada.
“Nanti, kabar-kabarin ya,” kalimat terakhirmu setelah kita tiba di depan gerbang kost-ku, meski aku tak minta diantar. Kalimat itu menggema di telingaku dan terdengar seperti, “Please keep contact with me,”

Tell me why, 
why are we still friends? 
When everything says we should be more than we are.
  98

 

Hal Kecil

“Liz! Eliz! Tunggu!” teriak Banu setengah berlari. Air mata ini tidak bisa lagi kutahan. Perasaan ini sudah tidak bisa kusembunyikan. Sudah parah, Banu. Teriakku pada diri sendiri, sambil terus berlari tanpa arah yang jelas. Satu poin yang terpenting, menghindarinya.
“Elizabeth!! Aku bilang tunggu!” tiba-tiba Banu membentak. Sontak aku kaget. Banu belum pernah begitu sebelumnya. Keterkejutanku membuatku kaku, berhenti, bahkan air mataku. 
Kemudian ia mendekap dan mengelus rambutku yang tergerai. Bukti bahwa ia merasa telah melakukan kesalahan, “Liz…”, suara Banu melunak setelah menyadari aku kaget dan tak akan mungkin angkat suara.
“Aku tahu, kamu bukan pengecut sampai harus lari dari masalah,” jelas Banu sembari mencengkram pergelangan tanganku dengan erat. Percuma Banu, tidak usah banyak bicara, aku tak akan sanggup menatap matamu. Aku malu memperlihatkan air mataku, menunjukkan keadaanku saat sedang kacau, yang terpenting adalah aku takut. Takut memberikan tatapan kecewa padamu. Takut kau mendapatinya di sana.
“Aku nggak mau marah sama kamu, karena aku sayang sama kamu,” kalimat itu tidak menentramkan kekacauan emosiku, Nu.
“Banu, aku juga nggak mau marah sama kamu, karena aku yakin kamu nggak mungkin jahat,” pekikku kemudian. Sudah tidak bisa lagi ditahan. Banu bergeming, bingung.
“Maksud kamu apa?” 

To be continued……

Resolusi kemarin dan kini

2012. Tahun sudah berganti ya? Aku pun sekarang sudah genap menginjak angka 19. Tua sekali. Resolusi. Aku harus melakukan perubahan. Ini bukan tuntutan, melainkan kewajiban. Masalahnya jika tidak kulakukan sekarang, pasti aku akan menyesal nanti. Siapa tahu?
Tulisan ini kubuat untuk mengingatkanku (baca: menampar). Malu sebenarnya untuk mengumbar mimpi-mimpiku. Dulu mbak Asma Nadia, seorang penulis islami terkenal pernah berkata padaku: “Nay, jangan biarkan orang lain mencuri mimpi-mimpimu,”. Karena jika keduluan, aku pasti akan sangat menyesal. Tapi tidak akan ada yang memacu kalau mimpi-mimpi itu hanya kukumpulkan dan kusimpan rapi di dalam kotak imajinasiku. Jadi, kubiarkan mereka pindah kesini. Di sisi lain, semoga tidak ada orang lain yang baca tulisan ini. Atau jika terlanjur membaca, sebaiknya diam saja karena aku malu. Jangan tertawa apalagi menertawakan.
Sebelumnya, kuucapkan selamat pada diriku atas keberhasilan resolusi tahun lalu. Banyak resolusi di tahun lalu yang telah terwujud. Mungkin tahun 2011 merupakan tahun fokus krisis ekonomi untukku. Karena di tahun kemarin, aku bersusah payah dan mendongkrak keuanganku. Ya boleh dibilang, tahun kemarin adalah tahun dimana aku bangkit dari kemiskinan diriku sendiri. Allah mungkin tidak ingin aku terpuruk lama-lama dalam masa “keterbatasanku”. Banyak sekali jalan yang terbuka untukku. Maka mulai banyak usaha kulakukan, mulai dari jualan clutchbag, lukisan, bahkan stiker sepuluh-ribuan. Aku juga sempat bekerja di sebuah perusahaan media terbsar di Ibu kota. Syukurnya semua itu tidak sia-sia. Karena dengan begitu, akhirnya aku bisa memenuhi impian-impianku, kebutuhan kuliah, dan mendongkrak krisis ekonomi kantongku. 
Akhirnya aku bisa memiliki mini-notebook, jadi tidak perlu lagi begadang di warnet sampai tengah malam untuk mengerjakan tugas. Selain itu, sekarang akhirnya aku bisa memiliki Smartphone impianku, Torch putih yang dulu tak pernah kubayangkan bisa memilikinya. Memegang punya teman saja sudah takut. Takut nggak bisa ganti kalau rusak hehe. Kemudian aku juga bisa membeli buku kuliah dan kamus-kamus. Uang sisanya bisa kubelikan buku-buku yang sejak dulu ingin kumiliki. Juga sepatu segala rupa yang ingin menjadi hobi untuk dimiliki dan dikoleksi. Alhamdulillah semuanya terpenuhi. Allah membayar semua usahaku.
Oya, di tahun kemarin aku bukan hanya sukses di bidang ekonomi ternyata, tetapi juga percintaan. Akhirnya, pacar baru. Meskipun tadinya kepengin sendiri dulu. Ternyata memang butuh. He..he…
Lanjut soal resolusi. Bahkan banyak resolusi di tahun lalu yang belum terwujud. Seperti, beasiswa summrcourse ke luar negeri, khususnya Itali. Aku ingin sekali kesana. Tidak ada sesuatu yang spesifik. Aku punya banyak alasan mengapa ingin pergi ke negara Pizza itu. Tidak, aku tidak terlalu menyukai Pizza kok. Itali seperti dongeng bagiku. Tempat-tempat bersejarahnya penuh artistik dan menghidupkan imajinasiku dengan cara yang luar biasa. Itu baru lwat gambar. Entah akan seperti apa dan seberapa banyak karya-karyaku kalau langsung membuatnya disana. Juga karya soal rancangan baju. Segala seni ada disana.
Di tahun ini, aku berharap bisa jadi orang yang lebih produktif. Seperti, membuat puisi setiap harinya. Aku masih ingat, dua tahun lalu saat masih kelas dua SMA. Tahun 2009  kalau tidak salah ingat. Waktu itu, aku sering menulis puisi untuk dipajang di mading sekolah. Dari sana ternyata aku punya penggemar rahasia. Siapa sangka. Alhasil kami menjadi dekat (tentu dia laki-laki), lalu setiap hari aku membuat puisi dan mengirimkannya kepada dia. Ada dua maksud sebenarnya. Pertama, karena dia minta. Kedua, agar dia simpan semuanya karena memori HP-ku saat itu sangat kecil. Sedangkan untuk memindahkannya ke buku catatan tentu menyita waktu. Suatu hari saat kami bertengkar dan tidak dekat lagi, akhirnya puisi-puisiku yang kutitipkan padanya, dihapus. Semuanya. Aku kecewa. Tapi tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Meskipun tetap saja aku kecewa. Karya-karyaku selama satu tahun, lenyap tanpa persetujuanku. Dan aku paling benci kehilangan karyaku sendiri. Oleh karena itu, aku harus mengembalikan puisi-puisi itu dengna karya yang yang baru. Tentu kali ini aku akan menyimpannya sendiri. Itulah menapa sekarang aku memilih Smartphone dengan memori yang sangat besar. Atas ridho-Mu, ya Allah.
Produktif lainnya adalah, lebih banyak menyisihkan uang untuk membeli dan membaca novel, khususnya. Karena dengan membaca, banyak informasi, kosakata, dan gaya bahasa baru dari penulis lain yang bisa didapat. Buku juga merupakan investasi yang bagus dan berguna untuk anak dan cucu. Jadi tidak akan sia-sia. Buku-buku di kamarku pun sepertinya  merasa butuh teman baru dan  sebagian merasa cukup terkucilkan. Akibat tidak mendapat tempat untuk ikut bergabung di dalam rak buku. Wah kalau begitu sepaket dong, resolusi lainnya adalah punya rak baru hehe.
Dengan lebih banyak membaca, sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak kembali menulis novel. Rasanya aku sudah cukup jengah dengan kalimat-kalimat yang memergokiku untuk berani merampungkan novel dan menyerahkannya ke penerbit. Mulai dari penulis terkenal seperti mbak Asma, yang kalau bertemu, selalu mengancam, “Nulis , nay!” bahkan sampai pacarku juga ikut menggebu-gebu perihal menulis novel itu. Yah, doakan saja ya. He…he..he…
Resolusi lainnya tidak muluk-muluk. Aku hanya berharap semoga lulus semua mata kuliah di semester kemarin (belum ada pengumuman nilai) dan semester in iyang baru akan tiba. Selain itu, kuharap paling tidak ada peningkatan pada IP dan IPK, jika tidak bisa Cum Laude. Organisasi juga jalan terus. Karena itu satu-satunya kehlianku yang nyata di banding mahasiswa lain di masa perkuliahan ini.  Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pembeda jika sudah terjun ke dunia persaingan kerja nanti. Amin. 
Yang terakhir, semoga setahun ke depan baik untuk aku dan si pacar. Semoga hubungan kami bisa menjadi lebih dewasa dan langgeng sampai akhir masa. Oya, resolusiku untuk dia: mendukung, memaksa, dan membantunya jiwa dan raga untuk kelancaran skripsi sehingga lulus tahun ini sehingga bisa langsung melanjutkan S2 dan selanjutnya terserah Anda he..he..he…

Seribu wanita

Braakk!!
Lantas kubanting pintung tak bersalah itu dengan kencang sekali. Suara bedebumnya kuharap terdengar sampai ke seluruh isi rumah. Bahkan ke rumah tetangga kalau perlu. Seluruh dunia perlu tahu, bukan betapa sedihnya aku, tapi betapa brengseknya Heru. Kusesali mengapa baru setelah 5 tahun aku baru tahu kebusukannya.
“Mbak nggak laku ya? Sampai harus naksir kakek-kakek?” aku tahu kalimatku kasar. Gadis itu yang terbilang masih belia dengan emosi yang labil pasti hancur sekali perasaannya akibat ucapanku tadi Mau apa lagi. Aku sudah tiba pada puncak rasa kesalku. Jujur saja, dia memang masih segar dan terlalu cantik untuk Heru. Tidak sepadan.
Penampilan gadis 20 tahunan itu membuat tangisku makin meledak. Mengapa aku harus bertanding dengan dia? Bahkan wanita itu lebih cocok jadi anakku. Nemu dari mana Heru, gadis semuda itu. Aku tak habis pikir apa maunya. Yang lebih tak kumengerti mengapa gadis itu bisa tahu semuanya. Tahu tentang keburukanku, siapa aku sebenarnya, bahkan maslaah keuarga yang beberapa kali membuat aku dan Heru bertengkar hebat. Mengapa Heru setega itu padaku? Pertanyaan itu membuat air mataku makin menjadi, tak ada hentinya.
Aku meraih sebuah kartu nama dari dalam laci. Kartu nama itu kusimpan baik-baik, kuselipkan di antara album foto yang tengah usang. Kuperhatikan baik-baik deretan angka yang tertera disana. Sembari kurebahkan kepalaku yang mendadak pusing akibat tangis sesenggukan yang terlalu hebat. Juga sakit yang mendadak menggerayangi seluruh tubuhk dan berakhir pada perut.
Setahun lalu, masih jelas juga dalam ingatanku, mengenai Yati. Dari namanya saja, aku sudah tidak simpatik.  Angka-angka itu adalah rangkaian nomor telponnya yang kudapat dari seorang teman, yang membantuku menjadi mata-mata Heru. Singkatnya begitu. Ceritanya terlalu panjang. Namun wanita yang ini berbeda. Tampak tak terpaut jauh usianya denganku. Tapi tetap saja, penampilannya kampung.  Itu pendapatku saat pertama kali kudatangi rumahnya untuk langusng mengintrogasi. Pakaiannya hanya daster sekenanya dengan lemak yang bergelambir disana-sini. Dandanannya terlalu menor dengan warna rambut di cat ungu-merah bata. Dari penampilannya bisa diambil kesimpulan bahwa ia hanya seorang pegawai salon abal-abal. Norak.
Tangisku tambah parah, bisa-bisanya Heru mencari yang seperti itu. Seleranya rendah sekali. Jelas aku tidak terima harus dibandingin dengan Yati. terlihat bahwa ia sama sekali tidak punya latar belakang pendidikan. Hatiku terasa sesak, Heru, haruskah kau cumbu semua wanita dari segala usia dan latar belakang? Haruskah kau se-playboy itu? Mengapa kau setega itu?
“Brengsek kamu, Heru!” sebuah pigura foto 4 R lagi-lagi menjadi korban kemarahanku. Kulempar sejauh mungkin sampai hancur menjadi serakan beling dan bingkai yang patah. Janji yang diucapkan Heru saat ijab-kabul malah terngiang-ngiang di telingaku semakin kencang dan membuat perasaanku teriris.
Hatiku memang hancur, seperti pigura foto ituu. Perkawinan ini adalah separuh hidupku. Jika perkawinan ini gagal, maka separuh hidupku turut hilang dan terluka. Luka parah.
Perkawinanku dengan Heru bukanlah yang pertama. Lalu mengapa masalahnya sama? Apakah semua kesalahannya terletak padaku? Aku dosa apa sampai harus mengalami ini beruntun dan bahkan lebih parah dari sebelumnya? Bukan aku tidak belajar dari pengalaman, tapi aku yang terjebak dalam garis tanganku sendiri. Atau memang aku tidak pantas untuk dicintai? untuk merasakan cinta?
Kuraih ponselku. Berusaha angkat suara saat hubungan telah tersambung. Kutahan isak tangisku.
“Ma, nanti siang aku pulang,”
dan aku menekanku nada pada kata pulang. Dengan segera aku mengemas barang-barangku,  terutama kartu berobat, sebuah logo tertera disana, Rumah Sakit Kanker Nasional.
“Aw…!!”
Kutekan bagian perut bawahku. Sebuah rasa nyeri belakangan ini sering muncul dari sana. Kuyakini pasti, rahimku lagi. Yang tak bisa berpenghuni. Waktuku tak banyak lagi. Tak ada waktu untuk memikirkan Heru.


“Love is not about finding the right person, but creating a right relationship. 
It’s not about how much love you have in the beginning but how much love you build till the end.”
Jumar

Masih begini (moga)

Sudah beberapa bulan, minggu, hari, jam menyela di antara kita. Membawa kita pada dimensi lain yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Namun kita masih sama. Dengan segala perbedaan yang kita miliki. Perbedaan itu kemudian menyatukan kita. Aku sederhana, sedangkan kau terlalu kaya.

Aku masih begini. Masih mencintaimu dengan sederhana.  Dengan kata-kata yang dapat kurangkai meski tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kasih kita saking hebatnya. Aku masih begini, dengan hanya kata-kata yang kupunya. Tak ada lagi.

Kamu pun sama. Kamu masih begitu, hanya saja dengan kemewahan. Dengan berjuta kebaikanmu yang kau punya, yang kau persembahkan padaku. Kau kaya akan cintamu yang tak hentinya kau limpahkan .Dan kau sepertinya sudah tahu, aku tak akan pernah bisa membalasnya. Kecuali dengan kata-kata sederhana yang kupunya.
Aku masih begini. Masih mencintaimu dengan cara yang tak kau mengerti. Jadi jangan pernah terlintas di pikiranmu tentang kelancanganku untuk pergi begitu saja meninggalkan “kita”. Aku memang orang yang sulit. Dunia pun menyadarinya. Dan maaf, aku sering mempersulit diriku di hadapmu. Aku hanya salah tingkah, atas tatapanmu yang terlalu teduh. Membuatku tenang, membuatku merasa nyaman, membuatku terbuai dan lupa apa yang harusnya kulakukan. Di dekatmu aku bisa menjadi diriku sendiri.
Aku masih begini. Masih mencintaimu secara adil. Waktuku tak banyak, aku harus membaginya kepada semua orang secara sama. Aku tak punya waktuku, waktu yang kupunya telah kuberikan kepadamu. Di sisi lain ada yang harus kutangani. Perasaanku tersita karenanya. Sedangkan perasaan tidak bisa dibagi, tidak seperti waktu. Sering kali aku kesulitan jika dua dari sesuatu telah menyita perasaanku. Termasuk dengan cara mengorbankan kamu. Suatu saat kamu akan mengerti.
Aku masih begini. Masih mencintaimu sebisaku. Terkadang memang aku tersandung. Di jalan yang lain, akibat batu lain. Namun aku harap itu tak mengurangi tenagaku untuk tetap mencintaimu. Mungkin terkadang kamu ragu. Tapi aku tak semudah itu berpaling. Mungkin kamu ragu atas kekuatanku. Tapi aku hanya mencoba untuk tidak menunjukkan kelemahanku. Apapun yang terjadi, di luar kita, aku ingin “kita” tetap ada. Meskipun kamu tidak tahu ada apa. Karena di dekatmu, aku bisa menerima kodratku sebagai orang yang lemah. Kau yang menguatkanku.
Aku masih begini.  Masih mencintaimu dengan jujur. Seperti yang kau tahu, aku orang yang terbuka, namun tidak semudah itu untuk “bicara”. Ada kalanya menurutku, hal yang tak perlu dibicarakan. Bukan tentang aku, kamu, atau kita. Kau cukup yakini itu saja sebenarnya. Apapun itu tidak akan menyangkut dirimu. Hanya saja aku memang belum siap kau tahu. Aku pun telah jujur sebisaku. Akan kukatakan apa saja yang sekiranya perlu kau tahu, hal tidak penting sekali pun. Oleh karena itu, kuharap kau juga begitu. Mencintaiku dengan kebenaran. Karena pria yang setia pada kenyataan, adalah kekayaan yang ingin dimiliki semua wanita.
Doaku, semoga aku masih begini, sampai nanti. Sampai hubungan kita sudah tidak terhitung bulan lagi. Semoga kita masih begini.

Apalah Arti Cemburu

Kemarin aku bertanya pada google, apa pendapatnya mengenai arti cemburu. Kemudian KBBI menjelaskannya seperti ini,

cem.bu.ru
[a] (1) merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dsb; sirik: ia — melihat madunya berjalan berduaan dng suaminya; (2) kurang percaya; curiga (krn iri hati): istrinya selalu — kalau suaminya pulang terlambat

Dari kedua pengertian tersebut, jujur saja aku tidak setuju. Karena aku sedang merasakan cemburu itu, dan yang kurasakan tidak satu pun cocok dengan pengertian yang dijelaskan. Aku punya definisi tersendiri mengenai apa itu cemburu. Dan baru kutahu setelah kualami. 

Selama ini, setelah menjalin beberapa kali hubungan, yang kutahu cemburu adalah marah dan itu bagian dari rasa sayang. Ternyata aku salah. Cemburu ternyata adalah yang belum diungkapkan oleh kata-kata sudah menyesakkan dada, mengganggu pikiran, bahkan menghilangkan cinta. Bukan membuat semakin cinta, atau karena bukti dari keberadaan rasa cinta tersebut.

Ternyata cemburu menghapus cinta. 

Kemarin aku menemukan kejanggalan yang nyata adanya. Membuatku cemburu. Mungkin bagi orang yang berpasangan, cemburu adalah wajar dan biasa. Namun sayangnya cemburuku ini sudah tiba pada puncaknya. Puncak dari kecemburuanku setelah beberapa lama yang berusaha kumaafkan dan kulupakan begitu saja. Malah selalu terungkit ketika kudapati hal yang berelasi dengan dia, yang membuatku cemburu. 

Beberapa waktu lalu aku sempat bersumpah apda diriku, untuk jadi dewasa. Dalam hal apapun, termasuk dalam menjalin hubungan dengan laki-laki, dengan pacarku. Maunya tak ada lagi kata main-main, ya hubungan yang dewasa. Termasuk menahan dan menghilangkan rasa cemburu, yang pada awalnya menurutku adalah sebuah kekanak-kanakan. Tidak dewasa.

Lantas waktu berjalan, aku pun menyikapi segalanya seperti tidak ada rasa yang kusembunyikan, tidak ada fakta yang kutahu, tidak ada bukti yang kutemukan. Aku bersikap layaknya seorang yang dewasa. Dan ternyata rasa cemburu itu menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Rasa cemburu itu menahan rasa cinta yang selama ini sudah tumbuh subur dan indahnya di ladang hatiku. Kasih sayang yang sudah kujalin dalam beberapa waktu lamanya bisa ambruk begitu saja karena cemburu, tanpa bekas sayang, namun berbekas pedih. 

Ternyata (lagi) cemburu tidak ada hubungannya dengan kedewasaan.

Tidak cemburu bukan berarti dewasa. Dewasa ada patokannya, sedangkan cemburu tanpa batas. Dan mereka tidak bertemu pada satu titik yang sama. Yang satu rasional, satu lainnya irasional. Cemburu adalah hal yang sangat irasional namun sangat masuk akal. Intinya, cemburu tidak enak. Cemburu bahkan bisa menghancurkan hubungan orang banyak. Dan aku tak pernah berharap aku mengalaminya. Namun aku juga tidak paham, kapan perasaan cemburu ini hilang. Sekalinya dia pergi, pun aku tak yakin semua akan berjalan sama seperti dulu. Sebelum aku tahu kau lebih dulu mencintainya sekuat itu.

Ternyata (lagi) aku tidak bisa menutupinya, bahwa aku cemburu.