Apa Kabar Hati Kecil

…di sore yang baru saja berakhir

Hati yang pernah kusiakan.

Mungkin memang baru berapa minggu, bisa dihitung dengan hanya sebelah tangan. Tapi terasanya waktu berlalu sangat lama, semakin lama jika aku harus menyembunyikan segala sesuatunya sendiri karena telah kututup hati kecilku untuk tidak lagi mudah menumpahkan apapun. Selama beberapa hari ini aku belajar hidup dengan perasaan yang tak mudah rapuh, namun tak dapat kutampik, siapa yang bisa hidup tanpa hati. Saat ini, dengan segala kebijaksanaan dan rasa hormat, kuijinkan kamu hadir kembali disini. Menyempurnakan perasaanku yang terombang-ambing tak karuan dengan beban yang semakin hari bertambah banyak dan malah menyesakkan dada.Kemari dan duduklah tenang disini. Kita bercumbu lagi ya disini? Di tempat yang tak pernah ada siapapun selain kita. Di tempat yang mungkin tak pernah ada.

Selama aku pergi, meninggalkanmu dan berpura-pura jadi dewasa, segalanya tak kunjung membaik. Secara nyata iya, namun ada sesuatu yang setiap harinya terus-menerus menggerayangi pikirku. Hati, apa yang kau lakukan selama aku tak ada? Aku bisa menjawabnya jika kau menanyakannya hal yang sama. Tanpa kau, segalanya terasa hampa. Hambar. Semua kupendam sendiri tanpa terselesaikan. Semua menumpuk dan hanya menjadi busuk, menimbulkan bau tidak sedap dan baunya tercium kemanapun aku pergi. Aku rindu kamu, Hati. Lama tak bersua, banyak pula cerita. Aku mendambakan waktu berdua denganmu lagi. Bercerita dan berbagi solusi. Sekadar duduk bersama menikmati kopi hangat dan sesekali menepuk pelan pundak satu sama lain saat air mata mulai berlinangan, atau saat kata sudah tak ada lagi yang terucap. 
Percintaan apalagi. Berbicara cinta, tentu harus dengan menyertakanmu dalam setiap kata yang hendak teruntai, tindakan yang ingin disegerakan, atau hanya sekadar opini penuh basa-basi. Bagaimana bisa orang merasa kenyang tanpa ia pernah makan? bagaimana bisa cinta terasa tanpa hati yang menampungnya? Aku ingin kau menjawab jujur, perihal cinta. Hati, pernahkah kau merasa lelah menjaganya? Akankah muncul bosan di tengah jalan yang kau tempuh saat ini? Berjuta kali aku sudah meyakinkanmu bahwa ini adalah dermaga terakhir kita, maka kita akan bisa berlabuh lagi kemanapun. Kau harus selalu ingat itu, Hati. Jadi, kau tentu sudh tahu jawabnya bila suatu saat nanti nyatanya aku lagi-lagi harus kehilangan cinta. Bahwasannya, aku sudah cinta dan kali ini aku berkomitmen. Bila kali ini cinta yang tidak membalasnya, kau tahu aku sudah tak bisa lagi berlabuh kemanapun, Hati. Ini dermaga terakhirku, kita.
Aku meragu pada apa yang tak kumengerti. Kau sudah tentu tahu itu. Kau selalu tahu apa-apa yang belum kukatakan kepada orang lain bahkan diriku sendiri. Kau paling sensitif, aku terlalu peka. Kau pendengar yang baik, aku pendendam yang setia. Seluruh isi hatiku pun kupendam, menumpuk menjadi dendam dalam diam. Aku butuh kamu lagi, Hati. Kita habiskan malam bersama, kemudian saling mendekap satu sama lain. Seperti tak akan berpisah lagi.
Selamat datang kembali separuh hatiku.

“Come live in my heart, 
and pay no rent”  
SL

Good Bye Blog

…di tengah kemelut malam yang tak ingin berunjung pagi

Blog ku satu-satunya yang selalu puas memberikan ku tempat untuk berceloteh dan siap mendengarkan semua sampahan. Kalau dengan bercerita kepadamu malah mencelakakanku, kamu sama jahatnya dengan orang-orang tak peduli di luar sana. Kau pengkhiant, tak bisa menjaga rahasia. Entah kapan aku mau menyentuhmu lagi.

Good Bye…

Ah Berubah

 …di antara matahari dan hujan



Teruntuk kamu, yang namanya kudekap erat-erat di dalam sanubari.

Semalam aku bertanya-tanya sendiri. Malam sama sepertinya, tetap gelap dan penuh kesenduan. Aku punya malam yang sama denganmu. Di dalam suasana malam itu kutemukan bulan. Bulanku juga sama denganmu. Apa yang kupunya, juga kau miliki. Semua sama, masih sama, sehingga memperjelas bahwa dari dalam dirimu ada yang berbeda. Kamu berubah, tak lagi sama. kejanggalan itu membuatku bungkam sejak beberapa hari ini. Meyakini diri sendiri bahwa itu hanya firasat buruk dengan tetap memperlakukanmu seperti adanya, seperti biasa. Tetap mencintaimu dengan segala cara, dengan sederhana.

Pertanyaanku terjawab oleh kalender yang duduk manis tepat di hadapanku. Sudah lebih dari tiga bulan, itu wajar. Seakan ia mengingatkan bahwa fase “manis” dalam hubunganku sudah berlalu. Benarkah selalu begitu? Haruskah melulu begitu? Aku hanya tidak percaya, menyaksikkan Sayangku menjadi orang lain, berubah sikap. Atau memang aslinya dia begitu? Yang jauh dari bayanganku tentang siapa ia. Lelaki yang kupuja-puja. Pertama dari segala yang pernah kupunya. Pertama, bagiku. 

Lalu ada apa dengan kita? Persetan dengan kalender yang sejak tadi hanya diam itu. Jawabannya tak memberi solusi. Malah membuat kegundahanku makin membuncah hingga meledak-ledakkan emosi. Aku ingin bersikap biasa saja, seolah memang tidak ada kejanggalan yang kurasakan, tidak ada keresahan yang tiap menitnya mendesir di dada tak karuan. Pertanyaan yang tak bisa terjawab, karena memang tak pernah kutanyakan. Kau berubah, pendapatku teguh. Aku tidak menyalahkan. Aku hanya ingin mencaritahu apa yang salah, mengapa? Kerinduanku tentang kamu bergemuruh, namun dibalik itu ada rasa kesal menderu-deru tak kalah hebatnya. Rinduku tidak terbalas. Atau memang tidak tersampaikan? Aku merindumu tiada habisnya. 

Di suasana yang seperti ini, sebuah hubungan indah menjadi terasa sulit. Tiap detik terasa bagai jam. Lama hingga membuatku terus memikirkan kamu meski jelas tak akan ada jawaban. Yang ada malah rasa sedih dan sakit. Bias dalam sayang yang tidak terbilang. Tangisku seringnya kutahan. Menangis untuk apa? aku jelas-jelas menyayangimu dan kau juga. Kita juga masih bisa berkomunikasi satu sama lain dengan amat baik lewat berbagai media. Kemarin bahkan kita baru saja menghabiskan hari bersama dan akan pergi lagi beberapa hari yang akan datang untuk menghabiskan liburan bersama. Tapi dibalik itu semua, ada perih. Berasal dari luka yang tidak jelas apa penyebabnya. Sakitnya membuat dada nyeri. Menguras kasih sayangku. Menyita tenaga hingga tak bersemangat melakukan apapun. Menangis seolah menjadi solusi terbaik sambil berteriak-teriak, “tidak ada yang salah, dia tidak berubah, itu pikiranmu saja!”

Suasana ini yang tak pernah diharapkan siapapun dalam menjalin hubungan. Dan aku benci jika suasana itu muncul di hari-hariku. Karena yang ada di dalam otakku kemudian sudah pasti pemikiran-pemikiran yang tak seharusnya.Dan, di suasana ini akhirnya aku menyadari bahwa aku pengecut. Alasan mengapa dulu aku nyaman hidup sendiri, tanpa pasangan. Adalah hanya karena tidak mau pusing dan sakit hati. Di dalam detik-detik itu kemudian aku mengenang kesendirianku dulu. Aku benci mengapa dulu terlalu jujur dan menjawab “ya”. Tapi aku lebih benci lagi kalau membohongi dirimu dan diri sendiri, bahwa aku juga menyimpan perasaan yang sama.
Semua terlanjur indah. Mungkin aku hanya butuh mengembalikan kedewasaanku yang dulu, sebelum ada kamu. Aku hanya butuh sedikit keberanian untuk jadi lebih mandiri dan berpikiran bahwa tanpa kamu aku masih bisa. Sikap juga. Kebaikanmu itu membuatku buta seakan kamu sesosok malaikat, yang tak pernah merasa tak nyaman, tak pernah marah, tak pernah berbuat salah. Tapi berani sumpah, rasa cintaku telah memaafkannya, memaafkanmu, tanpa pernah kau tahu apalagi tentang kesalahan itu. Apapun yang terjadi, aku harus tegak berdiri disini untukmu. Di sisimu. Apalagi tahun ini akan jadi tahun terberat untukmu. Tahukah, aku merasa bertanggung jawab meski tidak pernah terucap. Jadi, tidak perlu kau caci-maki atau marah kepadaku. Karena percuma, sikap seperti itu tak akan mengubah perasaanku padamu. Dan aku akan tetap berdiri disini, di sisimu. Meski dengan kebodohanku yang memalukan dan kesalahan sepele. Semoga kau mau memaklumi dan menganggapnya menjadi sebuah kekuranganku. Kau menerimaku apa adanya kan? Ah, lebih baik aku bersikap bodoh, daripada harus kehilangan dirimu.
Kembalilah menjadi dirimu yang dulu, yang biasanya. Aku pun tak berani berjanji, tapi aku bisa berkemauan. Mau untuk terus mencintaimu dan menjalani apapun bersama. Karena kamulah yang dulu kucari dan kamulah yang telah Tuhan berikan.
“Sometimes the heart sees what is invisible to the eyes”
H.Jackson Brown Jr.

Doa Ibu

….di antara harapan yang terbang tinggi di udara, 
di balik nyata yang terasa amat menyiksa

Demi mutiara-mutiara yang bersemayam di lautan hatiku. Kuingin kalian hadir sebagai penyembuh luka.
Aku sedang berdoa. Tentang masa yang akan datang entah berapa tahun lagi. Di dalam doa itu, terselip berulang-ulang kata, Nak. Ternyata, aku sedang bermimpi, membayangkan, dan mengandaikan, suatu saat nanti akan datang, saat aku akhirnya mejadi seorang ibu dari entah berapa anak. Berapapaun itu, aku tetap seorang ibu.
Sebelumnya, aku tidak pernah bermimpi menikah. Sungguh tidak berani meski sekali saja terlintas di pikiranku aku bersanding di pelaminan bersama seseorang. Tapi aku selalu bermimpi setiap malamnya, untuk jadi seorang ibu. Mimpiku, semulia itu. Kurasa tak ada yang salah dengan impianku. Suatu saat nanti, ketika anakku sudah besar dan mengerti, akan kuberitahu mereka: “Nak, kau tahu apa mimpi terbesar ibu? Adalah menjadi ibu untuk kalian. Berkat kalian akhirnya aku bisa menjadi seorang ibu,”
Designer, penyiar, jurnalis, sutradara, begitu banyak cita-citaku. Tapi diluar itu semua, tak ada yang lebih membahagiakan selain menjadi seorang ibu. Cita-cita terbesar yang kudambakan. Pekerjaan-pekerjaan itu akan kukorbankan, bila sebagai gantinya aku bisa menjadi seorang ibu. Dengan senang hati, aku pilih kalian, anak-anakku.

Anak-anak selalu membawa keceriaan bagiku. Kehadiran mereka tentunya akan selalu menjadi penawar yang amat menyenangkan. Obat paling manis. Tak kan ada lagi kesedihan yang menggerogoti hari-hariku, tiada akan pernah aku merasa tidak berarti hidup di dunia ini. Putra-putriku akan selalu menanti kedatanganku, menyambut, dan tidak membiarkan jauh dari mereka. Di saat itu, akhirnya aku memiliki rumah yang sebenarnya. Dimana aku akan selalu ingin pulang. Ya, akhirnya aku akan merasakan nyaman dan selalu ingin pulang. Mencumbu putra-putriku yang kubanggakan.
Aku tak ingin meninggalkan kalian bekerja. Aku tak akan membuang waktu berhargaku dengan pulang ke rumah saat kalian telah terlelap dan pergi lagi ketika kalian belum bangun. Aku tak akan membiarkan kalian kelaparan dengan makanan-makanan cepat saji di kulkas. Aku tak akan membiarkan kalian merasakan kesepian dan lebih mencintai bibi pengasuh. Aku ibumu, Nak. Akan kupertaruhkan jiwa-ragaku. Kutinggalkan pekerjaanku bila perlu. Ibu hanya tidak ingin kehilangan kalian. Harapan ibu untuk bisa bertahan hidup. 

Bagaimanapun keadaan kita nanti, ibu ingin terus berada di samping kalian. Membacakan sekadar cerita sebelum kalian tidur, memeluk kalian di tengah hujan dan badai, menemani kalian belajar dengan cara menyenangkan, memberi kalian makanan terbaik, bahkan mendengar cerita kalian tentang cinta pertama di sekolah. Semua akan ibu dengarkan dengan seksama, tanpa lupa dengan membelai rambutmu di usia berapapun kamu nanti. Ibu tak akan membiarkan kalian merasa sendiri sedetikpun. 

Anak-anakku, ini hanya sebuah doa yang kubisikkan setiap malamnya, setiap sujudku, setiap air mata yang jatuh di sela ibadahku. Kalian harus tahu, betapa ibu sangat mencintai kalian semua. Sekarang ibu lelah, ibu ingin memiliki sebuah keluarga yang sesungguhnya, tapi ibu bersabar. Ibu bertahan hidup dengan menunggu kalian datang. Lalu menghiasi hari-hari ibu, memberi arti keluarga untuk ibu.
Anak-anakku, ibumu ini amat pemimpi. Bahkan ibu berani bermimpi tinggi-tinggi. Tapi percayalah, tak ada mimpi yang sehebat ini. Mimpi terbesar ibu, yaitu memiliki kalian. Jika suatu saat nanti ibu melakukan kealahn pada kalian, tegur ibu, Na. Ibu harus merasa menyesal. Kalian pantas mendapatkan maaf dari ibu yang juga hanya manusia. Namun, di saat kalian sedang marah dengan ibu suatu saat nanti, bacalah surat ini. Maka kaian akan tahu, dalam keadaan apapun, kalian senakal apapun, ibu akan tetap mencintai kaian. Kau lihat sendiri kan? Bahkan ibu telah mencintai kalian jauh dari sebelum kalian lahir. Dari sebelum air susu ibu mengalir di darahmu. Dari sebelum ibu dan ayah kalian bertemu.
Tentang ayah, anak-anakku. Siapapun dia nanti. Ibu selalu menginginkan ayah yang terbaik untuk kalian, anak-anak terbaiku. Kalian baik, tentu harus punya ayah yang sama baiknya. Kalian hebat, tentu dibaliknya ada seorang ayah yang hebat. Doakan ya, Nak. Suatu saat nanti saat kalian baca surat ini, ibu masih bersama ayah. Masih menjadi orang tua kalian. Ibu akan sangat membenci ayah kalau dia berani menginggalkan kalian, anak-anak kebanggaan ibu. Kecuali, bila Tuhan yang mengambil ayah. Itu diluar kehenak ibu, Nak. Maafkan ibu.Bagaimana pun keadaannya nanti, siapapun ayahmu, kalian harus tetap yakin, bahwa ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian. Dan ibu akan selalu ada untuk kalian, mutiara-mutiara yang sudah sejak lama bersarang dalam lautan hati ibu.
Semoga berama ayah, kita bisa menjadi sebuah keuarga paling bahagia di dunia, Nak. Itu mimpi terbesar ibu lainnya.
Salam kangen penuh cinta,
Ibu

“There is no strongest love,
but mother has”
Unknown

Si Otak Cokelat

…di bagian kecil dalam memori

Kepada kamu, laki-laki berotak cokelat.
Siang itu mungkin adalah siang yang paling kita tunggu-tunggu. Kita janji bertemu di bioskop dengan dua teman sepermainanmu. Masing-masing mereka mengajak pacarnya. Dan kau harap, aku menemanimu, menyertai mereka. Triple date, begitu kita menyebutnya dengan malu-malu. Namun entah bagaimana, aku bisa sampai di bioskop dan kau malah menjemputku ke rumah. Alhasil, kita tidak bertemu. Dan seorang teman bilang, kau sangat kecewa dan sedih siang itu. Karena kita gagal melancarkan date yang pertama. Sejujurnya, aku juga.

Tapi siapa disangka, setelah itu, kita malah lebih dekat. Date yang akhirnya kesampaian dengan destinasi yang pastinya sangat aneh untukmu, untuk kita melakukan dating. Ya, toko buku Cempaka Mas. Aku tahu, kau tak terlalu suka membaca. Satu-satunya buku yang kau suka, hanya komik. Itu pun hanya Naruto the series. Dan kau tak perlu membeli jika ingin membacanya. Kau sering meminjam, aku memerhatikan lho! Akhirnya, hubungan kita berawal dair toko buku itu. Toko buku itu menjadi tempat bersejarah untuk kita. Tapi tahukah kau bahwasannya toko buku itu kini telah dibongkar? Lenyapnya toko buku tiu menyempurnakan kenangan kita yang tinggal masa lalu. Tidak ada lagi yang bisa dikenang.

Kita hanya dua pelajar ingusan yang baru mengenal kata cinta yang manis. Seperti sebatang cokelat yang selalu kau berikan padaku. Cokelat itu jenis cokelat yang ramai di pasaran, semua orang tahu. Rasanya juga seperti milk-chocolate pada umumnya. Tapi cokelat pemberianmu selalu terasa berbeda. Terbungkus dengan kebahagiaan dan ketulusan dari sang pengirim.  Kehadiran cokelat itu selalu menyulap hati dan pikiranku untuk senang selalu. Saat aku sedih karena sesutu, saat marah karena ulahmu, saat menang karena kompetisi ringan yang sering kita buat, selalu ada sebatang cokelat yang terselip untukku. Bahkan, terakhir sampai akhirnya kita memutuskan untuk tidak lagi bersama, kau masih berhutang sebatang sokelat padaku, ingatkah? Aku mengingatnya sampai sekarang, wahai laki-laki berotak cokelat.
Cokelat-cokelat batang itu berhasil membawaku ke dimensi lain dalam usiaku. Dimana ada aku, kamu, dan segalanya terasa manis. Cokelat-cokelat itu meninggalkan jejakmu dengan rapi. Tanpa bisa kutolak kehadirannya. Memori manis bersamamu terkenang bersamanya. Setiap gigitannya pun menggambarkan setiap kenangan yang kita punya. Manis.

Kepada kamu, yang pernah mencuri hatiku.

Aku tak akan bertanya kabar. Perubahan yang terjadi dalam dirimu tidak begitu banyak dan signifikan. Kamu orang yang mudah ditebak, namun juga susah untuk dilupakan. Sekitar empat tahun lalu aku pernah mengalami depresi akibat berupaya teramat gigih untuk menghilangkan jejakmu dari pikiranku, seutuhnya. Foto-foto bersamamu, hadiah yang pernah kau beri, semua pesan darimu, sudah kucoba singkirkan jauh-jauh. Tanpa pernah bertemu, tak ada komunikasi, diakhiri dengan emosi, tapi aku tak kunjung bisa melupakanmu. Yang ada malah gemuruh rindu yang menderu. Semakin dilupakan, semakin sulit. Dan hari-hari tak lebih dari air mata yang tumpah akibat sakit, lelah atas segala cara yang telah kulakukan dan tak ada yang berhasil. Ketika itu, dirimu amat sulit untuk dilupakan. Sesulit akhirnya aku berpindah kelain hati.
 
Pertanyaan semua orang kepadaku hingga sekarang, bagaimana bisa kita pernah bersama. Mengapa harus kamu, katanya. Mereka tentu hanya melihat apa yang mereka bisa. Ya, kau memang orang yang biasa saja. Tapi boleh kan kalau aku jujur bahwa kamu berbeda dengan pria lainnya? Jenis sepertimu hanya satu banding sekian di dunia. Kebaikanmu tiada tara, kejujuran, kesopanan, bahkan kesetiaanmu yang serta-merta masih kukagumi. Yang lebih heran lagi, kesetiaanmu itu bertahan kan? Masih bertahan disana hingga sekarang? Katakan padaku bahwa namaku masih ada disana kan? di hatimu? Ah, kau tak akan pernah mengaku.

Kau laki-laki si otak cokelat. Kau selalu bersembunyi dari warnamu yang gelap, tanpa membiarkan semua orang tahu bahwa rasamu manis, manis sekali.

Kepada kamu, laki-laki paling pengecut di dunia.
Kau yang dulu dan sekarang tak jauh berubah. Tidak ada yang berubah. Kita sekarang telah hidup di atas jalan yang berbeda. Dengan denah yang tak sama. Seperti yang kau tahu, melupakanmu tidak semudah cari pacar baru.Seringkali, aku menangkap rindumu yang terkesiap untukku, pandang matamu yang mendambaku, juga sikapmu yang selalu berusaha untuk melindungi dan membahagiakanku. Saat itu, aku sedang sendiri. Masih dalam kondisi lemah akibat tidak bisa melupakanmu.Ketika kusampaikan aku rindu, mengapa kau tak mengaku merasakannya juga? Ketika aku mendesakmu dan berkata cinta, mengapa tak kau jawab iya? Tawa kita secara tidak sengaja, kata sayang saat kau menghubungiku yang keluar begitu saja, juga langkah seribu yang kau ambil saat aku sakit dan harus pulang. Aku menggugatmu, apakah belum cukup tanda-tanda itu bahwa kau sepenuhnya masih menyayangiku? Pengecut, bahkan kau mengakui dirimu sendiri.
Saat ini, seperti yang kau tahu, aku telah mendapatkan penggantimu, pria yang sama baiknya denganmu. Tapi mengapa kau masih sendiri? Mengapa matamu masih tertuju padaku dari kejauhan sana? Kebersamaan kita sudah terpecah sejak lebih dari empat tahun. Mengapa tatapanmu padaku masih sama seperti sekarang? 1460 hari telah berlalu, tidak kah kau temukan penggantiku? Tatapan sendumu hanya membuatku miris. Aku sudah berhasil menghapus jejakmu, meninggalkan tangis rinduku di antah berantah sana, namun mengapa kamu tidak? Aku tak pernah memintamu untuk tinggal dengan bayanganku yang tak tersentuh. Aku sudah tidak mengharapkanmu seperti saat kau antar aku pulang ketika sakit. Aku lelah mengharapkanmu. Kau berbohong dengan berkata kau sudah tidak menyayangiku lagi. 
Lantas apa yang kau tunggu sekarang? Hatiku sudah tidak ada yang tersisa untukmu. Sampai kapan kau mau mencumbui bayangku secara sembunyi-sembunyi? Jangan katakan bahwa kau menyesal tidak berkata iya saat menjemputku dulu. Terlalu terlamabat bagimu untuk menjawab perasaanku, pun ia telah tiada. Haruskah aku memaksamu untuk mencari gadis lain saja? Haruskah aku mencarikanmu pacar baru agar lupa denganku? Kudengar ada beberapa gadis yang berhasil kau miliki setelah putus denganku, lalu kemana mereka?  Ayo berikan batang-batang cokelat pada mereka agar mereka tak mudah lupa. Ah, sikapmu ini hanya membuatku kasihan. Kau telah memilih untuk jadi pengecut, lakukanlah sesukamu, sampai kau lelah dan tersadar bahwa dengan kepengecutanmu itu kau tak akan pernah bisa memilikiku.
Jangan pernah takut aku akan melupakan bayanganmu, kenangan kita. Dirimu selalu ada dan menjelma pada setiap batang-batang cokelat itu. Mana mungkin aku bisa lupa?


“Sometimes, the best way to stay close to someone you love is by being just a friend”
Unknown

Cinta Melemahkan

Dulu aku hidup hanya dengan sebelah hati. Compang-camping. Kini kau melengkapi setengahnya. Setelah itu aku tak bisa bertahan hidup jika bagian hatiku berkurang lagi.
Alasan mendasar aku takut jatuh cinta, selain takut sakit, aku juga takut menjadi lemah. Dan terbukti, hal kedua tersebut sudah kurasakan. Aku merasa diriku kuat, saking egoisnya, sehingga tidak pernah mau bertahan lama-lama saat merasa susah. Namun kalau yang menjadi alasanku menjadi lemah adalah kamu, aku bisa apa. 
Ketika berada di dekatmu, aku bukan mati rasa. Ini lebih parah dari itu. Aku bahkan, buta rasa. Jika berada di sampingmu, dalam semua keadaan, kondisi terburuk pun, yang terbaca hanya keindahan. Senang dan menyenangkan. Cinta cukup menjadi tema kita. Cinta dengan sempurna menjelaskan keanehan itu. Tapi aku merindu diriku yang dulu, bukan yang lemah tanpa kamu. Tapi aku yang kuat meski dipaksakan. 
Entah kau atau cinta yang telah melemahkanku. Saking lemahnya, marah saja aku sudah tidak sanggup. Pula kau terlalu baik untuk kubenci. Ya, aku pernah merasa ingin marah padamu. Kemarahanku yang kau anggap sepele dan tidak penting. Tapi aku bergeming, bukan peristiwanya yang membuatku marah. Andai kau masih sedikit menggunakan perasaanmu untuk berpikir kali ini, aku marah atas sikapmu.
Kau juga membuatku sedih. Aku sedih atas kelemahanku yang bahkan marah saja tidak bisa. Aku sedih atas sikapmu yang ‘Wow, bsia-bisanya memperlakukanku begitu’. Itukah sosok aslimu? Yang mana yang benar? Yang manis dan menyentuh hati, atau yang satu lagi? Yang menyakitkan dan tak mau kuingat lagi. Waktui itu, lahir rasa kecewa sebesar badai dalam dadaku tentang sikapmu. Kupikir, akan ada tanggapan lain, yang jauh lebih menyenangkan dan mencerminkan siapa kamu. Ternyata salah, aku salah telah berharap jauh.
Bukan itu saja. Aku juga sedih mengapa kau tidak mengerti apa yang kurasakan tentang sesutu. Sadarkah dirimu bahwa kau sangat egois? Selama ini kau memperlakukanku sesuai dengan apa yang mau kau perlakukan dan menurutmu apa yang kuinginkan. Tapi sayangnya, bukan apa yang aku butuhkan. Kau memberikan segalnya dalam jumlah besar tak terhitung, dalam bentuk indah yang tak terbayangkan. Padahal, aku hanya berharap kau akan melakukan sesuai apa yang kubutuhkan, yang sesederhana itu. 
Kemarahanku, mau tau kemarahanku?
Hargailah dulu nilai-nilai yang kujunjung tinggi sebelum berani mengumbar kata cinta.

Sincerely,
Me.
The one that sometimes hates your kind-attitude, and the one that loves you so many much.

“No man is worth your tears, 
but once you find one that is,
he won’t make you cry
unknown

Kesal Tak Seharusnya

Perasaan memang tidak terlihat. Tapi tidak dengan begiu lantai ia bisa berbohong. Begitulah aku membela diri saat tiba-tiba Putra muncul di hadapanku. Setelah sekian bulan tidak bertemu, Putra menyapaku dan bersikap biasa saja, seolath tidak punya salah. Suasana itu membuatku kerdil. Dibalik kebencian yang teramat sangat, ada rindu, entah seberapa banyak aku tak sanggup menerka. Mengakui keberadaan perasaan itu saja butuh waktu lama. Dan Fika yang membuatku tersadar. Indra perasaku benar-benar jauh dari standar.

“Lo kenapa sih sama Putra?’

“Gue kesel sama dia,”

“Iya, kesel kenapa? Emang dia bikin salah apa sama lo?”

Sontak mulutku kelu. Kedua rahangku terkatup rapat dan sepertinya sama sekali tidak bisa membuat pembelaan.

Pilihannya untuk punya pacar bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah haknya.

“Nggak kok. Dia nggak pernah bikin salah,”

“Terus? Kenapa lo marah sama dia?”

“Cewek itu nggak tau apa-apa soal Putra. Gue lebih tau, KITA lebih tau,”

“Ya terus kenapa? Jelaslah, kita kan sahabatnya,”

Mati kutu. Ia punya pacar adalah alasan yang sama sekali tidak rasional untuk dikatakan. Apalagi kepada Fika. Orang yang jelas-jelas mengetahui bahwa Putra sudah punya pacar, dan aku juga.



It is not love that is blind,
but jealousy.
 
Lawrence Durrell, Justine, 1957

Karena Masa Lalu

…Senja kelabu di awal Februari

Seharusnya aku melupakan hari kemarin. Seharusnya aku tidak bertemu hari kemarin. Seharusnya aku tidak merasa sesedih ini. Diluar itu semua, seharusnya, kamu tahu ini. Ya, seharusnya.
 
Bertemu dengan orang banyak kemudian disapa, adaah hal yang membuat diri sendiri bangga. Tapi aku harus apa ketika bertemu dengan (banyak) orang yang kemudian bertanya tentang kamu, masa lalumu? Aku bahkan tak mengetahuinya. Mereka jauh lebih mengenalmu dariku. Mereka sudah tahu siapa kamu sebelum aku akhirnya terjerumus dala kata cinta yang kau utarakan beberapa bulan silam.
Pernahkan sekali saja terlintas di kepalamu saat kia jalan bersama, orang-orang di luar sana memandang ke arah kita? Oh sayang, bukan. Mereka bukan iri karena saking mesranya kita berdua. Pernahkah sekali saja kamu sensitif dan merasakan bahwa pandangan mereka tertuju padaku? Tatapan kasihan? Atau kau selama ini sudah tahu dan hanya diam saja? Agar aku tak perlu cemas soal itu padahal mereka benar? Jelaskan padaku, apa maksud mereka dan semua pandangannya itu. Kau tak mungkin bisa. 
Sesekali -tidak, seringkali- saat mereka berbicara dan bertanya ini dan itu, aku tak bisa menjawab apapun selain bungkam. Ucapan-ucapan itu pasti tidak sepenuhnya benar, tapi bagiamana kalau yang mengungkapkan hampir semua orang? Masihkah aku harus membela dirimu dan menganggap semua itu rekayasa mereka?
Kau juga selalau diam. Memanfatkan ketidaktahuanku yang sebenarnya aku (sudah) mencaritahu. Apapun dan bagaimana pun caranya. Sedikit demi sedikit informasi kukumpulkan. Informasi yang sebenarnya hanya akan membunuh parasaanku, fakta-fakta menyakitkan yang hanya akan menoreh luka dan menimpa rindu yang telah bertalu-talu. Itu resiko, kuterima. Daripada harus terbodohi atas apa yang selama ini kau sembunyikan.
Lagi-lagi, mereka menatap kita dari kejauhan. Bukan memandang kita tidak suka, tapi memandangku kasihan
Detik itu ingin kuguncang tubuhmu dan berteriak, Sayang katakan pada mereka bahwa kamu tidak begitu. Katakan pada mereka bahwa kau telah…berubah.
Itu tidak mungkin kulakukan. Tidak ada gunanya kulakukan pembelaan terus-menerus atas dirimu. Meski langit dan bumi kau berikan kepadaku. Tidak ada jaminan atas hari nanti. Suatu saat yang akan datang dan belum terjadi. Yang kunanti hanya waktu berputar, kemudian menjawab dengan jelas apakah kamu memang tidak begitu, dan, sudah berubah. Atau aku satu dari sekian koleksimu yang juga kau puja-puja pada masanya.
Kau sangatlah baik dan juga jahat. Tahukah kamu, kau satu-satunya pria yang membuatku tidur tak nyenyak, bersembunyi mencari-cari gosip setiap malam lewat seluruh media sosialmu, memikirkan hari esok datang apakah pagi itu hatimu masih untuk ku atau tidak. Aku sebegitu takutnya atas dirimu. Bukan takut kehilangan cintamu, aku takut bila selama ini, selama kau bersamaku, kau juga meikirkan gadis lain. Ya, maksudku itu, kau menipuku (juga). Kau tak akan pernah tahu, setiap bersamamu, dibalik setiap canda-tawa yang kita lakukan, ada rasa perih yang tertoreh di hatiku dan meradang. Perasaan yang selalu meloncat-loncat membuatku sadar ketika sedang senang karenamu. Sakit yang tak terbilang. Aku sakit jika harus menyadari bahwa kamu jahat dalam kondisi sebaik ini. I’m sick of your past. 
Satu hal yang harus kau tahu tentang aku begitu sulit bagiku untuk memberi maf. Bahkan memberi maaf menurutku jauh lebih mudah dibanding harus meminta maaf. Aku bukan orang yang pemaaf. Dan aku melulu tidak pernah berhasil memberi maaf pada masa lalumu. Mungkin iya dengan bibir, namun selalu gagal dengan hatiku. Gagal total bahkan sebelum maaf itu kau sendiri yang meminta. Toh, tidak pernah kan ya?
Sikapmu, kebaikanmu, kata cinta yang berulang-ulang kau sebutkan, membuatku harus melawan pikiranku sendiri. Engkau terlalu baik untuk kucurigai. Menurutku, kau hanya tidak pantas untuk menjadi sejahat apa yang orang ceritakan tentang kamu. Selama ini kita pun kaya akan cinta satu sama lain. Kau menjagaku, aku mendukungmu. Selalu cemas bila sehari saja tidak bertemu. Makan bersama di sela kesibukan masing-masing antara pekerjaanmu dan kewajibanku. Tidak mempermasalhkan hal-hal sepele. Semua itu jelas membuat semua orang iri. Bahkan pasangan lainnya. Kita begitu erat dalam satu kesatuan ini. Tapi kecurigaanku juga erat dengan diriku, terlebih bila ada di dekatmu. Kusimpan dan kupendam dalam-dalam. Kalau bisa kutenggelamkan pada memoriku yang tak terjangkau. Keharmonisan kita membuatku, seringkali, tidak ingin memperdulikan ucapan orang-orang itu.
 
Kau harus katakan pada mereka, bahwa kita baik-baik saja dan akan terus begitu. Tidak ada satu hal buruk pun yang akan terjadi.

Aku tidak sedang tidak perduli. Aku hanya mencoba bersikap dewasa dan tidak ingin menghancurkan segalanya. Tapi satu hal yang tidak boleh kau lupa, di sisi lain, aku sedang merakit bom waktu atas nama kita. Yang tentu akan meledak di sekeliling kita dan melukai diri kita sendiri. Sesungguhnya aku tidak pernah mengharapkan waktu itu datang. Tapi aku tidak akan tahu apa-apa kalau tidak ada hari itu. Hari dimana kau terpaksa mengungkapkan segalanya. Membuktikan dengan berani bahwa aku penutup hatimu untuk selamanya.

“Love is more afraid of change than destruction”
Friedrich Nietzsche