Perasaan Sirna

….di salah satu lubang dalam sebuah perjalanan

Kepada perasaan yang kupertanyakan eksistensinya.



Seketika saat salah satu pasang mata memandang, kemudian keduanya saling bertemu, menatap, menangkap ada kejanggalan yang membahagiakan di dalam hati masing-masing, dan mereka menamakannya itu cinta. Permulaan memang tidak pernah mudah, tapi setidaknya selalu  indah. Sangat indah sampai setiap insan ingin memilikinya dan tidak mengijinkannya pergi. Selalu begitu.
Kemudian, ijinkan aku melancarkan berjuta pertanyaan atas pernyataan di atas. Mengapa di awal perasaan begitu mempesona dan melenakan? Kemana perginya perasaan ketika jutaan pasangan berencana berpisah? Dimana kesetiaan perasaan pada para pemiliknya? Terakhir, apakah jadian merupakan jalan akhir untuk menggenapkan perasaan yang sedang di puncak? Lantas kemana perasaan di awal ketika perjalan dianggap sudah mencapai akhir suatu hubungan?
Ya, adalah wajar ketika kita tidak berani menjalin hubungan karena takut kehilangan. Kehilangan perasaan yang ada di hati kita, maupun padanya. Jikalau jadian ternyata berguna untuk melenyapkan perasaan dan menyulapnya menjadi nafsu kekuasaan. Banyak alasan, banyak cerita, tapi intinya hanya satu mengapa begitu banyak pasangan berpisah: Perasaan itu sudah tidak ada. Semudah itu kalimatnya. 

“Where is the ‘good’ in goodbye?”

Sakit Untuk Kamu

…di sudut kecil dari serangan sakit yang bertubi-tubi
Kepadamu nak, yang bunda tunggu semenjak belum pernah dibayangkan.

Seharusnya ada ikhlas yang kumiliki. Di balik penantian yang tak ada hasilnya. Selalu sakit, sebuah sakit, yang datang dengan rutin dan tak pernah menunda kedatangan tiap bulannya. Berkali-kali perih ini terasa, di tengah tidur yang nyenyak, di sela makan yang sedang nikmat, di tengah kebahagiaan yang kemudian hilang dalam sekejap. Semua terenggut paksa. Dan harus ditukar dengan sebuah keikhlasan dan pembiasaan yang tidak pernah ada. Selalu sakit, sebuah sakit, yang tersisa. Sakit yang seharusnya biasa dalam sebuah kebiasaan menciptakan pembiasaan yag tak pernah bisa tercipta. 

Lagi-lagi sakit ini terasa. Setiap bulannya, di setiap kemelut yang berujung air mata. Tiada kucerca, meski sakit yang luar biasa. Kuterima semua dengan sabar, karena suatu saat telur ini akan berubah menjadi dirimu, Nak. Hadiah terindah yang bunda tunggu-tunggu. Kehadiranmu, yang mungkin akan menghilangkan seluruh sakit di rahim ini. Yang selama bertahun-tahun, belasan tahun, bunda alami. Demi kamu, bunda menunggu, menahan rasa sakit dengan jerit tangis. Bahagia bunda hanya karenamu, Nak. Mengapa kamu tak muncul sekarang saja agar bunda tidak merasakan sakit ini lagi? Bunda rindu padamu, nak. Meski belum pernah bertemu sebelumnya.
Sakit ini, Nak. Luar biasa. Selalu saja mengganggu bunda, menyiksa. Tak jarang bunda hilang kesadaran begitu saja, seringnya juga saat sekolah dulu bunda bolos berhari-hari saking sakitnya. Lalu mengapa kau tidak muncul sekarang saja, Nak? Sampai kapan bunda harus merasakan sakit ini? Bunda merindukanmu layaknya penawar luka yang tidak akan sembuh. Bunda merindukanmu meski kita belum pernah bertegur sapa. Semua demi kamu, yang nantinya semoga kamu lebih baik dari bunda. Menjadi alasan bagi bunda untuk bertahan hidup. Menemani kesendirian tanpa ada lagi sakit terasa. 
Tidak hanya di rahim saja. Sakit ini juga menyerang semuanya. menjalar dari akal sehat hingga sifat. Semuanya, Nak. Tanpa batas yang pasti. Namun dengan alasan yang pasti. Karena menanti kamu. Bunda hanya sedang menantimu. 
Nak, kau tau bunda menyayangimu hidup dan mati. Bunda rela menukar apapun untuk mendapatkanmu. Kau tau bunda pun telah bersedia bersabar demi menanti kehadiranmu. Mengapa kau tak muncul sekarang saja? Menemani bunda menjalani hidup. Menguatkan hari-hari bunda yang semakin kesini semakin penuh tanda tanya. Bunda butuh teman, Sayang. Bunda butuh kamu.
Kamu adalah hadiah terindah yang bunda miliki. Kamu adalah hadiah yang bunda idamkan. Bersama kamu bunda yakin semua akan jauh lebih mudah. Bersama kamu bunda yakin pasti akan merasa lebih baikan. Namun sejujurnya bunda juga tak ingin kamu muncul sekarang. Karena bunda tak mau kau merasakan ketidaknyamanan. Bunda tak ingin kau tumbuh di tengah keegoisan dan lingkungan yang angkuh. Bunda ingin yang terbaik bagimu. 
Nak, jangan datang terlalu lama. Jangan paksa bunda merasakan sakit ini lebih lama lagi.. Jika kamu sudah muncul nanti, semoga bunda bisa menjadi ibumu yang pantas. Bunda ingin yang terbaik untukmu.


“Mother, the ribbons of your love are woven around my heart” 

Hampir Hilang

…di sepertiga malam yang pertama kalinya terengkuh
Kepada harapan yang hampir tak terpegang lagi.
Semua terasa indah dan diharapkan tak pernah berakhir. Malam terindah yang kurasakan paling indah sepanjang hidup kami. Aku tak pernah sesenang itu. Aku juga tak pernah menangkap senyumnya yang sebahagia itu sebelumnya. Dibalik sesal yang bergemuruh meminta pertanggungjawaban. Kebahagiaan yang kami dapatkan jauh lebih besar dan memambukkan. Zona kenikmatan yang sebenarnya hanya membawaku menuju nista. Tindakan bodoh yang membuatku makin terlihat bodoh bukan hanya gampangan. Dan kebodohan yang satu ini tidak bisa dicerdaskan. Hanya tersisa penyesalan.
Sepertiga malam yang kali ini sangat berarti. Kantuk sama sekali tidak terasa. Air mataku jatuh lagi. Sama seperti kurang lebih setahun lalu. Tangis sesal yang kukeluarkan. Kita keluarkan. Kami berdua. Disitulah letak perbedaannya. Tangisku kali ini berbeda. Bukan karena dosa yang kami nikmati. Tapi karena dosa yang mestinya tak pernah kucicipi dan mengapa harus bersama ia, laki-laki yang sejak saat ini paling kubenci.
Sebelumnya aku mensyukuri cinta. Atas dasar hubungan yang telah kujalin berkali-kali dan setelah kujalani selama bertahun-tahun. Namun dimana cinta saat dua insan sedang menjerumuskan satu sama lain kepada jurang penyesalan? Dimana cinta saat aku merasa dirugikan dan tak lebih dari seonggok sampah di tengah jalan raya? Dimana cinta saat sepasang kekasih bertengkar hebat karena masalah yang kadang sepele? Dimana cinta yang selalu kupercaya? Cinta hanya sugesti bagi setiap pribadi. Fana.
Secara tidak sengaja aku bangun di sepertiga malam ini. Murni karena aku tak bisa tidur. Sesuatu terus menggerayangi dan membuatku tak kenal lagi apa itu tidur nyenyak.