As Tired As Adam

Just ended watch you at 50/50 film. It’s touching. And this picture was taken a second after he said:

“I’m fucking tired of being sick!”

Well, Adam. I know it’s hard. I do feel the same.

You’re sick, i’m either.

You said that, i said so.

But after, you said “I bet you’d be a good one”, do you want me to say that too? I don’t even have any idea to whom i have to asking that question to. Nobody, Adam. Am i a backstabber??

Kebahagiaanmu

“Maafkan aku…”

Rheina tidak sedang memperbaiki keadaan. Ia melakukan itu karena tak tahu lagi apa yang bisa dilakukan dan tidak lagi bisa memungkiri kenyataan.

Jake bergeming. Pandangannya dingin menatap dan sengaja menjaga jarak, yakin bahwa amarahnya sudah tidak dapat ditahan.

“Kamu lupa apa janji kita di awal?

….Kita berjanji menjalani semua, susah dan senang, bersama-sama.

….Tapi sekarang? Kamu menentukannya sendiri!

….Kamu akan mati! Itu adalah pilihanmu bahwa kamu ingin mati,

….Lalu aku? Kamu pikir aku bisa bertahan hidup tanpamu?!”

pertanyaanya menggantung. Kemudian sebuah tinju dari tangannya yang terkepal melayang ke dinding, lalu ia melesat keluar setelah membanting pintu kamar itu dengan kasar. Jake hanya tak ingin membuat Rheina takut atas kemarahannya. Ia sadar emosinya meluap terlalu parah. Sekarang nyonya muda itu hanya bisa tergelak lemah, tak mampu mengejar lelakinya. Tubuhnya memang lemas, tapi jauh di dalam hatinya merasa sangat miris. Mulutnya pun terbuka, akhirnya mulutnya sanggup berkata.

“aku hanya ingin kebahagiaanmu,

….dan kupikir, kehadiran anak ini akan mewujudkannya, daripada aku”


“When someone’s in love,
they could do even the craziest thing just for someone he loves,”

Pesan Tak Terduga

Biarkan bintang berkata pada bulan
Betapa tak mau berpisah
Biarkan malam berkata pada siang
Betapa ia rindu menyapa hati
Ingin salam tersampaikan ke dia yang ku rindu
Biarkan matahari berkata pada bulan
Betapa cepat waktu berputar
Tak terasa pahit dan geitrnya masa lalu
Disana ada harapan, cita, cinta, dan air mata
Salam untukmu,
jauh hati dekat raga

Pesan yang kuyakini sebuah puisi itu masuk dengan sangat mengejutkan ke ponselku yang sedang sepi. Pengirimnya dikenal, tapi sudah tidak bisa teringat kapan terakhir kali ia mengirim pesan singkat saking lamanya. Dan pesannya tidak biasa. Bukan bertanya kabar atau seputar kampus. 
Aku mencoba perlahan mencerna kata-kata di dalamnya. Dan hanya membuatku menjadi semakin yakin bahwa isi pesannya sungguh tidak biasa. 
Selamat datang kembali, hanya begitu hatiku berdesir lirih.

Kuat

Seperti kemarin
Dibalik kekuatan dalam tanda tanya besar
Masih bersembunyi dibalik menit yang terasa jam
Berpaling dari nyata
Menelan bulat-bulat semuanya
Setelah lubang,
kemudian lubang satunya
Satu per satu menenggelamkan tubuhku yang tersisa
Aku kuat
Aku sudah kuat
Kemudian beban melumpuhkanku lagi
Aku sudah kuat
Tadinya aku kuat
Harus berapa kali derita menempa
agar dunia percaya bahwa aku kuat?
Setelah lubang,
kemudian lubang satunya
Sebelum ada lubang aku sudah kuat
Lalu mengapa harus ada lubang untuk membuktikannya
Karena aku sudah kuat
Ketika aku hampir menyerah dan tersadar
Harus lagi ada lubang-lubang lainnya
Dalam jarak yang berdekatan
Sudah…! Sudah!!
Aku tak lagi kuat

Only One

Jeder wollt sie zur Frau, 
doch ihr Herz war nicht mehr frei,
denn sie hat nur einen geliebt,
doch der zog in den Krieg und er kehrte nicht mehr heim,
es gab nichts mehr was ihr noch blieb…


nur einen geliebt…

nur eins…

EINS…!!

Loreley (Dhingis Khan)

Ini Cinta (,) Platonis

Pernah dengar?
Kau tidak akan menemukan artinya lewat kamus besar bahasa indonesia cetak maupun online. Karena memang ini lebih dari sebuah kata bahasa indonesia yang begitu saja. Dua kata yang tak cukup dijelaskan lewat apapun. Apapun.
Entah sebuah kebanggan atau sedih bila sebuah cinta yang dimiliki adalah cinta platonis. Entah apa. Tapi itu cinta.
Cinta platonis…
adalah ketika kau mencintai dan memilih diam, karena tidak mau ia terusik dan merasa terganggu dengan keberadaanmu
ketika kau tidak mengharapkan cintamu terbalas karena dengan mencintainya saja sudah jauh dari cukup
ketika kau menjadi bahagia jika melihatnya bahagia meskipun bahagianya bukan karenamu
ketika kau teramat senang saat mendapati ia tersenyum meskipun senyumnya bukan untukmu
ketika kau merasa menjadi tubuhnya dan ingin beristirahat sesegara mungkin saat ia sedang merasa kelelahan yang luar biasa
ketika kau ingin mengetahui apapun yang dilakukannya tanpa sepengetahuannya, bukan memata-matai, tapi kau tidak ingin ketinggalan setiap langkahnya
ketika kau ingin mengetahui kabarnya, sekali lagi, bukan memata-matai, tapi kau hanya memastikan bahwa ia sehat-sehat saja sekali pun dirimu tidak
ketika saat ia bersedih, kau berharap menjadi air matanya. Yang mengurangi bebannya, yang mengecup lembut kedua kelopak matanya yang enggan menatap dunia
ketika kau rela untuk tidak memilikinya, karena yang kau harapkan adalah kebahagiaannya atas kebebasan yang ia inginkan, termasuk pilihannya untuk bersama siapapun, kau mencoba rela
begitulah aku menerjemahkan Cinta Platonis.
Istilah tersebut pertama kali kudengar dari seorang bangsawan ilmu filosofi, yang tidak disangka-sangka, dari perawakannya yang luar biasa ajaib, ia justru malah mengajariku banyak hal tentang cinta. Ia mengenalkanku pada cinta. Yaitu cinta yang kumiliki. Cinta Platonis. 
Dan terimakasih keduaku adalah untuk Plato, mungkin kita merasakan hal yang sama. Terimakasih telah menguatkanku, setidaknya aku tidak sendiri.
Kesimpulannya, cinta ini adalah satu dari berbagai bentuk cinta. Sayangnya, cinta yang ironi, yang entah bagaimana bisa membahagiakan dalam kesendiriannya.

Lalu,

apakah ‘cinta tak harus memiliki ‘ adalah sebuah cinta platonis?


Potongan Puzzle

Kata demi kata terucap. Lalu semua berputar di tempat yang sama. Begitu saja. Malah membuatnya menjadi bingung. Dari A sampai Z.

A: “Siapa suruh cowok brengsek dipacarin?”

B: “Dia itu sebenarnya lagi ngetes rasa sayang lo, bakal kayak gimana kalo lo diputusin,”

C: “Udahlah, paling dia langsung nemu cewek baru,”

D: “Gue yakin sebenarnya dia masih sayang sama lo. Makanya lo sms dong,”

E: “Liatin deh sebulan, paling udah punya cewek baru lagi,”

F: “Cowok model begitu mah banyak. Ngapain sih lo masu sama dia?”

G: “Dia itu nungguin lo sms bilang kangen atau apa kek,”

H: “Kalo dia sayang sama lo, dia nggak akan putusin lo waktu itu cuma karena masalah begini,”

I: “Dia cuma bunga tidur lo, dia nggak nyata,”

J: “Bukan cuma lo, gue juga pernah ngalamin ini. Tapi gue nggak selemah lo nanggepinnya,”

K: “Lo lembek tau nggak, ngapain cowok kayak gitu aja lo tangisin?”

L: “Semua salah lo, siapa suruh lo mancing-mancing emosi dia? Rasain kan sekarang,”

M: “Ngapain sih lo tangisin dia tiap hari? emang dia inget sama lo?”

N: “Jangan ikutin ego. Kalo cinta jangan gengsi,”

O: “Sekarang lo mikirin dia terus, emang dia udah pasti mikirin lo?”

P: “Sadar deh. Sebenernya yang bertepuk sebelah tangan itu lo,”

Q: “Makanya kalo punya cowok jangan mau dibayarin ini-itu, jadinya besar kepala deh kayak gitu,”

R: “Kalo punya cowok tuh jangan dipake-pake amat, nanti merasa dibutuhin,”

S: “Lo bisa kok lupain dia,”

T: “Dia nggak jahat, lo aja yang emosian,”

U: “Move on!”

V: “Gue yakin dia sekarang lagi nyari cewek baru,”

W: “Baru kali ini gue liat lo selemah ini. Cuma gara-gara dia doang?”

X: “Dia nggak bener-bener sayang sama lo. Dia cuma pernah sayang sama lo, sekarang udah nggak,”

Y: “Lo tuh cuma bagian dari koleksi nya doang. Abis ilang manisnya trus dibuang,”

Z: “Nanti dia akan dapet karmanya. Udah nggak usah dipikirin,”

Itu….itu semua perkataan orang yang sampai kini malah berputar-putar di kepalanya. Tanpa kejelasan, tanpa pembenaran dan buktinya yang membenarkan. Dia tak tahu lagi harus percaya pada siapa. Terlalu banyak omongan, terlalu memusingkan. Semua perkataan itu bagai potongan-potongan Puzzle yang terplintir-plintir. Bukan menyempurnakan, malah membuatnya makin rumit untuk dijadikan satu kesatuan.

Pada akhirnya tak satu pun ia dengar. Dan ia tak ubahnya bagai setangkai alang-alang yang kehilangan mata angin. Berlenggak sendirian kesana-kemari.

Orang Lain

Bukan tanpa alasan, ia duduk disana karena bersembunyi. Tempat yang sunyi memang menjadi senjata paling ampuh buatnya menenangkan diri, menghilangkan penat, atau bakan sekadar meregangkan tubuh. Pikirannya penat, matanya menerawang tanpa pemahaman atas apapun. Imajinya berhenti menggelombang saat sebuah suara menggebrak pintu hingga sofa Hening terkena getarnya.
“Cowok tuh brengsek ya?” Rilla bertanya setengah berteriak. 
“Seto maksud lo?” Hening sebetulnya sedang tidak ingin berinteraksi. Tapi kediamannya hanya akan membuahkan tanya di mata Rilla dan ia tidak ingin siapapun mengusik masalahnya.
“Bukan cuma dia. Tapi semuanya,” Rilla kemudian melempar tubuhnya ke sofa di sebelah Hening duduk. Tidak ada komentar yang berarti. Mata Hening malah menerawang dan mencoba memahami pertanyaan Rilla dengan seksama. Sejujurnya bukan pertanyaan yang menjadi bahan pikirannya sekarang. Tapi jawabannya barusan. Membuatnya yakin bahwa sesuatu pernah terjadi kepada Rilla sehingga ia berani berdifinisi seperti. Mungkin ia sudah berkali-kali merasakan pengalaman pahit bersama seorang pria shingga ia ebrani mengeneralisasinya. 
“Iya, cowok emang brengsek,” 
“Nah kan! gue abis baca majalah,”
“Terus?”
“Ada bahasan tentang kenapa cowok gampang ninggalin pacarnya gitu aja,”
“Apa katanya?”
“Kemungkinannya ada dua,”
“Apa?”
“Pertama, cowok itu bosen. Dia udah mendapatkan semuanya, terus dia pergi,”
Mendengar itu, Hening membatin lalu menggeleng pelan, “terus?”
“Kedua, karena ada cewek lain,”
“…..”
“The hardest thing to do is watch one you love,
 love someone else,”

Tak Akan Terganti

…di muka senja yang membelai manja

Selamat ulang tahun, Papa.

Harus dengan cara apa aku menyampaikan selamatku? Harus dengan cara bagaimana agar aku bisa mengucapkannya langsung kepadamu? memberikan hadiah kecil hasil tabunganku, atau sekadar kecupan di pipi. Bukan lewat video, atau email maupun sms. Bukan juga skype, hanya akan membuatku menangis dan membuatku tersadar bahwa jarak kita sangatlah jauh. Membuatku tambah sedih.
Tidak kah kau merindukanku, Pa? Di setiap malam ditidurku, aku merindukan kecupan malammu di dahi. Aku bahkan masih ingat bagaimana kau mengangkatku ketika aku tak sengaja tertidur di ruang tv sakibat menonton ftv kesukaanku sampai malam. Aku terbiasa hidup bersamamu, tak ada kamu aku kehilangan tentu. Dan aku tak mau lagi sekadar mendengar suaramu via telepon, melihat wajahmu via Skype, atau mengetahui keseharianmu via Facebook. Aku hanya ingin bertemu dan berkata aku rindu.
Jarak kita terlalu jauh. Tidak kah kau mau menyempatkan sehari saja untuk bertemu denganku disini. Tanpa perlu kemana-mana, cukup kita berdua, menghabiskan malam bersama tanpa mesti kemanapun. Sesederhana itu rasa cintaku kepadamu. Cukup segitu. tapi jarak membuat kita tak bisa bertemu, haruskah aku menyusulmu agar kita bisa bertemu? Aku sudah mencoba. Sayangnya, tabunganku tak kunjung penuh. Aku selalu tak mampu. Mengapa tak kau saja yang menyusulku? Mengapa harus aku lebih dulu?
Aku hanya merindukan sosok ayah. Mungkin menurutku cukup dengan kehadiran seorang lelaki. Sayangnya lagi, tak pernah ada yang sanggup mencintaiku sepertimu. Tak ada yang sanggup mencintaiku sekuat kamu. Tak akan ada lelaki sehebat dirimu. Aku lelah mencari penggantimu, karena kau ternyata memang tak terganti.
Papa, kali ini aku tak ingin lagi memberikanmu hadiah dengan cara mengirimnya, aku hanya ingin memberikanmu cintaku, diriku, jika memang aku berarti bagimu. Jangan tanya, kau sudah tentu segalanya bagiku. Cuma kamu, laki-laki yang terhebat itu. Cuma kamu, dan aku tak bisa jatuh ke lain hati. 
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Papa. Hadiahmu ada di rumah. Aku. 
Semoga kau mendengarku.
Gadismu yang berkali-kali gagal dimiliki orang lain,
(tenang) aku tetap milikmu

“I cannot think of any need in childhood as strong as the need for a father’s protection”
Sigmund Freud