Kebahagiaan Orang Lain

Halo dunia! Apa kabar? Hari-hari berlalu dengan cerita yang beragam, hebatnya kesemuanya, pada ujungnya, menyenangkan. Waktu memang belum memperbaiki semua, tapi ia telah setia membimbingku sampai pulih benar. Entah kenapa semenjak mengalami kejadian-kejadian buruk yang menyakitkan, semacam berlaku adil mungkin, semesta tiap harinya memberi hadiah bagiku. Kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk apapun dan dikirimkan lewat siapapun. Ada saja kejutan-kejutan indah yang kudapatkan setiap hari, potongan senyum dari teman, waktu menyenangkan bersama keluarga, mendapat kenalan-kenalan baru, angka bagus di kertas hasil ujian, dan lain-lainnya! Jika Tuhan Maha Adil, maka semesta melakukannya atas kehendak Tuhan. Terimakasih, Tuhan.
Aku bahagia sekarang, setelah membuktikan bahwa aku bisa melewati masa-masa kritisku dengan kaki sendiri. Aku sudah bisa tersenyum lagi, meski pada awalnya dipaksakan dan menipu harus menipu perasaan. Lambat-laun aku tersadar. Hari-hari kemarin kuisi hanya dengan kesia-siaan dan luka yang kubiarkan menjadi semakin besar. Setidaknya aku sudah bahagia sekarang. Bahagiaku sudah terganti. Aku harap bahagia yang kali ini tidak semu dan bersifat selamannya, bukan fana (lagi).
Aku berjanji akan menulis lagi. Dengan senyum ceria yang tulus dan kali ini kusumpah adalah aseli tanpa rekayasa lagi. Sementara ini ijinkan aku untuk fokus dulu pada akademisku, untuk membuktikan bahwa aku mandiri dan dia bukanlah siapa-siapa sehingga harus mempengaruhi nilai-nilaiku di sekolah. Baiklah, kali ini, kutup perjumpaan kita dengan sebuah kalimat yang menurutku cukup bagus, dari seorang dokter yang berprofesi juga sebagai penulis, Falla Adinda, 
“Bahagiakah kamu sudah merebut kebahagiaan orang lain?”

Surat Tanpa Alamat

Di antara tumpukkan surat-surat itu kau terdiam. Memandangi satu per satu surat yang bukan gagal kau kirimkan, tapi memang tak pernah ada niat sedikit pun. Kau hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Surat-surat itu hanya membantumu membuat tenang, mengurangi beban di hatimu yang meradang, menyembuhkan perih yang sebetulnya tak akan pernah hilang. Kemudian kepada beberapa lembar foto yang ada. Jemari yang masih bisa merasakan lembut bibirnya, gelagar tawa terdengar dengan begitu khas di daun telingamu yang kini sepi, tangan yang terkait satu sama lain, yang menghapus tangis yang keluar dari mulutmu beberapa menit sebelumnya. Saat itu, ketika komit mempersatukan dua hati yang merasa sudah selesai berjalan saking jauhnya.
Kemudian kau salah. Ternyata dia adalah orang yang tidak pernah kau mengerti. Seperti kata Dee, dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kau reka dan kau cipta.
Sebagian darimu membencinya, saat hatinya berlabuh mundur, saat ia ingin kembali ke masa lalunya sebelum kau muncul. Masa lalunya adalah musuh terbesarmu. Hatinya adalah bagian tersulit untukmu kau pahami. Sampai sekarang kau hanya menebak-nebak sendiri dengan logika yang tak sampai, apakah disana dulu ada namamu dengan bagian begitu besar, ataukah memang tidak pernah ada sama sekali. Kemudian kau lebih membencinya, karena ia tepat melukai ruh dan jasadmu tanpa terkecuali. Dan rasa bersalah itu mungkin ada. Tapi itu itu tidak nampak dan tidak ada artinya. Itu hanya sebuah rasa. Menurutnya mungkin itu tidak penting. Sama dengan perasaanmu, baginya juga tidak penting. Kenangan itu melebur. Berbaur menjadi satu dengan perih yang ditinggalkannya. Lengkap dengan foto-foto, tiket bioskop, hadiah-hadiah pemberian, bahkan sebuah kecupan hangat yang pernah ditinggalkannya di dahi, saat terakhir kali kau melihatnya menatap kearahmu, namun setelah itu tidak lagi. Benda-benda itu sekarang sudah memiliki rumah barunya. Suatu tempat yang terjangkau dan akan kau kembalikan kepadanya lagi suatu saat nanti.
Sebagian lain darimu teramat mencintainya, mabuk, menggilainya dengan intens waktu tanpa jeda. Semangatmu di pagi hari tidak lebih dari pengharapan akan kedatangannya. Yang pada siang harinya kemudian disirami pemandangan baru yaitu fakta dan pembenaran bahwa ia sudah menjadi milik orang lain. Kemudian kau ragu untuk bersikukuh menganggapnya seperti versimu, idola hati, kekasih terbaik yang pernah ada, pria yang mengenalkanmu kepada arti cinta. Satu dari seribu. Satu-satunya lelaki yang berhasil mengangkatmu dengan amat membahagiakan ke nirwana, sekaligus menjembabkanmu langsung ke dasar bumi detik itu juga. Bersamanya kamu berani merajut mimpi yang tak pernah terpikir sebelumnya. Satu per satu mimpi indah yang terangkai menjadi rentetan kisah yang sekarang hanya menjadi sekadar mimpi belaka, bunga tidur di bawah bantalmu yang hampir basah setiap malamnya. Dan ternyata mimpi itu dihancurkan sendiri oleh sang raja. Lalu kau terlambat untuk tersadar bahwa mimpi-mimpi itu hanya mimpimu seorang, bukan kalian. Muncullah kata wajar menjadi jawabnya.
***
Kemudian kau berbicara sendiri…

Kamu takut, kata Dee lagi.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dia takut.

Dia takut karena ingin jujur. Kejujuran menyudutkannya untuk mengetahui fakta tentang dirinya sendiri. Dia tidak pernah mau jujur, maka dia diam. Seringnya kau malah ikutan lupa cara berbicara. Kalian berdua mirip dua bagian magnet dengan kutub berbeda. Saling membutuhkan, namun menghadap ke arah yang seratus delapan puluh derajat berlawanan.

Kau dan dia sesekali bertemu, dengan bekal masing-masing dan inovasi baru demi memperbaharui taman yang kalian bangun sendiri. Dengan Pengorbanan yang kalian lakukan untuk bersama. Kalian mempertaruhkan apa yang dirasa benar, juga toleransi atas nama Cinta. Kemudian kalian menyerah di tempat yang sama. Kau terhenti karena tenagamu habis. Ia berjalan dan memperjuangkan tenaganya yang tersisa, untuk diberikan kepada yang lain. Terus berjalan, kemudian tidak pernah menoleh lagi .Di situlah kau menaruh tahta tertinggi tentang Ketulusan Cinta dalam hatimu. Kau bertaruh banyak atas perjuangan ini. Dan semua yang kau lakukan adalah benar, mengikuti kata hati tidaklah pernah salah.

Matamu memejam, mempermudah tetes demi tetes mengalir menelusuri pipimu yang menirus. Dirimu diam, otakmu bekerja, memori terus saja berputar mundur. Mengenang setiap inci perjalanan yang pernah kau lalui bersamanya. Kau membiarkan alam sadarmu berlari sesukanya. Mengenang setiap inci perjalanan yang tak ada cacat. Sepenuh hatimu percaya bahwa setetes air matamu pun akan terhitung, tak ada yang namanya sia-sia, segalanya pasti bermuara meski pada khayangan tak terjangkau. Tapi kau selalu percaya dunia itu pasti ada di atas sana dan ia terus mengawasimu tanpa luput.
Lagi, kau terlambat tersadar, perpisahan ini hanya untukmu.
***
Kuantitas memang alasan utama dan menjadi masalah yang begitu berarti atas setiap perpisahan yang terjadi. Namun kualitas adalah yang membuat penyesalan itu menumpuk lebih banyak lagi.
Sudah sebulan ini kau merasakan kakimu lumpuh, heparmu perih, dan otakmu mengeras atau mungkin terlalu penuh dengan hal yang itu-itu saja. Kau mengamati dirimu sendiri di cermin, yang memberikan refleksi jelas tentang seorang wanita dengan tatapan kosong yang nyata namun dipertanyakan eksistensi hatinya.
Itu aku.
***
Aku membelai lembut bagian pipimu di cermin. Aku berbicara pada diriku sendiri. Kepada  kamu bayanganku, kepada cermin, kepada surat-surat yang berantak tak terkirim.
Betapa sempurna surat-surat ini mewakili perasaanku, yang tak pernah sampai kepadamu, yang tak pernah bisa terucap, yang tidak sempat dan mau kau dengar. 
Ribuan kata-kata di atas adalah intisari dari kesemua surat yang kutuliskan padamu. Kamu adalah aku. Dia adalah kamu. Kalian adalah kita, yang ternyata tidak diijinkan bersatu lebih lama lagi. Yang ternyata hanya aku di dalam maknanya.
“When love turns away, now, I don’t follow it. 
I sit and suffer,
unprotesting, 
until I feel the tread of another step.”

Sylvia Ashton-Warner

Penuh Ludah

Tidak ada basa-basi lagi.
Langsung pada pertanyaan besar yang akhirnya ingin kutanyakan kepadamu. Jelaskan padaku atas dasar apa aku harus terus membelamu di depan semua orang dan berkata bahwa kamu baik? Dan dengan alibi apa sehingga kau bisa berani menepis perkataan orang-orang bahwa kau tidak jahat? Mereka hanya mengatakan apa yang mereka lihat. Jangan pernah salakan mereka. Lalu kau salahkan aku? Jelaskan padaku untuk suatu apa aku harus terus melindungimu sementara kau membunuhku dari kejauhan? Kau bahkan yang membakar dirimu sendiri dan sekrang kau ajak aku merasakan panasnya? Aku bahkan dengan tangis yang berderai terus meyakinkan diriku sendiri bahwa kamu tak seburuk itu, namun di saat yang bersamaan yang kau lakukan tak ubahnya kotoran sapi. Pembelaan apalagi? Kamu baru saja menjilat ludahmu sendiri, wahai hewan penuh ludah. 
Aku anak baru di dunia ini. Seharusnya aku dengarkan kata orang. Omongan mereka yang sejak dulu tak pernah kupercaya kebenarannya, tapi ternyata, sayangnya, mereka lebih jujur, mereka lebih peduli, mereka bahkan lebih baik dari dirimu yang terus menerus menyalahkan mereka seperti sampah. Sayangnya mereka terlalu bodoh untuk tidak mengambil kesimpulan dari perbuatan yang kau lakukan sendiri, secara terang-terangan, di depan siapapun. Mungkin kau terlalu apatis terhadap orang lain. ya, beigtulah kamu. Merasa dunia ini hanya milikmu sendiri. Dunia adalah milikmu seorang. Kau selalu egois. Begitu juga dalam bermain hati. 
Kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku. Selama ini aku kemana saja hingga baru tersadar. Kau hanya membutuhkan seorang wanita selayaknya orang yang kau butuhkan. Ketika aku harus menjadi seperti apa yang kau mau. Persetan dengan semua kesabaran dan cara baikmu. Ujungnya, kau tetap menuntut. Aku hanya selingan bagi kisah cintamu yang panjang dan waktu itu mencapai masa jenuh. Kau tidak pernah benar-benar mencintai diriku, pribadiku. Kau tidak pernah benar-benar memahami kesukaanku. Kau tidak pernah benar-benar mempelajari keseharianku. Kau hanya memburu wanita sebagai pelepas nafsu. Kau hanya mencari nya untuk berbagi dan dibagi sesukamu, semaumu, dan menjadikan mereka seperti apa yang kau mau.
Sudah, sudah. Jangan besar kepala mengenai perasaanku. Orang baik hanya untuk yang baik. Orang jahat juga begitu. Jadi, mungkin memang kamu berjodoh dengannya. Doaku hanya, semoga kalian bahagia dan masuk surga bersama.
 
Amin


“I f a man wants you, nothing can keep him away. 
If he doesn’t want you, nothing can make him stay,”

Jason Said Everything Will Be Fine

Calm down
Deep breaths
And get yourself dressed instead
Of running around
And pulling all your threads saying
Breaking yourself up

If it’s a broken part, replace it
But, if it’s a broken arm then brace it
If it’s a broken heart then face it

And hold your own
Know your name
And go your own way

And hold your own
Know your name
And go your own way

And everything will be fine
Everything will be fine
Hmm

Hang on
Help is on the way
Stay strong
I’m doing everything

And hold your own
Know your name
And go your own way

And hold your own
Know your name
And go your own way

And everything, everything will be fine
Everything

Are the details in the fabric
Are the things that make you panic
Are your thoughts results of static cling?

Are the things that make you blow
Hell, no reason, go on and scream
If you’re shocked it’s just the fault
Of faulty manufacturing.

Yeah everything will be fine
Everything in no time at all
Everything

[Chorus]

Are the details in the fabric (Hold your own, know your name)
Are the things that make you panic
Are your thoughts results of static cling? (Go your own way)

Are the details in the fabric (Hold your own, know your name)
Are the things that make you panic (Go your own way)
Is it Mother Nature’s sewing machine?

Are the things that make you blow (Hold your own, know your name)
Hell no reason go on and scream
If you’re shocked it’s just the fault (Go your own way)
Of faulty manufacturing

Everything will be fine
Everything in no time at all
Hearts will hold

“Details in the Fabric” as written by Dan Wilson Jason Mraz

This song is just too good to hear. So good, for you who’s a broken hearted. Com on guys. Cheer up!!

Message Sent

….di awal pagi yang seharusnya cerah
Kepada kamu yang tak pernah mau kusebut namanya.

Sebetulnya bukan tak mau, tapi tak mampu. Menyebut namamu adalah salah satu hal yang menyenangkan. Dengan mengingatmu ada kebahagiaan yang menyeruak hebat dan menenangkan. Bahagia yang tak dapat diterjemahkan saking hebatnya. Tapi detik itu juga di saat yang bersamaan, ada perih yang tertoreh secara tiba-tiba dan selalu membuat terkejut meski ia sudah muncul berkali-kali saat kuingat kamu lagi. Perih itu tak mau hilang. Selalu merenyitkan dahi, memeras emosi, mengeringkan pipiku lagi dan lagi yang selalu basah karenanya. Mengingatmu memiliki dua sisi yang berlawanan. Mencintaimu adalah hal yang membahagiakan, setidaknya untukku.
Sudah kau dapat pesan terakhirku? Di ponselku tertulis sent. Beberapa detik aku terdiam, berpikir. Ah, aku tidak malu, apalagi menyesal karenanya. Aku sudah pernah menyesal dan tak ingin ada sesal untuk kedua kalinya. Apa yang ingin kusampaikan, kulancarkan. Sebelum semua keadaan semakin memburuk. Sebelum kamu salah mengerti mengenai perasaanku. Aku juga tak menunggu balasanmu karena memang tak ada balas yang kuharapkan. Aku tak pernah mengharap balas, orang-orang menerjemahkan itu sebagai sayang. Tapi sayang menurutmu memiliki arti berbeda yang tak pernah kupahami dan opini kita tak pernah bertemu, tiada pernah menyatu. Kau mungkin tidak akan pernah membalasnya, atau kau bisa saja menganggapnya lucu. Tapi membiarkan kita berdua tenggelam dalam kediaman yang membisukan isi hati masing-masing adalah lebih lucu lagi menurutku. Berdiri tegak di atas ego masing-masing atas nama kuat atau entah tidak peduli. Bisa atau tidaknya, sebenarnya tentu tidak. Aku hanya menebaknya begitu, meski sikapmu menunjukkan kau tak pernah. Tapi aku selalu membuat kemungkinan yang tidak akan menyakitimu. Kembali ke topik. Aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan. Tapi kenyataan berkata lain, semata karena aku tidak bisa berjuang sendiri. Semua harusnya dilakukan bersama-sama. Tidak melulu sebelah pihak, sebelah tangan.
Aku ingin tahu apa yang kau rasa, meski selalu kau tutupi. Jangankan mengutarakan, menampakkannya saja kau tidak. Aku sudah tak bisa lagi mengelak atas rindu yang melulu bertalu di dada dan tak pernah bisa diam. Aku juga tidak mau terus menerus di bawah pengaruh kesedihan yang tidak berujung. Aku hanya ingin melakukan semuanya lebih baik lagi dan membuktikan bahwa aku bisa lebih baik lagi. Meskipun demikian kau tetap tak berujar. Menepis nyata dan menganggap semuanya baik-baik saja. Sadar atau tidak, sebetulnya kau sedang berlari, menghindar. Lalu baru terlihat siapa kau sebenarnya di saat sekarang ini. Kau yang sebenarnya. Namun apakah itu mengurangi kecintaanku padamu? Sialnya, tidak. Rasa ini malah tumbuh makin besar dan menyerang alam pikirku berbondong-bondong. 
Cinta dan sayangku tak terhitung besarnya. Yang tak kupahami, mengapa itu tak pernah cukup untukmu? Di luar itu, apa yang kulakukan selalu tak nampak, tertutup, dan itu cukup untuk membuatku bungkam. Apa yang kulakukan tak lebih dari lalu dan terlupakan. Tertimpa sejuta pemberiamu yang tak pernah kuminta. Aku sudah mengingatkan, jangan pernah memberi banyak karena aku tak akan bisa membalasnya. Lantas sekarang, yang kau ingat ya melulu itu. Aku tak lebih dari seseorang yang mengecewakan pilihanmu dengan sebuah fakta yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku tak lebih dari sebuah kesalahan besar yang tak termaafkan dan tidak dapat diterima lagi karena bisa saja terulang. Ah, you always are.
Mungkin di mulut tidak, karena aku tahu bibirmu tak pernah melukai. Tapi ada maksud yang dengan jelas dapat kubaca. Ada salah yang kuperbuat bagimu, aku salah di matamu. Semua terjadi akibat salahku, kau pergi karena salahku, orang-orang berasumsi akibat salahku, semuanya begitu. Semakin kau diam, semakin semua menjadi buruk. Dan semua akan tetap sama. Kau merasa semua menyalahkanmu, aku merasa semua menyalahkanku. Detik itu kau tahu kemudian berpikir, lebih baik semua tidak terjadi. Lebih baik semua baik-baik saja dan kembali seperti dulu.
“I’ve given you everything to make you happy. 
Hate me if it makes you become happier,”
Me

Berpasangan

Ada siang ada malam, begtu juga dengan perasaan. Ada senang ada sedih. Sayangnya ternyata terlalu senang itu tidak baik, karena cepat atau lambat kesedihan pasti akan datang menyusul. Bukan takdir, tapi memang mereka tercipta untuk saling melengkapi. Namun keduanya tak akan pernah berharga rata, selalu ada yang mendominasi hingga muncul paham mayoritas, sedang sisanya adalah minoritas. Ah ya, mayoritas dan minoritas juga pasangan. Jadi statement itu benar. Sesuatu akan lebih sesuatu dari satu lainnya. Dan semua telah diciptakan berpasang-pasangan, bukan hanya manusia 🙂

Sebut Saja Sri

Perempuan desa itu kini sedang menapak menyusuri jalan yang terbentang di hadapannya. Seorang anak balita yang lemah tengah ada di pangkuannya sejak ia memulai perjalanan dari kota asalnya, Ambarawa. Gadis Ambarawa itu bernama Sri. Ia sangat sadar bahwa tak ada satu rupiah pun di kantongnya sehingga ia harus berjalan kaki dari terminal hingga pusat kota. Sri adalah seorang janda berusia muda. Dia sudah tak punya lagi sanak saudara. Suaminya mati di tangan para renternir, keluarganya sudah meninggal sejak ia masih usia enam tahun. Warisan yang ditinggalkan hanya sebuah rumah gubuk tak layak pakai. Sri hidup seorang diri dan tak pernah malu meski berasal dari keluarga yang sangat berkekurangan.
Sri menyusuri jalan bukan untuk mencari uang yang tercecer di jalan, bukan juga untuk mencari pekerjaan. Tapi ia berjalan di Ibu kota untuk mencari orang yang sekiranya akan mau membeli Iin, gadis mungilnya. Ia tahu tindakan itu sungguh tidak berprikemanusiaan. Tapi membiarkan Iin dalam keadaan sakit parah tanpa pergi ke dokter itu lebih jahat lagi. Iin mengidap penyakit jantung sejak lahir. Jangankan pergi ke dokter, biaya persalinan Iin empat tahun lalu saja belum lunas di Rumah Sakit. Sri ingin menangis bila ia harus melakukan ini pada anaknya yang semata wayang. Tapi itu yang harus dilakukannya.
Sri menyusuri jalan sambil terus menangis. Ia tidak bertanya pada setiap orang yang lewat apakah mau membeli bayinya. Tetapi ia singgah di setiap rumah besar yang mewah. Sri tak perduli lagi apakah setelah ini ia akan benar-benar tidak punya keluarga. Sri terus membatin, “Demi anakku, apapun kulakukan!”
 *dibuat 23-05-2009
 “An ounce of mother is worth a pound of clergy,”
Spanish Proverb

Lemah?

“110/80 mbak,” ujar suster sebuah Rumah Sakit Swasta di Depok yang beberapa bulan ini sudah menjadi rumah keduaku.
“Normal?! Wah, sebelumnya tensiku nggak pernah sebagus ini lho, Sus!” 
Aku melonjak makin senang lagi tatkala menaiki timbangan. Bobotku naik satu kilogram setelah di rawat seminggu lalu. Ini sebuah perkembangan yang bagus bagiku. Bila bagi semua perempuan mendapati tubuhnya bertambah berat adalah sebuah celaka, maka bagiku itu adalah sebuah anugerah luar biasa. Aku sudah sehat sekarang, membuktikan bahwa kondisiku jauh lebih baik.
Kalau boleh jujur, aku lebih merasa nyaman berada di rumah sakit daripada di rumah. Sebesar itu kedekatanku dengan medis. Karena hanya di rumah sakit aku berani mengeluh dan memperlihatkan kondisi terlemahku. Aku pun terlahir di rumah sakit, terbiasa kesana juga tiap bulannya dengan keluhan yang ada saja dan selalu berbeda. Rumah sakit sudah menjadi keseharianku. Aku mencintainya. Aku seperti sengaja diciptakan untuk menjadi satu-satunya pasien yang bersyukur dan mencintai rumah sakit dan seisinya. Ah, itu hanya ungkapan halus saja. Sebetulnya, aku memang terlahir sebagai pribadi yang lemah dan ringkih.
Ya, aku ringkih. Bak boneka porselen dengan cat yang pudar sedikit tersenggol maka ia akan jatuh dan pecah berhanburan. Catnya yang buram membuatnya ingin terus memperoleh warna baru meski ia  bersikeras ingin mengecat dirinya sendiri. Pada nyatanya, semua orang mau tak mau akan mengecatnya dengan sangat hati-hati. Aku terlahir dalam kedaan lemah, tumbuh dengan lemah, dan mekar tanggung-tanggung. Seharusnya sudah sejak lama kau mau mengalah pada fakta tersebut bahwa aku lemah. Dan tidak melulu keras kepala merasa kuat dan sok hebat. Aku tak pernah mau mengakuinya dan selalu berlagak sehat di depan orang. Dulu. Kemarin.
Tepat dua minggu lalu dokter memvonis bahwa di paru-paru sebelah kiriku terdapat infeksi. Aku tak begitu terkejut, toh ini bukan penyakit saluran pernapasan pertama yang kumiiliki. Aku juga asma, sinusitis, adenoid, bronkitis, dan asal mula kesemuanya adalah aku pernah memiliki flek pada paru-paru saat masih balita dulu. Tidak heran juga. Karena kondisiku sudah memprihatinkan sejak masih bayi dan baru dilahirkan. Pernah liat bayi di Euthopia yang busung lapar dan kurus sekali hingga tulang dadanya nampak? Nah, tubuhku hampir begitu rupanya. Aku sudah dikatakan kurang gizi semenjak masih bayi, berikut penyakit-penyakit yang menyertainya.

Beberapa bulan lalu aku juga divonis mengidap Sefalgia. Penyakit di otak yang tidak bisa disembuhkan dan tidak ada obatnya. Kalau sudah pusing dan tensi darahku semakin menurun, artinya kambuh lagi.

Kalau dihitung-hitung ternyata aku dirawat di rumah sakit tiap enam bulan sekali, dengan kasus yang berbeda-beda. Tapi semua tak pernah separah kemarin. Pada saat terakhir aku dirawat, kondisiku memang parah sekali. Tepat sesudah solat maghrib aku hendak pulang dari kampus dan sudah pamit dengan teman-teman di ruang orginisasi. Asmaku memang kambuh, mereka juga tahu bahwa asmaku sejak tadi kambuh. Baru turun tangga dan keluar gedung, tubuhku langsung melemas. Dan dalam hitungan menit aku drop dan teman-teman langsung turun kemudian menggotongku naik ke dalam taksi yang dadakan dicari dan malam itu juga aku dibawa ke UGD. Aku panik, tangisku pecah tak ada habisnya. Bagaimana tidak, nafasku sulit sekali diatur dan keluar satu per satu dengan lambat dan sulit. Pikirku, bagaimana kalau kemudian tak ada lagi nafas yang berhembus ke dalam rongga hidungku yang lubangnya hanya berfungsi sebelah saja itu?
Akhirnya, aku dirawat. Aku selalu sok kuat dan menganggap semuanya baik-baik saja adalah agar tidak merepotkan siapapun. Nyatanya, aku selalu merepotkan semua orang. Dan yang mengharukan adalah selalu saja ada teman-teman yang menolongku dengan perhatian yang tidak pernah kuduga kedatangannya. Keesokan harinya, pada pagi hari, saat tidak ada siapa-siapa, jantungku berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya, tanganku gemetar, jariku memang sebelumnya selalu gemetar tapi tak pernah sekuat ini. Semua terasa bergoyang tapi ruangannya tidak. Yang bergetar hanya benda-benda yang berada dekat dengan tubuhku. Ini tidak gempa, memang aku yang bergetar hebat. Buru-buru kupanggil suster lewat panggilan darurat. Ia malah ikutan panik. Dan langsung mengambil sebuah alat besar untukku. Tirai ditutup, bajuku dibuka kesemuanya, lalu kabel-kabel dililitkan di dadaku yang sudah tersambung dengan mesinnya. Aku mengenali mesin itu, alat Rekam Jantung. Aku tak bisa berdamai dengan pikirku kalau organ Jantungku juga harus bermasalah. Tapi aku juga tak bisa menolak keberadaan alat itu.Air mataku menetes tidak berhenti.  Dadaku melonjak-lonjak cepat sekali. Jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat. Aku bahkan bisa merasakan degupnya tanpa harus memegangnya dengan telungkup tanganku. Yang ada dipikirku, bagaimana kalau detak yang berlari kencang itu kini berhenti sedetik saja?
Kini, di malam minggu ini, apa yang bisa dilakukan oleh anak manusia yang lemah sepertiku? Kesehariannya saja sudah dipenuhi obat berbagai jenis. Aku bahkan akrab dan tak pernah takut dengan jarum apalagi darah. Di saat hari kuliah, sudah tak banyak yang bisa kulakukan dengan kondisi tubuh yang tidak utuh seperti ini. Setiap seminggu sekali, aku, kembali ke rumah sakit untuk cek kesehatan. Pada saat weekend, aku harus pulang ke rumah dan tidak boleh kemanapun dengan statement harus istirahat. Sendiri. Semua kulakukan sendiri. Bukan karena tidka ada yang mau menemani, tapi apakah orang lain tidak punya pekerjaan yang lebih berguna untuk dirinya sendiri ketimbang menemani aku yang lemah dan selalu menyusahkan? Sampai kapan juga aku harus merepotkan mereka semua? Teman-temanku, orang tuaku, keluargaku…. Sayangnya, khawatir mereka sering berlebihan, itu alasanku mengapa lebih baik tak sudah bilang. Aku lelah dianggap lemah. Setidaknya aku sudah sadar bahwa kondisiku seburuk itu.
Aku lemah. Sejak dulu mama selalu bilang, “Kamu lemah. Kamu itu beda dengan teman-teman lainnya!” Ya, sekarang aku yakini itu. Aku juga berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain. Setiap malam minggu, mas selalu saja apel ke rumah pacarnya dan baru akan pulang tengah malam. Mbak juga, meski ia dan pacarnya bekerja di satu kantor, sabtu-minggu mereka tetap saja bertemu dan pergi kemanapun ia suka. Dimulai dengan ke undangan pernikahan, karokean berdoa, makan di luar, atau bahkan nonton bioskop film terbaru tak ubahnnya pasangan ABG. Adikku? Meskipun masih SMP, dia pasti keluar dan berkumpul dengan teman-teman di tongkrongannya. Dan aku selalu saja begini setiap minggunya, pada detik yang sama, menit yang sama, di tempat yang sama di depan komputer, pada posisi yang sama, melakukan kegiatan  yang sama, yaitu mengeluh-kesah pada blog yang tuna wicara.
Beginilah aku diciptakan. Aku terlahir sebagai gadis muda yang lemah. Tapi aku sudah biasa sendiri. Aku bisa kok tanpa kamu. Aku bukan lemah karena kehilanganmu, tapi aku sudah lemah dari dulu. Dari sananya. Pergi saja kalau kau memang tidak mau menerima kelemahanku ini. Pergi saja tanpa perlu mengkhawatirkanku karena kasihan. Aku sudah terbiasa lemah dan sendiri. Aku penyakitan. Lelaki manapun tidak akan menerimanya, apalagi kamu.Kamu tidak pernah sungguh-sungguh menginginkanku, selain segunung rasa kasihan. Kamu tak lebih dari bunga imaji yang kuciptakan sendiri, sosok penyayang yang kuimpikan bisa merawatku dan sangup menerima kondisiku yang lemah. Kamu cuma mimpi. Buktinya? Dimana kamu kemarin saat aku kritis? Dimana kamu sekarang saat nafasku tersengal hampir putus? Ah, kau sedang bermalam minggu. Selamat bersenang-senang dengan gadismu yang sehat dan kau cintai.
Ingat kata suster tadi? 110/80. Kondisiku sudah jauh membaik. Aku kuat tanpa kamu, sayang.

“As soon as forever is through,
 I’ll be over you”
Toto

Beri Aku Satu Saja

Beri aku satu alasan untuk mencintaimu. Saat kau menyiakan gelimang cinta yang kuberi.
Beri aku satu alasan untuk merindukanmu. Sedang kau dengan mudahnya lupa semua dibantu rutinitas yang menyibukkan.
Beri aku satu alasan untuk mencemaskanmu. Sedang kau menjawab pertanyaanku sekenanya.
Beri aku satu alasan untuk setia. Sementara kau kini telah bersanding dengan yang lain.
Beri aku satu alasan untuk terus merindukanmu. Bahkan mengingatku saja kau tidak.
Beri aku satu alasan untuk menganggap kau baik. Namun di saat aku butuh kau tak pernah ada.
Beri aku satu alasan untuk mengatakan kau menyayangiku. Sedang kau tak nampak saat aku sedang berada di titik kritis tubuhku.
Beri aku satu alasan untuk menjaga nama baikmu. Sementara kau sendiri yang merusaknya dengan sikapmu.
Beri aku satu alasan untuk tidak mendengarkan apa kata orang. Sedangkan semua yag mereka katakan benar adanya.
Beri aku satu alasan untuk mengatakan bahwa kita pasangan paling bahagia. Sementara nyatanya aku hanya bertepuk sebelah tangan.
Beri aku satu alasan untuk memberimu gelar segalanya. Sedang selama ini aku hanya boneka percintaanmu.
Beri aku satu alasan untuk tidak pindah ke lain hati. Sementara kau dengan mudahnya berpaling.

Beri aku satu alasan untuk menjaga rasa ini. Ketika di sana kau sedang dengan yang lain.
Beri aku satu alasan untuk mencintaimu. Sedang disana, kau mencintai orang lain.