Message Sent

….di awal pagi yang seharusnya cerah
Kepada kamu yang tak pernah mau kusebut namanya.

Sebetulnya bukan tak mau, tapi tak mampu. Menyebut namamu adalah salah satu hal yang menyenangkan. Dengan mengingatmu ada kebahagiaan yang menyeruak hebat dan menenangkan. Bahagia yang tak dapat diterjemahkan saking hebatnya. Tapi detik itu juga di saat yang bersamaan, ada perih yang tertoreh secara tiba-tiba dan selalu membuat terkejut meski ia sudah muncul berkali-kali saat kuingat kamu lagi. Perih itu tak mau hilang. Selalu merenyitkan dahi, memeras emosi, mengeringkan pipiku lagi dan lagi yang selalu basah karenanya. Mengingatmu memiliki dua sisi yang berlawanan. Mencintaimu adalah hal yang membahagiakan, setidaknya untukku.
Sudah kau dapat pesan terakhirku? Di ponselku tertulis sent. Beberapa detik aku terdiam, berpikir. Ah, aku tidak malu, apalagi menyesal karenanya. Aku sudah pernah menyesal dan tak ingin ada sesal untuk kedua kalinya. Apa yang ingin kusampaikan, kulancarkan. Sebelum semua keadaan semakin memburuk. Sebelum kamu salah mengerti mengenai perasaanku. Aku juga tak menunggu balasanmu karena memang tak ada balas yang kuharapkan. Aku tak pernah mengharap balas, orang-orang menerjemahkan itu sebagai sayang. Tapi sayang menurutmu memiliki arti berbeda yang tak pernah kupahami dan opini kita tak pernah bertemu, tiada pernah menyatu. Kau mungkin tidak akan pernah membalasnya, atau kau bisa saja menganggapnya lucu. Tapi membiarkan kita berdua tenggelam dalam kediaman yang membisukan isi hati masing-masing adalah lebih lucu lagi menurutku. Berdiri tegak di atas ego masing-masing atas nama kuat atau entah tidak peduli. Bisa atau tidaknya, sebenarnya tentu tidak. Aku hanya menebaknya begitu, meski sikapmu menunjukkan kau tak pernah. Tapi aku selalu membuat kemungkinan yang tidak akan menyakitimu. Kembali ke topik. Aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan. Tapi kenyataan berkata lain, semata karena aku tidak bisa berjuang sendiri. Semua harusnya dilakukan bersama-sama. Tidak melulu sebelah pihak, sebelah tangan.
Aku ingin tahu apa yang kau rasa, meski selalu kau tutupi. Jangankan mengutarakan, menampakkannya saja kau tidak. Aku sudah tak bisa lagi mengelak atas rindu yang melulu bertalu di dada dan tak pernah bisa diam. Aku juga tidak mau terus menerus di bawah pengaruh kesedihan yang tidak berujung. Aku hanya ingin melakukan semuanya lebih baik lagi dan membuktikan bahwa aku bisa lebih baik lagi. Meskipun demikian kau tetap tak berujar. Menepis nyata dan menganggap semuanya baik-baik saja. Sadar atau tidak, sebetulnya kau sedang berlari, menghindar. Lalu baru terlihat siapa kau sebenarnya di saat sekarang ini. Kau yang sebenarnya. Namun apakah itu mengurangi kecintaanku padamu? Sialnya, tidak. Rasa ini malah tumbuh makin besar dan menyerang alam pikirku berbondong-bondong. 
Cinta dan sayangku tak terhitung besarnya. Yang tak kupahami, mengapa itu tak pernah cukup untukmu? Di luar itu, apa yang kulakukan selalu tak nampak, tertutup, dan itu cukup untuk membuatku bungkam. Apa yang kulakukan tak lebih dari lalu dan terlupakan. Tertimpa sejuta pemberiamu yang tak pernah kuminta. Aku sudah mengingatkan, jangan pernah memberi banyak karena aku tak akan bisa membalasnya. Lantas sekarang, yang kau ingat ya melulu itu. Aku tak lebih dari seseorang yang mengecewakan pilihanmu dengan sebuah fakta yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Aku tak lebih dari sebuah kesalahan besar yang tak termaafkan dan tidak dapat diterima lagi karena bisa saja terulang. Ah, you always are.
Mungkin di mulut tidak, karena aku tahu bibirmu tak pernah melukai. Tapi ada maksud yang dengan jelas dapat kubaca. Ada salah yang kuperbuat bagimu, aku salah di matamu. Semua terjadi akibat salahku, kau pergi karena salahku, orang-orang berasumsi akibat salahku, semuanya begitu. Semakin kau diam, semakin semua menjadi buruk. Dan semua akan tetap sama. Kau merasa semua menyalahkanmu, aku merasa semua menyalahkanku. Detik itu kau tahu kemudian berpikir, lebih baik semua tidak terjadi. Lebih baik semua baik-baik saja dan kembali seperti dulu.
“I’ve given you everything to make you happy. 
Hate me if it makes you become happier,”
Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s