Surat Tanpa Alamat

Di antara tumpukkan surat-surat itu kau terdiam. Memandangi satu per satu surat yang bukan gagal kau kirimkan, tapi memang tak pernah ada niat sedikit pun. Kau hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Surat-surat itu hanya membantumu membuat tenang, mengurangi beban di hatimu yang meradang, menyembuhkan perih yang sebetulnya tak akan pernah hilang. Kemudian kepada beberapa lembar foto yang ada. Jemari yang masih bisa merasakan lembut bibirnya, gelagar tawa terdengar dengan begitu khas di daun telingamu yang kini sepi, tangan yang terkait satu sama lain, yang menghapus tangis yang keluar dari mulutmu beberapa menit sebelumnya. Saat itu, ketika komit mempersatukan dua hati yang merasa sudah selesai berjalan saking jauhnya.
Kemudian kau salah. Ternyata dia adalah orang yang tidak pernah kau mengerti. Seperti kata Dee, dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kau reka dan kau cipta.
Sebagian darimu membencinya, saat hatinya berlabuh mundur, saat ia ingin kembali ke masa lalunya sebelum kau muncul. Masa lalunya adalah musuh terbesarmu. Hatinya adalah bagian tersulit untukmu kau pahami. Sampai sekarang kau hanya menebak-nebak sendiri dengan logika yang tak sampai, apakah disana dulu ada namamu dengan bagian begitu besar, ataukah memang tidak pernah ada sama sekali. Kemudian kau lebih membencinya, karena ia tepat melukai ruh dan jasadmu tanpa terkecuali. Dan rasa bersalah itu mungkin ada. Tapi itu itu tidak nampak dan tidak ada artinya. Itu hanya sebuah rasa. Menurutnya mungkin itu tidak penting. Sama dengan perasaanmu, baginya juga tidak penting. Kenangan itu melebur. Berbaur menjadi satu dengan perih yang ditinggalkannya. Lengkap dengan foto-foto, tiket bioskop, hadiah-hadiah pemberian, bahkan sebuah kecupan hangat yang pernah ditinggalkannya di dahi, saat terakhir kali kau melihatnya menatap kearahmu, namun setelah itu tidak lagi. Benda-benda itu sekarang sudah memiliki rumah barunya. Suatu tempat yang terjangkau dan akan kau kembalikan kepadanya lagi suatu saat nanti.
Sebagian lain darimu teramat mencintainya, mabuk, menggilainya dengan intens waktu tanpa jeda. Semangatmu di pagi hari tidak lebih dari pengharapan akan kedatangannya. Yang pada siang harinya kemudian disirami pemandangan baru yaitu fakta dan pembenaran bahwa ia sudah menjadi milik orang lain. Kemudian kau ragu untuk bersikukuh menganggapnya seperti versimu, idola hati, kekasih terbaik yang pernah ada, pria yang mengenalkanmu kepada arti cinta. Satu dari seribu. Satu-satunya lelaki yang berhasil mengangkatmu dengan amat membahagiakan ke nirwana, sekaligus menjembabkanmu langsung ke dasar bumi detik itu juga. Bersamanya kamu berani merajut mimpi yang tak pernah terpikir sebelumnya. Satu per satu mimpi indah yang terangkai menjadi rentetan kisah yang sekarang hanya menjadi sekadar mimpi belaka, bunga tidur di bawah bantalmu yang hampir basah setiap malamnya. Dan ternyata mimpi itu dihancurkan sendiri oleh sang raja. Lalu kau terlambat untuk tersadar bahwa mimpi-mimpi itu hanya mimpimu seorang, bukan kalian. Muncullah kata wajar menjadi jawabnya.
***
Kemudian kau berbicara sendiri…

Kamu takut, kata Dee lagi.
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dia takut.

Dia takut karena ingin jujur. Kejujuran menyudutkannya untuk mengetahui fakta tentang dirinya sendiri. Dia tidak pernah mau jujur, maka dia diam. Seringnya kau malah ikutan lupa cara berbicara. Kalian berdua mirip dua bagian magnet dengan kutub berbeda. Saling membutuhkan, namun menghadap ke arah yang seratus delapan puluh derajat berlawanan.

Kau dan dia sesekali bertemu, dengan bekal masing-masing dan inovasi baru demi memperbaharui taman yang kalian bangun sendiri. Dengan Pengorbanan yang kalian lakukan untuk bersama. Kalian mempertaruhkan apa yang dirasa benar, juga toleransi atas nama Cinta. Kemudian kalian menyerah di tempat yang sama. Kau terhenti karena tenagamu habis. Ia berjalan dan memperjuangkan tenaganya yang tersisa, untuk diberikan kepada yang lain. Terus berjalan, kemudian tidak pernah menoleh lagi .Di situlah kau menaruh tahta tertinggi tentang Ketulusan Cinta dalam hatimu. Kau bertaruh banyak atas perjuangan ini. Dan semua yang kau lakukan adalah benar, mengikuti kata hati tidaklah pernah salah.

Matamu memejam, mempermudah tetes demi tetes mengalir menelusuri pipimu yang menirus. Dirimu diam, otakmu bekerja, memori terus saja berputar mundur. Mengenang setiap inci perjalanan yang pernah kau lalui bersamanya. Kau membiarkan alam sadarmu berlari sesukanya. Mengenang setiap inci perjalanan yang tak ada cacat. Sepenuh hatimu percaya bahwa setetes air matamu pun akan terhitung, tak ada yang namanya sia-sia, segalanya pasti bermuara meski pada khayangan tak terjangkau. Tapi kau selalu percaya dunia itu pasti ada di atas sana dan ia terus mengawasimu tanpa luput.
Lagi, kau terlambat tersadar, perpisahan ini hanya untukmu.
***
Kuantitas memang alasan utama dan menjadi masalah yang begitu berarti atas setiap perpisahan yang terjadi. Namun kualitas adalah yang membuat penyesalan itu menumpuk lebih banyak lagi.
Sudah sebulan ini kau merasakan kakimu lumpuh, heparmu perih, dan otakmu mengeras atau mungkin terlalu penuh dengan hal yang itu-itu saja. Kau mengamati dirimu sendiri di cermin, yang memberikan refleksi jelas tentang seorang wanita dengan tatapan kosong yang nyata namun dipertanyakan eksistensi hatinya.
Itu aku.
***
Aku membelai lembut bagian pipimu di cermin. Aku berbicara pada diriku sendiri. Kepada  kamu bayanganku, kepada cermin, kepada surat-surat yang berantak tak terkirim.
Betapa sempurna surat-surat ini mewakili perasaanku, yang tak pernah sampai kepadamu, yang tak pernah bisa terucap, yang tidak sempat dan mau kau dengar. 
Ribuan kata-kata di atas adalah intisari dari kesemua surat yang kutuliskan padamu. Kamu adalah aku. Dia adalah kamu. Kalian adalah kita, yang ternyata tidak diijinkan bersatu lebih lama lagi. Yang ternyata hanya aku di dalam maknanya.
“When love turns away, now, I don’t follow it. 
I sit and suffer,
unprotesting, 
until I feel the tread of another step.”

Sylvia Ashton-Warner

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s