Lelah

Manusia terlahir dengan status makhluk sosial, yang pada dasarnya tidak bisa sendiri, membutuhkan orang lain, mungkin sering sendiri namun suatu saat tetap membutuhkan orang lain. Namun sesosial-sosialnya manusia, bukankah mereka pernah sendiri? Bahkan terkadang tidak ada orang di saat mereka membutuhkan seseorang? Itukah manusiawi? Apa semua orang pernah atau pasti merasakan hal itu? Suatu saat, seseorang merasa sendiri, meski ada keluarganya, meski memiliki banyak teman, bahkan meski ia memiliki Tuhan. Pantaskah bila ia merasakan itu? 
Katanya Tuhan tidak akan memberikan masalah diluar batas kemampuan hambaNya. Katanya manusia pasti sanggup menyelesaikan semua masalah yang dipunya. Tapi apa mereka tak boleh merasa lelah atau bahkan kelelahan? Bolehkah ia merasa lelah atas hidupnya? Apa yang dimiliki, memang disyukuri. Tapi apakah merasa lelah dan jenuh adalah bentuk dari tidak mensyukuri pemberian Tuhan? Kalau begitu, ajari aku untuk menjadi manusia yang terus bersyukur, dengan merasa tidak lelah atas hidup ini..
Kalau semangat hidup, harus dicari kemana? Ada alasan yang kau punya untuk melanjutkan hidup dan mau bangun esok hari. Untuk penasaran melihat warna langit di hari esok, apakah ia berhasil menemukan pelangi, apalagi teman baru yang akan ditemuinya. Sudah tidak ada lagi. Alasan apa lagi yang harus kupertahankan agar aku mau bertahan untuk tetap hidup? Apa lagi? Maka aku sekarang punya doa baru, satu alasan yang aku miliki untuk mau bertemu esok.

Warna Jingga

Barusan kudengar tawamu
Berbalik
Aku melihat sebuah senyum
Di tengah jalan berbatu
Aku bahkan bisa melihat jejak kakimu yang kokoh
Lihat saja lagi
Isi hatiku berwarna jingga saat ini
Tidak ada yang menyana
Otak penuh tanya
Bukan aku yang meminta
Aku membuka mata
Yang aku lihat selalu sama
Bayangmu dimana-mana
Berdiri tegap dengan tangan terbuka
Dekapmu adalah surga

Jodoh (Part III)

“Elena…” panggilmu ragu setelah batal memakai seatbelt. Kau menatapku tajam namun lembut, tatapan yang tak bisa kuterjemahkan. Mesin mobil masih mati, tidak ada tanda-tanda akan melaju pada detik-detik ini.
“Apa?” aku mengerti, ada sesuatu yang ingin kau katakan. Mungkin hanya sepatah kata maaf. Yang secara jelas tidak akan mengobati luka yang selama tujuh tahun ini mengaga dan kubiarkan kering dengan sendirinya. Wajahmu serius, namun alismu yang turun menggambarkan dengan jelas ada sedih yang kau rasa.
“Aku bercerai dengan Marina,”
“Aku tahu, tadi kamu udah bilang,” kamu terdiam lagi. Sesekali menggigit bibir seperti ingin memuntahkan sesuatu yang tertahan. Hening tercipta. Sesungguhnya aku benci berada lama-lama dalam situasi aneh seperti ini. Apalagi bersama orang yang dahulu pernah amat kubenci.
“Aku bercerai dengannya tiga tahun lalu, karena selama dua tahun menikah…nyatanya aku tidak bisa melupakanmu,”
Nafasku tercekat. Tenggorokku terasa panas. Wajahku pias dan tidak ada ekspresi selain memperlihatkan raut mematung. Ini lelucon apa lagi? Tubuhku kaku dan hatiku mencelos. Aku tidak bisa memahami, bagaimana pria ini dengan mudahnya pergi tujuh tahun lalu dan sekarang datang lagi juga dengan mudahnya. Alam bawah sadarku berputar mundur secepat kilat menuju perisitiwa selama tujuh tahun lalu. Ribuan tetes air mata, kehadiran orang-orang yang membantuku menguatkan diri, keadaan frustasi yang mempengaruhi kinerjaku menjadi buruk sehingga aku sempat dipecat dari kantor lama, perjuanganku untuk melupakanmu dan memaafkan diriku sendiri karena telah mencintaimu sebegitu dalamnya.
“Aku mencintai Marina ternyata tidak lebih dari sekedar luapan emosi. Emosi karena waktu itu kau tidak ada di saat aku butuh. Emosi untuk merasa dihargai keberadaannya oleh seseorang. Emosi untuk memiliki pendamping sesuai dengan yang kuinginkan,”
Wajahmu memelas, dan aku benci tatapan itu. Kau mengungkit-ungkit kesalahanku, terus, bahkan sejak tujuh tahun lalu, yang menjadi alasan yang meaksaku agar aku mau melepaskanmu demi Marina.
“Kamu nggak pernah benar-benar mencintai aku, Rico. Karena kamu hanya menginginkan wanita sesuai dengan tingkat kepuasan ukuranmu. Kamu nggak penrah mencintai diriku yang sebenarnya. Kamu hanya butuh wanita yang bisa memuaskanmu, itu saja,”
Aku melakukan pembelaan. Tangisku tertahan di tenggorok. Rasa kesal yang bertahun-tahun kusimpan rapi kini terkubur dan meledak berapi-api. 
“Itu dia salahku, Marina. Itu dia. Aku tidak pernah menghargai wanita, menghargai kamu,” nada bicara Rico merendah. Bibirku kering, otakku terasa kosong. Ada ketulusan yang terpancar dari tatapannya. Aku benci harus merasa sedih saat mendegar perkataannya barusan. Aku benci mengapa harus mendengarnya sekarang. Aku benci untuk mengakui bahwa masih ada cinta yang tersisa di hati kecilku untuk Rico. Cinta yang tidak disudahi dan ditinggalkan begitu saja. Aku tidak tahu lagi harus apa. Hatiku mengkerut dan menyiksa. Tetapi ia juga tidak menyesali kebenciannya yang teramat sangat kepada Rico waktu dulu. Ia hanya membenci, mengapa ia harus merasakan perih ini lagi.
Air menetes di pipiku. Hangat. Kalau saja parkiran itu banyak penerangan, aku bisa semakin yakin kalau matamu juga tergenang. Kemudian, kamu mengusap pipiku yang basah. Jarimu dengan lembut menyapunya. Kemudian ibu jari itu turun ke sudut bibir dan berhenti disana. Aku tidak berdaya, dan mengapa dengan bodohnya aku pasrah saja saat kau mengangkat daguku dengan telunjukmu yang dingin. Kamu mengecupku perlahan dan lembut, tapi ada halilintar yang panas sedang melonca-loncat di hatiku. Akal sehatku berkata ini salah, tapi hati kecilku membiarkannya. Biar rindu selama tujuh tahun itu terbalaskan. Pikiran itu hanya menimbulkan emosi yang kuat. Membuat aku mengulum bibirmu secara ganas. Kamu pasrah, terima saja. Malah membelai tanganku yang saat ini meremas rambut ikalmu di bagian bawah kepala. Sekali lagi, aku mencium dengan menuntut. Kau membiarkannya, membiarkan aku meluapan emosiku yang kutahan selama tujuh tahun ini. Egoku tidak boleh dibiarkan. Semenit kemudian emosi itu turun, bersamaan dengan tubuhku yang menarik diri darimu. Terakhir, kau mengecupku lagi dengan lembut dan cukup lama. Aku bisa merasakan ketulusannya.Dan aku benci merasakan itu sebagai sebuah kedamaian.
“Maaf, Rico. Terlambat. Aku mencintai keluargaku. Aku mencintai suami dan anakku,”
Kalimat itu mungkin menjadi kalimat terakhir yang kau dengar dariku. Kau tidak perlu lagi mencariku, aku bukan jodohmu.


“Real love stories never have endings
Richard Bach

Jodoh (Part II)

“Kamu jauh lebih cantik sekarang,”

Aku tersedak.

“Terima kasih,” lalu meraih ponsel dan tidak melakukan apa-apa dengannya, kikuk. Kemudian Waitress datang membawa menu. Aku menurut saja dan ternyata kau masih hapal menu favoritku. Impressive.

“Kamu sudah lama bekerja di hotel itu?” tanya kamu setelah memesan menu pada Waitress.
“Empat tahun. Aku cuma konsultan interior disana,” jawabku seadanya, sambil meraih tissu di sebelah vas kecil ramping yang sebetulnya tidak kubutuhkan sama sekali.
“Apa kabar keluargamu?” tanyamu lagi. Berusaha menghampus kecanggungan itu. Mencari topik pembicaraan agar suasan menghangat dan hatiku melunak, mungkin.
“Baik. Suamiku sedang dinas ke Austria, anakku masih balita, usia tiga tahun,” aku tahu jawabanku ini sedikit keterlaluan. Aku paham sebenarnya yang kau tanyakan adalah kabar ayah dan ibu. Tapi sekarang aku sudah punya keluarga baru dan kuingin kau tahu itu.

“Pria yang beruntung,” aku tak paham apa maksudmu mengatakan itu. Di satu sisi, itu terdengar seperti sebuah sindiran, tapi kau mengatakannya pelan sekali, bahkan tanpa ingin aku mendengarnya.

“Kamu sendiri bagaimana?” akhirnya aku bertanya, berusaha memperbaiki sikapku yang mungkin saja itu menyakiti perasaanmu.

“Aku belum menikah,” matamu tak memandangku saat kau mengatakannya. Cara bicaramu juga menyimpan kesedihan dan ragu. Apa maksudmu? Apa yang sedang kau pikirkan? Aku ingin tahu. Aku ingin kau menjelaskan segalanya, yang telah terjadi selama tujuh tahun ini. Aku terdiam, menarik kembali keinginanku. Tidak ada gunanya aku mendegar semua penjelasanmu. Tidak akan ada kondisi yang berubah.
“Marina?” Dulu kau pergi meninggalkanku demi wanita itu. Wanita yang menurutku tak bisa ku lupakan dan lebih kau cintai. Wanita yang berhasil menyingkirikanku darimu. Aku memang tidak pernah menyukainya, tetapi itu murni karena masalah pekerjaan yang pernah kami alami bersama. Taoi dia tidak pernah menyukaiku karena kamu. Karena kamu pernah melirik padaku.
Kupikir, wajar saja kalau aku dan Marina tidak pernah akrab. Apalagi kalau aku sampai membencinya. Tapi, kalau ternyata ia adalah jodohmu, aku bisa apa. Takdir itu tidak ada yang tahu, bahkan terkadang tidak masuk akal. Apalagi masalah percintaan, sejak kapan cinta menjadi bagian dari akal sehat? Lewat pemikiran itu, aku bisa menerima kenyataan pada akhirnya. Aku tumbuh dewasa, berkat pengalaman tak menyenangkan itu. Kau berhutang banyak padaku, berhutang perasaan. Tapi kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku bisa terima. Pemikiranku selanjutnya hingga akhirnya bisa melanjutkan hidup adalah, kalau kau bisa bahagia, mengapa aku tidak?
“Kami menikah. Kemudian bercerai. Aku ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya,” mendengar kalimat itu kepalaku terasa seperti dipukul kayu besar. Semudah itu kau berkata tentang cinta. Lalu mengapa bisa kau meninggalkanku yang saat itu sangat mencintaimu hanya untuk wanita itu? wanita yang ternyata tak pernah benar-benar kau cintai. Lalu aku kau anggap apa?
Aku selalu berusaha untuk rela melepaskanmu ke dalam pelukan Marina. Siapa tahu, kamu memang bukan jodohku. Siapa tahu, Marina lebih bisa membahagiakanmu daripada aku. Kau playboy, aku tahu. Setelah Marina mungkin bisa saja ada beberapa wanita yang pernah kau singgahi hatinya. Atau bahkan kau permainkan. Atau mungkin kalian bercerai karena kau mendapati wanita lain? Selalu ada kemungkinan untuk pria brengsek sepertimu, Rico. Kamu selalu merasa punya kuasa atas semua wanita.
“Maaf, aku nggak tahu,” menurutmu apa lagi yang bisa kukatakan selain itu. Kulirik matamu. Seketika wajahmu dirundung pilu. Banyak hal yang tak kumengerti dari tatapan sendu itu. Terlihat gamang, kosong. Apa yang kau khawatirkan, Rico?
Selanjutnya, tidak ada percakapan yang tercipta. Kau diam, aku diam. Masing-masing kita tidak ingin membuat perasaan masing-masing terluka lebih jauh lagi. Pertemua ini hanya mengungkit masa lalu yang pahit.
***



to be continued….

Jodoh (Part I)

Tujuh tahun bukanlah waktu yang mudah untuk melupakanmu. Sebetulnya, tidak sesulit itu, namun melupakan apa yang kau perbuat, memaafkan perbuatanmu, dan menerima sisa yang kau tinggalkan adalah yang paling sulit untuk dilakukan meski sudah bertahun-tahun kucoba. Time heals. Akhirnya kesemua itu lenyap dengan sendirinya. Dan aku tidak pernah memikirkan datangnya hari ini, bertemu denganmu bukanlah hal yang menjadi harapanku selanjutnya. Aku tidak ingin melupakanmu, tapi mengingatmu apa gunanya? Karena jika kulakukan yang ada hanya perih terasa. Selebihnya tetap sama, keadaan tidak berubah.
Sapaanmu yang lembut terdengar seperti petir di telingaku.

“Rico?” aku termangu beberapa menit. Menatapmu dengan mata terbelalak, berusaha memperhatikan dengan seksama apakah itu benar kamu. Sayangnya, tidak ada yang berubah pada dirimu. Selain tubuhmu yang mengurus dan lebih tegap. Ya, dulu badanmu gempal, sejujurnya.

It’s been so long,” ucapnya sambil mendekat, nyaris tidak terdengar, seperti gumaman. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kehadiranmu yang beigtu mendadak membuat otakku lumpuh dan bisa-bisanya lidahku yang biasa cerewet ini menjadi kelu. Aku terdiam, pelan-pelan menarik tangan dari bebungaan pada vas yang sedang kutata.
“Bagaimana kamu bisa mengenali aku?”

Aku tidak mendengar kalau sebelumnya kau sempat memanggilku beberapa kali untuk memaastikan bahwa ini adalah diriku. Sekarang aku banyak berubah dan kupastikan kau tidak mungkin mengenaliku sebegitu mudahnya.

“Aku sudah memperhatikanmu sejak kemarin, lalu aku bertanya pada pegawai di lobi itu. Ternyata memang benar kamu, Elena,”

Pantas saja. Sekarang semua sedang memandang ke arahku. Ke arah kami. Dan itu membuatku cukup tidak nyaman berlama-lama dengan Rico di ruang tamu ini.

“Bisa minta waktu sebentar?” tanyamu kemudian saat menyadari bahwa lobi hotel saat itu cukup ramai. Terlebih lagi ada dua pegawai yang sejak tadi memperhatikan kami. Reaksi yang ditimbulkan aku dan kamu yang menarik perhatian mereka. Kecanggungan yang tercipta di antara kita. Seperti ada magnet bertolak belakang yang terpental keras dan menempel, mempengaruhi kutub dan menarik sekelilingnya. 

Aku menurut, mengikuti langkahmu senatural mungkin. Pikiranku kacau, tidak tahu harus bagaimana dan bersikap seperti apa di hadapanmu nanti.
“Pakai mobilku saja. Silahkan naik,” tiba-tiba kamu berhenti di depan salah satu mobil yang tidak jauh di parkiran. Aku memperhatikan. BMW series berwarna hitam elegan. Kamu tidka berubah, senang hidup dalam kemewahan.
“Ada apa, Elena?” suara beratmu mengejutkanku dengan penuh kelembutan. Aku tersentak. Kudapati kemudian kamu tersenyum kalem lalu membukakanku pintu di sebelah kemudi.
“Nggak ada apa-apa kok,”

Menit-menit selanjutnya hanya ada hampa yang penuh kecanggungan selama di perjalanan.

***


to be continued…

Biasa Aja

Tidak ada yang tahu, sampai akhirnya sepasang mata itu bertemu. Setiap mereka membawa dunianya masing-masing. Berdiri tegap dengan setiap latar belakang yang dimilikinya. Diantara mereka ada dia, yang berharap dapat masuk ke dunia milik seorang lainnya. Namanya Aris. Bukan hanya nama lengkapnya yang ia hapal, Aris Prawira tetapi banyak hal lainnya. Kesukaannya, kegiatan favoritnya, bahkan masa lalunya selagi SMA dulu. Ia sudah tahu semuanya. 
Terus menurut lo gimana?tanpa ba-bi-bu lagi Cahya langsung bertanya pendapat Sita, di pertemuan pertamanya dengan teman chatting-nya selama ini.
“Apa?”
“Aris. Gimana pendapat lo tentang dia?”
“Biasa aja,” tanpa banyak pikir Sita menjawab pertanyaan itu.
Cahya shock mendengar jawaban itu. Tidak mungkin Sita mengabaikan lelaki macam Aris. Ia yakin sekali, baru kemarin Sita memuja lelaki itu.
“Ya gitu. Sama kayak yang selama ini ada di mimpi gue,” jawaban Sita itu membuat Cahya bingung. Kalimat itu terdengar menggantung, apalagi setelah dilihatnya ada sebuah senyum lebar terpasang di wajah Sita. Rupanya, sahabatnya sedang jatuh cinta.
“Falling in love.  

Who can explain it? Who can tell you why?

Some may give you reasons, 

but wise people nerver try,”

Seharusnya

….di  tengah waktu mengerasnya hatiku


Kepada kamu yang seharusnya pergi,

Kemana saja selama ini? Tidak. Maksudku, bagaimana bisa kau berbuat segalanya, sebegini jahatnya padaku? Apakah tak cukup semua pengorbanan yang kulakukan untuk melupakanmu? Ya, aku melupakanmu sekeras itu. Bayang-bayangmu.

Ketika aku sudah tenang, kau datang lagi. Dengan sepatah kata maaf yang seperti tulus dari dasar hati. Dasar aku. Bodohnya mau saja terus jatuh ke dalam jebakanmu. Benar saja, beberapa saat setelah itu kau membuatku terjatuh lagi. Aku yang tadinya di atas langit, kau jembabkan lagi ke dasar tanah. Kamu menarik ulur hatiku, kamu tak henti-hentinya melempar dan membanting perasaanku. Kumohon cukup dan pergi saja dengan kebahagiaanmu.

Bahkan untuk mengharap kedatanganmu saja aku sudah tidak lagi. Aku sudah benar-benar ingin melupakanmu. Kamu dengan teganya selalu memaksaku menangis. Menangisi kamu? Apa yang kau bayangkan sampai berbuat sejahat itu? apa yang kau punya sampai kau bisa melakukan hal setega itu? aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Tapi aku selalu menyesal pernah menjadikanmu segalanya, dulu. Kau ternyata palsu.

Kau mau membuat hatiku jadi apa lagi? kau mau merusak hidupku jadi seperti apa lagi? Coba aku tanya, apa kau yakin, orang-orang sekarang membencimu karena aku? Coba sekali-kali gunakan otak dan perasaanmu secara bersamaan. Setidaknya, jika kau hanya bisa menggunakan salah satu, gunakanlah secara benar dan maksimal. Jangan meggunakannya secara terbalik.

Pergi saja, sejauh mungkin. Aku ingin bahagia walau tanpamu. Aku ingin bahagia sepertimu.
“My heart was taken by you
 and broken by you”

Penyembuh

…di balik asap rindu yang mengepul hitam

Kepada kamu masa depanku.

Aku yakin bahwa perasaan bahagia yang dulu-dulu kumiliki tak pernah sehebat ini. Rasa ingin tahu yang begitu hebat dan besarnya sampai tak bisa tertutupi lagi. Bahkan aku rela melakukan hal bodoh apapun demi bertemu denganmu, atau minimal berjumpa sapa denganmu. Kamu harus tahu, aku dulu tidak segila ini. Dan bukankah dalam mencinta, setiap orang bisa menjadi gila?
Aku memimpikanmu bukan hanya di waktu malam, tapi juga di siang hari, bahkan saat mataku terbuka lebar dan tidak sedang tertidur. Dengan tulus dan suka cita kau mengangkatku bangun di atas kaki-kaki lumpuh itu. Kemudian kau utarakan semua kedewasaanku yang selalu saja terdengar damai. Saat itu aku mengerti dan bisa dengan sempurna menerjemahkan kata nyaman. Kamu menghidupkanku lagi. Kamu membuatku hidup lebih baik lagi. 
Kau memang bukan pencipta romansa, tapi kau penyembuh bagi semua luka yang ada.
Aku memang berbeda, tetapi tidak berubah menjadi orang lain. Aku yakin ini diriku, masih sama dengan yang dulu. Sebelum atau sesudah ada kamu. Tapi tak dapat kupungkiri bahwa ada yang berbeda dan tak kumengerti itu apa. Dan itu bukanlah suatu kesalahan. Malah keindahan dan perilaku paling mulia yang pernah kulakukan; meyakini cinta sesingkat ini.
Aku tak boleh menuntut, namun sejujurnya menunggu kehadiranmu adalah membuat penasaranku semakin liar. Sabar atau tidak, ya tentu tidak. Oleh karena itu, pulanglah karena lukaku yang masih perih hampir saja terbuka.

“Don’t be afraid 
of losing the one you love,
 because believe it or not 
someone better is going to come into your life”