Jodoh (Part II)

“Kamu jauh lebih cantik sekarang,”

Aku tersedak.

“Terima kasih,” lalu meraih ponsel dan tidak melakukan apa-apa dengannya, kikuk. Kemudian Waitress datang membawa menu. Aku menurut saja dan ternyata kau masih hapal menu favoritku. Impressive.

“Kamu sudah lama bekerja di hotel itu?” tanya kamu setelah memesan menu pada Waitress.
“Empat tahun. Aku cuma konsultan interior disana,” jawabku seadanya, sambil meraih tissu di sebelah vas kecil ramping yang sebetulnya tidak kubutuhkan sama sekali.
“Apa kabar keluargamu?” tanyamu lagi. Berusaha menghampus kecanggungan itu. Mencari topik pembicaraan agar suasan menghangat dan hatiku melunak, mungkin.
“Baik. Suamiku sedang dinas ke Austria, anakku masih balita, usia tiga tahun,” aku tahu jawabanku ini sedikit keterlaluan. Aku paham sebenarnya yang kau tanyakan adalah kabar ayah dan ibu. Tapi sekarang aku sudah punya keluarga baru dan kuingin kau tahu itu.

“Pria yang beruntung,” aku tak paham apa maksudmu mengatakan itu. Di satu sisi, itu terdengar seperti sebuah sindiran, tapi kau mengatakannya pelan sekali, bahkan tanpa ingin aku mendengarnya.

“Kamu sendiri bagaimana?” akhirnya aku bertanya, berusaha memperbaiki sikapku yang mungkin saja itu menyakiti perasaanmu.

“Aku belum menikah,” matamu tak memandangku saat kau mengatakannya. Cara bicaramu juga menyimpan kesedihan dan ragu. Apa maksudmu? Apa yang sedang kau pikirkan? Aku ingin tahu. Aku ingin kau menjelaskan segalanya, yang telah terjadi selama tujuh tahun ini. Aku terdiam, menarik kembali keinginanku. Tidak ada gunanya aku mendegar semua penjelasanmu. Tidak akan ada kondisi yang berubah.
“Marina?” Dulu kau pergi meninggalkanku demi wanita itu. Wanita yang menurutku tak bisa ku lupakan dan lebih kau cintai. Wanita yang berhasil menyingkirikanku darimu. Aku memang tidak pernah menyukainya, tetapi itu murni karena masalah pekerjaan yang pernah kami alami bersama. Taoi dia tidak pernah menyukaiku karena kamu. Karena kamu pernah melirik padaku.
Kupikir, wajar saja kalau aku dan Marina tidak pernah akrab. Apalagi kalau aku sampai membencinya. Tapi, kalau ternyata ia adalah jodohmu, aku bisa apa. Takdir itu tidak ada yang tahu, bahkan terkadang tidak masuk akal. Apalagi masalah percintaan, sejak kapan cinta menjadi bagian dari akal sehat? Lewat pemikiran itu, aku bisa menerima kenyataan pada akhirnya. Aku tumbuh dewasa, berkat pengalaman tak menyenangkan itu. Kau berhutang banyak padaku, berhutang perasaan. Tapi kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku bisa terima. Pemikiranku selanjutnya hingga akhirnya bisa melanjutkan hidup adalah, kalau kau bisa bahagia, mengapa aku tidak?
“Kami menikah. Kemudian bercerai. Aku ternyata tidak pernah benar-benar mencintainya,” mendengar kalimat itu kepalaku terasa seperti dipukul kayu besar. Semudah itu kau berkata tentang cinta. Lalu mengapa bisa kau meninggalkanku yang saat itu sangat mencintaimu hanya untuk wanita itu? wanita yang ternyata tak pernah benar-benar kau cintai. Lalu aku kau anggap apa?
Aku selalu berusaha untuk rela melepaskanmu ke dalam pelukan Marina. Siapa tahu, kamu memang bukan jodohku. Siapa tahu, Marina lebih bisa membahagiakanmu daripada aku. Kau playboy, aku tahu. Setelah Marina mungkin bisa saja ada beberapa wanita yang pernah kau singgahi hatinya. Atau bahkan kau permainkan. Atau mungkin kalian bercerai karena kau mendapati wanita lain? Selalu ada kemungkinan untuk pria brengsek sepertimu, Rico. Kamu selalu merasa punya kuasa atas semua wanita.
“Maaf, aku nggak tahu,” menurutmu apa lagi yang bisa kukatakan selain itu. Kulirik matamu. Seketika wajahmu dirundung pilu. Banyak hal yang tak kumengerti dari tatapan sendu itu. Terlihat gamang, kosong. Apa yang kau khawatirkan, Rico?
Selanjutnya, tidak ada percakapan yang tercipta. Kau diam, aku diam. Masing-masing kita tidak ingin membuat perasaan masing-masing terluka lebih jauh lagi. Pertemua ini hanya mengungkit masa lalu yang pahit.
***



to be continued….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s