Belajar

dengan kehilangan, kita belajar menjaga
dengan disakiti, kita belajar menghargai perasaan orang lain
dengan dijahati, kita belajar menjadi lebih baik lagi
dengan dibohongi, kita belajar menjadi lebih jujur
dengan ditinggalkan, kita belajar menjadi mandiri
dengan menerima, kita akan memahami ikhlas
dengan melepas, kita akan jadi dewasa
dengan memaafkan, kita akan menghindari salah
dengan memberi, kita akan mendapat lebih
dengan melupakan salah orang lain, kita akan terus mengingat kebaikannya
dengan merasa sakit hati, kau akan akan menghargai betapa indahnya makna cinta

Kamu Hebat

…di saat aku menutup pesan masuk di inbox telepon genggam
Kepada kamu yang merasa paling hebat,
Aku ucapkan selamat. Kamu tak hanya jago membuat orang terhanyut, tapi juga berhasil mengarang cerita dengan baik dan hasilnya mengenaskan. Berapa juta orang yang kau kira terjembab dalam kisah karanganmu? Kalau mereka sekarang lantas membenciku, berarti kamu sudah mahir. Jadi aku ucapkan selamat.
Sekali dalam hidupmu, andai saja kau mau berpikir dewasa. Menjadi seorang pria sesungguhnya. Bukan anak laki-laki yang terjebak dalam tubuh yang besar. It doesn’t match. Jadilah pria yang dengan perilakumu dapat melindungi saudara perempuanmu, ibumu, bahkan calon anak dan istrimu. Tanpa kau sadari suatu saat nanti begitulah ketentuannya. 
Sama seperti bulan-bulan lalu. Aku terdiam disini dan tidak berbuat apapun sedang kau melakukan penghinaan besar-besaran secara halus kepadaku. Sesungguhnya itu membuatku mempertanyakan kejantananmu. Mengapa perilakumu lebih parah dari wanita? Kelakuanmu hanya untuk menyembunyikan nyalimu yang kuyakin amat kecil sebenarnya. Terserah kamu. Aku ikuti permainanmu. Hina aku sebanyak kau mau, orang akan tahu yang mana yang patut dipercaya.
Pesan yang kudapatkan tadi memang hanya satu kalimat, namun dengan baik menjelaskan semuanya. Aku akui kehebatanmu. Kau berani mengangkat dagu, membusung dada, berjalan lebar-lebar menghadapi dunia berkat cerita yang kau buat. Kau sehebat itu dalam mempermalukan dirimu sendiri.
Sesungguhnya, jauh di lubuk hatiku, aku tidak ingin peduli tentang kamu lagi. Sangat tidak peduli sejengkalpun. Tapi aku peduli pada perasaanku, yang terus kau porak-porandakan. Hatiku telah hancur sesuai keinginanmu, namun nyatanya kau masih saja terus mengincarnya menjadi target. Hingga aku sudah benar-benar lumpuh total dan tidak bisa melakukan perlawanan. Memang kau tidak akan tega kalau aku mati. Namun kamu akan jauh lebih senang kalau aku merasa menderita selama hidupku. Sementara kau bahagia? Oh ya, kamu kan egois, seperti ucapanmu yang berkali-kali waktu dulu. Saat kita bertengkar, sebagai tanda bahwa aku harus memaklumi sifatmu  yang satu itu. 
Aku tahu kau sudah bahagia. Aku kan sudah bilang bahwa aku tidak peduli. Tapi bisakah kau ijinkanku juga merasakan kebahagiaan milikku? Bolehkah aku lepas dari jeratmu yang menyakitkan dan hanya untuk kepuasanmu semata? Aku bilang aku tidak peduli. Malah kutunggu undangan yang datang darimu mungkin dua tahun lagi. Kalau saja aku diundang. Kepedean ya?
Katamu kau selalu menjaga hubungan baik dengan (ratusan) mantanmu? Kok aku nggak ngalamin ya? Kemarin aku berkenalan dengan salah satu mantanmu yang baru aku tahu. Dia banyak bercerita, katanya kamu juga tidak menjaga hubungan baik dengan dia? Bisakah kamu jelaskan kepada kami apa maksud sikapmu itu? Apa dengan menyakiti wanita tingkat kepercayaan dirimu menjadi berlipat ganda? Atau mungkin ketampananmu?

Aku telah memafkan semua perbuatanmu bahkan sampai yang belum kau lakukan. Apa? Kau tidak setuju?  Baiklah, kuubah. Aku yang selama ini bersalah dan berharap maaf darimu. Saranku, jika kau memang tidak mau meminta maaf karena merasa sama sekali tidak merasa punya salah ya….maafkan saja kami. Sehingga tidak perlu memiliki dosa jariyah, yang mengalir karena kami kau anggap musuh. Putus bukan berarti harus jadi musuh kan? Bukankah kamu yang mengajari itu padaku?
Sesungguhnya, bukan aku tidak peduli. Tapi aku mencoba ikhlas. Dan caramu menghina-hinaku adalah bukti ketidak-ikhlasanmu melepaskan aku 🙂
“Forgive all who have offended you,
 not for them, but for yourself,”
  Harriet Nelson

Tentang Kau

…di terik matahari yang menyesup ke hati



Kepada kamu di dalam cermin,

Apa? Apa yang kau harapkan dari pria yang tak pernah menghargai perasaanmu? Apa yang kau inginkan dari pria yang sama skeali tidak mengenal dirimu dan sebesar apa perih yang ditinggalkannya? Apa yang yang kamu damba dari pria yang tak tahu balas budi? Apa yang kamu mau dari pria yang hanya bisa merendahkan dan menghinamu di depan semua orang? Apa lagi pembalaan yang akan kau lakukan untuk pria yang besar mulut seperti itu?
Lukamu perlahan mulai mengering, tertutup, kembali rapat meski harus menjadi warna baru. Ia meninggalkan bekas, bukti agar suatu saat kau tersenyum saat sadar bahwa kau mampu melewati ini semua. Kau wanita yang tegar, bukankah selama tiga bulan ini kau telah membuktikannya? Meski dengan air mata yang sudah kau coba tetap tak sanggup kau hentikan. Kau kuat, dunia tahu.
Apapun itu ingatlah Tuhan. Jika kau merasa kehilangan, Ia akan menggantikannya. Jika kau merasa sakit, Ia akan menyembuhkannya. Jika kau merasa ikhlas, Ia akan membalasnya suatu saat nanti. Apa lagi yang kau harapkan dari seorang pria yang tak mau patah hati? Apa yang kau harapkan dari pria yang bisanya hanya menyakiti? Tuhan tahu, Tuhan mendegar, Tuhan yang memberikan cobaan ini padamu. Ia akan membalasnya. Ia akan membalasnya. Ia akan membalasnya dengan memberikan kebahagiaan untukmu. 
Janji Tuhan.
Hapus air matamu sekarang!!

Imam Abadi

.di akhir adzan yang baru saja selesai

Kepada kamu di antara Ayat yang dijanjikan-Nya,
Aku bersegera lari ke kerumunan orang di musholah. Baru saja takbir pertamaa dimulai, surah wajib dilafadzkan, lalu air mataku terjatuh. Butir demi butir berubah menjadi aliran yang membasah. Menetes dengan dramatis ke atas sajadah saat aku berubah rukuk. Aku mencoba menahan tanisku yang terisak, agar tidak tergugu, agar Jamaah lain tidak terganggu dan menganggap aku kenapa. 
Tangis tanpa isakku baru saja berhenti di Alfatihah yang kedua. Dan aku mulai menyadari bahwa aku menangis tanpa diketahui sebabnya. Air mata tadi datangnya dari mana? Aku menenangkan hati sambil terus terfokus pada hubungan yang terjalin dengan-Nya, berusaha khusyuk. Tadi dadaku bergetar saat sang imam membacakan kalam Illahi. Tak ada suara yang lebih merdu dari seorang pemuda yang membacakan ayat suci. Di telingaku, yang terdengar adalah bacaanmu dengan tajwid dan nada yang sempurna. Kakiku lemas, mengingat bahwa betapa aku mendambakan solat berjamaah seperti ini sudah sejak lama. Ada ketertarikan antara aku dengan Agama yang seperti tidak sengaja dipisahkan. Dan aku tahu, cara untuk mendapatkannya kembali adalah dengan keberadaanmu. 
Kemarin sore hatiku luluh lantak. Banyak mimpi yang hancur seketika. Bukan semangat yang hilang, namun tenaga yang sudah habis. Kamu kemana saja, aku hanya ingin kamu pulang.
Untuk berapa lama aku termangu. Menatap jam dinding dan berharap waktu akan berputar extra cepat agar kita bisa segera bertemu. Tahukah kamu bahwa keberadaan bulan suci ini malah membuatku cemas? Di dapur saat aku menyiapkan sahur, aku terbayang ada kamu di sudut meja makan dan dengan bahagianya siap menyantap masakanku yang belum tentu enak, kamu yang akan terus mengajarkanku kebaikan dan amal ibadah yang banyak, kamu yang akan menjadi imam solatku dan kucium tangannya seusai salam. Aku merindukanmu sampai ke masa beberapa tahun lagi. Dan aku yakin, kamu adalah orang yang tepat.
Pagi hari setelah aku tertidur dengan tangis yang mengering, aku mendapatkan sebuah pesan darimu. Rupanya, ini semua adalah permainan Tuhan. Ada kesal yang memuncak akibat aku terlalu rindu. Aku rindu namun tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah aku berhak untuk marah karena kamu yang menyebabkan rindu itu? Aku tak pernah menuntut banyak. Keberadaanmu adalah separuh dari mimpiku yang ingin di sempurnakan. Setengah lagi? Adalah membentuk sebuah keluarga bersamamu. Menjadi makmum abadi dalam hidupmu. Semua pria adalah calon imam, tapi tidak kesemua dari mereka tahu bagaimana caranya memimpin solat. Dan aku tahu, kamu tidak diantaranya. Sesederhana itu cinta yang kuterjemahkan padamu. Sesederhana telapak tanganmu yang kukecup saat mau pergi, sesederhana kecupan di dahi yang kau tinggalkan sebelum pergi. Gambaran cinta kita bagiku sesederhana itu, Sayang.
Pulanglah,
tanpamu aku akan terus terbelenggu kelamnya masa lalu…
tanpamu tak akan utuh masa depanku…
Adinda

“Distance between hearts 
is not an obstacle….
rather a beautiful reminder of just how strong true love can be”
 Unknown
 

Sesuatu

Aku tak pernah paham kediamanmu. Matamu tak pernah mau menatap dan mengarah kepadaku. Ucapanmu sebisanya hanya kasar dan tak lebih dari meluaki perasaan. Kau kenapa, mungkin seharusnya aku bertanya begitu tapi kau tak kunjung buka mulut. Sampai kapan? pertanyaan itu muncul kemudian. Diluar itu semua, ada satu pertanyaan yang akhirnya terlintas di pikiran, aku salah apa?
Beberapa hari lalu hubungan kita baik-baik saja. Kita masih sarapan bersama, walau tak mesra. Malam ini kau kembali tidur di kamar tamu. Dan kita tidak pernah bertengkar baru-baru ini, atau aku yang lupa? 
Aku tak pernah bersalah padamu akhir-akhir ini.
“Sayang…” aku berusaha merajuk. Kutarik buku yang sedang kau baca sebelum kau tidur, kebiasaanmu yang aku kagumi. Kau tak berusaha merebut, malah melepas kacamata dan berbalik badan membelakangiku. Mencoba tertidur.. Aku sendirian.
Detik itu hatiku seperti tergores. Aku termangu dengan pikiran yang sekarang aku yakini. Ada sesuatu yang kau sembunyikan dan kau takut aku mengetahuinya.

Rindu Tanpa Batas Waktu

…di pusaran kerinduan di sudut Lombok

Kepada kamu ketika rindu itu menjadi buta,

Hari ini aku datang lagi, sesuai janji kita. Hampir setiap hari aku terpaku memandangi kalender, menghitung dengan tidak sabar, harus berapa lama lagi untuk tiba di tanggal ini. Semua angka di sebelum angka sembilan itu telah kucoret dengan tanda silang hingga angkanya tidak terlihat. Satu demi satu. Meski mungkin saja pada kenyatannya kamu disana sudah lupa. Setidaknya, aku telah menepati janjiku, padamu, pada para peri yang menjaga indahnya Air Terjun ini.
Semua hal disini adalah kesukaan kita. Masih segar dalam ingatanku tentang perkataanmu, bahwa Air Terjun Benang Kelambu adalah satu-satunya air terjun yang dapat menarik perhatianmu, yang menjadi kesukaanmu hingga kau membawaku kesini untuk turut menikmati keindahannya.  Kamu masih ingat kan? Tanah basah yang mengigit. Derai air yang turun dengan tenang, derasnya menentramkan. Aroma hujan yang selalu tercium meski langit cerah. Aku menarik napas lagi. Mencoba menghadirkan kembali bayanganmu yang tak habisnya kurindukan. Engkau tersenyum. Membawaku dengan berjingkat hati-hati karena sengaja tak menggunakan alas kaki dan meninggalkannya di jembatan tadi. Seperti biasa tidak ada kata yang terujar, kita hanya butuh sebuah senyum untuk menggambarkan begitulah sebuah kesempurnaan. Di saat itu masing-masing kita akan membatin, “Terimakasih, Tuhan” dan tidak ada lagi yang mampu dikatakan. 
Kebahagiaan kita sesederhana itu, Sayang. Sebilah tangan yang saling bertautan. Duduk bersisian tanpa berujar selama beberapa lamanya. Sampai salah satu dari kita tidak sengaja mengatakan sebuah ujaran saking indahnya Air Terjun yang ada di hadapan kita. Kemudian pembicaraan dimulai. Suaramu yang damai, tawa dan candamu yang renyah di telingaku. Aku menikmatinya, dengan seksama mendengarkan sambil sesekali tersenyum sebagai timbal-baliknya. Padahal andai kau bisa mendengar, detik itu aku sedang membatin, berkata pada diri dan Tuhan, tentang kamu. Bahwa tidak ada habisnya cinta yang kuhadiahkan untukmu setiap harinya. Rindu juga begitu. Rinduku kepadamu semakin mengakar di tiap detiknya. Saat kau dekat maupun jauh, aku selalu merindu.
Jalan kaki sejauh 1 kilometer demi sampai di Air Terjun Benang Kelambu ini adalah rekor terbesarku. Kehadiranmu menangguhkan ketidaksanggupanku. Dan bahkan, perjalanan menuju kesini adalah potongan kenangan yang juga tak bisa kulupakan. Kita menikmati setiap jengkal perjalanan ini. Hamparan persawahan dengan latar perbukitan dan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi, lalu memasuki hutan hijau yang menyegarkan mata, kicau burung di antara senandung lagu yang kita nyanyikan bersama, dan suara hewan-hewan, entah apa, yang saling bersahutan menciptakan sebuah harmoni yang tak bisa ditawar keindahannya. Suasana itu seringnya membuat lupa, membuatmu lupa tentang mobil yang kau tinggalkan di parkiran tanpa kunci stang yangs emula kau khawatirkan, membuat kita lupa tentang tujuan kita di atas sana yaitu Air Terjun ini yang mungkin saja masih sangat jauh sekali letaknya. Tak jarang aku mengaduh akibat sesuatu, baju yang tersangkut ranting, sendal yang tak sengaja terendam lumpur hingga mengenai kaki, apapun itu kau selalu siaga membantu meski terkadang pada awalnya kau tertawa melihat kebodohan yang terjadi padaku.

Kamu dan Air Terjun Benang Kelambu ini adalah satu kesatuan dalam memoriku yang paling mudah diingat. Dirimu sama indahnya dengan Air Terjun itu, memberi gemercik basah yang nakal dan menenangkan, 

aku masih memerhatikanmu, yang diam seraya memejamkan mata. Menghirup udara perlahan dengan  genggaman tangan yang masih terkait denganku. Imajiku berputar pada memori pertama kita mendatangi tempat sakral kita ini. Aku berujar padamu, dengan tidak bisa membedakan apakah itu sebuah pertanyaan atau seruan,”Menurutmu, kenapa Air Terjun ini dinamain Benang Kelambu?”. Kedua bola mataku membesar, dengan tersenyum dan tak sabar menunggu jawabanmu. Kamu membuka mata, menatapku lalu menggumam cukup lama, “Mungkin karena Air Terjun ini lain dengan yang lainnya. Suaranya nggak ribut bergemuruh, tapi tenang dan berderai, sampai bentuknya terlihat halus dan teratur, mirip jalinan benang kelambu.” Selalu saja kamu memberikan jawaban yang rasional. Aku mengangguk-angguk, lalu buru-buru menggeleng. “Salah! Bukan itu!” Seruku. Alismu bertaut tidak terima mendengar tanggapanku yang sok tahu. “Dinamakan Air Terjun Benang Kelambu, karena setiap pasangan yang datang kesini nantinya berjodoh sampai nikah! Ha..ha…” Mendengar candaanku, kamu tidak tertawa. Malah separuh tersenyum lalu diam. Awkward moment. Detik itu aku bingung, dan sekarang aku sudah mengerti.

Tiga bulan yang lalu kita berjanji akan datang kesini lagi sebagai rangka memperingati hubungan kita yang telah genap usianya. Kita juga berjanji untuk saling bertukar hadiah. Dan sekarang, ini, kubawakan sendal gunung yang kau impikan dan dulunya pernah kau tunjukkan di sebuah toko padaku. Tahukah, aku membelinya dengan gaji pertamaku, aku membelinya sehari setelah kita mengucapkan janji kita itu disini. Kubungkus dengan rapi, dengan kertas kado berwarna merah kesukaanmu, dengan ornamen pita yang merumbai dan sepucuk kartu kecil bertuliskan,“Happy for us! Always be here next to me, then i’ll call it LIFE :)”. Aku menyerahkan hadiah itu padamu dengan penuh sumringah. Kamu hanya diam memerhatikannya, bahkan tak mau menggapainya dari genggamanku. Kamu menggeleng perlahan dan tetap diam, tidak menyambut pemberianku dengan menyenangkan. “Ini hadiah yang sesuai perjanjian kita tiga bulan lalu! Sebentar, aku buka ya. Kamu pasti suka!” Aku membungkusnya dengan sepenuh hati, malah kini merobeknya dengan beringas saking tidak sabarnya. Setelah bungkusnya terlepas, aku menyodorkannya padamu. “Lihat! Ini sepatu gunung yang kau idam-idamkan sejak dulu!” Senyumku lebar, senyummu melengkung terbalik.”Kenapa?” Kau menggeleng, “Aku sudah memilikinya, dari dia.” Detik itu hatiku menciut, tubuhku menjadi kerdil, dan kebahagiaanku sekejap hancur. Aku paham, saat otakku menerjemahkan kata ‘dia’ menjadi ‘kekasih’. Aku diam, tidak ada kata yang tersisa selain tangis yang meraung-raung di dasar hati. Bayanganmu sekejap menghilang. Terhisap masa lalu yang tak ingin kuingat lagi dan terkenang sebagai luka yang perihnya tak kunjung hilang. Aku lupa, kau sudah kembali padanya. Aku lupa, kau sudah jadi milik dia seutuhnya. Aku lupa, waktuku sudah habis. Kemudian aku tertawa sendiri. Air mataku tetap saja tak mau berhenti turun, sebagai tanda rinduku yang tak akan pernah usai. 
“You may be out of my sight… 
but never out of my mind.. 
i miss you,”


Air Terjun Benang Kelambu, Lombok