Rindu Menakutkan

….di awal malam setelah itu

Kepada kamu yang berpamitan dengan senyum dipaksakan,

Malam memang gelap, tapi setidaknya cerah dengan cahaya gemintang yang menghiasi tiap sisi hitamnya. Dan malam ini tidak. Dunia masih berputar, waktu terus berjalan, selama itu aku tersiksa dengan rindu yang membabi-buta dan tak jua sampai padamu.
Pagi tidak lagi cerah, bara api yang pagi tadi menjalar di tubuhku tetiba lenyap, amarah merajalela menguasai pikir dan raga, tubuh yang menjadi terasa lelah, saat melihat makanan enak pun aku sama sekali tidak merasa tergoda. Semua berantakan. Merindukanmu membuatku uring-uringan.
Pandanganku tak fokus. Mataku berkunang-kunang dan memperparah keadaan. Pikiranku bercabang-cabang dengan ayal yang tak tentu. Tubuhku meradang, sendu dalam kegamangan dengan suhu badan yang tak stabil. Terus naik dan turun beriringan dengan khawatir tentang keberadaanmu. 
Aku tidak mendengar apapun, selain raungan dari dalam hati yang berkata rindu. Aku tak bisa menikmati lagu apapun, sedang otakku merefleksikan jutaan kalimat yang bermakna kerinduan. Katakan padaku, sekarang kau baik-baik saja. 
“You know you love someone when the mere thought of losing them brings you to tears





Sidang

Ruang itu semula cerah dan kini menjadi gelap akibat suasana yang mengelam. Bau aneh, seperti tak pernah tersorot matahari. Dimana-mana hanya kepedihan dan dendam. Hanya ada mereka berdua, duduk berhadapan dengan kata yang menggema setelah terucap.

“Jadi……apa maumu?”

“Maksudmu?”

“Apa yang kau inginkan?”

“Kebahagiaan,”

“Tidak. Selain itu,”

“…..”

“Apa maumu?”

“Aku mau dia mati,”

Sesuatu di Dahiku

“Bintangnya banyak,” tidak ada sahut darimu. Sikapmu diam, wajahmu menggambarkan ekspresi menunggu sekaligus salah tingkah.
“Lagi nggak musim hujan nih. So, kita jadi kan ke Jogja?” kamu tahu aku kemana aku akan membawa pembicaraan ini. Aku mengerti ada suatu hal yang ingin kau sampaikan dan itu bukanlah berita bagus untukku.
“Keke—“ aku sejak tadi memandang langit. Tapi kau tak berhentinya menatap ke arahku.
“Apa?”
“Kita nggak bisa ke Jogja,” aku mendengus lucu mendengar ucapanmu. Sudah kuduga sebelumnya.
“Kita udah rencanain ini berbulan-bulan lho. Dan trip ini adalah kado ulang tahun dari lo buat gue,” aku berusaha mengingatkan. Kamu diam, membuang nafas berat, dan menjambak rambut di pelipis berkali-kali.
“Iya gue minta maaf. Gue juga nggak mau ngebatalin janji. Lo kan tahu, nggak biasanya gue ngingkarin janji gue?”
“Emangnya lo mau kemana sih? Kenapa mendadak batal? Tiket kereta udah kita beli!” emosiku mulai naik. Sekali lagi, kamu membuang nafas terberat.
“Sintya ngajak gue ke acara keluarganya,” kali ini aku yang membuang nafas berat. Nama itu sudah cukup menjawab semuanya. Sintya pasti sengaja menari-cari alasan agar kamu membatalkan trip kita, andai saja kau mau sedikit lebih pintar.
Aku tahu kau menatapku dalam-dalam. Sampai pada akhirnya kau menarik tanganku dan aku berusaha tetap menahan pandang ke atas langit. Semata untuk menahan tangis yang mengembang. Lalu dengan mengejutkan, kau melakukan sesuatu. Kemudian kita tidak berbicara apapun di sepanjang perjalanan pulang. Aku beku, tingkahmu lebih salah. Perjalanan ke rumahku menghabiskan waktu cukup lama. Namun selama itu aku terus memikirkan, apa arti kecupan yang kau tinggalkan di dahiku tadi malam.
What is love???
In math a problem,
In history a war,
In chemistry a reaction,
And in drawing a heart.”

Suara Hati

…di tepat pertengahan malam hari
Kepada kamu yang tak bisa kujelaskan dengan kata,
Aku penasaran. Bisakah kamu tidur dengan nyenyak selama beberapa hari ini? Bisakah kamu tersenyum lepas dengan otak yang tidak sedang memikirkan apapun? Bisakah kamu makan dengan lahapnya seperti biasa? karena jika kau tanyakan padaku jawabannya adalah tidak. Aku tak bisa melakukan apapun dengan baik. Aku tak bisa berhenti memikirkan kita. Kamu penyebabnya.
Hari dimana ada kita berdua membicarakan hal serius. Aku menunggu datangnya hari itu. Ternyata kemarin waktunya, sedang kita malah tidak menggunakannya dengan baik. Aku dan kamu, berdua, mematung tanpa saling pandang. 
Aku tahu matamu bertanya tentangku. Aku pun tak mau jawab karena aku tak mampu dan melulu pura-pura tidak tahu. Sama bukan, sepertimu. Dan aku benci kalau kau masih tidak mengerti. Diam boleh tapi tidak dapatkah kau rasakan semuanya? Saat aku tak bisa berkata ataupun kamu yang enggan angkat suara, ada tanganku, melingkar mendekapmu dari belakang. Ada daguku yang kutumpu pada bahumu dan bahkan aku bisa menghirup aroma parfummu yang terpusat di kerah baju. Dan hal-hal itu terus terjadi setiap malam, setiap kamu mengantarku pulang. Tidak pernah kah barang sekali kau merasakannya?
Aku bukan pembohong yang pintar. Andai kau mengingat setiap detil yang kulakukan. Aku memang bertanya tentang kekasihmu, tetapi tidak pernah mendengarkan. Aku bukan kekasihmu, tapi ingatkah aku mengingatkanmu setiap jam makan. Aku tak pernah lupa saat kau jemput aku dan kita siap berangkat, pertama kututup jok motormu dengan dudukku, meraih helm untukmu, membantumu memakai masker dari belakang, dan yang terakhir memeriksa saku-saku jaketmu dan meninggalkan kepal disana sebagai arti aku siap untuk dibawa kemudi.
Dan kamu tidak sadar satu hal. Aku selalu memperhatikan setiap detil yang kau lakukan. Kamu tidak pernah menceritakan tentang wanita manapun untuk menjaga perasaanku, bahkan pacarmu itu. Kamu selalu mengingatkanku untuk makan ketika aku sedang ada proyek. Kamu selalu menegurku ketika terlalu banyak aktifitas. Terakhir, kamu selalu tahu momen yang pas untuk mengajkku makan di warung favorit kita. Ya, warung. Kamu mengajarkanku banyak hal tentang kesederhanaan.
Aku menunggu malam lainnya datang lagi. Karena ada sesuatu yang salah di setiap hati kita dan tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi. Aku tahu pada awalnya kamu memang mencintaiku dan perempuan itu hanya penyempurnaan status dan egomu. Tapi aku tidak tahu apakah pada akhirnya kau akan berani memilihku atau diam saja setelah memutuskan dia. Andai saja kau mau sekali lagi berani bertanya dengan caramu, aku akan menjawab dengan caraku. Dengan meninggalkan pesan dari kepal tangan di saku jaketmu. Setelah aku beranjak dari jok belakang, setelah aku melenggang meninggalkan kecup di pundak jaketmu seperti biasa seperti yang tak pernah kau sadari.
Kamu tahu aku bukan pembohong. Aku tahu kamu bukan pembohong. Tapi kita juga sama-sama tahu bahwa baik aku maupun kamu sedang membohongi hati sendiri.

“pretending to be happy is the best way..
but at the same time..it’s suck…”

Cipta

….di tengah hari dengan panas menyengat


Kepada kamu yang menyejukkan teriknya siang,

Sempurna. Satu kata yang kurasa tepat untuk menggambarkan seperti apa dirimu. Kita tidak pernah bertegur sapa sebelumnya. Sampai pada akhirnya kalimatmu menuntunku dan pada detik itu juga aku terhisap daya magnet yang ada pada dirimu. 
Meskipun kau seringnya menunduk, aku tahu seberapa manisnya wajahmu. Kedua tatapanmu yang paling membuatku salah tingkah, menyejukkan, dewasa, dan penuh perhatian. Mungkinkah kau sadar hingga tidak pernah membiarkan matamu itu memandang kemanapun sesukanya? Apakah yang harus kulakukan agar aku bisa memiliki tatapan mata itu untuk lebih dari sekelebat? Kamu menyembunyikan mata-mata itu, agar tidak ada seorang pun yang bisa membaca kesedihan yang tergambar disana (kuyakin begitu). Dan caramu itu malah membuat siapapun jatuh cinta.

Seperti yang sudah kubayangkan. Keseharianmu juga sempurna. Aku bisa menyimpulkannya lewat meja belajarmu yang menempel pada jendela di sebelah kiri tempat tidur. Seluruh perhatianmu dalam mendekorasi kamar itu terfokus pada meja belajar. Di atasnya semua barang tertata rapi. Buku-buku keilmuan bertumpuk sejajar dengan komik favoritmu. Di sudut meja ada banyak piala yang berbaris rapi dan terlalu banyak untuk diperhatikan satu per satu. Beberapa di antaranya terdapat piagam-piagam atas kebolehanmu menjadi juara kelas tiga tahun berturut-turut. Dan sebuah lukisan yang menyita perhatianku paling banyak berada di atas meja itu. Lukisan yang berbicara, lindungi alam. Aku bisa menyimpulkan kecintaanmu pada alam bukan hanya lewat lukisan itu. Namun juga dari hal-hal kecil yang mungkin tak kau sadari. Di balik pintu tergantung topimu dengan tagline Cintailah Alam dan di bawah kasur terdapat kabel gulung yang tidak terpasang hingga tak ada aliran listrik yang sia-sia mengalir. Kamu mencintai bumi.
Prestasimu segudang, wajahmu rupawan, sikapmu menawan, namun bukan itu yang membuatku jatuh hati padamu. Bukan salah satunya, bukan kesemuanya. Aku mencintaimu karena alasan di balik itu semua. Kamu pintar, dengna prestasi maha dahsyat, dan aku lebih mencintai proses yang kau jalani. Di balik itu semua aku tahu ada yang kau sembunyikan dan itu memksamu untuk menjadi sesuatu yang lebih berarti. Karena alasan itu kurasa kamu butuh sandaran, dan ini kuberikan tanganku agar kau bisa berdiri semakin kuat, berjalan, berlari ke masa depan.
Cipta. Nama yang berhasil membangunkanku dari kemalasan dan sifat tidak bersyukur. Selama beberapa tahun ini kamu menjadi anak orang lain, di keluarga lain. Dengan berat hati meninggalkan ibumu di ujung jawa sana. Berat hati karena meninggalkannya bersama dengan pria yang sukannya menyiksa ibumu yang sebatangkara. Berkali-kali kamu menyaksikkan itu, membuatmu terpukul, membuatmu merasa benci bahkan kepada seseorang yang sejak bayi kau panggil ayah. Kau tidak pernah bertanya kenapa ibu bisa mencintai ayahmu dulu, kau juga tidak pernah bertanya kepada Tuhan mengapa ibu sebaik ia harus mendapat pasangan sejahat itu. Tapi kau selalu bertanya bagaimana mengganti rasa sakit yang ibu rasakan baik di hati maupun fisiknya. Dengan tabungan seadanya, ibu membuat rencana dan menguras tabungan, menitipkannya pada paman agar bisa membawamu ke kota metropolitan, lalu membiarkan ayah mencarimu sampai membabi-buta. Kini aku mengerti mengapa kau memperlakukan semua wanita dengan istimewa.

Mungkin kau tidak sadar bahwa kau sudah berjalan sejauh ini, Cipta. Mungkin juga kau tidak pernah sadar seberapa hebatnya dirimu. Kau seperti biasanya, selalu merendah, menundukkan kepalamu, membantu semua orang, membahagiakan keluarga angkatmu. Jadi jangan salahkan aku kalau ada air mata yang menetes saat aku menatapmu kemarin ketika kau menyerahkan sepasang mukena untukku solat. Jangan salahkan aku jika aku tak berhenti melepaskan pandang darimu saat kau bersusah payah mencari peci sebelum solat.
“sometimes its better not to show the sadness that we feel,
than being sad but no one will care about that”

Topeng dan Manusia

Orang-orang memaknai hidup dengan cara yang berbeda. Namun sadar atau tidak, kebanyakan dari mereka bertahan dengan menggunakan topeng kasat mata. Mungkin itu satu-satunya cara yang mereka punya, atau bisa saja pilihan akhir. 
Tersenyum, tertawa, dan bercengkrama sebisa mereka. Semua lepas, tidak ada yang dipaksakan. Mereka tidak merasa tertekan, atau mungkin karena sudah terbiasa. Di balik apapun ekspresi bahagia mereka….ada tangis. Tangis kesedihan atas menghadapi sebuah musibah, atau yang paling parah adalah menahan tangis karena dosa yang disembunyikan. Pada dasarnya semua pernah menyembunyikan. Apakah harap ataupun dosa. Keduanya sama-sama tidak ingin diketahui orang lain.
Pernah sekali dalam hidupku bertemu seorang pria baik hati. Tampan, rupawan, baik. Dan itu adalah topeng yang dikenakannya. Ia terlihat gagah, dengan tubuh jangkung dan betis indah karena rajin berolahraga. Di balik tubuh indahnya ia kerdil, tak lebih dari seorang hamba yang terkadang lupa keberadaan Tuhan. Siapa sangka, ia sudah meniduri wanita yang bukan halalnya dalam jumlah yang tak terkira. Wanita itu memikatnya, dengan pesona yang datangnya dari dukun yang dipercaya. Ternyata, ia juga sedang menggunakan topeng miliknya. Jadilah kedua manusia bertopeng saling bertemu dan mencinta dalam ketidaktahuannya.
Kisah itu adalah satu dari ribuan lainnya yang pernah ada dalam dunia fana penuh dusta. Disana mungkin Tuhan tertawa, menertawakan setiap manusia ber-acting dibalik skenario yang dibuatnya masing-masing. Tuhan membiarkan. Dibalik harap yang dibatinkan, Tuhan mengamini. Dibalik dosa yang ditutupi, Tuhan menyiapkan ampunan.
 
 Maha benar Allah, dengan segala firman-Nya.

Aku, Kamu, dan Anak Panti

….di menit-menit terakhir sebelum kuputskan pergi tidur

Kepada kamu yang selama beberapa hari ini mengintaiku,

Terhitung sudah lima hari aku tidak tenang berada di kamar, tempat yang paling nyaman bagiku dari semua ruang di rumah ini. Kamu terus mengintaiku, lewat kalender yang terpampang tepat di depan kasur. Angka-angka disana menatapku lekat-lekat setiap kulirik. Setiap kulihat tanggal hari ini, mataku terus menerus ingin meloncat pada angka-angka di depannya. Kamu membuat aku yang lamban dan hati-hati menjadi sangat tergesa dan tidak sabaran.
Masih lamakah tanggal itu? aku tak mau lebih lama lagi menunggu untuk kita berjumpa. Dadaku menjerit dari dalam. Ada gelombang yang mau tumpah, ada salju yang menggumpal menjadi es dan butuh kehangatanmu untuk menyulapnya sedia kala. Aku tidak masalah dengan kita yang tidak bisa setiap hari bertatap muka, karena dengan begitu hanya satu yang menjadi masalah kita, jarak. Bukan gadis lain, bukan lelaki lain, bukan jenuh, bukan cemburu yang mneggebu lantaran harus pergi kemanapun denganmu. Jarak ini menjaga diri kita, betapa kita sabar menahan, lalu akan ada rindu yang meluap dan terbayar.
Aku merindukanmu menjemputku dari bazaar. Mengemas seluruh daganganku dengan sigap, meraihku yang lelah dengan penuh perhatian, merapikan seluruh stuffs di bagasi belakang dengan ekstra hati-hati, membukakan pintu untukku dengan tergesa, diakhiri dengan memberi belaian lembut di ufuk kepalaku. Terbyar sudah semua letih yang terkuras seharian.
Selama di perjalanan kau tidak akan bertanya banyak, walau itu akan memperlihatkan seakan kau sangat excited dan penuh perhatian. Tapi kurang perhatian apa kalau setelah itu kau bilang, “kamu tidur aja dulu, besok cerita-cerita ya mengenai pengalaman bazaarnya tadi.” Kemudian aku akan terlelap, setelah tanganku tenggelam dalam genggammu yang hanya sebentar karena harus segera memegang kemudi. Sebetulnya aku berbohong. Selama beberapa menit aku berpura-pura terpejam dan mencuri pandang padamu, sebelum aku akhirnya benar-benar terlelap.
Aku ingin bertemu kamu lagi secepatnya. Merasakan bahu lebarmu yang menentramkan, senyummu yang manis dan tak bisa dilupakan, juga candamu yang lucunya kurang ajar. Aku rindu duduk di pinggir kolam sambil membaca novel cinta favoritku, sambil menemani kamu berenang. Aku rindu merasakan dinginnya kecupmu di dahiku yang basah, saat aku akhirnya tertidur dan malah gantian kamu yang menemaniku tidur. Bagian yang paling mengesalkan adalah kau mencuri-curi kesempatan dengan memotret wajahku selama aku tertidur. Lalu bisa apa aku kalau setelah itu kau kecup lagi dahiku?

Sebentar lagi kita akan bertemu. Dan kurasa aku akan sedikit cemburu. Senyummu yang biasanya spesial kau berikan untukku kini akan kau bagikan untuk mereka. Juga perhatianmu, kebaikanmu, ketulusanmu. Kamu selalu menjaga dirimu dari wanita lain juga untuk menjaga perasaanku. Namun kamu selalu membuatku cemburu pada anak-anak panti asuhan itu. Tapi diam-diam aku tersenyum. Membatin kalau-kalau mereka adalah anak-anak kita. Kau suka anak-anak kan? Itu jantan.

Kita tidak bisa setiap hari bertemu. Orang-orang memaknai pacaran dengan malam minggu. Semua pasang kekasih mencari momen jalan-jalan sebagai bentuk pacaran. Bagiku, kesibukanku dan kesibukanmu bukan masalah. Dan momen kamu-mengantar-dan-menjemputku-sampai-rumah adalah waktu kita. Satu-satunya aku bisa bertemu kamu. Jarak sengaja begitu, agar kita tidak tamak, dan membagi cinta kita dengan bijaksana.
Aku mencintaimu seperti kamu mencintai anak-anak panti asuhan itu.
Aku mencintaimu seperti kamu mencintai olahraga.
Aku mencintaimu seperti kamu mencoba mencintai masa depan kita.
Sampai jumpa besok malam, Sayang.


“I feel the capacity to care is the thing 
which gives life its deepest significance.”