Unfair

….di tengah perang dingin yang kemarin pecah


Kepada waktu yang akhirnya mendesakku,

Seiring bertambahnya usia seorang manusia, maka akan bertambah pula kedewasaannya. Pertanyaannya, apakah semua orang memiliki kedewasaan yang sama? Mengapa tidak? Umur mereka sebaya, perkembangan mereka seiringan. Life is unfair.
Dalam keberagaman, setiap orang butuh toleransi untuk berinteraksi sesama lainnya. Lalu orang yang dewasa harus melakukan toleransi melulu kepada yang tidak peka? Life is unfair.
Di awal, semua tidak pernah menjadi masalah. Di awal, kesalahan kecil terhitung seperti sebuah pemahaman akan watak seseorang oleh seseorang. Kemudian kesalahan itu bertumbuh, menjadi besar. Siapa yang kali ini bisa disalahkan? Diri sendiri? Life is unfair.
Ketika semua orang berhak mendapatkan apa yang seharusnya dimilikinya. Ketika semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang lainnya. Tapi pada kenyataannya ada istilah diskriminasi, perbandingan yang tidak setara, pembagian yang tidak adil. SIapa yang bisa dituntut? Life is unfair at all.
Semua orang akan menjadi dewasa setelah merasa sesal. Semua orang selalu merasa dirinya benar. Aku berdoa untuk semua orang di hidupku, masa depanku. Kepada masa yang akan datang dan pendewasaan yang kucari, bukan yang akan menghampiri. Agar semua bisa merasakan menjadi dewasa tanpa rasa sesal.
Life is unfair (?)

Penawar

…di tengah peralihan kesembuhan luka di hatiku


Kepada kamu yang menjadi penawarnya,

Kuucapkan terimakasih atas semua kebaikanmu. Atas bahumu yang kokoh memberi sandaran, dalam setiap tangis yang kutumpahkan. Atas tanganmu yang siap merengkuh dengan hangat, setiap aku lemah hilang tenaga. Atas lenganmu yang menenggelamkanku dalam ketenangan dan memberi kesadaran yang utuh, di setiap malam ketika aku terhisap kelamnya masa lalu yang selalu berujung pilu.
Aku ingin menerimamu apa adanya, seperti kamu yang menerimaku dengan luka yang masih basah. Seperti tangis yang tiba-tiba mau pecah, seperti memori yang seharusnya tak lagi terbaca. Kau tak pernah sekalipun memberi peringatan untuk aku melupakannya secara menyeluruh. Sebaliknya, kau selalu mendengarkan dan memberi ketenangan. Dalam kata-kata yang terkadang tak kupahami, seringanya begitu, yang kupahami hanya sorot di matamu yang mengatakan kau selalu rindu.

Kau merasa harus memagari hidupku dari semua yang berpotensi menyebabkan luka. Kau merasa bertanggung jawab atas orang-orang yang telah menyakitiku. Kau merasa perlu berperan dalam hari-hariku yang sendu. Kamu menerjemahkan rasa itu sebagai sayang. Dan begitu caramu menjelaskan ketulusan. maka, tak ada alasan bagiku untuk tidak mencintaimu.  
“I never thought of loving someone like you.
But when I saw you and as I laid my eyes on you, I can’t help myself but falling in love with you,”

Unexpected

….di tengah hari yang tak kian menjadi petang

Kepada kamu, yang membuat hari ini menjadi sejarah,

Aku baru akan masuk ke rumah saat kau mengantar pulang. Kau memanggilku, dengan mata nanar dan pandangan samar. Kita akhirnya duduk berhadapan seperti di ruang sidang. Suasana yang diciptakan pun sama, menegangkan. 
Kau katakan dengan sangat jelas, bahwa kau mencintaiku, menyayangiku, lebih dari semua kata itu andaikan ada. Aku tidak termenung sebagai bentuk keterkejutanku, aku tidak diam mematung dengan tatapan tidak percaya, tapi aku…salah tingkah. Tidak ada satu kata pun yang terlintas di kepala untuk disampaikan padamu. Mataku menerawang menjauhi kamu, berfikir jauh-jauh, mengingat dan meraba hatiku apakah ada perasaan yang sama disana. Selang beberapa detik, kemudian aku menunduk lemas.
Perlukah rasa suka sama suka harus diatasi dengan menjalin sebuah hubungan? Bukankah ikatan itu mengekang? Bukankah egoisme untuk memiliki bisa menghapus rasa cinta yang semula kita miliki suatu saat nanti? Aku harus apa menyikapimu? Menyikapi cinta yang sudah berkali-kali menjembabkanku dalam lubang kekecewaan dan menciptakan suka yang malah meninggalkan luka.
Aku dapat merasakan bagaimana selama ini kau mencintaiku dengan hati-hati. Kau menuruti kemanapun aku mau pergi, kau mengiyakan semua yang aku inginkan, kau selalu melindungi dan membantu bahkan di saat aku bisa mengatasi segalanya sendiri. Kamu juga bilang, dirimu merasa harus memagari hidupku dari duka dan segala ancaman yang sudah, sedang, maupun akan datang.Yang tak kupercaya, kau mencintaiku apa adanya, sejak dulu sebelum aku jadi siapapun atau bagaimanapun. Bahkan di saat aku berpenampilan konyol sekalipun. Aku dapat merasakan cintamu meski tanpa kau terjemahkan.
Percayalah, tak pernah ada kata sia-sia dalam mencinta. Karena  mencinta, kau bisa berada di dunia. Dengan mencinta, kau benar-benar merasakan indah dunia.
“Whenever you look at me, i feel that in the whole world i am the centre,”