Penerus Bangsa

Malam itu aku menggenggam erat almamater yang katanya diinginkan banyak orang. Aku juga masuk ke jurusan sosial yang katanya paling bagus di sana. Setidaknya, jurusan yang memiliki grade paling tinggi. Satu kursi di kampus kuning. Ya, aku mendapatkannya setelah lulus dari SMA terbaik di ibu kota, juga masuk ke kampus ini dengan mendapat beasiswa penuh sampai lulus nanti. Bukan dari kampus, bukan dengan uang negara, tetapi dari perusahaan luar yang yang menjanjikan pekerjaan bagus untukku setelah lulus nanti. Sekarang kutanya lagi, siapa yang tidak mau jadi aku? Jawabannya, aku sendiri.
“Korupsi, semua uang pembangunan ternyata masuk ke kantongnya sendiri!”

Aku baru saja keluar dari gedung VIII FIB saat kalimat itu terlontar secara tidak sengaja di hadapanku. Langkahku melambat, telinga kupasang lekat-lekat.

“Alasannya sih buat pembangunan dan nambah fasilitas. Taunya nggak selesai-selesai, anggaran dana jalan terus!”

“Katanya dia nyalonin diri lagi ya? Nggak tau malu banget!”

“Gue muak liat mukanya ada di spanduk di depan stasiun itu!”

Degh!! Aku benar-benar hampir tersedak bahkan dengan mulut yang kosong sekalipun. Buru-buru kututup wajahku dengan ujung jaket yang sejak tadi menggantung saja di pundak. Batal memasuki kansas dan melipir ke payung-payung hijau di sampingnya. Berusaha mencuri dengar lebih jauh lagi, menyamakan langkah dengan mereka yang sepertinya akan berjalan menuju jembatan teksas.
“Gue bersyukur banget dia turun,”
“Iya, umur boleh muda. Tapi tindakannya bikin kerugian umat sedunia,”
“Bikin kasus melulu! Biar eksis maksudnya?”
Masih banyak ucapan mereka yang tidak habis kudengar. Atau bahkan ada lebih banyak lagi hujatan di luar sana yang tidak kudengar. Sayangnya, hatiku keburu panas dan wajahku sudah pias. Aku pulang dengan berlari, seingatku, atau terbang? aku tak ingat lagi. Begitu banyak air mata yang berderai di sepanjang perjalananku  menuju rumah. Ucapan-ucapan itu masih terngiang jelas sekencang apapun aku menangis.
Krieet…
Mungkin aku lancang karena mengintip kamar orang tua. Tapi aku khawatir dengan keadaannya. Sudah semingguan ini ia menangis di kamar. Meminta sokongan kepada ibu dengan ketidakberdayaannya. Yang ada, ibu malah ikutan menangis bahkan lebih kencang lagi. 
Aku tahu ayah tidak pernah melakukannya. Mungkin, bukan ayah yang melakukannya. Atau lebih parah lagi, ada yang memanfaatkan ayah dan menjadikannya kambing hitam. Aku tahu ayah orang yang jujur dan tidak pernah mengambil hak orang lain. Apalagi korupsi? Bukankah ayah yang selalu berkata padaku bahwa ia ingin aku menjadi sarjana sosial politik dan memberantas para koruptor di negara ini?

Aku yakin ayah tak pernah lupa dengan semua prinsip yang dipegangnya. Setauku, ayah masih sama. Masih dengan kemeja polos kesukaannya. Masih dengan sisir saku yang sama. Masih dengan uang saku yang sama. Dulu ataupun sekarang, uang jajanku tidak bertambah. Begitupun semuanya, tidak ada yang berubah. Dan mengingat caci-maki mahasiswa-mahasiswa di kampus hanya membuatku makin sedih bila melihat kenyataannya seperti ini.

Ayah, Tuhan tahu yang terbaik untukmu. Aku tahu siapa dirimu. Tapi maaf Ayah, aku sudah tidak sanggup lagi berkuliah disini: mendengar betapa banyak orang menghinamu dengan kasar, menerima kenyataan betapa semua teman menjauhiku secara terang-terangan.

Bila ayah menemukan surat ini berarti aku sedang dalam perjalanan menuju Subang. Jangan hubungi Nini, aku akan baik-baik saja disana. Ayah juga pasti butuh waktu untuk sendiri.



Aku yang selalu mencintaimu,

Riska

sang calon penerus bangsa, katamu.