Pecinta Hujan


…di sisi hari yang membasah
Kepada hari yang mengelam lagi dan lagi,
Sebut saja Aku, sang pecinta hujan. Karena hujan selalu mengingatkannya pada kenangan. Bukan kenangan yang terjadi pada saat hari tengah hujan, tetapi ia mencintai rintik-rintik yang turun itu tanpa alasan. 
Hujan selalu punya alasan untuk turun, karena awan tak dapat lagi membendung uap air yang menumpuk, atau bisa juga karena ia berpikir bumi terlalu ‘panas’. Kemudian ia memaksa dirinya sendiri untuk menguras tubuhnya dan mengeluarkan air sebanyak-banyaknya.
Ketika hujan, kenapa langit harus mendung? Karena itu merupakan gambaran awan-awan yang mengandung ribuan uap air di atas sana? Bukan, langit menjadi mendung karena ia tak mau mengkhianati hujan. Ia selalu ada disana. Berdiri gagah sedetik sebelum datangnya hujan dan tetap disana sampai tak ada lagi tetes yang turun. Jika hujan turun dan langit cerah, bukankah ia telah berkhianat? Menjadi butir-butir tak berarti yang dipandang heran olah orang-orang dan dipertanyakan, apakah itu hujan atau mimpi. Mendung selalu setia, tetap setia pada hujan bahkan setelah ia pergi, menyudahi mendung dan merubah diri menjadi teduh. Langit selalu ingin menemani hujan, sebelum sampai ia sudah tak ada lagi.
Andai saja ia bisa menentang takdirnya, hujan tak ingin terus menangis. Ia tak ingin terus berada dalam lindungan langit. Ia tak mau terus bersembunyi disana. Hujan terlalu lemah, tak bisa mengambil sikap yang dipilihnya. Tak bisa membuat keinginannya nyata akibat memikirkan kebenaran yang selama ini telah diyakini ribuan orang. Ia tetap bertindak, hatinya terus memberontak. Hujan pengecut.
Sebut saja Aku, yang mulai saat ini membenci hujan. Dalam-dalam membencinya.

Baik Karena Salah

…di awal sore pada sisi gerimis yang turun
Kepada kamu yang sesak akan arti kehidupan,

Suatu saat kamu mungkin melakukan sedikit kesalahan. Dan seperti virus yang menduplikasi diri lagi dan lagi, berita itu memberi dampak buruk bagimu. Hinggap pada apapun yang ada di dekatnya. Menjalar, menjarak, membentuk sebuah kerumunan yang berkata kontra tentang dirimu. Mereka berlari menghindarimu, sambil memberi cemoohan yang tak habis-habisnya. Sampai suatu saat, saking menyeluruhnya, berita itu sampai ke telingamu sendiri. Kemudian otakmu mengkristal, tubuhmu mati kaku.

Kamu menyadari kamu pernah sedikit salah, yang tak kau sangka salah itu menjadi besar di mata semua orang. Atau mungkin ketika kau membuat sebuah kesalahan yang besar, langsung berubah menjadi kesalahan maha dahsyat yang seperti tidak terampuni lagi, tentu, di mata mereka. Sebagian orang mungkin tadinya tidak tahu apa-apa atau bahkan tidak pernah berpendapat buruk tentangmu, tapi akhirnya mereka entah bagaimana ikut tersulut dan menyuduti. Saat itu kamu ingin menjerit sekeras mungkin, berlari sejauh mungkin, menghilang dan kalau bisa tidak kembali lagi. Meski dengan meninggalkan borok. Tapi toh semua orang tak lantas melupakannya, namamu terlanjur rusak di mata mereka. kesalahanmu jadi luar biasa berlebihan jadinya. Lagi-lagi, kau hanya ingin sendiri dan merasa sendiri.

Teman jadi lawan, lawan semakin merajalela. Ketika itu kau baru percaya, tak ada yang lebih setia dari Tuhan. Semua orang pasti memiliki masalah yang besar, semua orang pasti akan mendapat gilirannya. Tapi tidak semua dari mereka mampu menyelesaikannya, dengan dirinya sendiri. Kebanyakan dari kamu akan lupa, bahwa semua cobaan yang diberikan Tuhan tak akan diluar batas kemampuannya. Kalau istilah ini terdengar klasik bagimu….maka kita ganti. Anggap saja masalah ini adalah hadiah dari Tuhan untuk menghapus segala dosa-dosamu yang lalu. dan sadarkan dirimu, bahwa setiap orang akan pernah mengalaminya sendiri. dengan cara yang bagaimanapun, dengan kasus bagaimanapun. Sekalipun orang yang menjelek-jelekkan namamu di belakang sana. Hanya waktunya saja yang belum tiba. Jika kau merasa ia berusaha membunuhmu, tenang saja, suatu saat ia akan merasa jengah dan ingin membunuh dirinya sendiri.

Kamu akan terus kuat, tak perlu kau khawatirkan. Karena, lagi-lagi, Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar kemampuanmu, Sayang. Apa yang kau khawatirkan? Tidak ada teman? Teman yang baik tak akan meninggalkanmu. Teman yang baik akan datang lagi suatu saat nanti. Sekalipun jika teman terbaikmu termakan omongan mereka, bahu untukmu bersandar akan selalu ada. Ia akan tetap melihat dari sisi yang berbeda, yang tak pernah diketahui orang-orang lainnya. Karena ia mengenalmu lebih jauh.
Kamu tahu Rasulullah? Bagaimana orang-orang membencinya? Rasulullah manusia sempurna. Masih saja ada yang membencinya. Yang membenci Rasulullah tidak banyak, hanya beberapa tetapi pemukanya. Orang-orang paling berpengaruh dalam lingkungan kehidupannya saat itu. Dampaknya, semua orang turut membenci Rasul yang mulia. Rasul membiarkan saja. Karena kemuliaan akhlaknya masyarakat pun tunduk, para pemuka malu. Begitulah mengapa Rasul seharusnya menjadi tauladan kita. Rasul manusia sempurna dan memiliki musuh. Apalagi kita yang hakikatnya salah dan lupa? Alhamdulillah, selalu ada Allah yang mengingatkan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Masalah selalu ada, agar kita selalu ingat pada Tuhan.
Menjadi orang baik memang susah. Tidak pernah berbuat kesalahan juga mustahil. Maka, jadilah saja orang yang lebih baik lagi. Jadikan masalah sebagai sarana intropeksi. Selamat, kamu sudah naik satu pangkat menuju kedewasaan yang lebih tinggi lagi.