Flashback

Besok sudah tahun 2013. 
Dan aku menyambut pergantian kali ini dengan luar biasa bahagia. Bukan karena perayaannya, tapi karena akhirnya tahun 2012 telah berlalu. Dari 20 tahun yang telah kuhadapi hanya tahun 2012 yang menurutku terburuk dan tak ingin kuingat lagi. Beberapa tahun pernah mengandung peristiwa tidak mengenakan, tapi tidak separah di 2012. Manis di awal, dan berantakan di pertengahan lalu menyakitkan di akhir. Let’s do flashback…
Januari
Merayakan tahun baru di bioskop Taman Ismail Marzuki. Benar-benar anti mainstream dan luar biasa menyenangkan. Tidak ada suara petasan yang bising, tidak ada suara terompet yang memekakan telinga, hanya ada bisik selembut beledu yang berkata, “Selamat tahun baru, Sayang,”.
Februari
Terjadi sebuah pertengkaran hebat. Menjauh dari blog yang sudah kuanggap sebagai diary karena beberapa ceritanya berasal langsung dari hatiku. Dua minggu tidak ada postingan baru. Bukan writer’s block, tetapi luapan emosi yang tak tersampaikan. Justlistentotheeyes.blogspot.com berganti menjadi beingsecet.blogspot.com. Berkata bahwa aku sudah menghapus blog-nya, padahal diam-diam melakukan banyak posting. Tanpa ada yang tahu.
Maret
Kemana perginya perasaan ketika jutaan pasangan berencana berpisah? Sama sekali hilang tanpa bekas. Hari-hari merah jambu berubah makin kelabu. Semua memburuk, semakin buruk. Diakhiri dengan jerit malam di sambungan telpon. Dan untuk pertama kalinya, big match tim favorit itu menjadi begitu tidak menyenangkan.
April
Aku ingat dengan baik bagaimana aku pamit pulang kepada yang lain kemudian pingsan tepat di muka pintu gedung IX kampus malam itu. Kedua sahabat terbaiknya menggendongku sampai naik ke taksi. Beberapa teman membantu menjinakkan tangisku yang tak henti berderai, mengantar selama di ruang UGD, menemani selama tujuh hari berbaring di rumah sakit. Dan kamu akhirnya datang, dengan tanpa dosa mengecup pipiku dengan senyum teramat tulus. Lalu, aku menyesal telah membiarkan pintu rumah sakit itu terbuka untukmu.
Mei
Sepulangnya dari rumah sakit, semua tidak jauh lebih membaik. Stamina menurun. Dekan memanggilku, perihal beasiswa yang terancam dicabut akibat nilai-nilai merah yang butuh pertanggungjawaban. Sementara itu aku cemas, uang beasiswaku ditahan dan terancam tak turun lagi. Mari berpikir keras, semoga besok aku bisa makan.
Juni
Jika biasanya aku mencari kerja hanya untuk menambah penghasilan…maka kali ini berbeda, aku mencari kerja untuk bisa melupakan ‘hari-hari kemarin’ sepenuhnya. Kali ini tidak lagi di media, tetapi di sebuah tempat les bahasa inggris di kawasan Depok. Aku tidak mengajar, tentu, hanya menjadi pembantu umum yang harus tersenyum di depan setiap customer. Setidaknya, aku akhirnya bisa tersenyum.
Juli
Aku tau aku butuh liburan, untuk menyenangkan diriku sendiri. Dengan uang yang pas-pasan berlibur ke Bali adalah sebuah hal yang mustahil.  Dengan modal nekat akhirnya jogja-semarang-kudus terjajah juga. I called it my first Java Trip.

Agustus
Aku menyibukan diri. Memulai fokus terhadap bisnis label yang masih baru kurintis, hadir di acara fashion Expo, bertemu dan belajar banyak hal dari para designer muslim indonesia, terakhir.. hadir di acara-acara pengajian dan berkecimpung dalam kepanitiaan di dalamnya. 
September
Berkat jadi model gratisan seorang teman alhamdulillah bikin sedikit untung. At least…jadi percaya buat ikutan lomba-lomba foto model muslimah. Alhamdulillah, jadi semi-finalist World Muslimah Beauty 2012. Cuma semi finalis, tapi ini kemajuan luar biasa selama hidup 19 tahun jadi cewek cupu 😀 

Oktober

Berasa nggak percaya akhirnya punya pacar baru. Mungkin lebih tepat terdengar ia memaksaku mencoba. Tapi ternyata, aku nggak bisa. Aku masih butuh banyak waktu untuk sendiri, untuk memaafkan hari kemarin. Maaf MFA….luka kemarin masih terasa nyata. Dan keputusan ini hanya emosi belaka.
November 
Bener-bener nggak inget sejak kapan bisa dandan dan mulai ditawari jadi make-up-artist buat acara maupun foto pra-wedding. Dulu, kemarin, pake bedak aja nggak pernah. Alhamdulillah, alhamdulillah. Lumayan menutup hutang pada ibu kost yang suatu hari pukul setengah enam sore kirim SMS, “Tolong dibayar sewa kost-nya paling lambat jam enam. Atau silahkan pindah kost esok hari,”
 
Pada bulan yang sama juga, tiba-tiba dihubungi Noura Books buat hadir sharing di talkshow Yes You Can Moment, Indonesia Book Fair. Nggak nyangka, bisa satu panggung sama penulis inspiratif kayak Mbak Ollie. Insya Allah, kita akan sama-sama nulis di buku Yes You Can Moment 2. Feels like dreaming.
Desember 
Terlalu sibuk membenci orang lain ternyata bisa membuat kita melupakan orang di sekitar yang mencintai kita. Adalah Sigit, orang yang beberapa tahun lalu pernah menjadi bagian dari hidupku….telah pergi diam-diam tanpa pamit. Pergi menyisakan pilu dan sesal yang lebih dalam lagi. Selamat jalan, RSH, kau tahu jawaban apa yang kupunya untukmu.
Di balik setiap scene, selalu ada sutradara yang merancangnya. Dunia memang tidak pernah adil, tapi Tuhan selalu punya kejutan. Semoga tahun 2013 adalah jawaban dari setiap doa yang setahun ini kuutarakan. Tahun kemarin hanya mimpi, yang kebetulan mimpi buruk. Dunia berputar, besok pasti akan datang mimpi indah jika sudah tepat waktunya. Selamat tinggal 2012, tolong berjanji untuk tidak pernah kembali lagi…….

Malam Ketiga

….di malam yang tak lagi sama

Kepada kamu orang yang dulu pernah ada,

Malam ketiga setelah kepergianmu, Sigit. Namun air mataku tak kunjung habis. Maaf, aku ingat kamu nggak suka aku nangis, tapi bukankah kamu senang kalau aku menangis karena ingin bertemu? Jika Tuhan memberiku kesempatan untuk mengajukan permohonan….tak ada lagi yang kuinginkan selain Ia memutar waktu agar aku bisa menemuimu.

Bukan hanya aku, kepergianmu diiringi banyak air mata. Dulu, kamu pernah bilang kan, kalau nanti meninggal kepengen rasanya dianter banyak orang. Lihat git, lihat! Keinginanmu terwujud lebih banyak lagi. Begitu banyak yang mengantarmu sampai ke liang lahat, semua orang merasa kehilangan, bahkan setiap kebaikanmu tak ada habisnya diceritakan. 
Terakhir pertemuan kita kau datang memberiku kejutan di hari ulang tahun dua tahun yang lalu. Tepat pukul dua belas malam. Ulang tahun termanis yang pernah kurasakan seumur hidupku. Paginya, kau mengirimkanku pesan,”Kalo sigit masih sayang sama dini gimana?”
Perlukah lagi kujelaskan kalau aku BAHAGIA? Detik selanjutnya kau mengirim pesan lagi, “Lupain aja ha…ha..”
Aku masih menunggu.

Kamu ingat big match MU dan BARCA (kalo nggak salah) beberapa waktu lalu dan aku tidak bisa streaming karena sinyal di kosan yang parah sekali? Iya, kamu menelponku. Menceritakan siarannya secara langsung via phone. Kemudian terselip kata sayang kau ucapkan. Dan lagi-lagi kau suruh aku untuk lupakan diakhiri dengan tawa yang teramat renyah. 

Beberapa hari selanjutnya, kau menanyakan keadaanku tepat di saat aku terbaring sakit. Kamu baru pulang kerja, tanpa berisitirahat langsung menyusul ke Depok lalu mengantarku sampai ke Tangerang. Dan di tengah jalan kita diterpa hujan. Kamu ini manusia jenis apa, Sigit? Hatimu terlalu lunak atau akal sehatmu yang sudah tidak ada lagi? 
Dua minggu lalu, kamu mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Iya, tidak ada surprise darimu seperti biasanya. Dan mana kutahu kalau ternyata hari itu kamu sedang terbaring lemah dengan selang-selang infus di seluruh tangan? Mengapa tak pernah kau katakan dengan jelas keadaanmu, atau setidaknya keinginanmu terhadapku? Aku memang suka kamu, tapi aku selalu tidak suka dengan caramu. Selalu menyedihkan.
Kamu masih punya hutan cokelat padaku. Kita juga masih janji bertemu untuk berdiskusi soal Twilight Saga. Iya, aku tau kamu modus. Aku sama sekali nggak berkeberatan, tapi taunya kamu batalin janji.

Sigit….
Sampai kau tak ada pun kamu selalu memberiku pelajaran. Tentang kesederhanaan, perhatian, kesetiaan, ketulusan….kamu guru (moral) terbaik yang pernah kupacari, bukan cuma kutemui:p
Di sisi lain, kamu selalu menjadi cermin untukku menjalani setiap hari. Saat pagi aku terbangun dan terpikir apa kabarmu disana. Kepergianmu membuat siapapun merasa terpukul, Git. Kehadiranmu masih dibutuhkan untuk jangka waktu yang lebih lama lagi. Bukankah seharusnya aku saja yang menggantikanmu? Selama ini, kamu yang memberi arti pada hidupku. Ketika kamu sudah tak lagi ada, maka diriku sudah tak ada artinya. 
Aku takut sendiri, merasa terpuruk. Aku malu, membayangkan betapa kau lebih bersabar lagi saat sakit dan menjalaninya seorang diri kemarin-kemarin. Aku mengeluh, lalu tertampar jika ingat di setiap detiknya kau sedang menahan kata aduh.
Kalau kau merasa jumawa karena terus menyembunyikan sesuatu dariku….maka jangan besar kepala. Ada hal yang juga belum kukatakan dan kau tak pernah tahu. Kamu tahu betapa aku membenci kata masa lalu? Dengar, kamu satu-satunya kenangan yang ingin selalu kuingat. Terima kasih telah mengajariku banyak hal, lewat perasaanmu, lewat sikapmu, lewat kata-kata yang selalu kau sembunyikan.
Aku menangis karena tak yakin bisa bertemu lagi denganmu. Suatu saat nanti? Aku tidak sebaik kamu, Sigit. Tempat kita mungkin saja tidak sama 🙂
Baiklah, sampai jumpa kalau begitu.
Rizqi Sigit Hamdillah…

(Tidak) Tidur

Setelah tiga tahun kuliah aku baru sekarang percaya ternyata Balai Kejiwaan Mahasiswa memang benar-benar ada di kampus ini. Dan aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan pernah menjejakkan kaki kesini. Kalau saja dua hari ini aku bisa tidur seperti manusia seharusnya. BKM terletak di lantai dua. Setiap biliknya hanya dibatasi dinding triplek dengan rusuk-rusuk berwarna hitam kurus. Persis seperti rumah sakit, hanya saja tanpa bau obat yang menyengat. Tidak ada pasien, mungkin memang selalu sepi begini. Sayangnya, nyaliku hari itu belum utuh. Aku pulang dengan rasa penasaran yang tak kunjung hilang.
Setelah semalaman tidak tidur seperti zombi, keesokannya aku datang lagi. Entah kenapa aku merasa benar-benar takut untuk hanya sekedar berbagi. Mungkinkah berbagi? Bagaimana kalau ternyata psikolognya menentang semua tindakan bodoh yang pernah kubuat? Bagaimana kalu ternyata ia malah memaki-maki aku yang selalu merasa tak punya semangat lagi untuk hidup. Tidak, aku mantap. Aku hanya butuh teman berbagi dan setelah semua itu dikatakan aku bisa pergi, tanpa pernah kembali lagi dan bertemu dengan sang psikolog itu. Mungkin bulan depan pun ia sudah lupa. Jadwal kunjung kuperhatikan dengan seksama. Ternyata hari itu BKM tutup. Aku pulang lagi dengan membatin, mungkin aku memang tidak berjodoh dengan tempat ini. Kutelan lagi semua hal yang tadinya tak dapat kutahan.
Dua hari kemudian aku bangun dengan amat lelah. Tidak ada yang salah sebelumnya. Aku tidur cepat semalam, pukul dua belas -biasanya aku baru tertidur pukul tiga pagi dan harus kuliah pagi harinya-. Langkahku lebih dari gontai, mungkin terseret. Seperti robot yang kurang pelumas, aku merasa sulit bergerak, menoleh, tersenyum, apalagi berbicara dan menjalin komunikasi dengan orang lain. Sakit di kepalaku kambuh lagi, hal itu memaksaku kembali lagi ke BKM. Siang ini juga, segera. 
Lagi-lagi, BKM sepi. Sebuah pintunya terbuka, di atasnya bertuliskan R. Konsultasi. Aku melongok, pelan-pelan melangkah ke dalam. Tidak ada siapapun disana, hanya tirai putih yang perlahan tertiup angin dan memberi siluet indah atas ranting yang terpantul sinar matahari dari jendela. Mejanya sepi, tidak ada tas yang tergantung di kursi. Seorang satpam tetiba menghampiriku dan berkata bahwa Bu Heni baru saja keluar. Kedua kakiku lemas. Pandanganku kabur. Berat rasanya menelan lagi isi mulut yang sudah terasa seperti muntah. Aku tidak pernah ditakdirkan untuk membagi isi hati pada seseorang, atau aku tidak ditakdirkan untuk didengarkan? Langkahku lemah. Aku tahu aku lemah. Mungkin nanti malam aku tidak tidur lagi.

Aku yang Lain (Bagian II)

Sudah hari ketiga adek menjalani hari-harinya denganku di rumah sakit. Adek thypus, ia hanya butuh waktu untuk bedrest total. Dan selama tiga hari ini pikiranku melayang tak menentu kepada pria di seberang. Ada sesuatu dari tatapannya yang membuatku resah. Berkali-kali aku mencoba menerjemahkan tatapan itu, tapi selama tiga hari ini aku masih belum menemukan jawabnya.
Sadam namanya. Sadam Al-Habsyi Khuzaima. Begitulah yang tertulis di papan depan tempat tidurnya. Aku belum pernah mendengar nama seindah itu. Kupikir, nama Sadam itu tidak pernah ada di Indonesia. Dia adalah Sadam kedua yang kukenal. Yang pertama kutahu adalah tokoh yang diperankan oleh Derby Romero dalam film Petualangan Sherina dua belas tahun yang lalu. 
Langkahku tidak jingkat, meski pelan. Dia terlelap pulas. Ini hari kedua ia dipindahkan ke kamar pasien dari ruang khusus saat kali pertama kami bertemu. Letak kamarnya pas sekali di depan kamar adek, sehingga aku hampir tidak tidur untuk mengawasinya dari kejauhan. 
Wajahnya terlelap, pulas. Kedua matanya memang sama hitam. Alisnya yang tebal bertaut dengan alis tipis di atas hidung. Wajahnya tampan, tapi menyedihkan. Tubuhnya tinggi, kurasa lebih dariku, namun kurus. Mungkin mengurus. Mungkin karena sakit ini. Sakit…
Sudah menit kedua-puluh dan ia tidak juga menyadari kehadiranku. Bukankah memang sudah dua hari ia tidak terbangun? Sendiri dalam nafas yang hampir hilang. Masker bening yang sama dengan yang waktu ia gunakan saat kita bertemu. Kabel itu tersambung ke tabung kecil yang menempel dengan dinding di atas kepalanya. Bukan itu saja, tangan kanannya terlilit kabel hitam dan berakhir pada sebuah mesin di atas meja makan. Muncul angka banyak nol-nya pada layar alat itu. Bahkan dua alat, tentu dengan dua kabel di tangan kanannya. Pada tangan kirinya tersambung infus yang jenisnya tidak sama dengan infus biasa seperti yang dipakai adek. Melihat keadaannya sekarang membuat hatiku teriris. Sadam, bangun…
Seharian duduk-duduk di meja suster dengan alasan kesepian ternyata berguna untuk mendapatkan informasi seputar Sadam. Ia tidak sedang sakit, namun mengalami penderitaan sejak lahir, sejak dua puluh tahun yang lalu. Klep di jantungnya bocor, begitulah yang kupahami saat suster A dan suster B sedang berbicara. Sehingga tubuhnya kesulitan memompa darah ke seluruh tubuhnya. Jantung adalah nyawa. Kerusakan di Jantungnya menyebabkan paru-parunya pun terganggu. Ia tidak bisa bernafas tanpa bantuan tabung oksigen, begitu pula di setiap hari-harinya, selama dua puluh tahun. 
Aku tahu suster tak lama lagi akan masuk karena ini sudah jam visit. Tapi tubuhku mengelak, hatiku berkata tidak. Ada rasa ingin menjaganya, bahkan selama matanya belum terbuka sekalipun. Ada magnet yang menarik akal sehat beserta perasaanku dalam diri Sadam. Aku sadar, kita tidak saling kenal. Bahkan mungkin bisa saja Sadam adalah pacar orang lain atau sudah menikah? Meski kami berada pada umur yang sama.
Sebuah dorongan memaksaku menyentuh pipinya, seperti magis. Aku mengusap perlahan pipi dingin dan tirus itu. Tiba-tiba, ada air mata yang menetes tanpa kusadari. Detik itu juga aku merasakan ketakutan dan kehilangan yang luar biasa. Kerinduan yang seperti tak habis-habis seakan tumpah ruah. Banyak kata menumpuk di lidahku dan tidak bisa keluar. Satu minggu bukanlah hal yang wajar untuk jatuh cinta sedalam ini kepadamu. Aku hanya merasakan seperti Dejavu. Apakah kita pernah bertemu di masa lalu?
Saat melihatmu, aku seperti merasa menjadi diriku yang sebenarnya. Dinding emosiku bisa luruh dalam sekejap. Tatapanmu menghisap semua memori yang tak mau lagi kuingat. Seolah kau berteriak dan ingin kita saling berbagi. Aku merasakan nyaman yang selama ini tak pernah lagi kukenal. Semacam imprint.
 
Sadam, bangun dan jelaskan padaku itu apa? 
Air mataku malam itu ternyata masih tak bisa membangunkanmu.
***
“Kak, yang di seberang itu temen kakak?” 
Adek menunjuk kaca kamar Sadam dengan dagu. Aku yang sedang menyuapinya jadi tersenyum.
“Bukan,”
Tidak ada alasan yang bisa kujelaskan kepadanya. Bahkan aku masih tak punya penjelasan apapun untuk diriku sendiri. 
Pagi ini Sadam membuka matanya, kata Suster Rima. Aku tersenyum dan diam saja. Apalagi saat kutahu bahwa sore ini ia akan pergi ke Spore untuk melakukan operasi. Semuanya kuanggap telah selesai. Sadam mungkin tidak pernah menyadari keberadaanku selama matanya terpejam. Aku hanya ingin kau bangun, Sadam.
Kamar Sadam di seberang sana sebentar lagi akan sepi. Beberapa suster kulihat sedang membantunya bangun menuju kursi roda. Aku baru saja ingin menutup gorden kamar adek saat suster Rima masuk dan berkata, “dia ingin kamu ikut dengannya ke Singapur, Dis,”
***
 

Aku yang Lain (Bagian I)

Setelah menjadi korban perselingkuhan, aku tak pernah yakin akan ada lagi cinta yang ditujukan untukku. Mungkin lebih tepatnya, aku takut jatuh cinta lagi. Selama sepuluh bulan ini tidak pernah ada air mata. Selama itu juga aku tumbuh menjadi wanita yang keras. Aku seolah memiliki kecenderungan untuk berkelahi. Di satu sisi, aku melakukannya karena waspada. Agar tidak ada lagi kesempatan bagi orang lain untuk menyakitiku.
“Halo? Dis? Adekmu dirawat, Nak. Dibawa ke rumah sakit sama Pak Har…..”
Bolehkah kalau cinta yang kupersalahkan? Tapi memang begitu jawabannya. Bagaimana mungkin seorang gadis manja bisa berubah drastis menjadi wanita yang mandiri? Bagaimana bisa seorang gadis bertutur kata manis berubah menjadi wanita yang ketus? Aku membuktikannya. Seluruh hidupku berubah total dan aku menikmatinya. Atau mungkin aku hanya sedang menjadi orang lain? Jikalau pun aku kembali, itu berarti aku telah berdamai dengan masa lalu. Saat itu hatiku telah sembuh, satu-satunya alasan yang tepat dari semua perubahanku. 
“Papa nggak bisa ijin untuk pulang lebih awal. Jadi mama nggak bisa pulang. Tau sendiri  Papa kamu nggak mau ditinggal!”
Aku tidak sedang bicara soal cinta. Bukan, bukan. Aku pernah percaya soal keberadaannya, dulu saat aku bahagia sebelum akhirnya jatuh terperosok dan terluka.
“Tolong jagain adekmu ya,”
Setelah itu, bukan hanya cara berpakaianku saja yang berubah jadi cuek. Mama bilang aku jadi pemurung, tidak banyak bicara, dan cara berpikirku selalu bertentangan dengan orang lain. Semua masalah kuhadapi dengan kepala panas. Dalam menghadapi masalah, sebuah keharusan yang dilakukan adalah mencernanya perlahan, memahaminya, dan mencari jalan keluar. Sedang bagiku, yang paling pertama kulakukan adalah memikirkan bagaimana caranya melindungi diri sendiri.
“Tuut…tut…tut….”
***
“Dek, kok kamarnya disini?!”
Tidak butuh kata malu lagi untuk berseru seketika aku menemukan kasur adek bersisian dengan dua orang lainnya. Adek tersentak, sehingga terbangun. Dua pasien lain beserta keluarganya ikut terkejut.
“Ini kan kamar kelas tiga?”  
Adek bungkam. Wajahnya memelas dan ia hanya bisa menggeleng. Nafasku memburu, emosiku naik ke puncak saat itu juga. Tidak sampai hati membayangkan sudah hampir seharian ia terpaksa terbaring lemah disini tanpa perhatian lebih dari siapapun, termasuk suster. Hei, tapi memang begitu kenyataannya. Pelayanan yang diberikan untuk pasien kelas tiga dan VIP sangat jauh berbeda. Dan yang paling menyedihkan karena Adek memiliki jaminan asuransi full dari kantor Papa. Bukankah perlu bila kita menginginkan yang terbaik untuk keluarga kita?
“Kemaren Pak Har nggak bilang kalo kamu megang asuransi?” 
Salahku bertanya pada si Adek yang penakut dan terlalu polos. Ia bahkan hanya menggeleng bingung, dengan bahu terangkat, sama seperti alisnya. Atau jangan-jangan ekspresinya itu sebagai tanggapan dari sikapku barusan? Aku terlihat se-begitu-menakutkannya kah? 
“Hhhh….”
Aku tidak sedang menenangkan diri, namun menahan napas yang sepertinya mau meledak. Aku tidak paham di mana letak kesalahannya, ada pada Adek, Pak Har, atau Rumah Sakit ini? Setiakdaknya, hanya pihak RS yang saat ini bisa kutuntut.
“Sus, saya kakaknya Daffa. Kenapa Daffa diletakkan di kamar kelas tiga?!” 
Lagi-lagi, aku telah mengejutkan orang lain. Suster sepertinya sudah biasa menanggapi pasien dan keluarga pasien yang rese seperti aku. Seperti tak peduli, sang suster masih asyik berkutat dengan buku besar menulis entah apa.
“Suster, Daffa berhak mendapat kamar VIP. Saya serius loh!”
Ia lalu mencari-cari sesuatu dari dalam box. Memilih satu, menuliskan sesuatu pada label di depannya, lalu bangkit dengan setengah berlari.
“Maaf, Mbak. Mohon maaf sekali, nanti kembali lagi ya! Ini jam ganti shift dan visit. Kami kekurangan suster,”
Lalu tiba-tiba suster itu pergi. Aku masih tidak terima dan mengikutinya dari belakang. Apa-apaain sih Rumah Sakit ini?! 
“Sus! Suster!!” 
Kali ini aku serius mengejarnya. Suster itu sepertinya memang benar-benar sedang sibuk, namun sama sekali tidak terlihat panik. Tapi seharusnya, bila kekurangan sumber daya pun seharusnya suster bisa memperlakukan pelayanan juga kepada pasien lain, begitu kan seharusnya?
Suster itu memasuki sebuah ruang. Di depannya tidak terdapat papan nama pasien dan nomor kamar. Berarti ini bukan salah satu ruang kamar, sehingga aku tidak perlu menahan emosi yang sudah tidak bisa ditahan. Ruang suster, asumsiku.
“SUSTER!”
Waktu seakan melambat. Tidak ada pergerakan selain pasang-pasang mata yang terpaku. Membelalak, bertanya, dan menghakimi kepadaku. Tiga orang suster saling sibuk mengupayakan nafas pasien laki-laki itu, yang kini tatapannya tak lepas dariku.
Waktu masih melambat, aku bahkan seperti bisa mendegar nafasnya yang satu-satu dan berat sekali. Mulutnya terbuka mencari-cari oksigen dari masker yang dipegang salah satu suster. Matanya tidak. Masih menatapku dengan lemah. Tatapan itu seperti sihir, tidak bisa kucerna oleh akal sehat. Tidak terbaca. Tidak terdifinisi. 
***

Setiap Sore

Jadi apa yang sedang terjadi? Terasa seperti kupu-kupu beterbangan di perutku. 
Atau angin segar yang sedetik menyapu angan-angan di setiap hariku yang tak lagi indah?
Tidak. Tidak ada kata cinta.

Kamu mencoba menapaki sisa nafasku.

Aku hanyut dalam sungai yang kau buat. Yang bisa saja kau panjangkan liuknya tanpa pernah bermuara.

Matahari masih disana, dengan gamang menyengat akal sehatku.

Kamu  dengan santainya menciptakan dunia versimu, senyaman mungkin.

Aku dengan lugunya mengatakan setuju.

Tengah menggali jalan untuk menepis kesedihan yang jemu kuhadapi, mengatasnamakan kebodohan diri sendiri.

Jadi apa yang sedang terjadi? Kepalsuan yang dengan sepi kuciptakan.

 Setiap sore, saat mata kita bertautan.