Sajakrasa010512

Postingan kali ini lumayan berbeda. Gue nggak akan menjelma jadi pujanggi seperti biasanya. Iseng mau nyampah aja sekaligus menanggapi pertanyaan blogreaders yang mau tau gimana gue bisa ngerangkai kata-kata yang puitik dan kedengaran indah. Sejujurnya, gue juga nggak ngerti tiba-tiba di otak gue suka muncul kata-kata random. Gue sebagai orang yang amat random nggak pernah mempermasalahkan itu, cuma ngeliatin satu kata itu berlipat menjadi dua, tiga, empat, menjadi satu kalimat, kemudian AVADA KEDAVRA jadilah sebuah puisi.
Membuat puisi itu nggak sulit, tapi juga nggak mudah. Setiap orang punya kemampuan dan kesempatan untuk membuatnya. Kalau terus menerus berlatih akan terlihat ciri khasnya sebagai seorang penulis puisi, bahkan kepribadiannya juga bisa terbaca lewat bait-bait itu. Hal itu yang amat disayangkan, kenapa puisi makin kesini makin nggak ada artinya buat dunia nyata. Udah nggak ada lagi buku puisi yang dulunya sering dijual di mana-mana, udah nggak ada lagi majalah Horison yang mudah didapatkan di kaki lima manapun. Sekarang harus ke Gramedia dulu buat nemuin majalah Horison.
Nggak ada definisi spesifik yang gue temuin di Google waktu mencari asal-usul majalah Horison. Itu sudah cukup menjadi bukti bahwa betapa negara kita ini kurang menghargai dunia sastra yang sebenarnya bisa membangkitkan bangsa. Majalah Horison setau gue adalah majalah sastra yang berisikan banyak puisi. Dari mulai pujangga lama (sebelum abad 20), angkatan Balai Pustaka seperti Mohammad Yamin, Pujangga Baru seperti Armijn Pane, angkatan 45 seperti Chairil Anwar, angkatan 50-an seperti Pramoedya Ananta Tour, angkatan selanjutnya seperti Taufik Ismail, dan mungkin angkatan reformasi seperti GusDur (gue nggak inget). Di deket rumah gue di Bogor ada sebuah toko fotokopi yang dimiliki oleh seorang bapak-bapak. Beliau penyuka sastra dan langganan majalah Horison. Gue jadi sering kesana buat baca majalah dia dan sekadar ngobrol-ngobrol soal puisi ini dan itu. Mulai sejak itu, gue makin mencintai puisi dan mengenal sastra. Mulai sejak kelas tiga SD. Tepat saat itu juga gue mulai suka nulis cerpen.
Kesukaan gue pada puisi makin menjadi-jadi di waktu SMA. Di sekolah gue mading yang berfungsi aktif menyalurkan aspirasi dan inspirasi murid-muridnya adalah mading Rohis, mading OSIS cuma berisi info-info acara. Maka, masuklah gue ke Rohis, menjabat menjadi koordinator mading, sekaligus membuat isi materinya. Dari situ tiba-tiba muncul beberapa orang yang mengaku sebagai pengagum puisi-puisi gue. Jadilah gue punya kebiasaaan baru, yaitu membuat puisi setiap harinya dan mengirimkan kepada mereka via sms dengan cuma-cuma. Sayangnya, puisi-puisi itu cuma gue kirim dan nggak gue simpan. Mungkin kalau dikumpul sampai sekarang, puisi gue udah bisa jadi empat buu. Hiks…
Kalau mengingat puisi-puisi yang hilang itu rasanya sedih banget. Kehilangan karya yang kita buat sendiri itu seperi kehilangan jati diri. Oleh karena itu, gue mulai menulis puisi lagi dan mencatatnya di HP. Smartphone yang punya memori gede sangat ngebantu kebiasaan gue ini. Berikut salah satu puisi yang gue catat di HP beberapa waktu lalu.
Ketika seribu rindu terpantul dinding hatimu
Cinta bertanya soal keberadaannya di dunia kita
Adalah gundah yang mencipta kalut berujung sia
Beritahu malam bila mentari sudah datang
Pendarkan sepi jiwa yang sedang mati suri
Aku memang mengerang
Aku tidak mengeluh
Hanya menahan perih kerinduan ini dengan palsu
Menikmati dalam amarah yang tak pernah sampai padamu
Bila kau mengerti ketulusan, bukankah kau tak akan mampu
Aku sedang tidak marah
Aku mana bisa marah padamu
Kamu adalah aku
marah padamu adalah memaharahi diri sendiri
Dan andai kata kau peka rasa
tak perlu marahku
Merasakan cintaku sudah lebih dari cukup
Sajakrasa010512
Kadang-kadang gue nggak ngerti sama diri gue sendiri, kenapa gue begitu nggak bisa diam bahkan ketika di dalam perjalanan. Saat lagi ngelamun bahkan di angkutan umum gue sering memikirkan kata-kata aneh yang kemudian gue catat ke dalam memo di HP. Memo gue sudah penuh dengan judul yang sama dan kode-kodenya yang berbeda. Setiap memo itu gue beri judul Sajakrasa kemudian tanggal gue menuliskannya. Salah satunya adalah puisi di atas. Sajakrasa yang gue buat pada tanggal satu bulan Mei tahun 2012.
Suatu saat Fikri berkata kepada gue, “kalau kamu suka bikin puisi kenapa nggak dijadiin lagu aja?”. Terakhir gue main gitar itu waktu kelas tiga SMP. Gue inget banget, gue berlatih main gitar setiap hari karena di acara perpisahan kelas tiga nanti gue bakal disuruh nyumbang lagu. Nah, gue mau tampil beda yaitu dengan main gitar. Tentu karena seseorang. 
Kembali ke pokok permasalahan. Nunggu bisa main gitar lagi kayaknya bakal lama. Jemari gue juga udah kaku pas megang senar. Gue nggak sengaja milih puisi di atas dan nyanyiin sedapatnya. Eh, jadi lagu juga. Tapi, liriknya jadi gini,

Ketika seribu rindu terpantul dinding hatimu
Cinta bertanya keberadaannya di dunia kita
Adalah gundah yang mencipta kalut berujung sia
Beritahu malam bila mentari sudah datang
Aku memang mengerang
Aku tidak mengeluh
Ku hanya menahan perih rindu ini dengan palsu
Aku mencintaimu
Kau tak tahu itu
Bila kau merasa, sakitnya meradang
Kau tak akan mampu….4x
Kata Fikri, bagus. Gue berharap banget suatu saat nanti gue bisa bikin banyak soundcloud berisi lagu-lagu dari puisi-puisi gue yang numpuk di memo HP. Semoga ada yang ngiringin, atau minimal ngajarin main gitar lagi. Amen.

Membuat lagu dari puisi itu sebenarnya hanya menjadi motivasi buat gue biar nggak berenti nulis puisi, karena bosan misalnya. Intinya, membuat puisi itu nggak susah. Jangan paksa diri buat ngerangkai kata-kata indah apalagi nyuri dari puisi orang. Just write what you feel, then feel what you wrote. Sekarang udah banyak banget akun media sosial yang memfasilitasi kita buat terus bersajak, seperti @Syair_Malam, @Syair_Pagi @nulisbuku, dan akun-akun penulis yang sering ngetwit puisi kayak @hurufkecil atau @albumhitam. Manfaatin aja akun-akun itu buat memperoleh perbendaharaan kata-kata indah lebih banyak lagi. Semakin banyak baca, maka lo akan semakin banyak nulis.

Bikin puisi memang nggak bisa menghasilkan uang apalagi bikin jadi pintar di sekolah atau kampus. Tapi, suatu saat nanti lo pasti bangga sama puisi-puisi yang lo bikin. Bahkan lo nggak percaya kalau lo pernah membuatnya.
So, keep writing!
With love,
Nayadini

Mimpi Terbaik

…di pagi hari setelah tidur yang sulit bermula
Hadiah terspesial malam tadi,
Tidurku tak pernah sebaik kemarin.
Semalam aku bermimpi, terbangun dengan kedua pandangmu menjagaku sambil tersenyum. Dunia tak lagi sama. Aroma bahagia tercium di segala penjuru ruang. Matamu menyilaukan lebih dari mentari pagi yang hangat, tidak panas namun teduh dan menyejukan. Aku berharap pagi tak pernah bergerak, kalau saja tidak ada sebuah malaikat menarik-narik bajuku dengan merajuk.
Peri kecil kita. Susah payah mengunjungi kamar ayah-ibunya untuk meminta botol susunya diisi ulang. Kamu mengangkatnya, meraihnya untuk terduduk dan menggodaku yang masih setengah terbangun. Kemudian kamu mengecup tubuhnya, menghirup aroma rambutnya. Bau kesukaanmu, wangi susu, mungkin itu sebabnya kamu tak bisa berhenti mendengus pundakku. Ada aroma vanila membau di sekujur tubuhku.
Mengantar anak-anak ke sekolah setelah menyiapkan bekal termanis dan terbaik untuk tubuh mereka. Tidak lupa juga membuatkannya untukmu. Hanya camilan, yang bisa kau cicipi di saat luang di kantor. Kemudian kau akan mengirim pesan padaku, lalu berkata “Aku suka ini”.
Aku sedang menonton tivi bersama dengan malaikat-malaikat kecil saat kau pulang kerja. Sebelumnya aku telah membantu mereka mengerjakan pr di halaman belakang rumah. Senjaku adalah senja terindah yang pernah ada di dunia. Sederhana saja, bersama anak-anak meraih tasmu, melipat kemejamu, kemudian membuatkanmu kopi susu kesukaan. Imbalannya? Sebuah kecup di dahi yang selalu berhasil membuatku meleleh dalam dekapmu.
Adzan maghrib menggema merdu. Buru-buru aku menyegerakan anak-anak untuk mengambil air wudhu. Waktu sekolah aku tak pernah bergabung dengan paskibra karena tak bisa baris-berbaris. Namun satu-satunya waktu aku bisa membuat barisan rapi dan indah adalah ketika menjadi makmum mu dalam sholat. 
Solat berjamaah di rumah selalu menjadi impian dalam hidupku, kamu imamnya adalah sebuah anugerah yang tak bisa kueja bahagianya. Lantunan adzan yang kau dendangkan adalah lagu terbaik yang pernah kudengar, terlebih tiap ayat Al-Quran yang kau lafadzkan. Menghayati setiap artinya dengan kamu yang membacakan sukses membuat tetes air mataku jatuh. Demi Allah, masihkah aku berada di dunia yang fana? Atau ini surga yang menjelma secara nyata?
Malam ketika para peri kecil telah tidur adalah milik kita. Kita siap, menyaksikan tayangan favorit kita sejak dulu. Aku tidak pernah bisa main bola, tapi aku selalu suka pertandingannya. Kalau hal itu bisa mengikatkanku padamu, kenapa tidak? Aku tidak tomboy, tapi aku suka bola lalu kenapa? Apa? Okay, mantan tomboy. Lalu kau akan begadang sampai larut malam, ditemani aku dengan semua sumpah serapah seperti sepasang komentator pertandingan. Gol! lalu kita melompat-lompat bersama berlarian kesana-kemari di kamar yang cukup lega. Mencium jersey, menepuk lambang kebanggaan yang terpampang besar di dinding sisi ranjang. Kau tak pernah berubah semenjak kita dulu pertemu. Aku pun sama, masih mencintaimu lengkap dengan semua kebiasaan yang kau punya.
Mimpi terbaik yang pernah kualami dalam hidupku; menjadi pendamping dalam hidupmu, menjadi ibu bagi anak-anakmu. Mimpi terbaik dalam kondisi tidur yang amat buruk. Kemudian aku terbangun, dengan badan yang sakit kesemuanya dan dengan senyum yang tak mau lepas.
Doa pertama di pagiku; “Amen”

“You make me happier than I ever thought I could be and if you let me I will spend the rest of my life trying to make you feel the same way”

Friends 

 

Penantian

Dalam hening yang memekakan telinga
Aku terduduk tanpa daya
Tanpa gerak penuh arti
Mengumpulkan keping-keping senyummu yang tersisa
Nyata yang selalu apa adanya
Terlalu perih untuk menunggu lebih lama lagi
Menanti gapaimu yang tak berkesudahan
Jangan kirim fajar untuk menyongsong hariku
Lagi dan lagi
Esok tak akan berarti tanpamu

Lamaran

Jika menikah adalah satu-satunya harapan bagiku menemukan kebahagiaan, maka aku tak lagi seperti dulu. Aku yang sekarang mulai realistis. Cita-citaku tidak setinggi membangun keluarga dan melahirkan anak-anak lucu. Tapi tak dapat kupingkiri bahwa kebahagiaanku menempel di sana. Ada magnet yang terus membawaku melihatnya saat aku hampir terpelanting jatuh karena sesuatu di masa sekarang ini. Menikah menjadi hal yang paling kuimpikan dan kutunggu-tunggu. 
Aku tak ingat sejak kapan aku berubah pikiran dari egoisme diri sendiri yang merasa bahwa menikah adalah akal-akalan para orang tua untuk membuang anak mereka. Menikah juga merupakan awal dari kesengsaran hidup yang bebannya bisa saja tak sanggup kau terima. Dulu, menikah adalah tabu bagiku, siapa sangka kalau saat ini aku begitu mendambanya. Karena dengan berdua, aku berpikir melalui hidup jadi jauh lebih mudah.
Semakin hari keinginan itu semakin kuat. Namun ketika tiba-tiba datang seorang pria mengajakku menikah….aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku tak kenal siapa Adrian dan belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Beberapa hari lalu ia menghubungiku, entah mendapat nomorku dari mana. Ia tidak pernah usai berbicara ingin mengenaliku pada orang tuanya, bahkan aku sama sekali belum mengenal dirinya sendiri. Yang aku tak paham, bagaimana bisa ia yakin bahwa aku bisa menjadi istri yang baik untuknya dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Apakah keyakinan itu bisa datang hanya dengan mencari tahu sosok kita di dunia maya? Mustahil. Kalau begitu semua wanita bisa jadi sama menariknya.
Cemasku tak juga surut menjelang hari pertemuan. Ada perasaan takut yang berkali-kali muncul bila aku mengingatnya. Ia adalah sosok yang belum kukenal, sifatnya, pribadinya. Cocok atau tidaknya dengan dia aku tetap takut. Kalau tidak cocok, aku takut ia akan terus meneror dengan setiap hari menghubungiku lalu pada akhirnya kita menjalin sebuah hubungan tak sehat. Kalau pun cocok,  bagaimana bisa hidup selamanya dengan orang yang sama sekali asing untukku?!
Nasihat datang bertubi-tubi seiring ajakan nikah itu muncul. Makin dinasihati, justru aku semakin takut. Ia memang sudah mapan, kerja sambil kuliah, berencana mengambil S2, fisik lumayan, dan yang terpenting usianya lebih tua 3 tahun dariku. Tuhan, selisih usia segitu sangat kuidamkan.
Setiap harinya Adrian masih berusaha mendapati hatiku. Hampir semua anggota keluarganya ia bicarakan, ia kirimkan foto mereka kepadaku. Ia ternyata bukan orang yang agamis, malah ia mengaku dulu adalah seorang playboy dan sering bergonta-ganti cewek yang cantik dan ‘maaf’ seksi. Namun dia sangat yakin ingin menikah denganku dengan alasan, ia ingin berubah dan aku adalah sosok yang ia pilih menjadi  istri idamannya.
Kuliahku belum selesai, aku pun masih ingin lanjut bersekolah di luar. Masih nggak kepikir gimana caranya kalau ternyata aku mengiyakan untuk berhubungan dengan Adrian. Dia memang bukan pria pertama yang melamarku. Sebelumnya, ada dua pria turki yang melamarku di saat berbeda. Yang pertama adalah seorang duda, yang kedua adalah pengusaha minyak yang kaya raya. Aku menghilang begitu saja dari mereka, bahkan si raja minyak telah mengirimkanku tiket pesawat ke thai untuk kita bertemu di sana. Ekstrim.
Adrian memang tidak pernah berkata mencintaiku. Tapi ia tidak ada hentinya memuja dan memuji aku. Ia yakin bahwa aku adalah wanita yang ia cari dan butuhkan. Lucunya, datangnya lamaran Adrian kemudian membuat lamaran lainnya berdatangan juga, di waktu yang sama. 
Banyu muncul lagi. Tiba-tiba mengutarakan isi hatinya yang selama ini tak pernah kutahu. Setelah putus beberapa tahun lalu, kami sama-sama menjalin hubungan dengan orang lain. Lalu ia kembali karena merasa Adrian telah merebut kesempatannya. Dengan sekuat tenaga ia mengatakan bahwa selama ini ia sedang menabung untukku. Ia bersikeras mengatakan bahwa ia mencintaiku dan tak bisa melupakanku dengan cara apapun. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanku. Aku satu-satunya yang ia pikirkan setiap hari meskpiun sekarang ia masih menjalin hubungan dengan pacarnya itu. Aduh, drama!
Lamaran lain tak usah diceritakan. Lamaran-lamaran itu kelihatan tidak tulus karena terlihat jadi usaha untuk merebutku dari Adrian. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana, tidak ada satu orang pun yang saat ini kupuja-puja dan kuidamkan untuk menjadi figur suami impian. Aku bukan pemilih. Tidak pernah ada kriteria spesifik. Aku mau siapapun, yang bisa mengenalkanku pada kebahagiaan.


“It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.”
Jane Austen, Pride and Prejudice