Menit Kesebelas

…di tengah terik sambil menunggu kedatangan itu



Menit pertama saat kau mungkin sedang dalam perjalanan,


Aku tak paham, pertemuan kita nanti akan menjadi sebuah luka atau cerita bagi kita. Tak butuh waktu lama untuk mengatakan ya seperti yang kau mau, seharusnya yang satu itu menjadi pertimbanganku lebih jauh lagi. Tapi jaminan apa yang bisa menguatkanku bila aku menundanya sampai waktu yang lebih lama lagi? Perasaan kita sekarang dan nanti bisa saja berganti. Tapi tujuan tidak, kali ini aku yang meragu.
Menit ketiga…


Kamu adalah api dengan bara yang indah. Dan aku sebagai air tak ingin menjadikannya abu. Begitu banyak beledu yang kau sesapkan ke dalam kalbuku, begitu banyak pula tanya yang berlipat ganda sesukanya. Membandingkan aku dan kamu tentu adalah cara yang selalu salah. Karena presentase itu selalu sampai pada angka sama. Itu dia jawabnya, katamu. Itu dia masalahku, kataku.
Menit kelima…
Aku mungkin saja sedang menjemput bahagia. Menanti sekotak hadiah bernama hidup yang berpuluh tahun kupertanyakan kepada Tuhan. Kemauanku sederhana, dan sejak dulu kenamakan sebagai bahagia. Buktikan bila bahagia itu memang sederhana. Seperti yang ramai diperbincangkan dengan orang kebanyakan.
Menit kesepuluh…
Bagimu masa lalumu, inilah masa laluku. Berkali-kali aku berujar begitu. Tapi justru masa depan yang merongrong dalam otakku yang terkadang terlalu sempit. Apakah kau benar adanya? Cintamu.
Menit kesebelas mungkin saja kau datang, namun aku bangkit dan beranjak pulang. Lagi-lagi, aku tak pernah paham soal cinta. Biar menguap di udara. Aku sudah terbiasa.
The most important thing in life is to learn how to give out love, and to let it come in.


Pagi Sayang

….di pagi hari saat kau belum terbangun dan terus bergelayut di lenganku

Kepada kamu yang selalu mendengungkan Adinda dalam setiap tidurmu,

Tidak, sayang.

Tidak ada alasan bagiku untuk melarangmu mencintaiku. Tidak ada alasan untuk membungkam mulutmu yang setiap waktunya berbisik dan mengatakan, “aku mencintaimu”. Di saat aku terbangun, di saat aku beranjak tidur, bahkan di saat malam saat aku sudah tidak bisa mendengar lagi. Tidak ada alasan untuk menahanmu mengungkapkan rasa rindu. Aku pernah merasakannya, dulu, dan itu menyiksa sekali. Maaf bila aku harus membuatmu merasa tersiksa. Namun kau bilang, kau hanya akan merasa tersiksa bila aku tidak bahagia. Berikan alasan untukku mengapa aku bisa-bisanya tidak bahagia? Kau jelas tak akan menemukan jawabnya.
Hati-hati, sayang.
Aku terpaksa menulis via ponsel, menjangkau PC terlalu sulit mengingat tanganmu tak mau melepas pelukan di pinggangku. Dengan penuh kehati-hatian aku melakukannya, agar tidak membangunkanmu dan menghancurkan senyum indah itu. Setidaknya, membahagiakan orang yang mencintaiku, apa salahnya? Dalam cinta balas budi itu terkadang perlu. Bukan sekarang saja, aku pun hati-hati sekali dalam menjaga hubungan ini. Memang tidak ada masalah, kita tidak pernah begitu. Tapi tidak dengan hatiku. Ada sejumlah ketakutan di dalam sana. Tentang masa laluku yang perih, tentang masa lalumu yang tak bisa dihapus begitu saja. Kuncinya ternyata di sana. Kita berdua mencinta penuh hati-hati.
Selamat datang, sayang.
Beberapa hari lagi ulang tahunmu dan aku telah menyiapkan kado yang kau minta, sepenuhnya aku. Setiap malamnya aku berdoa, agar kau tetap dan terus di sana, sampai berpindah ke alam yang berbeda. Ini aku yang kau mau. Dan aku berani bertaruh, mencintaiku tak akan pernah membuatmu menyesal, seperti yang selalu kau katakan. Kado terbaikku selalu kudapatkan setiap harinya, sebuah kecup di dahi saat kau mau pergi. Bahagiaku selalu langsung menyembul dan tidak pernah bisa bersembunyi. Ada takut yang tak mau lepas dari setiap langkahku saat melihatmu, takut akan kehilangan senyum itu. Atau bila berbagi senyum dengan wanita lain. Bilamana kau bisa menghilangkan rasa takutku, hanya satu caranya, tatap aku dan jangan berpaling.
“Pagi, sayang,” sauaramu yang berat dan selalu mengagumkan tiba-tiba membuatku terkejut. Matamu masih terpejam. Tanganmu melingkar lebih erat lagi. Lalu merapatkan tubuh dan mengendus rambutku yang tergerai di atas bantal.
“Udah siang!” kupikir sebuah cubitan usil cocok mendarat di hidung mancungmu itu.
Wahai semesta, bisa kah waktu berputar menjadi malam lagi? Setidaknya, kali ini saja 🙂
Salam penuh cinta, 
Adinda
“There is never a time or place for true love.
 It happens accidentally, in a heartbeat, in a single flashing, throbbing moment.”