Melihatmu


Tadi siang aku hampir pingsan. Bukan, bukan. Bukan karena terik matahari yang membuat kepala pening, tapi karena shock saking kagetnya. 

Aku melihatmu.

Bertemu denganmu adalah kedambaan paling kuimpikan dari mimpi apapun. Serta merta aku malah canggung dan mematung. Detak jantungku bukan mengalir lagi, tapi terlalu cepat seperti berlari. Aku masih ingat kondisi di luar panas dan cerah, tapi saat ini aku malah merasakan ada sebuah petir besar menyambar akal sehatku. Kamu tidak bergeming. Bersikap sewajarnya dan mendelik kepadaku berkali-kali. Suasana menjadi canggung sekali.

Sudah beberapa detik dan aku masih terdiam. Mataku tak mau berhenti memperhatikanmu dari atas sampai kaki. Dahi yang khas, sepaket mata bulat dan bulu mata yang ikal, hidung semi-mancung dipadu kulit sawo matang yang biasa disebut orang dengan istilah hitam manis. Tubuhmu yang menjulang selalu menjadi kecintaanku, ukuran yang pas kalau saja saat ini kau mau sebentar mendekapku, kemudian aku akan jatuh tepat ke depan dadamu yang lapang. Tempat untukku berpulang, seperti itulah kau biasa menyebutnya.

Aku merindukanmu.

Mulai detik ini aku merasakan bagaimana sulitnya menjadi bisu. Kata-kata itu berteriak-teriak keras di balik kedua bibir yang terkatup rapat. Andai saja kau mau sedikit memperhatikan kedua bola mataku mulai basah dan meneteskan sesuatu. Andai saja kau mau bisa membaca air wajahku yang penuh rasa; cinta, bahagia, dan iba.

“Mbak? Ada apa ya?” tiba-tiba kau bertanya seolah tak mengenalku. Apa yang kau lakukan? Kemana cinta yang mengikat kita sejak dulu?

“Eng…maaf, Mas. Enggak apa-apa,” aku lantas berlari secepat detak jantungku memompa. Bukan karena malu, tapi karena rindu yang tak berkesudahan kepadamu. Apakah itu kegiatanmu sekarang, Sigit? Menjelma menjadi semua orang agar bisa bertemu denganku meski dari surga sana? 




Tabung Mini Letisha

Aku dan Letisha, adikku, memiliki wajah yang sangat mirip, tapi sifat kami luar biasa berbeda. Aku urakan, tidak suka peraturan, dan sangat aktif. Terlalu berantakan untuk menjadi seorang gadis bernama Natasha. Sedangkan adikku sangat berkebalikan dengan itu semua. Dia adalah seorang yang lembut, tapi tidak lemah – sejak kecil kami berdua diajarkan Wushu oleh Bibi Liung dan Paman Cheng-. Letisha selalu marah kalau kupanggil Lele, tetapi dia tidak pernah melempar barang seperti kebiasaanku jika sedang marah. Paling parah hanya mencubit dan itu sangat sakit. Dia juga seorang yang aktif berorganisasi, meski sebagai pembicara yang pasif. Ide cemerlang dan problem solving adalah mukjizat yang dimiliki Letisha, sehingga banyak komunitas yang mempersuntingnya untuk bergabung. 
Di balik kesempurnaan itu, kau tidak akan percaya kalau ternyata Letisha mengidap Leukimia. Betapa aku merasa Tuhan terlalu jahat padanya. Apakah karena Ia telah menciptakan Letisha sangat baik luar dan dalam, lantas harus memberikannya penyakit yang sangat menyedihkan?
“Gue titip ini ya, Nat.” cuma itu yang dikatakannya saat terakhir kita bertemu. Ia memberikanku sebuah tabung mini, sepertinya bekas vitamin, yang dibungkus sampul kado berwarna softy pink. Dihias renda salem di sisi lingkaran tutupnya. Di atas tutupnya terdapat pita berwarna senada yang membuatnya semakin manis. Sentuhan warna pastel yang sangat khas Letisha.
Aku tahu Letisha dengan jelas bisa membaca pertanyaan Ini-Apa di wajahku. Lagi-lagi, ia hanya menjawabnya dengan tersenyum. Aku tak pernah menyangka itu ternyata menjadi senyum terakhirnya.  Dan aku membatin tenang. Letisha menutup usia dalam keadaan yang sangat cantik dan damai, meski dengan kepala bersih tanpa rambut sehelai pun. Kemoterapi tidak membuatnya menjadi lebih buruk sama sekali. Dulu, setelah kehilangan helai rambut terakhirnya ia hanya tertawa, “Kebetulan kan, model rambut yang ini belum pernah gue coba. Ha-ha,” tawa Letisha siang itu, tiga bulan lalu, terdengar seperti jerit tangis di telingaku.
Ini sudah hari keempat setelah kepergian adik kembarku. Usia kami memang terpaut setahun, tetapi saking miripnya wajah kami membuat semua orang mengira kami adalah saudara kembar. Dan aku tidak masalah dengan itu. Jari-jemariku masih bermain dengan tabung mini yang sejak tadi bergelinding kesana kian kemari. Sampai hari keempat pun aku masih tidak bisa menemukan ide kira-kira apa isinya. Tentu aku penasaran, dan rasa penasaranku sudah tak dapat menunggu lebih lama lagi. Pelan-pelan kutarik pita di tutup tabung, lalu kuintip isinya. Hanya gulungan-gulungan kertas kurus dan banyak. Kubuka satu dan kubaca baik-baik tulisannya yang ditulis tangan.

Akun facebook: Letisha Alexandria, password: pikachu
Masih bingung, kubuka lagi gulungan kertas yang kuambil secara acak. Tulisannya..

Nomor rekening Bank Mandiri atas nama Letisha Alexandria 09872866123, pin 255225
Aku tertegun, kubaca pesan singkat di bawahnya,

Semoga tabungan gue cukup buat beli kado ultah lo tahun depan dan seterusnya. Beli sendiri ya kadonya, he..he..


Dan gulungan-gulungan kertas lainnya berisikan password dan pin dari semua akun yang dimiliki Letisha. Aku dipercayakan untuk mengambil alih kesemuanya. Nafasku seperti tercekat, tenggorkanku terasa panas. Air mata kesal menetes dari wajahku yang sebenarnya jarang menangis. Dasar Letisha, sifatmu yang serba teroganisir patut diberi penghargaan. Kau selalu menyiapkan segalanya dengan matang, bahkan kematianmu.

Takut

Emeralda terdiam beberapa detik. Ia menunggu kalau saja ada tangis yang mau pecah. Kemudian dipejamkan mata dan membiarkan hal tidak mengenakkan muncul di kepalanya. Air matanya tetap tak mau keluar. Gontai lalu ia menatap bayangnya di cermin. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ada ekspresi akan hujan air mata.

Semua memang baik-baik saja. Tetapi tidak dengan hatinya. Emeralda lantas duduk di meja belajar dna berkali-kali memukul permukaan meja. Berharap rasa sakit di kepal tangannya bisa membuatnya menangis. Nyatanya tidak. Ia lalu meremas snowman hitam yang ujungnya telah mekar. Digenggamnya spidol itu kuat. Diarahkan sesukanya. Perlahan membentuk rangkaian kata yang seperti tumpah tak ada habisnya.
Hernold….

Aku tahu kau mencintaiku. Aku pun sama. Tapi ada gelombang yang pasang di balik itu semua, andai saja kau bisa merasakannya.


Selalu ada kesal yang muncul dalam benakku setiap membayangkan gadis-gadis itu merangkul bahkan mencumbumu. Aku tahu, lekuk tubuhku saja tak sama dengannya.


Kalau kau berpikir aku beruntung mendapatkanmu, aku tahu. Entah karena apa aku sedikit masih tak mengerti. Yang jelas-jelas aku tahu dan tak pernah kau ketahui adalah kau beruntung mendapatkanku. Tak akan kau temui aku di antara ratusan gadis-gadismu itu. Aku menjamin, aku berbeda. 
Percayalah, kau beruntung. Setidaknya, aku ingin kau berpikir bahwa kamu masih punya alasan untuk tetap tinggal dan mencintaiku. 


Please…..


Emeralda menatap kosong pada kertas yang telah isi tersebut. Ia bahkan tak paham tentang apa yang ditulisnya. Ada ketakutan di hatinya yang tak kunjung habis. Tentang dirinya yang tak ada apa-apanya. Tentang kehilangan yang kesekian kalinya. Emeralda mencintainya. Semakin cinta, namun semakin takut. Ia tertegun dalam diam, mencintai tak pernah semenakutkan ini. Emeralda kemudian menyadari tangannya basah, oleh tetes-tetes yang jatuh dari pipinya.