Problema Kesendirian

Di tengah sebuah keramaian, kesendirian baru akan terasa. Lalu, secara automatic segala hal berputar mundur begitu saja. Akan tergambar saat-saat yang penuh kebahagiaan dan keramaian dalam hidupmu, bersama orang-orang yang istimewa. Dan baru detik itu kau akan sadar, mereka hanya istimewa pada saat itu saja. Maka dirimu akan membatin, tidak seorang pun peduli dan mengerti. 
Tanpai kau ketahui, setiap orang berpikiran sama sepertimu.
Ya memang seperti itu. 
Tidak ada yang mengerti dirimu selain dirimu sendiri. Orang lain tidak pernah benar-benar tertarik dengan kehidupanmu. Sepasang matanya hanya akan berbinar tatkala ia bercerita tentang dirinya sendiri, tidak tentangmu. Kemudian kalian melalui hari dan memamerkan kebahagian itu kepada orang lain. Seolah menjadi orang paling beruntung dengan orang-orang terdekat yang terbaik di dunia.
Di lain sisi, tanpa kamu ketahui. Mereka sedang membodohimu dengan apa-apa yang tak kau ketahui. Menceritakan sebagian dari apa yang menurutnya akan kamu setujui. Atau menyembunyikan dosa yang ia buat sendiri. Tanpa sadar, masing-masing dari kalian telah menjadi orang lain, yang berbeda arah tujuan dan mungkin saja berbeda niatan pertemanan sejak awal.
Kalian seperti sedang menikmati rasa sakit atas sesuatu. Menikmati darah-darah itu sendiri. Masalah hati kemudian menjadi rahasia pribadi yang dipendam masing-masing. Sosial bukanlah lagi sifat dasar manusia, melainkan egoisme yang membabi-buta. Manusia saling memendam. Lalu membatin lirih seolah kisah cintanya adalah yang paling menyakitkan. Menyembunyikan kenyataan seolah menjadi prestasi hebat yang tak boleh diketahui orang lain. Diam dalam sejuta rahasia yang sengaja disembunyikan. Persetan dengan arti teman, apalagi sahabat. Pada akhirnya, toh kamu hanya akan mati sendirian.
Tidak usah saling bercerita, berceritalah kepada dirimu sendiri seperti selama ini. Seperti saat kau menangisi kesalahan-kesalahanmu saat kau masih hidup setelah mati.

Mama untuk Almira (Part II)

(bersambung….)

Tidak ada suara yang keluar dari mulut Farhan selama hampir sepuluh menit. Aku tahu dia kehabisan kata-kata. Atau mungkin merasa serba salah. Maka dari itu aku beranjak dan mengambil posisi di sebelahnya.

“Farhan…” kuusap punggungnya. Titik kelemahannya yang kutahu sejak dulu.
“Maafin aku, Mar.” Farhan menutup wajahnya. Memang tidak ada air mata, tapi suaranya terdengar seperti sedang menangis.
Kuambil secangkir Espresso miliknya yang masih mengepulkan asap tipis. Dengan harapan dapat menghangatkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
Farhan setuju untuk menyeruput kopinya sedikit. Lalu ia menatapku lurus.
“Mar…”
Aku tersenyum. Senyum yang lima belas tahun lalu Farhan bilang selalu meneduhkan hatinya. Jadi kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk melontar senyum padanya.
“Kamu nggak salah, Farhan. Kita pun nggak bisa menyalahkan keadaan,” Hatiku berkecamuk saat mengatakannya. Aku tak percaya kalimat itu bisa terlontar dari mulutku yang sebenarnya sama sedihnya dengan Farhan.
“Kamu sudah melakukan tugasmu, kan? Menyampaikan amanah Aini untuk mempertemukan aku dengan Almira,” Senyumku makin lebar. Seolah tidak ada yang terjadi kemarin dan bahkan dulu. Seolah tidak ada yang terjadi antara diriku dengan Almira ataupun dengan Aini.
“Amara…” Farhan lalu menggenggam kedua tanganku dan menatapku lurus, “Aku mencintaimu seperti aku mencintai Almira.”
Aku terhenyak mendengar pengakuan itu. Tiba-tiba muncul kalkulasi dalam otakku, tentang cinta yang dimiliki Farhan kepada almarhumah istrinya, Aini, kepada Almira, dan kepadaku.
“Almira harus segera tahu, bahwa kamu adalah mama kandungnya,”
Entah bagaimana, mendengar kalimat Farhan itu membuatku merasa sedih. Hatiku terasa mengkerut dan sesak seketika.
“Aku mencintaimu untuk Aini, Mar. Aku selalu mencintaimu,”
 Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan bahagia yang menyakitkan.


“I have found the paradox, that if you love until it hurts, 
there can be no more hurt, only more love,”

– Mother Theresa

Mama untuk Almira (Part I)

Jarinya diketuk-ketukan ke atas meja. Matanya terus tertuju pada sebuah gelas tinggi semampai berwarna cokelat dengan topping eskrim di atasnya – kurasa itu Milkshake Chocolate-. Ia tidak benar-benar memerhatikan minuman itu, dia hanya sedang menahan diri dan membuang muka dariku.
“Jadi….”
Mulutnya akhirnya mulai membuka. Aku masih menunggu dengan sabar, sambil terus menghadap ke arahnya. Saking lamanya menunggu, Macchiato ku hampir habis. Tempat duduk ala bar ini sebenarnya membuatku kesulitan menatap Almira. Kursinya yang tinggi dan mudah berputar juga membuatku harus bisa menjaga keseimbangan dengan sepasang stiletto 12 centi di kakiku.
Almira akhirnya menatapku, bibirnya berubah-ubah sudut dan alis bertautan. Ekspresi mukanya lucu. Lucu sekali. Senyum di wajahku tertarik makin lebar.
“Jadi, tante itu mantan pacarnya ayah waktu kuliah dulu?” Almira akhirnya bertanya. Gotcha! Pertanyaan sesuai ekspektasiku. Kuubah posisi dudukku agar lebih tepat berada di hadapannya, face to face. 
“He-eh,” aku menggangguk dengan seutas senyum. Almira lalu berputar lagi membuang muka padaku. Alisnya makin tebal menyatu. Jelas, ia sangat tidak suka dengan keberadaanku. Aku membuang nafas perlahan. Sesulit ini menjalin komunikasi dengna Almira. Bermimpi apabila aku ingin menjadi sahabatnya.
Almira tidak lagi memainkan jarinya ke atas meja, kali ini ia mengeluarkan ipad dan bermain games di sana. Kupikir Farhan harus segera datang. Berlama-lama di sini dengan Almira hanya akan memperburuk keadaan. Heck! kesan pertamaku sudah buruk, rite?
“Ayah di mana sih? Ke atm lama amat! Aku mau pulang! ” Almira akhirnya memutuskan untuk menghubungi ayahnya. Dan tetap tidak mau menoleh padaku seolah aku tidak ada di sebelahnya. Lima belas menit terlama dalam hidupku. Pertama kali ia menatapku, aku memaknainya sebagai rasa marah, sedih, dan jijik. Farhan sengaja meninggalkan kami berdua. Meskipun semua gagal, aku tak lantas menghubnginya untuk segera kembali. Apapun reaksi Almira, berada di dekatnya membuatku tenang, senang, dan menjadi utuh entah bagaimana.

“Sayang….” Farhan tiba-tiba muncul berusaha membelai tempurung kepala Almira. Namun Almira turun dari kursi dan segera berlalu dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Docmart semata kakinya menimbulkan suara kemarahan. Almira keluar, berlalu entah kemana.

“Almira…!” Farhan berniat berlari mengejar puterinya, sedetik kemudian menoleh padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum. Pulanglah…..
***

(bersambung……)

Sorot Mata Arkana

Tidak ada sepatah kata pun yang dapat kuucapkan saat kudapati pesan singkat itu ternyata darimu. Kamu tidak bicara banyak. Pertama hanya menanyakan kabar dan bilang rindu lalu menghakimi seolah aku tak punya perasaan yang sama. Kupikir begitu saja. Pesan itu hanya datang sebagai cobaan dari upayaku untuk melupakan sejumlah kenangan bersamamu. Nyatanya kamu hanya belum bicara, bahwa kamu akan menikah dengan gadis lain. Gadis yang usianya lebih tua lima tahun darimu. Yang meminta segera dinikahi karena usia tenangnya sudah lewat. Aku diam saja. Kamu dengan jujur mengatakan masih menungguku. Aku masih diam saja. Dengan sejumput tawa yang sama sekali bukan dipaksakan. Aku sayang kamu, kata-kata terakhirmu malam itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun mataku tetap tak mau terpejam. Ada sesuatu yang berlarian di kepalaku. Satu per satu berteriak, meneriaki satu sama lain. Membuat palaku pening, dan butuh bahumu untuk bersandar. Tapi aku terlupa, bahu itu sudah ada yang memiliki saat ini.
***
Beberapa hari setelahnya kamu datang. Mengetuk pintu rumahku pelan-pelan. Aku yakin tidak salah lihat. Lubang kecil di tengah pintu sejajar kepalaku mengatakn bahwa potongan rambut itu milikmu. Seorang pria yang sedang menghadap ke balik pintu. Punggung yang besar namun terlihat sengaja dikokohkan.
Aku membukakan pintu. Dengan kedua alis yang bertaut dan gelagat tubuh yang mempersilakan masuk. Kamu setuju. Mengikuti arahanku dengan membungkam seolah paham apa yang sedang kupikirkan. 
Dua menit kemudian kamu masih terdiam. Aku buru-buru ke dapur untuk menuiapkan secangkir kopi jahe kesukaanmu. Dan kamu menolak. Sebelah lenganku kau pegang erat. 
“……”
Aku masih tak paham. Sorot matamu tak dapat kujelaskan. Tertatap ke arahku. Tapi aku malah melihatnya seperti ingin menangis karena kemudian menjadi berkaca-kaca. Tidak. Aku pribadi tidak akan meneteskan setitik pun air mata lantas menghancurkan kebahagiaanmu.
Kamu masih terpaku. Dengan genggaman tangan yang semakin erat dan dingin. Kemudian aku merasakan bibirku basah. Dan mendadak aku mengerti semuanya. Tentang rasa takut, tentang sedih, tentang cinta yang tak bisa bersambut. Dua hati yang berkecamuk. 
Aku mencintaimu untuk dia, Arkana.
 “A man never know how to say goodbye. 
A woman never knows when to say it”
Helen Rowland

Mama Bilang Aku


Sejak kecil di setiap hariku…

Mama bilang, aku lemah. Kemudian aku marah lalu tumbuh menjadi pemberontak yang sok kuat.

Mama bilang, ini dan itu tidak boleh. Kemudian aku selalu melakukan apa yang dilarang dan tumbuh menjadi penentang.

Mama bilang, aku ambisius. Padahal, aku merasa belum melakukan apapun.

Mama bilang, aku terlalu keras bekerja. Padahal, menurutku aku adalah seorang pemalas.

Mama bilang, aku tak mampu. Maka aku tumbuh menjadi orang yang penuh dendam.

Mama bilang A, B, C, D, E, F, G, sampai Z. Maka aku tumbuh menjadi pemendam.

Mungkin mama benar. 

Mungkin sedikit dari perkataan mama ada benarnya.

Selama ini aku tidak pernah benar-benar hidup. Selama ini aku hanya menjadi boneka dalam semua kemarahanku.

Aku tidak pernah memahami bagaimana nikmatnya hidup, bahkan kata nikmat itu sendiri. 

Aku hanya hidup dalam kelelahan atas pengejaranku yang tidak pernah berhenti.

Sesuatu yang selalu kukejar dan tak pernah bisa kuraih.

Pengejaran yang kulakukan untuk mengkhianati kenyataan bahwa sebenarnya aku tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Mama benar, aku tidak mampu.

Tidak pernah.

The Latest Birthday Surprise

Langitmungkinmasihbiru,suasanadidalamhatikupunmasihkelabu.

Soreinihujanbarusajaturun,salahkududukdipinggirjendeladansemuamemoriituberputarbegitusajadibawaperputaranhujankepadaawan.Akubenar-benarsudahlupasepertiapakitadahulu.Suatuharibahkansaatkauberkatainidanitutentangkita,tidakadasatupunyangberhasilkuingat.Memoriitusudahtiadadanlenyapseluruhnya.Lengkapbesertadengannamamuyangkinihampirsajatidakdapatkuingatlagi.

Semalamtadientahbagaimanacaranyakamumunculdimimpiku.Datangmembawakansebuketbungadengancakefruitsvanillakesukaanku.Bukanhanyaitu,sebuahkadobesaradadisebelahnya.Ya,akuberulangtahun,tepatduatahunlalu.Tidakbisakahkauakhirisajasemuanya?Apa-apayangsudahberakhirdankuakhiriakhirnya.Ceritatentangmusudahtidakadalagidisetiapsudutdalampikiranku.Sudahtidakadalagimemoritentangmu,meskiperihnyamasihsajaterasa.

Masihsuasanaulangtahunku,Arjuna.Dankamutidakdatang.

Akumasihingat,terakhirkalikalakitaduduk-dudukbersamasuatusoredidepanjendelabalkonrumahmuyangterbukatanpamelakukanapapun.Kitamenikmatisemiliranginsoreyangberputardidepanbalkonrumahmu.Matakuterpejam,sambilsedikitmengurut-urutkakiyangbarusajadigunakanuntukberlarimengejartaksibersamamu.Tiba-tibatangamuterkesiapkedepanwajahku.Lalumembuka.Sebuahmutiaraberbentukbatuberwarnaputihberkilauadadisana.Warnanyamenjadiglossykarenaterpantulmatahari.Memancarkankeindahannyayangmewahmeskipunhanyaberukuranamatkecil.

Di hari ulang tahunmu nanti, batu ini akan jadi cicin emas putih,“ katamu.

Aku tertegun. Tidak ada lagi yang mampu kukatakan. Sebuah rasa hangat menajalari tubuhku ketika itu. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.

Kemarinmalamakubermimpikamudatang.Bertandangmengetukpinturumahkusambilmenyembunyikansesuatudibalikpunggung.Bibirmumengejaselamatulangtahun.Sepertibiasa,tepatdidepandauntelingaku.Suarapalingmerdudanlembutbakbeledu.Suarayangrasanyainginkusimpanuntukkuputarulangjikasuatausaatakumerindukanmu.Setelahitu,akumelihatsebuahlingkarankecilberkilaudenganbatuputihberbentukmahkota.Itubatuyangdulu,yangukurannyatigakalilipatlebihbesardariyangini.Akutersenyumsebagaiekspresisenangdanterimakasih.Kemudiankamumembalassenyumdibibirkudengansebuahkecupyanghangat.Lalumeninggalkansebuahkecuplagididahi,dengandurasiyanglebihlama.Keduabayangankitadidepanpintuyangterbukamembentuksiluetyangmesra.Siluetindahyangternyatataknyata.Malamitukamutidakdatang.

Tidak ada cincin mutiara…

Tidakadasebuketbunga..

Tidak ada kecup di dahi seperti biasa….

Kamu tidak pernah benar-benar ada di depan rumahku malam itu, selain di dalam bayanganku saja.

Arjuna,kamumelanggarjanjimusendiri.Janjiyangtakpernahkumintasuatusoresaatkitadudukbersamadidepanjendelabalkonrumahmuyangterbuka.Lagi-lagi,semuanyaberujungpadakecewadanairmata.

Dengan tidak punya malu, kukirimkan sebuah pesan singkat untukmu keesokan harinya. Menanyakan apakah kamu lupa dengan hari ulang tahunku itu. Dan kamu berkata tidak. Kamu hanya membalasnya satu kata, yaitu tidak.

Seharusnya aku sadar, kamu tidak pernah benar-benar menginginkanku untuk selamanya. Kamu hanya menginginkanku saat kaubutuh saja.

Seharusnya aku tidak mengirimkan pesan padamu hari itu.

Seharusnya aku tidak berimajinasi tentangmu di hari yang semula spesial itu.

Seharusnya aku tidak mempercayai janjimu sore itu saat kita duduk bersama di depan jendela balkon rumahmu yang terbuka.

Kau tahu?

Seharusnya, kita tidak pernah saling mengenal saja.


“It always is harder to be left behind than to be the one to go…” 



Mi Manchi

Aku tidak lagi menghitung sudah berapa lama kita tidak bersama. Karena melakukannya adalah sesuatu yang teramat berat. Aku tak mampu.

Menjauh dalam kecintaan yang teramat sangat.

Menyudahi segala yang baru saja bermula.

Menahan cinta yang sedang mekar-mekarnya berbunga.

But we have to….
 

Dalam kediaman, aku merindukanmu. Sama seperti aku mencintaimu diam-diam. Tidak di depan umum khalayak ramai. Dan kamu setuju, mencinta begitu membuat segalanya terasa lebih syahdu. Kita mencinta empat mata. Mencinta pada tempatnya.
Bulan akan berganti, begitu juga tahun. Seperti sudah selama itu aku merindukanmu. Padahal baru beberapa minggu kita tidak bertemu. Dan kau tak pernah tahu, betapa sulit aku memejam mata di setiap malam tanpa suaramu. Betapa menyakitkan kesendirianku dihujani rasa rindu. Kemudian rindu berujung pedih, sampai beberapa kali menyebabkan hujan air mata. Kamu tak pernah tahu.
Bukan sekali dua kali aku mengecek eksistensimu di semua jejaring sosial. Aku menjauh, setuju dengan akal pikiranku bahwa kita tak seharusnya bertegur sapa lewat media apa saja. Kemudian melakukan blocking pada semua kontakmu yang kupunya. Lalu aku selalu mengkhianati janjiku sendiri, diam-diam kutekan tombol unblock dan kunikmati kerinduan itu lewat profile picture-mu.
Kamu marah, aku tahu.
Kamu marah karena tak mampu menahan rindu, di seberang sini air mataku menetes mendengarnya. Tidak terbendung lagi kata-kata yang dapat menjelaskan betapa sulitnya aku menjalani hidup tanpamu.
Tidak ada segelas susu untuk sarapan pagi.
Tidak ada dekapan hangat ketika tubuhku sakit lagi.
Tidak ada suara manja yang sekarang justru malah sering menggema di kamar seperti ilusi.
Itu yang terparah.

Sisa Usia

Sebenarnya apa yang dibahagiakan orang-orang ketika usia mereka berkurang?

Waktu memaksa untuk bertemu. Tanggal tujuh itu memaksa untuk datang. Aku bisa apa selain membiarkannya berlalu dalam rasa kesepian yang teramat dalam. Kesendirian yang dihujani sakit hati. Dan kegelapan dibalik semua cahaya memekakan.
Aku menurut saja. Aku menurut padanya. Aku boneka berwujud manusia.
Aku mengiyakan dan ia senang. Tak paham jenis kebahagiaan seperti apa yang diperoleh manusia saat ia merebut kebahagiaan orang lain. Ia merenggut waktu yang kupunya. Sisa waktu yang sedikit saja, yang kupunya.
Waktu berpihak padanya. Usiaku hanya simbol semata. Aku menghitung hari. Hanya tinggal enam bulan lagi……….

Belated Birthday

Taraaaa……..7th December is coming!!!!!!!!!
Alhamdulillah diijinkan nyicipin usia 21. Udah tua ya sodara huhuhu. 
Seneng banget kebanjiran ucapan selamat ulang tahun. Tapi kenapa semua doanya harus banget pake jodoh ya?????????????????????

Suprise birthday party yang kesekian kalinya dari para centessss. Thanks for these almost 4 years :*

Grup DPM FIB UI 2012 rusuh. Udah keluarga bangeeeeeeeeeeeeeeet. Organisasi paling ale dan membahagiakan :*

Sister-sister shalehah Hijabers UI :*

Ucup Riski Gustiar. Fotonya udah dari taun lalu pas dia ke Jerman, zzzzzz

Ya…. gitu deh. Kreatip banget orang-orang……
Ini pulak. Nemu aja futu jaman kumpeni………….
Anisa itu fashion stylist Scarf Magazine favorit aku.
Nuriy itu kembaran ketemu gede (nyablaknya sama).
 Monicha itu mantan calon ipar hahaha
Ucapan dari Ketua DPM FIB UI 2011 🙂

Ucapan dari Ketua DPM FIB UI 2012

Ucapan dari Mapres FIB UI :O

Ucapan dari dosen kesayangan 🙂

Ucapan dari Ketua Gundar Hijabers 🙂
YANG INI LUPAKAN AJA PLIS :’)

Alhamdulillah banyak yang doain. Terima kasih banyak atas doanya. Semoga doanya tertuju kembali untuk teman-teman semua. Lancar citra, cita, dan cintanya aminin ya.
Semoga umur ini berkah, bisa terus menguvaluasi diri, dan rajin mengukir prestasi.
Amin


Ulang tahun jalan-jalan kemana, Nay? 
Ke Rumah sakit jenguk Eka, sahabat SD yang dua bulan ini sakit dan baru aja dioperasi 🙂

She looks good huh? 🙂

Minta kadonya? Eka sembuh total ya Allah….

“The more you praise and celebrate your life, the more there is in life to celebrate”
– Oprah Winfrey