Sia-sia

Matahari tak pernah datang lagi. Air mataku tak kunjung kering, amarah kita masih sering menggema.
Kamu tahu aku tak pernah bisa membencimu, seharusnya aku tahu kamu tak pernah benar-benar mencintaiku.
Memendam adalah hal yang tak pernah bisa kaupahami seberapa menyakitkannya.
Seperti suara-suara yang ada saat telingaku sudah tuli.

Comfort Zone

Dia bergeming. Gerak-geriknya tidak menunjukkan sesuatu yang aneh. Kepalanya tertunduk menatap gunungan pasir yang sedang dibangunnya. Suara hempasan ombak memecah kesunyian itu. Beberapa burung bersayap amat panjang berteriak menuju pulang menambah keramaian. 
“Kamu tahu? Hanya di tempat ini aku memahami arti kata nyaman,”
Ia menunjuk ke pepasiran, yang kemudian kuterjemahkan sebagai pantai.
Aku tahu, Tiffa. Aku selalu tahu perasaanmu jauh sebelum engkau mengatakannya.
Kamu kemudian memeluk kedua betis yang dilipat di depan dada. Lalu menatap jauh ke arah depan, 
menuju matahari yang hampir tenggelam. Sisa cahaya merahnya terpantul di wajahmu. Memantul pada air mata yang tergenang di sana dan memberi kilau seperti permata. Meskipun cantik, aku selalu benci air mata itu. Tangis yang kutahu diam-diam kaukeluarkan setiap harinya.
“Jika diijinkan memilih, aku ingin menjadi pohon kelapa,” tunjukmu pada salah satu pohon yang sedang berayun.
“Aku ingin bisa merasakan ketenangan seperti ini setiap hari”
Ocehanmu yang sekenanya justru terdengar pedih di telingaku. Terlebih saat menatap tetes-tetes air mata itu turun makin derasnya tanpa suara.
Tanganmu meraih ponsel dari saku. Lalu memperdengarkan lagu My Way dari Franz Sinatra secara maksimum. Tubuhmu kaubaringkan di atas hamparan pasir putih. Kaupejamkan kedua mata. 
Aku setuju. Suara-suara di pantai adalah musik terindah yang pernah kudengar. Matahari terbenam adalah gambar terindah yang pernah kulihat. Tak mau melewatkan, aku segera mengabadikan momen itu. Pesona alam itu kini terekam dalam kameraku. Aku mulai mengerti mengapa kamu begitu mendamba sebuah pantai. Aku paham sekali saat ini.
“Bram?”
Panggilmu dengan masih berbaring dan mata terpejam.
“Aku akan bahagia sekali bila mati saat ini juga. Di sini. Mati bahagia.”
Wajahmu tersenyum dengan mata masih terpejam. Entahlah Tiffani. Kubantu doa untuk kebahagiaanmu. Sekalipun itu adalah sebuah kematian.

Makna Hidup

Bagi kebanyakan orang hidup adalah pencapaian. Seorang traveler tak akan pernah puas akan hidupnya karena selalu ada gunung yang belum didaki, seorang pembalap tak akan pernah puas akan hidupnya karena semakin banyak lap yang ingin dikuasai, dan seorang pekerja akan terus-menerus menghabiskan harinya di kantor karena merasa jabatannya tak pernah cukup. Padahal….hidup adalah tentang menunggu. Hidup adalah untuk mempersiapkan kematian. Sebagian orang bahkan menanti dengan sangat kematiannya, maka ia hidup seperti mati.