Menemukan Kehidupan

Untuk beberapa waktu yang cukup lama, kematian tinggal di sana. Di sebuah ruang dalam pikiranku. Berwujud emosi pada mulanya, lalu menjelma menjadi harapan tanpa kusadari bermula sejak kapan. Hari-hari berubah warna menjadi kelabu, semua masalah kuhadapi dengan wajah datar begitu saja. Sudah kurasakan bagaimana hatiku telah lebih dulu mati, kebas terhadap semua hal yang ditemui. Dapat kurasakan betapa jiwaku sudah tak lagi di bumi. Dan telah dapat kurasakan betapa dunia sebenarnya ingin agar aku mati, dengan catatan aku harus menderita terlebih dulu berkali-kali. 
Jiwaku telah lama mati. Semangatku sudah padam jauh sebelum amarahku tenggelam. Emosi sudah tidak ada lagi saat ini, yang tersisa tinggal puing-puing kepasrahan agar diri ini cepat-cepat dipulangkan. Dunia sudah tidak terlihat indah. Tinggal seorang diri adalah hal yang menyedihkan. Seperti hidup yang sia-sia karena tak ada siapa-siapa lagi. Bahkan pada detik itu, air mataku sudah kering, sudah tidak mampu berurai saking hilang rasanya. Namun sayangnya, segala usahaku untuk mati selalu berujung kegagalan. Kematian menjadi satu hal yang amat kudambakan, kuimpikan, harapan.
Kematian itu selalu mengikuti kemana pun aku pergi. Seolah menjadi bayangan yang tak pernah bisa kusembunyikan. Seolah menjadi dosa yang tidak bisa dititipkan pada orang lain. Cita-cita menjadi sebuah kata yang asing di telingaku. Hidup bukan lagi sebuah tujuan, namun pertahanan. Bukan mengejar kehidupan, bertahan hidup pun sudah cukup. Mataku sudah buta tentang indahnya dunia, sampai suatu saat sebuah senyum terekam jelas dan terhenti di sana. Putri namanya. Seorang anak pengamen jalanan berusia 12 tahun, yang mencari uang demi bisa bersekolah. Juga Anisa, seorang pengamen yang sedang duduk di kelas 4 SD yang berujar sekenanya saat aku menawarkan diri untuk membantu mereka mengamen,
“Kalau kakak ikut nanti yang ngasih banyak deh pasti, kakak cantik sih!”
Untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu bermuram durja, senyumku mengembang kembali karena ulah si kecil ini. Anak-anak yang mengembalikan semangat hidupku, sumber pembelajaranku bahwa hidup itu butuh diperjuangkan. Betapa Putri rela menahan malu telah diturunkan dua tingkat, karena sempat tidak mampu membayar iuran bulanan sekolah. Juga Anisa, yang selalu membuatku tertawa dengan polahnya yang menggemaskan. Dua sahabatku yang cantik dan pintar. Kami kemudian sering bermain kartu UNO bersama atau sekadar nyanyi asal-asalan di pos ojek yang biasanya sepi di malam hari. Ada chemistry yang mengikat kami begitu kuat. Mungkin karena pada dasarnya aku dan mereka sama-sama tidak punya siapa-siapa. Hanya saja, aku jauh lebih beruntung. Semangat kedua anak itu telah mengantarku pada sebuah ajang nasional bernama Youth Adventure and Youth Leaders Forum 2014. Dan untuk pertama kalinya, aku mengikuti ajang leadership semacam ini. Demi menemukan kembali semangat hidup yang telah lama mati, juga untuk menyadarkan diri bahwa mati sebelum berbagi adalah sebuah tindakan bodoh. Selama ini aku telah ceroboh. Kali nanti aku akan kembali pada Anisa dan Putri, dan memberikan sebuah persembahan untuk mereka lewat project sosial yang akan kubuat di acara YLF ini. Sebagai balasan rasa terima kasihku pada mereka. Suatu saat nanti pasti akan kuwujudkan, entah kapan.

Di dalam perjalanan Youth Adventure ini, Tuhan sengaja mempertemukanku dengan kehidupan. Pembelajaran tentang seorang bapak tua yang sudah duda dengan anak gadis yang cacat mental, hidup serba berkekurangan, namun masih tetap mau berbagi bekal untuk kami dan tidak henti-hentinya tersenyum. Juga pembelajaran tentang seorang gadis bernama Santi, yang diolok-olok warga sebagai orang gila, karena sudah lima tahun ini ia sering berbicara sendiri dan kehilangan akalnya. Bahkan di dalam “ketidaksadarannya”, Santi tetap mengingat asma Allah, selalu sholat berjamaah di mesjid, juga dapat mengkaji Al-Quran dengan lancar dan baik. Seorang Santi yang jiwanya telah mati berharap ingin terus hidup, namun seorang aku yang masih hidup berkali-kali ingin cepat mati. Innalillahi.
Semula aku adalah seorang pecundang, pengecut, dan penakut. Yang entah bagaimana bisa nekat ikut dan ternyata lolos seleksi. Seorang gadis ringkih dan penyakitan, yang dengan gagahnya memberhentikan truk berkali-kali untuk mendapatkan tebengan dengan rute Purworejo-Jakarta. Seorang gadis bermusuh hujan, yang dengan santainya menerjang hujan demi menyelamatkan teman kelompok yang sedang sakit. Ajaibnya, aku tidak sakit sama sekali meskipun sudah basah kuyup. Sebut saja Kak Aya, seorang pejuang hak asasi wanita yang percaya bahwa aku bisa bahkan aku sendiri pun tidak. Seorang wanita yang menjadi inspiratorku. Suatu saat nanti aku ingin sekali menjadi seperti dirinya; telah menyelamatkan hidup wanita-wanita lain, termasuk aku. Bukan hanya Kak Aya, seluruh peserta, volunteer, dan pembicara di acara YLF ini membakar api semangat itu. “Setiap orang sukses pasti memiliki masa lalu yang kelam”, sebuah quote dari Oprah Winfrey yang selalu kupercaya hingga kini. Keberanianku hadir di YLF ini adalah karena aku yakin, ke-46 peserta lainnya juga punya masa lalu yang kelam sebagai pembalasan dendamnya untuk menjadi lebih baik lagi. Karena aku percaya, mereka adalah bakal orang-orang yang sukses. 
Empat puluh enam peserta yang hebat dan luar biasa, yang suatu saat nanti akan membuat Indonesia bangga. Berada di antara mereka membuatku teringat, bahwa setidaknya ada yang sudah kulakukan sedikit untuk negara. Semangat yang dikobarkan mereka akhirnya membuatku bisa menghargai prestasi yang telah kuraih selama ini, komunitas-komunitas yang telah kuciptakan, juga bakat dan kemampuan yang seringnya kuabaikan. 
Aku sudah hampir lupa, bahwa aku pernah berharap ingin mati. Berkali-kali. Jika memang suatu saat nanti aku harus mati, maka aku tidak boleh mati sebelum berbagi.
Salam berbagi!
Terima kasih banyak kepada Bang Azwar Hasan,
yang telah menyampaikan amanah semangat hidup dari Tuhan kepadaku.

3 thoughts on “Menemukan Kehidupan

  1. I read this article just now and I found it very touchy. thank you Fathin. please keep writing, setiap pilihan kata Fathin terdengar indah dan menyentuh. Mas Wahyu, apa kabar! ayok daftar lagi GMB-2015, never give up ya! sering yang gagal malah lebih sukses dari yang berhasil lulus sebuah ujian tapi kurang dapat menghargai dan memaknainya. salam berbagiB'Az

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s