Kisah Sendiri

Kara

“Aduh, kayaknya gue married pas umur 24 aja deh. Udah nggak sabar,” ujar Lenny.

“Berarti kurang dari setahun lagi dong, Len?” Tere berteriak seru. Disusul jerit teman-teman lain yang sangat khas mereka. Mungkin harusnya mereka tidak menjerit, karena Tere juga sudah punya calon, ia sudah berpacaran kurang lebih 5 tahun dengan Damar, sudah cocok kan disebut sebagai calon? Selain Tere ada juga Fio, yang semula hanya dijodohkan dengan Haris oleh orang tua mereka sesama rekan kerja, namun pada akhirnya mereka setuju karena muncul chemistry di antara keduanya. Sisanya ada Andina, wanita berjilbab itu tenang saja, meskipun single dan tidak punya pacar, dia sudah ada beberapa pilihan untuk dijadikan calon suami. Lama-lama, tawa dan obrolan mereka sudah tidak terdengar lagi. Diterpa tetes-tetes yang mengetuk kaca jendela di sebelahku terduduk.

Hujan lalu mulai reda, meninggalkan embun serupa kabut di kaca jendela. Suasa hujan adalah teater yang paling kusuka. Aku tak pernah mau ia reda. Hujan selalu membawaku berdialog dengan diri sendiri. Selalu menjadi teman selama lebih dari dua puluh tahun hidup di muka bumi. Tiba-tiba, aku merasakan sepi. Dan sesuatu terasa berat sekali di dalam hatiku. Mengganjal dan membebani.

“Kar? Kara!” Fio ternyata sudah memanggilku berkali-kali tanpa kusadari. Yang lainnya hanya menatap jengkel atas sikapku.

“Eh…iya. Apa?”

“Elo besok bisa dateng kan ke acara tunangan gue?” pertanyaan Lenny ini lucu. Terdengar seperti menyindir seolah-olah aku tidak akan datang karena tidak punya pasangan. Eh….atau aku saja yang berlebihan tersindir? Wanita single katanya sensitif ya. Aku jomblo anw, bukan single.

“Ya datenglah, Len. Hari bahagia sahabat gue masa nggak dateng?”

“Bukan gitu, katanya lo ada deadline script buat gala cinema bulan depan?”

Benar juga. Aku bahkan hampir lupa. Masalahnya, besok aku ada meeting besar dengan produser dan sponsor, bahkan crew talent juga ikut karena deadline sudah sebulan sementara artis-artis belum ditentukan. Produser yang satu ini memang menyusahkan. Dia selalu bisa membaca minat pasar dan tidak mau menunggu lama untuk kejar tayang. Untungnya, semua pihak setuju atas gagsanku kalau meeting diadakan di coffeeshop ini, sehingga aku tidak perlu lagi menahan mual karena si produser sang pecinta makanan-makanan mentah ala korea dan jepang. Jarak dari apartemenku kesini juga dekat, jadi aku tidak perlu bangun terlalu pagi esok hari.

“Kar, ngomong-ngomong, lo beneran lagi nggak deket sama siapa-siapa?” tiba-tiba Tere bertanya. Disusul tatap-tatap mata penasaran yang lainnya. Aku merasa jadi makin kerdil.

“Iya,” aku hanya menggeleng pelan, “gue belum deket sama siapapun,”

Fio membuang nafas panjang, Tere jadi merasa bersalah sudah bertanya.

“Emangnya gue jelek banget ya? Sampai nggak ada yang mau sama gue?” suasana menjadi hening seketika. Andina sekelebat langsung memegang sebelah tanganku yang tergeletak dingin di atas meja, memandang dengan tatapan iba. Sentuhan itu justru membuat hatiku makin hancur lagi. Pasti aku terlihat menyedihkan sekali di mata mereka. Sesak rasanya bila terus diatanyakan soal pasangan oleh siapa pun. Teman, orang tua, keluarga, bahkan rekan di perfilma.

“Itu dia, Kar. Gue bingung. Elo itu cantik, pinter, kreatif, pekerja keras. Kenapa masih single aja ya?” Fio mengatakan itu entah jujur atau hanya untuk menyenangkanku saja.

“Mungkin lo picky kali, Kar?” Tere menambahkan. Aku jelas menggeleng.

“Semua orang di kampus juga tau, yang paling picky soal cowok itu elo, Ter,” spontan semua tertawa, kecuali aku. Sama sekali tidak mood untuk tertawa.

“Pasti ada yang salah sama lo, Kar,” Fio beragumen. Otakku spontan berputar, terlihat dari kedua alisku yang bertaut.

“Mungkin memang belum aja kali, Kar,” Andina mempererat genggaman tangannya, sambil berkata lembut dengan senyum yang begitu menenangkan.

Hujan sudah benar-benar reda. Embun di jendela sudah mulai menghilang dan tanpa bekas, karena aku bisa melihat dengan jelas Fio di lobby coffeeshop, sedang menyapa Haris yang datang untung menjemputnya. Andina sempat melambaikan tangan padaku, sebelum akhirnya beringsut ke mobil Tere yang akan datang ke lobby sebentar lagi.

Coffeeshop sudah benar-benar sepi. Dan aku masih memandangi langit sewarna maroon yang menjelma senja. Aku membuang nafas berat yang hangat. Sepotong kalimat milik Fio tidak berhenti berputar di kepala, pasti ada yang salah denganku.

***

Rama

Sejak pukul sembilan pagi, aku sudah duduk di sana. Bahkan aku sering datang kesini sebelum cafe ini benar-benar dibuka dan pelayannya masih bersiap-siap. Setiap pagi, aku selalu tergesa. Sering juga memaksa para pelayan untuk segera membuka tokonya. Hanya agar aku bisa mendapatkan kursi yang biasa.

Dan untungnya, para pelayan itu tidak pernah merasa kesal. Mereka paham satu hal, aku sedang jatuh cinta.

Seorang pelayan yang wajahnya sudah kukenal lalu datang dan menghidangkan secangkir espresso ekstra vanili di meja bundarku. Mataku tak berhenti menengok ke arah pintu, tatapan menunggu. Jemariku mondar-mandir tidak mau diam mengetuk-ngetuk muka meja.

“Sepertinya hari ini terlambat, Pak,” Desinta, nama yang tertera di dada kiri pelayan tadi, memberi jawaban yang membuatku berwajah semu.

“Sepertinya begitu,” jawabku tersenyum sipu.

Shift siang akhirnya kupilih tanpa kombinasi selama tiga mingguan ini. Jika aku harus masuk kerja pukul satu, berarti aku selalu punya waktu kurang lebih dua jam untuk mampir dulu di Coffeeshop ini dan menunggu Puan. Aku bahkan tak kenal siapa namanya. Suatu hari aku pernah berjanji untuk mau berani menyapanya. Sering kali, terlalu sering, sampai hari ini, aku tidak pernah menepati janji itu sendiri.

Tak berapa lama kemudian dia datang. Hari ini ia nampak begitu berbeda dan……memesona. Kali ini ia tidak mengenakan skinny jeans dan kemeja kebesaran, melainkan dress di atas lutut dengan kerah sebahu yang memperlihatkan tulang lehernya yang menonjol. Ada layer-layer di dadanya yang membuat tubuhnya menjadi lebih berisi. Bajunya berwarna peach. Kali ini juga tidak ada Docmartens berwarna merah maroon, berganti menjadi stiletto runcing berwarna krem yang membuat kakinya terlihat makin jenjang. Potongan rambutnya dibiarkan sama, serupa pramugari dengan salah satu sisi lebih panjang sepipi, hanya kali ini wajahnya dihias sedikit make-up yang natural. Dia benar-benar memesona.

Puan melenggang perlahan ke tempat ia biasa duduk, di sisi jendela sudut ruangan non-smoke. Sama sekali tidak terlihat kesulitan telah melakukan vermak habis-habisan pada dirinya sendiri menjadi feminin. Well, itu menandakan selera fashion-nya cukup bagus dan dia stylish.

Aku tidak ingat sejak kapan pandanganku tidak lepas darinya. Hari itu aku terpaksa bertemu teman lama dan Starbucks di lantai teratas mall ini yang ternyata ramai sekali tidak seperti biasanya. Dan hampir semua orang berlama-lama di sana. Terpaksa aku dan Jeffry berkeliling. Tempat makan terlalu bising untuk acara temu-kangen dan juga tidak boleh merokok. Saat kami menuju basement karena putus asa ada sebuah Coffeshop di seberang. Tidak terlalu luas, ukurannya terbilang kecil namun memiliki parkir yang luas. Dengan susah payah, kami mencoba Coffeeshop yang tidak terkenal itu. Dan di sanalah aku bertemu Puanku. Sedang terduduk di atas kursi tinggi di sisi jendela dengan laptop terbuka. Tanpa alasan yang jelas, aku langsung menyukainya begitu saja.

Aku tidak pernah tahu apa yang dilakukannya setiap hari di Coffeeshop ini di setiap hari kerja. Duduk di sisi jendela dengan pose yang selalu sama, dengan mata yang tertuju pada sebuah ultrabook berwarna silver dengan logo apel ditengahnya. Aku benar-benar tidak tahu dan aku amat mau tahu.

Hari ini ia tidak sendiri. Ada seorang pria bertampang seniman, seorang wanita muda bertubuh gempal, juga beberapa pria berjas menghampirinya. Dia beranjak dan segera mengajak ke ruang meeting yang ada di lantai dua. Rupanya rapat penting. Aku tidak mau tahu itu apa, tapi yang jelas hari ini aku harus menepati janjiku. 

Tuuut….tuut…

“Halo, Mbak Reda, aku absen dulu ya hari ini nggak bisa ke kantor. Buang-buang air terus,”

Klik.

Berbohong sekali daripada menyesal selamanya.

***


Kara & Rama

Diluar dugaan Kara, meeting hari itu lebih cepat selesai dari biasanya. Heels lima centi itu lumayan menyiksanya, namun sekali-kali menjadi cantik seperti ini tidak ada salahnya. Script-script dengan deadline super-kilat telah merenggut waktunya untuk berdandan, sebagai alternatif maka Kara selalu mengenakan style boyish agar sesuai dengan wajahnya yang awut-awutan. Sekeluarnya dari pintu Coffeeshop mengantar para tamu Kara segera kembali ke kandang, kursi tempat ia biasa mengeram dan memproduksi naskah-naskah baru. Hari itu hatinya begitu ceria, entah karena langit sedang tidak menurunkan hujan atau karena hari ini ia mengenakan baju berwarna muda.

Kara baru saja akan membuka laptop saat Ayu, pelayan yang sudah ia anggap teman sendiri, mendatangi mejanya dengan secangkir Cappucino. Kara baru saja ingin protes karena Ayu memberikannya sebuah mug Cappucino extra-large, bukan hanya secangkir kecil seperti yang biasa ia pesan. Sebelum sempat Kara membuka suara, Ayu mengeluarkan sebuah tissue dari sakunya sambil tersenyum. Di atas tissu itu tertuliskan sesuatu dengan sebuah pena. Tulisan yang begitu rapi seperti di-print dengan komputer.

Do you have time for me just until you finish the coffee?

Ayu mengantar mata Kara yang bertanya kepada Rama yang tengah duduk tersenyum tidak jauh di sampingnya. Seperti tersengat listrik, senyum yang dihadiahkan Rama berpindah ke bibir Kara. Senyum dengan pipi bersemu yang membahagiakan. Ayu ijin pamit setelah Rama, yang berpakian khas kantoran dengan kemeja dilipat sesiku dan sebuah ipad di tangan, muncul menyerahkan tangan kanannya untuk dijabat.

Lenny benar, hari itu Kara tidak bisa datang ke acara pertunangannya. Namun bukan karena meeting, melainkan karena pangeran yang sudah ditunggunya selama bertahun-tahun telah datang.

Fio benar. Ada yang salah denganku. Terlalu sibuk berkutat dengan diri sendiri, sampai tidak menyadari ada seseorang yang telah menunggu selama berminggu-minggu dari kejauhan.

“Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage”
-Lao Tzu

Tuhan dan Cinta

Lilin-lilin dinyalakan. Ketika alunan piano memberi aba-aba akan memulai, orang-orang berdiri dan siap terlarut dalam suanasa khidmat. Juga siap menuruti puji-pujian yang akan dinyanyikan oleh beberapa orang yang berjejer dua baris bersisian dengan sang pemain piano.
Kamu mulai memejamkan mata. Tanpa suara.
Lambat laun, aku mengenali lagu yang sedang mengalun. Lagu yang sering kudengar di iklan televisi, Malam Kudus. Doa-doa lain seirama lagu yang bernapas panjang-panjang mengudara memenuhi atap geraja yang tinggi. Berputar, memecah keheningan malam menjelang perayaan Natal esok hari.
Kepalan tanganmu tertelungkup erat. Begitu khusyuk.
Aku berdiri diam, sambil terus melirik padamu yang masih terpejam di antara semua orang yang sedang bernyanyi. Kamu mematung, seperti tak lagi bernafas. Menit-menit berlalu dan aku masih dihantui rasa ingin tahu. Apa yang sedang kau katakan kepada Tuhan, Nuel? Adakah aku yang kau sebut dalam doamu. Adakah harap tentang keberadaanku pada setiap hal dalam hidupmu.
Aku mulai memejamkan mata.
Menghujam tanya dalam dada kepada Tuhan yang aku pun tak mengerti apakah Tuhan kita benar-benar berbeda. Atau kita saja yang tidak sama. Sejuta tanya yang menghakimi dalam seribu duka. Aku melipat dada, kamu mengepal kedua tanganmu. Aku suka cara kita masing-masing berdoa. Berbeda bisa seindah itu, apakah orang lain tidak bisa merasakannya?
Angin sejuk sempat berembus masuk dari jendela gereja yang sengaja dibiarkan terbuka. Lalu menyebabkan lilin-lilin itu hampir kehilangan api kecilnya. Bau panas itu berbelok dan singgah di ujung hidungku. Betapa aku amat menyukai suasana ini. Suasana khidmat yang sama sekali tidak kuyakini. Ritual yang tidak kupahami namun berterima dalam pemahamanku.
Suara piano berhenti.
Semua mata orang-orang mulai membuka. Begitu juga dengan kamu. Yang sesaat setelah matanya terbuka langsung melirik kepadaku dengan senyum. Dan pada tatapan itu ada genangan air yang memantul bagai embun pagi. Adakah aku yang kau tangisi dalam doamu, Imanuel?
Kita pulang dan kamu menggenggam tanganku.
“Apa ini?”
Tiba-tiba sesuatu masuk ke dalam genggaman tangan kananku. Sebuah benda berbentuk kotak panjang tipis yang diikat pita sederhana. Berwarna salem dengan pita merah muda. Warna kesukaanku, seperti yang kamu tahu.
“Kuas barumu,”
Aku terperangah, meskipun jawaban lain yang kudengar di telingaku adalah kado natal. Aku berdebar, meski ini bukan pertama kalinya kau membuat aku dag-dig-dig berbagai rupa. Dan seperti itulah kita, bertoleransi satu sama lainnya. Tidak menyinggung perihal agama selama sedang bersama. Alasan mengapa kita dapat bertahan cukup lama. Alasan mengapa aku begitu mencintaimu.
“Oh, aku juga punya sesuatu!”
Kuaduk isi tasku yang menyimpang miring di badan. Kamu menunggu tidak sabar, masih tidak percaya bahwa aku telah menyiapkan sebuah kado kecil untuk hari besarmu.
“Taraaa…!”
Kamu terbelalak saat aku menyerahkan segulung tape kecil berwarna transparan, plus kacamatamu yang berhasil kuperbaiki asal-asal-asalan.
“Untuk membetulkan kaca matamu,” lalu kita tertawa bersama begitu bahagianya. Sebetulnya, aku lebih suka kamu tanpa kacamata itu, seperti melihat sisi lain yang selama ini kau tutupi. Anyway, aku suka sisi manapun dari dirimu, Nuel. Dan kamu tahu itu.
Tawa itu mengeratkan genggaman kita lebih kencang  lagi. Menyebarkan rasa hangat ke setiap pembuluh darah yang mengalir di tubuhku. Keesokan harinya Natal tetap datang, dan kita tetap bersama meski tanpa aku mengucapkan selamat kepadamu. Sama seperti saat lebaran kamu datang ke rumahku mengenakan koko tanpa mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri dan malah langsung menghabiskan semua kue di atas meja. Tentu kamu datang saat di rumah tidak ada orang. Bukankah kita sudah biasa mencintai berteman sepi?
Dan…
Malam ini aku merasakan kebahagiaan itu lagi.
***
Aku memejamkan mata.
Suara murottal ayat Al-quran yang direkam dalam sebuah kaset menggema, memantul pada setiap ruang di dalam mesjid. Aku duduk tepat di tengahhnya, di shaf terdepan barisan perempuan meskipun tidak ada perempuan lainnya. Suasana syahdu begitu merasuk kalbu. Sepi yang menenangkan karena tidak ada orang lain mengingat ini bukan jam sholat lima waktu. Aku masih bertahan di sana. Bersimpuh begitu lama. Bertahan dengan bayanganmu yang kupertahankan. Ada namamu yang dalam diam tak berhenti kueja. Aku bertanya dalam buncah sebuah doa. Bagaimana bisa sebuah anugerah bernama cinta bisa berubah menjadi dosa. Rasa itu datang begitu saja tanpa kuminta. Rasa semanis eskrim yang biasa kita cicipi sepulang kuliah di pinggir kampus. Rasa yang setelah itu bisa tiba-tiba berubah pahit karena orang-orang yang tak mengerti kita. Aku masih bertanya, untuk apa Tuhan ciptakan cinta jika ujungnya hanya berbuah cerca.
Aku bergelung lemah.
Tangisku bermuara pada kalimat tasbih yang kutumpahkan di atas sajadah panjang yang menutupi seluruh lantai mesjid. Basah yang tertinggal di sana adalah karenamu dan Tuhan tahu itu bukan yang pertama kalinya.
Tuhan pasti tahu, bahwa aku mencintaimu. Dan kamu selalu tahu, bahwa aku mencintai Tuhanku.
Seperti biasa…
Kamu masih di sana, masih menunggu sampai aku selesai melaksanakan sholat Dhuha.
¬†“Jika Tuhan inginkan sebuah penyatuan, mengapa Dia ciptakan perbedaan?¬†
Apa gunanya cinta dan Bhineka Tunggal Ika jika semua hanya abadi dalam ucapan bibir semata?”
– Dwitasari, penulis Cinta Tapi Beda

Utuh

Sepasang tatap mata yang mendekat
Auramu merambat, menggetariku
Ini waktu kita
Ketika yang kutunggu ada padamu
Itu senyummu
Yang selalu ingin kumiliki seorang diri

Dua hati yang sendiri mulai merapat
Tanganmu menggamit, menenangkanku
Kepadamu tawaku luber begitu saja
Lebih dari itu
Ada tangis yang ikhlas meluap tanpa diminta
Biar kusandar padamu

Sepasang mata yang tajam nan teduh menyeluruh
Satu hatiku dan ribuan kamu di dalamnya
Sepasang telingaku dan hanya suaramu yang kucerna
Seberkas tawa yang megahnya mengudara bila kita bersama

Dan perasaan selalu begitu
Muncul tanpa kutahu
Tumbuh tanpa seijinku
Memilih kamu tanpa persetujuanku

Sajakrasa020314

Tertinggal Padamu

Telah kusingkap warna jingga pada senja
Menyusuri seluk-beluk jakarta
Di antara baja tinggi yang menutupnya
Cahaya itu tersingkap
Masuk menerobos sanubari
Apa-apa yang tidak kita ketahui

Ada yang tertinggal dari cerita bersamamu
Menerobos hiruk-pikuk jakarta
Tentang tanya yang selama ini dipendam semu
Di luar hal tentang masa lalu
Kamu entah mengerti apa
Kemudian menyimpul senyum bersahaja

Hatiku
Ada hatiku tertinggal bersamamu

Sajakrasa010314