Captured

…..di sepertiganya malam, saat Tuhan mengamini semua doa
Kepadamu yang sudah beberapa hari ini tidak bicara,
Mungkin kamu memang pendiam. Tapi tidak dengan menulis status. Berkali-kali aku menunggu munculnya sebuah notifikasi dengan namamu di atasnya. Menunggu ada sapa darimu membuatku menjadi gila. Sepertinya aku benar-benar sudah gila, karena kita baru kenal beberapa hari saja.
Siang tadi aku bermimpi, yang bisa saja menjadi sebuah alasan atas perasaan yang mengganjal malam ini. Aku melihat gambaran kita di mimpi itu. Tertidur sendiri-sendiri, dengan kesukaan masing-masing, namun terikat dengan lagu yang sama. Kabel bercabang dua yang tertancap di atas ponsel mengantarkannya kepada telinga kita. Lagumu, lagu kesukaanku. Lagu yang mungkin saja kau ciptakan bukan untuk aku. Namun aku begitu menyukainya, siapapun menyukainya. Semua orang menyukainya. Aku selalu cemburu pada semua orang, apalagi yang lebih lama mengenalmu. Katamu itu tidak perlu, karena menghabiskan waktu sebentar bersamaku sama dengan kesendirianmu berpuluh tahun. Kesia-siaan yang menggembirakan.
Aku melihat gambaran kita di sebuah taman  yang sama. Dengan kesukaan masing-masing. Ada sebuah buku terbuka di atas dadaku, ada sebuah ukulele biru muda di atas dadamu. Terpejam dengan bingkai senyum yang sama. Pagi itu tidak biasanya, aku mengenakan sebuah dress berwarna peach dengan pita ekstra besar di penggang dan kamu mengenakan sebuah kemeja digulung selengan dengan pita nakal di leher. Aku tak pernah melihat kita sebahagia itu sebelumnya, bahkan aku belum pernah melihat senyummu yang seperti itu sebelumnya.
Sampai akhirnya kita terbangun dan tertawa saat menyadari realita. Beberapa kerabat dan perlengkapan kameranya mulai jengkel memerhatikan tingkah kita berdua. Benar-benar terlupa, benar-benar merasa bahagia. Momen itu ternyata menjadi awal bagi bermulanya kisah kita. Tidak pernah dapat ku percaya, kau akan segera menjadi imam dalam hidupku.
Aku tidak pernah tahu, Randa. Apakah itu sebuah pertanda? Apakah itu mungkin terjadi dengan fakta yang menyakitkan bahwa kau tidak pernah mencariku? Sepertinya aku benar-benar sudah gila, karena aku melihat padamu masa depanku meski kita hanya kenal beberapa hari saja.

Adakah kau rasakan yang sama?

Dalam Koma

Terkadang
Kita  begitu lupa memaknai jeda di dalam koma
Terkadang
Kita hanya perlukan henti untuk bisa mengerti
Terkadang
Ada peran Tuhan dalam pilihan yang kita sesali
Terkadang
Tak perlu ciptakan  tanya dari nyata yang sering kita hakimi
Terkadang
Hidup hadir hanya untuk mati
Terkadang
Luka datang hanya untuk diobati
Terkadang
Mencintai yang pergi adalah cara Tuhan mengajarkan kita tentang rasa
Terkadang
Menyesali yang datang adalah cara Tuhan menjelaskan kita tentang cukup
Terkadang
Semua akan bermuara pada satu masa yang sama
Terkadang
Pada akhirnya
Kita akan berterimakasih pada luka yang pernah ada

Hulu Rasa

Perlahan, satu per satu bertandang meminta harapan. Sayangnya, menurutku harapan tak mudah dibagi, karena harapan pada akhirnya hanya akan membuat mereka tersesat dalam kekecewaannya. Harapan, bukan lagi soal jawaban. Bahkan harapan, sesuatu yang bahkan terkadang belum ditanyakan, namun malah menimbulkan banyak pertanyaan. Bukan menuntut balas atas apa yang tentu saja tak pernah bisa kuberi. Mereka hanya diam, dan menjawab bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah pilihan.
Kemana rasa-rasa itu harus bermuara pada akhirnya? Rindu-rindu yang selama ini bertuan sama. Rindu yang tak pernah kubayangkan dan kuminta harus tertuju ke depan rumahku. Semua ini terlalu banyak. Datang di saat aku benar-benar yakin bahwa diriku tak lebih dari setangkai bunga yang patah. Dan saat ini semua itu tetap tidak mengubah pemikiranku, bahwa aku hanya sebutir debu di pinggir jendela kayu yang telah rapuh. Termangu tak pejam-pejam menanti terbit-lalu-tenggelamnya sang mentari. Di sela-sela kegiatan itu, ternyata ada beberapa yang memperhatikan dari jauh, bahkan menunggu, kemudian secara tiba-tiba ikut melakukan kegiatan duduk di pinggir jendela kayu tanpa sadar, lalu secara terang-terangan entah sejak kapan mengaku mencintai pemandangan sepotong senja di sore hari tatkala malam akan bermula. 
Harus kukemanakan rasa-rasa itu? Yang tidak pernah kuharapkan kedatangannya, namun sekaligus tidak dapat kuhakimi keberadaannya. Cinta adalah sebuah anugerah. Dan dicintai adalah sebuah kebahagiaan. Namun bagaimana bila cinta tidak lagi menjadi kebutuhan yang prioritas? Bagaimana bila kata cinta masih dan selalu teranalogi atas sesuatu bernama luka? Kata yang selalu mengantarkanku kepada memori yang tak pernah mau kuingat. Cinta adalah sebuah kebohongan internasional yang pernah ada di dunia,  alasan dari semua kehancuran yang terjadi di sekitarku. 
Malam ini,  aku tak akan bisa tidur tenang. Masih mempertanyakan, kemana rasa-rasa itu harus bermuara pada akhirnya?

Gelas di Pinggir Kolam

Arjuna
Malam itu tiba-tiba kudengar suara pintu gerbang dihentakkan.  
Ada beberapa orang di luar sana, minta dibukakan pintu karena jelas hari telah larut. 
Dan entah bagaimana, di antara kesemuanya aku bisa menyadari kehadiranmu meski
belum kulihat secara langsung. Jantungku ingin meloncat. Hampir terlepas. Kamar
mandi selalu menjadi tempat persembunyian terbaik. Mendadak aku berbakat menjadi
seorang pembuat skenario.
Beberapa menit kemudian dapat kuketahui engkau sudah masuk dan duduk di ruang tengah.
Anggota rumah yang lain menyambut kalian. Aku masih termenung di dalam kamar mandi
entah menunggu apa. Sepertinya menunggu degup jantungku mau berjalan seirama dan 
melemah saking kuatnya dipompa. 
Dinda, ada gunungan kerinduan yang ingin tumpah kepadamu. Namun enggan. Karena
 bercampur amarah dan tuntutan atas sikapmu yang menyebalkan. Beberapa minggu 
kesendirian itu terasa menyesakkan, terlalu menyakitkan karena terasa 
seperti berbulan-bulan.
Aku tidak pernah menyangka, kamu bisa menjalani hari-hari selama itu tanpa aku.
Karena kau tidak tahu Dinda, di sisi yang lain aku sungguh tidak bisa menjalaninya. 
Dan kamu tahu, aku tak pernah pandai berkata. Jika kamu pura-pura tidak melihat waktu
aku lewat, aku bisa apa. Aku tidak punya pilihan. Selain masuk ke kamar dan memutuskan
untuk tidur jauh lebih awal. Suara-suara obrolan temu kangen di luar masih sangat terdengar
telingaku, terlebih suaramu. Ternyata, malam itu, aku insomnia lagi. Termenung dengan 
sejuta rasa penyesalan karena tak mampu menyapamu. 
Dinda
Sudah pagi dan rumah masih begitu sepi. Mungkin begiitu kebiasaan para cowok-cowok 
itu setiap harinya. Bangun siang. Bisa jadi karena tidak ada nyonya di rumah ini, bisa juga
indvidualisme telah menjadi identitas atau tuntutan untuk menunjukkan sisi maskulinitas. 
Seperti biasa, aku harus mencari segelas air putih setiap pagi. Kemudian terduduk di pinggir
kolam ikan koi warna-warni sambil menyeruput air putih hangat kesukaanku. Salah satu pintu
dari belakangku terbuka. Ada langkah pelan-pelan yang kian mendekat. Kemudian kamu 
mendekat. Aku menyapa biasa saja, tetap ceria, seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara kita. 
“How’s your sleep?” aku tak paham mengapa kalimat itu yang pertama keluar dari mulutku.
Bukankah terbalik, aku sebagai tamu yang seharusnya mengatakan begitu. Atau tidak ada kah
basa-basi yang lebih lucu selain itu. Kamu menyambutku senang, menanyakan kabarku ini dan itu.
Mereka ulang tentang apa yang selama ini telah kualami selama kita tidak bersama. 
Ada beribu kehilangan yang terjadi, juga ada sejuta problema yang akhir-akhir ini melilit
kepalaku. Kamu ternyata selalu tahu itu. 
Dan berada di dekatmu membuat segalanya terasa lebih ringan entah bagaimana.
Tidak ada yang lebih membahagiakan dari rasa rindu yang bertemu tuannya. Seperti 
magnet berkutub berbeda, senyumku mengalir begitu saja. Tiba-tiba secara tidak sengaja, gelasku
jatuh ke kolam. Membuatku kembali kepada ruang nyata yang masih sepi, di bawah langit yang
baru menjadi biru muda. Di pinggir kolam ikan koi dengan gelas yang mengapung. Tidak ada
siapa-siapa di sebelahku, terlebih kamu Arjuna. Rumah masih sepi dan aku masih sendiri.
Ulah gelas di pinggir kolam itu telah menghancurkan waktu kita. 
“The greatest feeling in this world is one side love. Because we don’t expect anything more other than a smile”