Harus

Kedua kantung mata itu semakin berat, turun jatuh membentuk lengkungan yang tidak membahagiakan. Aku tahu, dan itu adalah alasan mengapa aku begitu membenci bercermin. Melihat kondisiku makin hari hanya membuat batin sedih. Aku tampak mengerikan. Seperti vampire. Tidak. Tidak. Itu terdengar terlalu keren. Lebih tepatnya seperti mayat hidup. Aku biasa terbangun dengan jiwa yang belum utuh, dan entah kapan akan utuh. Aku biasa berpikir dalam tidurku, tidak pernah bersitirahat. Tidak ada waktu untuk itu.
Masih terekam jelas bagaimana Ibu menggenggam tanganku erat saat aku bilang ingin mencari pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Entah apa maksudnya itu. Kedua matanya menyiratkan terlalu banyak penjelasan. Ada beribu rasa. Ada sedih karena tidak bisa memenuhi kewajibannya, sementara itu ada harap yang begitu besar pada kalimat yang tadi kulontarkan. Ibu sedang berada dalam kondisi yang tidak mudah. Ibu terkadang terlihat seperti ingin menangis, namun tak jarang pura-pura mengerjap mata. Berkata ada debu terselip di sana. Jawaban yang terlalu sering. Ibu tidak pernah pandai berdusta.
Oya, aku baru saja terbangun dari tidurku yang sama sekali tidak nyenayk, tidak membantu. Semakin aku tidur justru aku menjadi semakin lelah. Di dalam tidur aku berpikir, kemudian terlempar ke sebuah alam yang semakin jauh, diiringi suara teriakan yang berulang-ulang, membuat alunan yang begitu memekakakan telinga. Dan aku terlempar memutar, berputar semakin jauh. Merasa ingin muntah, sakit kepala. Kejadian itu berulang lagi setiap malamnya, lalu berakhir dengan suaraku mengaduh. Entah karena jatuh dari kasur, atau merasakan sakit yang luar biasa di seluruh bagian kepala atau setengahnya.
Aku harus tangguh. Dan bertahan. Begitu banyak harap yang tertuju kepadaku. Seperti harus mengabulkan doa-doa Ibu di setiap malamnya. Agar diberikan rejeki oleh Tuhan katanya. Tuhan tentu tak pernah keberetan untuk mengabulkan Tapi bagaimana caranya Tuhan mengabulkan pinta kepada seorang tua renta yang bahkan kakinya tak mampu lagi dipakai bekerja? Sedangkan kursi roda adalah sebuah barang mewah, tersier, bukan pilihan yang bagus bila kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa memilih.
Aku harus tangguh. Dan bekerja. Sekolahku hanya tamat Aliyah, tapi adikku harus jadi sarjana. Seorang arsitek. Lukisan-lukisan proyeksi yang membingkai tembok triplek di kamarnya harus menjadi nyata. Aku yang mengharuskannya, aku yang telah mengatakannya bahwa ia harus. Adik tersenyum, dan mantap berkata, “adik ingin jadi sarjana”. Malam harinya aku menangis tidak karuan. Tersungkur di atas sajadah. Berharap ada uang turun dari langit berkarung-karung banyaknya. Berharap keajaiban.
Aku harus tangguh. Aku adalah tulang punggung keluarga. Hanya aku satu-satunya. Aku harus tangguh.
 

Dua Bintang

Tidak ada siapa-siapa di stasiun. Aku bahkan hampir tidak melihat ada petugas di loket tiket. Kartu terusan commuter line yang bisa diisi-ulang ini membuat manusia minim berkomunikasi, menghilangkan kesempatan untuk petugas dan penumpang krl saling berinteraksi. Kota selalu kejam. Situasi terlalu berterus-terang menghadang bahkan sebelum orang merasa siap menghadapinya.

Sudah pukul tepat tengah malam. Stasiun sepi penghuni. Mungkin kebanyakan sudah sampai di rumah, dan sebagian lagi mungkin berpikir kereta sudah tidak ada lagi pukul segini. Namun aku terduduk di salah satu kursi di bagian peron terujung. Tepat di peron tempat kereta wanita berhenti di hadapannya.

Langit malam seperti kian turun karena dinginnya semakin mendekat. Malam itu bukan malam yang biasa. Malam itu ada gumpalan awan menari di langit. Tampak jelas dengan warna lembut keabuan. Bergerak seirama seolah dimainkan tangan Tuhan. Rembulan sebentuk bulat sempurna menghias manis langit indah itu. Gambaran malam yang sama dengan yang kita lihat dulu. Suasana langit seperti prediksimu.

Potongan lirik lagu yang berputar di telingaku menghadirkan bayangmu tepat di sebelahku. Kamu selalu bilang, Jakarta bukan kota yang tepat untuk menunggu gemintang. Dan aku selalu percaya, karena bagiku hanya kamu astronom terhebat di dunia ini. Kamu bilang, suatu saat nanti kita akan ke Sanur tinggal di rumah kecil warisan alm ibumu. Dan aku selalu setuju, kemudian percakapan kita berakhir dengan senyum penuh cita dan cinta.

Aku tidak sedang menunggu kereta. Duduk berlama di stasiun ini mungkin tak akan membuatmu pulang sekarang. Namun duduk di sini membuatku jauh lebih tenang. Seolah menyaksikan bayangan kita bercengkrama kemarin sore. Atau mungkin kemarinnya lagi. Atau mungkin tahun kemarin. Entah sejak kapan, aku aku semakin tidak pandai mengingat. Aku tidak ingat apapun lagi selain tentangmu.

Rindu adalah perih yang menyenangkan. Dan kamu setuju akan itu. Tidak ada kata yang bisa kueja dengan benar lagi tanpamu. Aku hampir tidak bisa bicara. Orang-orang itu tidak pernah paham bagaimana kita mencinta, betapa merindunya aku menanti perbincangan kita di setiap sore sepulang kerja dapat tercipta lagi. Orang-orang itu sering menghakimi kita, mereka bahkan melarangku menunggumu di tempat kita ini. Mereka terkadang menyeretku keluar pintu stasiun dan berkata aku gila. Mereka sungguh tega.

Aku ingat potongan kalimatmu yang lainnya. Kamu selalu bilang, Jakarta bukan kota yang tepat untuk menunggu gemintang. Katamu, Jakarta tidak perlu bersedih. Karena bintangnya ada di mataku, menjelma jadi aku. Aku selalu bahagia dengan setiap kalimat yang kau ucapkan. Namun satu hal yang selama ini membuatku lupa. Di langit bintang tak hanya berjumlah satu saja. Ada bintang yang lain. Yang membawamu pergi tak kembali, yang membawa akal pikiranku pergi tak pernah kembali.

Malam itu aku tidur di teras Alfamart lagi. Tergugu menatap foto sepasang kekasih di smartphone canggih pemberianmu dulu. Malam itu aku menatap langit Jakarta. Ada dua bintang terang bersinar di sana.

Doa untuk Tuan

……di suatu sudut dalam ruang malam yang sepi
Kepada Tuan sang pemilik serpihan-serpihan rindu,
Malam ini, ijinkan aku mengaku sesuatu Tuan. Tentang sesuatu yang tidak mudah ku jelaskan, atau sesuatu yang tidak mudah dapat kau pahami. Mungkin ini adalah penyebab sakit di telingamu selama berkepanjangan atau menimbulkan sensasi gatal sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Tetapi apapun itu aku harus mengaku Tuan, aku telah lancang menyebut namamu dalam setiap doa di malamku.
Di beberapa malam ini, ada doa yang diam-diam menyeruak menyebut namamu. Dan aku tidak pernah paham, bahagia bisa sesederhana itu. Kala Tuhan mencuri dengar dan mengiyakan pintaku di balik doa-doa yang sudah sedemikian rupa kusembunyikan. Sejak mengenalmu, berdoa menjadi sebuah ritual yang sangat menyenangkan. Mendoakanmu dari jauh, sejauh apa pun itu, doa membuatku merasakan sosok kita menjadi dekat. 
Aku tidak paham dengan reaksi kimia yang sedang menjalar di tubuhku, menguasai otakku, dan membayangi mimpi-mimpi dengan dominasi wajah dirimu. Ingin sekali saja aku berusaha mengambil keputusan untuk menjelaskannya dan merasa senang. Hatiku berusaha berkali-kali menerjemahkannya, namun akal sehatku kian menolak. Memerintahkan untuk melakukan sebisanya, memberikan yang terbaik. Karena itu cara terbaik agar kita tidak terluka. Perasaan hanya akan membawa kita pada keterlenaan. Perasaan membuat kita lupa akan nyata.
Suatu hari saat kau mengatakan kau terbaring sakit. Jemariku berujar seadanya, mengatakan seadanya. Karena ada rasa kesal, Tuan. Tidak banyak hal yang bisa kulakukan untukmu dari kejauhan. Rasa kesal yang tidak tersampaikan. Aku marah benar pada jarak saat itu. Namun aku lebih marah saat sadar aku masih bukan siapa-siapa dan tetap akan menjadi bukan siapa-siapa. Ada banyak hal yang seharusnya dapat kulakukan untukmu, Tuan. Kau harus lihat betapa seorang gadis ringkih selemahku bisa menjadi begitu kuat karena harus mengurusmu. Betapa telaten seorang bocah perempuan yang tomboy ini menyiapkanmu makan. Bahwasannya kau akan sangat terkejut, Tuan. Karena hobi dan keahlianku adalah merapikan perabotan dan kebersihan seisi rumah. Jika saja aku tidak terus menjadi bukan siapa-siapa, aku bisa merawatmu, Tuan. Seumur hidupku, setulus hati yang bahkan aku tak mampu menakarnya. Hidupmu seharusnya bisa lebih baik, Tuan. Jikalau suatu saat nanti engkau tidak salah memilih Puan.
Jangan ditanya, Tuan. Aku masih tak paham dengan reaksi kimia yang sedang menjalar di tubuhku, menguasai otakku, dan membayangi mimpi-mimpi dengan dominasi wajah dirimu. Aku begitu jelas merasakan sebuah nyaman di pundakmu. Namun, apakah nyaman pantas menjadi sebuah alasan untuk kita memutuskan akhir jalan panjang dari makna kehidupan? Apakah pundakmu dapat menjadi simbol bahwa aku sudah menemukan tempat yang tepat untuk bersandar? Aku menemukan teduh dalam sebuah senyum yang kau cipta. Namun, apakah kepada sebuah senyum aku berhak menyerahkan pengabdianku seumur hidup? Apakah senyummu boleh kuterjemahkan menjadi harapan dan alasan akan hadirnya keberadaanku? 
Suatu saat nanti aku mungkin akan lelah, Tuan. Menerka sesuatu yang tak mampu kuterjemahkan. Jika Tuhan masih mencoba mencuri dengar dan mengiyakan pintaku di balik doa-doa yang sudah sedemikian rupa kusembunyikan, aku akan minta padaNya, Tuan, keselamatan dan kebahagiaanmu.