Hilang

Alkisah di sebuah pagi, Jacqueline terbangun. Berlarian ke seluruh penjuru apartemennya, menyusuri lorong demi lorong, memutar ke halaman tempat tinggalnya, tergesa menuju parkiran. Namun ia tidak menemukannya. Ia bergegas merapikan diri, mengarungi hari-hari dengan segera, masih mencari. Tidak jua bertemu. Jacqueline merasa haus, karena terlalu lama menahan rindu. Jiwanya hilang, seperti tengah berjalan tanpa berpijak. Jacqueline merasa lelah, karena rasa cintanya berbuah duka. Usahanya sia-sia. Jacqueline berusaha berlari menuju malam, segera terpejam, mungkin bisa menemukan pria itu di sana. Di malam-malamnya yang baru-baru ini terasa menyiksa bagai nestapa. Atau mencarinya ke mana pun sesegera mungkin, secepat apapun dia bisa berlari, dengan sisa tenaga yang ia punya.

Bersamamu

Sore itu, langit Jakarta berwarna kelabu. Cahaya lampion di pintu masuk yang memantul ke jendela diburamkan oleh tetesan hujan. Pintu berdecit, terbuka, membuat beberapa orang menoleh ke arah sana. Kamu datang terengah-engah sambil mengeluhkan gerimis yang membuat bagian kapucon jaket itu basah. Cowok anti payung sedunia.
Salah seorang pelayan dengan wajah familier mendekat. Tatanan rambutnya sengaja diatur dengan pomade agar telihat trendy. Sepasang sneakers ori yang terlihat cocok di kakinya membuat penampilannya sangat cool.
“Biasa, bro. Kopi gayo, no sugar.” Ia seperti sudah bisa menebak saat kau berujar. Kemudian, segera berbalik sesaat setelah mengatakan okay.

Aku masih mengaduk kopi di cangkirku yang sudah tinggal setengah, sambil terus terfokus menatapmu yang sibuk merapikan jaket dan melepas tas.
“Sudah lama ya?” pertanyaan yang sama di setiap minggunya. Dan jawaban yang sama di setiap minggunya, “Santai aja.”
Terkadang kamu terlambat lima menit, dua puluh menit, bahkan hampir satu jam. Pada intinya, kamu tidak pernah tepat waktu. Tapi aku tidak pernah pandai untuk memperlihatkan rasa marahku kepadamu. Pada akhirnya, percakapan kita dan lelucon-lelucon jayusmu yang membuatku memaafkannya.
Kopimu datang tidak lama kemudian. Suara Franz Sinatra terdengar merdu dari speaker yang disembunyikan dibalik sebuah radio antik tak bermesin. Seolah sedang bernyanyi untuk kita, saat suaranya muncul kita sengaja terdiam untuk mendengarkannya. Seolah sedang menghormatinya.

Di luar sana hujan telah mereda. Meninggalkan embun pada kaca di sebelah kita. Kamu menggambar sesuatu, berbentuk oval, ditambah mata dan mulut di wajahnya.

“Minion! Papoy!” aku berseru. Setelah itu, kita tertawa bersama. 
Menjalaninya terasa amat mudah. Menjalani waktu bersama denganmu membuat segalanya terlihat menjadi mudah. Beberapa kali aku tersandung dengan sesuatu di hatiku, seperti ada orang yang mengatur-ngatur di dalam sana. Mempertannyakan semuanya, mempertanyakan kamu.
Aku tidak pernah tahu, apakah canda-canda ini akan bertahan lama. Pembicaraan penting-dan-tidak-penting kita akan berhenti di mana pada akhirnya. Aku tidak pernah tahu. Kamu tidak pernah mengijinkanku untuk mengetahuinya.
Perlahan, kamu menyesapi kopi hitam dari cangkir. Dengan hanya tiga jari yang menjepit di genggamannya, dengan sebelah tangan memegangi piring yang berfungsi sebagai alasnya. Biasanya, kau hanya akan menghirup aromanya dulu saat kopi itu baru datang. Lalu meletakkannya lagi dan meminumnnya beberapa menit setelah itu.
Lagi-lagi, seperti biasanya, kamu melucu.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengusir suara damai itu suatu saat nanti ketika tidak dapat mendengarnnya lagi. Aku masih belum menemukan cara bila suatu saat nanti tatapan mata yang tajam itu tiba-tiba muncul seolah tengah memerhatikanku. Bahkan yang terparah, aku tidak bisa untuk tidak membayangkan suaramu yang bernyanyi ketika lagu apapun muncul dan terdengar. 
Aku belum siap kehilanganmu.
Sore itu, langit Jakarta berwarna kelabu. Cahaya lampion di pintu masuk yang memantul ke jendela diburamkan oleh tetesan hujan. Aku berharap minggu depan masih bisa menatapnya lagi. Menatap pantulan cahaya lampion dari kursi tempat aku biasa duduk di hadapanmu. Bersamamu.

“Love is very hard to let go.”
“What is love?  Love is very hard to let go.”
-Unknown

Sajakrasa140714

Dalam hati yang telah melupakan perih
Manis pagi di ujung embun tanpa tepi
Waktu terangkum seperti berlari
Aku yang tengah melakukannya
Agar pertemuan denganmu terselenggara
Malam tadi bulan menggoda
Diikut rayu oleh bintang yang bekerjasama
Orang yang sedang jatuh cinta tidak akan bisa marah
Gadis yang tengah terlarut dalam nama seorang pria
Tersenyum kembali
Sekali lagi
Hatinya telah dimerdekakan kali ini

Siluet Pagi Hari

Sinar matahari menerobos paksa melalui sela pintu kaca yang terhalang tirai. Aku tahu, kamu yang biasa melakukannya, Mas. Membiarkan hangatnya membelai dan membangunkanku. Sepagi itu, kau terbiasa sudah selesai mandi, bertelanjang dada, lantas memetik gitar asal di sisi kasur menghadap balkon. Bayanganmu membentuk sebuah siluet sedemikian rupa. Bahkan tanpa body sixpack pun bagiku kau tetap memesona (bahkan aku selalu menggoda perut buncitmu dengan istilah one pack ha..ha..). Mahakarya yang tak mau usai kupandangi. 
Pagi itu, seperti pagi biasanya. Aku terbiasa membuka mataku sebentar-sebentar. Merapatkan bed cover, bergumul menghidu bantal dengan aroma tubuhmu, lalu memandangi siluet itu. Tersenyum menjadi aktivitas baru di setiap pagiku. Bahkan saat aku belum ingat siapa aku sebenarnya, saat nyawaku belum genap jua.
“Selamat pagi, Nduk.”
Sapa itu biasa berakhir di dahiku. Dengan wajah yang tanpa sentuhan make-up, dengan muka bantal yang membuatku selalu malu-malu dan bersembunyi di balik rambut panjang bergelombang yang tergerai kemana-mana. Katamu selalu, aku tidak pernah secantik itu, saat aku terbangun di pagi hari dan menjadi aku yang asli. Yang polos. Yang bahkan belum mandi. 
Setelahnya, aku terbiasa bangkit. Meninggalkan bed cover putih super berantakan. Menginjak lantai kayu yang dipenuhi baju-baju kita yang semalam tanggal. Membuat merk-merk pada labelnya menjadi tidak berharga sama sekali.
Mengikat rambut sebentuk buntut kuda. Menggulung lengan kemejamu yang kebesaran di badanku. Membiarkan dinginnya AC menyesapi kulit paha dan betisku. Aku selalu ingat, Mas. Perutmu tidak bisa menerima apapun di pagi hari selain dua lembar roti dengan isi selai kacang dan strawberry juga segelas susu dengan satu sendok makan gula pasir. Aku selalu ingat, Mas. Roti yang polos tanpa pinggiran cokelat yang tidak kamu senangi. Komposisi selai kacangnya harus lebih banyak dari strawberry.
Sekembalinya dari dapur, aku masih mendapatimu dengan pose dan posisi yang sama. Mendekap gitar penuh mesra membuat aku cemburu luar biasa. Aku selalu siap menghancurkan lamunan itu. Mendekapmu tiba-tiba, menggelayut dari balik punggungmu. Menggantungkan ikatan tanganku di lehermu secara malas-malasan. Membiarkan ujung-ujung rambut itu menyentuh dadamu dengan bebas. 
Ada pengabdian yang selalu ingin kuikrarkan di telingamu, Mas. Seperti kata yang menjadi pujaan nada dalam setiap lagu yang kau mainkan, ada banyak makna yang selalu ingin kuhantar ke telingamu. Aku mencintaimu lebih dari sebisaku mencintaimu.
“Sarapanmu, Mas,” 
Setelahnya, aku akan mendapatkan sebuah kecup di dahi sekali lagi. Sebagai ucapan terima kasih atas sarapan setiap pagi. Dan itu sangat lebih dari cukup. Keberadaanmu sudah lebih dari cukup.
Pagi itu, seperti pagi biasanya. Aku terbiasa membuka mataku sebentar-sebentar. Merapatkan bed cover, bergumul menghidu bantal dengan aroma tubuhmu, sisa kemarin, atau mungkin kemarinnya lagi. Lalu kupandangi siluet itu, yang sudah tidak ada di sana. Siluet yang muncul dari imajinasiku saja. Senyumku hilang pagi itu. Aku kehilangan alasan untuk tersenyum pagi itu. 
Sinar matahari menerobos paksa melalui sela pintu kaca yang terhalang tirai. Kali ini, aku sendiri yang melakukannya. Membiarkan hangatnya membelai dan membangunkanku. Membiarkan panasnya bersatu dengan perasaanku. Aku bahkan telah kehilanganmu sebelum aku sempat mengingat kepergian itu. Aku hampir saja merasa takut. Tangisku hampir saja ingin tumpah. Namun tiba-tiba, akhirnya, seseorang keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada, lantas memetik gitar asal di sisi kasur menghadap balkon. Bayanganmu membentuk sebuah siluet sedemikian rupa. Dan, Mas, ternyata aku berhalusinasi tentangmu sepagi ini. Sekali lagi. 
Yang terduduk di sisi kasur itu adalah aku sendiri. Tanpa kemejamu yang kebesaran di tubuhku. Berbalut selimut yang kulilit menjadi baju. Pundakku berguncang, ada sesuatu yang membuat dadaku mendadak sesak, fakta bahwa kamu sudah tidak akan pernah ada di sini lagi, Mas. Aku tengah menangis. Ketidakberadaanmu membuat dadaku menjadi sangat sesak. Kesendirian ini membuat otakku menjadi sesak. Pagi itu, sepagi ini, aku terduduk di sana sendiri. Membentuk siluet yang menyedihkan.
Wanita itu, siapa pun dia, ia tidak akan pernah memahamimu seperti aku. Ia tidak akan mengerti cara membuat roti dan susu dengan porsi yang kau sukai.
Pagi itu, sepagi ini, aku terduduk di sana sendiri. Dengan tangis yang tidak pernah mau berhenti.
“Is a life worth living, without no one to love and to be loved in return?”
-Zena Joy Pym