Bersamamu

Sore itu, langit Jakarta berwarna kelabu. Cahaya lampion di pintu masuk yang memantul ke jendela diburamkan oleh tetesan hujan. Pintu berdecit, terbuka, membuat beberapa orang menoleh ke arah sana. Kamu datang terengah-engah sambil mengeluhkan gerimis yang membuat bagian kapucon jaket itu basah. Cowok anti payung sedunia.
Salah seorang pelayan dengan wajah familier mendekat. Tatanan rambutnya sengaja diatur dengan pomade agar telihat trendy. Sepasang sneakers ori yang terlihat cocok di kakinya membuat penampilannya sangat cool.
“Biasa, bro. Kopi gayo, no sugar.” Ia seperti sudah bisa menebak saat kau berujar. Kemudian, segera berbalik sesaat setelah mengatakan okay.

Aku masih mengaduk kopi di cangkirku yang sudah tinggal setengah, sambil terus terfokus menatapmu yang sibuk merapikan jaket dan melepas tas.
“Sudah lama ya?” pertanyaan yang sama di setiap minggunya. Dan jawaban yang sama di setiap minggunya, “Santai aja.”
Terkadang kamu terlambat lima menit, dua puluh menit, bahkan hampir satu jam. Pada intinya, kamu tidak pernah tepat waktu. Tapi aku tidak pernah pandai untuk memperlihatkan rasa marahku kepadamu. Pada akhirnya, percakapan kita dan lelucon-lelucon jayusmu yang membuatku memaafkannya.
Kopimu datang tidak lama kemudian. Suara Franz Sinatra terdengar merdu dari speaker yang disembunyikan dibalik sebuah radio antik tak bermesin. Seolah sedang bernyanyi untuk kita, saat suaranya muncul kita sengaja terdiam untuk mendengarkannya. Seolah sedang menghormatinya.

Di luar sana hujan telah mereda. Meninggalkan embun pada kaca di sebelah kita. Kamu menggambar sesuatu, berbentuk oval, ditambah mata dan mulut di wajahnya.

“Minion! Papoy!” aku berseru. Setelah itu, kita tertawa bersama. 
Menjalaninya terasa amat mudah. Menjalani waktu bersama denganmu membuat segalanya terlihat menjadi mudah. Beberapa kali aku tersandung dengan sesuatu di hatiku, seperti ada orang yang mengatur-ngatur di dalam sana. Mempertannyakan semuanya, mempertanyakan kamu.
Aku tidak pernah tahu, apakah canda-canda ini akan bertahan lama. Pembicaraan penting-dan-tidak-penting kita akan berhenti di mana pada akhirnya. Aku tidak pernah tahu. Kamu tidak pernah mengijinkanku untuk mengetahuinya.
Perlahan, kamu menyesapi kopi hitam dari cangkir. Dengan hanya tiga jari yang menjepit di genggamannya, dengan sebelah tangan memegangi piring yang berfungsi sebagai alasnya. Biasanya, kau hanya akan menghirup aromanya dulu saat kopi itu baru datang. Lalu meletakkannya lagi dan meminumnnya beberapa menit setelah itu.
Lagi-lagi, seperti biasanya, kamu melucu.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengusir suara damai itu suatu saat nanti ketika tidak dapat mendengarnnya lagi. Aku masih belum menemukan cara bila suatu saat nanti tatapan mata yang tajam itu tiba-tiba muncul seolah tengah memerhatikanku. Bahkan yang terparah, aku tidak bisa untuk tidak membayangkan suaramu yang bernyanyi ketika lagu apapun muncul dan terdengar. 
Aku belum siap kehilanganmu.
Sore itu, langit Jakarta berwarna kelabu. Cahaya lampion di pintu masuk yang memantul ke jendela diburamkan oleh tetesan hujan. Aku berharap minggu depan masih bisa menatapnya lagi. Menatap pantulan cahaya lampion dari kursi tempat aku biasa duduk di hadapanmu. Bersamamu.

“Love is very hard to let go.”
“What is love?  Love is very hard to let go.”
-Unknown

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s