Sajakrasa140914

Rindu yang tertahan kepadamu membawaku pada emosi yang tak usai.
Senyum dan tawa kita menari-nari di udara tanpa dosa.
Betapa rindu bisa menoreh luka.
Apa yang bisa dengan rela menahan rindu?
Dua asa sama yang besar kepala sekeras batu.
Saling sembunyi rasa di balik hati yang lama beku.
Mudah saja terjemahkan rindu asal kamu dan aku mau sedikit melebur malu.
Jika kita mengikutinya ‘avadakedavra’ tercipta mesra setelahnya.
Tengah kita persulit jalan pulang rindu.
Ia tersesat.
Dalam hati-hati yang sungguh sepi.
Di sudut sini aku telah berhalusinasi meratapi.
Menghidu aroma tubuhmu yang tak ada.
Memaki bulan yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Bukan hanya bulan, telah kutumpahkan emosi ini pada siapa pun yang kutemui.
Pada siapa pun yang tidak membantuku menghapus malu untuk sampaikan rindu untuk tuannya.
Kepada kamu, yang tidak jua memberi kesempatan untuk jiwaku yang ingin bertemu dengan relungnya.

Menikah Denganmu

…..di malam yang terlalu larut



Kepadamu, yang selama beberapa hari ini perhatiannya malah tampak seperti teror,

Aku masih belum menemukan cara yang paling tepat untuk menyudahi semuanya. Menyudahi sikapmu yang terlalu baik. Menyudahi mimpi-mimpi masa depanmu bersamaku yang terlalu tinggi dan terlalu indah untuk terwujud suatu hari nanti. Bunga cinta yang sedang mekar-mekarnya di taman bahagia.

Tidak ada jawaban yang bisa menjawab pertanyaanmu selain “aku tidak tahu”. Iya. Aku mengerti, kalimat itu tidak akan pernah layak terdengar seperti sebuah jawaban berapa kali pun aku menyebutkannya. Kamu pun tidak akan pernah mengerti.
Aku sulit membedakan, apakah engkau tengah terbuai dalam cinta yang fana atau realita yang malah tampak bagai tak nyata. Kamu hanya sedang terjebak dalam euforia bernama cinta. Dan terkadang, cinta hanya mencelakakan, siapa pun, kapan pun.
Entah harus ada berapa juta diksi lagi yang harus kujelaskan untuk membuatmu lebih mengerti tentang ragu yang semakin dalam menggelayut di hati dan otakku. Menikah bukanlah sebuah perkara mudah. Apakah semua cinta harus berakhir dan dilegalkan dengan sesuatu bernama pernikahan? Mencintaimu adalah hal yang mudah, Sayang. Namun menikah adalah perkara hidup dan mati. 
Kamu terus berceloteh. Katamu, menikah memang hal yang rumit, namun menikahiku adalah hal yang membuat pernikahan itu terlihat jauh lebih mudah. “Karena aku akan melaluinya bersamamu.” kamu berkali-kali berargumen, yang pada akhirnya selalu membuatku bungkam.
Menikah tidak semudah saat kita menikmati malam kala kencan ke pusat kota, menikah akan jauh lebih sulit dari sebuah hubungan sembunyi-sembunyi. Menikah denganmu berarti menikahi keluargamu, keluarga besarmu, lingkunganmu, teman-temanmu, dan sifat-sifat burukmu. Sungguh, Sayang, hal-hal buruk yang kamu ketahui dariku selama ini tidak ada apa-apanya dengan kenyataannya setelah menikah nanti. Aku takut, Sayang. Aku takut pernikahan yang begitu kau dambakan ini malah berujung penyesalan. Aku begitu takut bahwa kau akan merasa menyesal pernah mencintaiku dan memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. 
Ada banyak hal yang begitu bertentangan dengan mimpimu tentang kita. Mimpi kita. Ada banyak pertimbangan yang semakin dipikirkan justru malah membuat kepalaku semakin pening. Kita belum saatnya untuk bersatu. Atau mungkin aku yang belum begitu siap menikahi kehidupanmu. Atau kah jangan-jangan, tidak pernah ada seseorang yang 100% siap terhadap pernikahannya?
Apa pun itu. Jawabannya masih sama, Sayang. Aku belum bisa. Tidak sekarang. Aku masih trauma dengan apa yang telah terjadi di sekeliling kita. Biarlah kita tetap saling mencinta, biarlah Tuhan punya rencana.
Aku selalu mencintaimu, Sayang. Jauh sebelum kau pinang kesendirianku. Aku akan tetap mencintaimu, sekali pun pada akhirnya yang kau nikahi bukanlah aku. Bilamana engkau tak sanggup menunggu.

“You, Jane, I must have you for my own–entirely my own.” 
-Charlotte Brontë, Jane Eyre