Mungkin

Akan tiba waktunya, kelak kita menyerah. Saling menjauhi. Kesal pada diri sendiri. Menyesal telah memulai segalanya dan larut terlalu dalam. Menyesal karena telah bertemu satu sama lain. Berharap waktu membawa mundur dan merasa tidak saling kenal. 
Pada waktu yang tepat nanti, yang tidak pernah kita ketahui apa yang akan terjadi, bisa saja kita saling menghakimi. Beradu sumpah-serapah. Berlomba mencaci. Membenci diri sendiri. Menuntut waktu. Menyalahkan kisah-kisah lucu yang bisa saja berlalu dengan lugu. Mengutuk lagu menyenangkan yang biasa kita nyanyikan. Meracau karena telah banyak tertawa.
Juga pada saat yang tidak kita ketahui nanti, mungkin saja aku akan menjadi orang yang paling kau benci, begitu pun sebaliknya. Mungkin saja terjadi hanya karena kita tidak bisa bersama lagi. Mungkin saja selanjutnya kau akan bersama yang lain dan aku merasa sedih. 
Karena hakikatnya, begitu diharamkan mencinta yang terlalu dalam. Dan pepatah bilang, terlalu mencinta akan membuatmu amat membencinya suatu saat nanti. Atau aku hanya merasa takut atas apa yang kelak mungkin saja terjadi?
Padahal tidak ada yang tidak mungkin. Namun, menjalani waktu bersamamu membuatku lupa, semua hal amat mungkin menjadi nyata.

Pada Sebagian

Kepada kamu yang kusebut sebagian itu….
Satu pagi yang baru dan hatiku tidak jua usai mengembang haru. Warnanya masih sama, dengan utuh yang sempurna; satu warna merah muda. Warna lainnya tertinggal di sana, di matamu. Warna-warninya menjelma jadi sosok itu. Bahkan warna muram. Sekeras apapun kita berusaha untuk bertengkar, rasa rindu mengalahkannya. Pada akhirnya, kita sama-sama mengaku kalah, menyerahkan diri begitu pasrah. Demi hanya bertemu sapa yang terkadang malah tanpa suara.
Bilamana ini adalah ending dari perjalanan hidupku, kuharap ini tersudahkan. Akhir cerita yang bahagia. Inginku lenyap, terganti dan terwakili oleh kata butuh. Orang dewasa bilang, belahan jiwa adalah yang membuat kita merasa cukup. Membuat hidup kita terasa lengkap. Seperti caraku meninggalkan pelarianku, seperti caramu menyudahkan pencarianmu. Tak ada yang lebih baik dari dua orang yang bertemu karena saling menemukan, sama-sama berhenti karena telah selesai mencari, dan tidak ada yang pergi karena tahu sulitnya mencari.

Tentang Jarak dan Waktu

 …..di kaki senja
Kepada kamu pemilik tatap kesukaanku,
Senja baru saja terlarut di kaki langit. Jingganya teduh, hangat serupa tatap matamu yang damai. Kamu harus tahu satu hal, Adhimas. Memulai sajak tentangmu tak kan pernah menyulitkan, setiap hela rindu kuhempaskan selalu jadi syair karenamu. Kamu adalah bait keindahan itu. 
Telah kauberi warna hari-hari kelabuku. Dengan melucu, dengan sapa malu-malu, bahkan tak jarang kalimat-kalimat sederhana yang membuat kita saling menyalahkan. Aku menikmatinya, Mas. Menikmati seorang kamu lebih dan kurangnya. Semakin memahamimu setiap harinya membuat jiwaku genap entah bagaimana. Aku seperti tidak mengenalmu baru kemarin, Dhimas. Rasa nyaman itu membuatku seolah tengah mengenalmu jauh sejak dulu kala, sejak aku baru terlahir. Kita hanya pernah terpisah sebentar ketika beranjak dewasa, lalu kembali dipertemukan ketika waktu telah memberi restu. Seperti tidak ada hal tentangmu yang benar-benar baru kuketahui. Aku hanya seperti terlupa tentang itu. 
Bila saja bisa kugadaikan masa laluku untukmu, Dhimas. Bila saja bisa kuhapus memori dalam otakku selama kamu tidak ada dahulu kala. Dan tidak ada yang tidak mungkin, kamu selalu punya jawaban itu. Aku pun tahu apa yang selama ini tengah menjadi beban pikirmu. Bahkan, aku lebih merasa senang bila kau tidak pernah mengungkapkannya, Mas. Karena hubungan kita tidak akan kemana-mana.
Bersamamu definisiku tentang hidup jadi sederhana. Mimpi-mimpi konyolku terasa begitu nyata. Ada bahagia yang akhirnya dapat kurasakan tentang hidup. Mengenalmu membuatku merasa cukup. Memilikimu membuat aku merasa tidak pernah kekurangan. Menghabiskan sisa waktu bersamamu seolah bukan sebuah takdir yang dipaksakan, melainkan keputusan Tuhan yang membahagiakan. Sempurna. Kamu menyempurnakanku. Kamu mencukupkan segalanya. Seolah tak pernah ku kenal pria lainnya.
Aku tidak sedang mencoba berwujud serupa gadis belia yang tengah jatuh cinta. Semua akan jauh lebih mudah andai aku mau lebih jujur pada diriku sendiri, juga kamuyang lebih sedikit berani. Dalam diam kita tengah menyimpan sebuah pengetahuan, kita terlahir untuk satu sama lain. Tidak ada doa yang tidak kutuju kepadamu. Semoga kau pun begitu. Mengudarakan rindu lewat doa-doa dari kejauhan sampai waktu memberi restu. Kita buat waktu menunggu.