Kisah Wanita Jejantan

Aku wanita buta cinta
Dan aku telah mengulanginya lagi
Membiarkan seseorang mengobrak-abrik hidupku sesukanya
Memberikan hatiku yang bahkan belum pulih
Mengijinkannya menghancurkan benda itu untuk kesekian kalinya
Dengan cara yang berbeda
Dengan cara yang lebih kusuka
Meski sama sakitnya
Hampir saja merasa bahagia
Karena merasa telah menemukannya
Sebuah bahagia senama cinta

Aku wanita jalang
Semua terlalu cepat
Akibat terlalu nekad
Dan semua terlalu mudah
Harga diriku terlalu rendah
Dengan luka yang kubawa berlari
Bertanya-tanya sendiri
Mungkinkah karma datang dua kali
Tertawa geli sekali
Mana mungkin cinta mampir lagi

Aku wanita obralan
Selalu dipesan untuk membunuh kesepian
Seringkali dicari hanya ketika ia butuh teman
Mencoba memikirkan
Apa pernah benar-benar dibutuhkan
Jawaban?
Tidak ada kata yang pernah diucapkan jejantan
Tidak ada tanya yang penasaran
Sama sekali tidak ada niatan
Maka aku memohon resign
Tak lagi profesional dalam menjadi wanita pemuas jejantan
Harusnya kupekerjakan tubuh dan bukan perasaan

Aku wanita tak bertuan
Kesepian itu nyata
Sengsara tidak pernah lebih jahat dari ini
Kebahagiaan itu fana
Tidak ada teman yang abadi
Cinta masih jahat
Masih berusaha diam-diam menyakiti
Dengan cara yang tidak kita pahami
Kita terluka dengan apa yang telah kita cintai
Apa yang kita cintai hanya bermaksud menyakiti

Apakah dunia pernah adil pada hati-hati yang sendiri?
Apakah cinta hanya ditujukan untuk wanita-wanita suci?

Gema

 …..di sebuah gelap tak beratap
Kepada kamu yang namanya terdengar berulang-ulang membahana di sana,
Aku bisa merasakannya. Hawa yang tidak sama. Kamu yang seakan terlupa bahwa aku punya hati. Bahwa aku manusia, bukan peri yang selalu hadir kapan pun kau sepi. Yang mengisi harimu. Yang mewujudkan semua inginmu. 
Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Saat kamu pelan-pelan mengubur mimpi-mimpi kita dengan tangnmu sendiri. Diam-diam. Sebelah pihak. Tanpa persetujuanku seolah aku tak pernah punya andil di dalamnya. 
Aku diam saja. Selalu diam saja. Karena kamu tidak pernah bertanya. Atau tepatnya karena kamu tidak pernah mempersilakan aku bersuara. Aku selalu menelannya. Kata cinta yang selalu berbalas lara. Juga rindu yang berakhir pilu. Menguap begitu saja di udara. Berlalu.
Kata cinta tidak berhenti menggema. Di hatiku. Perlahan mengikis seluruh organ tubuhku. Hingga melahirkan rasa perih. Gema yang hanya kudengar sendiri. Yang terdengar telinga malah sepi. Yang biasanya sampai kepadamu. Dan tangis tertahan beberapa kali.