For Free

Seleksi tahap dua Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015 telah usai dilaksanakan selama dua hari. Bahagianya rasa hati setelah seluruh persiapan yang kami lakukan selama berbulan lamanya telah selesai. Namun ada satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari salah satu peserta seleksi tadi siang, “Ngapain sih kalian mau capek-capek jadi volunteer kayak gini?”

Hmm……. capek? Banget. Tapi belum pernah saya kepikiran omongan peserta yang kritis itu. Benar juga. Kebanyakan dari kami mungkin tidak pernah memikirkan kenapa kami mau merelakan tenaga, waktu, dan uang untuk menjadi seorang volunteer. Sama seperti peserta yang penuh perjuangan untuk tiba di lokasi seleksi, terbang jauh-jauh dari Bali dan setelah selesai seleksi langsung menuju bandara untuk kembali ke Bali lagi, atau daerah mana pun yang amat jauh di Indonesia. Volunteer pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk acara, lebih tepatnya peserta. Saya percaya, menjadi panitia acara adalah sebuah keputusan, tetapi menjadi volunteer sebuah acara adalah pengabdian.

Untuk mengurus Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015, saya harus menginap di rumah tante yang ada di Jakarta, tepatnya di kawasan cempaka putih. Jelas jauh dari lokasi acara, tapi hanya rumah tante satu-satunya tempat saudara yang bisa ditumpangi. Hal itu lebih baik karena berangkat dari rumah saya di Tangerang dan harus tiba di Kemenpora, Senayan jam enam pagi adalah hal yang tidak mungkin. Barang bawaan saya banyak sekali, karena saya diamanahan untuk menjadi MC mengatur jalannya acara selama dua hari seleksi. Saya membawa sepatu high heels, blazer, kemeja, peralatan mandi, peralatan solat, laptop, dan lain-lain.

Meskipun sama-sama di Jakarta Pusat ternyata jarak dari Cempaka Putih ke Senayan jauh sekali. Naik Trans Jakarta harus dua kali transit, naik angkutan umum lainnya harus tiga kali sambung, sedangkan panitia harus tiba di tempat pagi sekali. Maka tidak ada pilihan lain selain naik taxi. Pagi itu lembar lima puluh ribu terakhir di dompetku terbang melayang dengan mudahnya. Bagi seorang fresh graduate yang belum memiliki penghasilan tetap setiap lembar uang di dompet adalah berharga. Satu-satunya yang terpikir hari itu adalah bagaimana caranya aku pulang nanti.

Benar saja, malam hari aku bermaksud menghemat pengeluaran dengan menebeng taxi bersama-sama dengan yang lain, agar ongkos yang keluar jadi patungan. Kami berhenti di stasiun cawang dan aku memutuskan untuk naik bis ke arah Rawasari. Seingatku ada bis ke arah sana, tapi sampai setengah jam lebih kutunggu bis itu tidak datang juga. Nurul memutuskan untuk pulang duluan karena kost-nya dikunci pada jam sepuluh malam, sedangkan ini sudah lewat jam sepuluh. Nuzul dan Soni memaksa untuk menungguku sampai mendapatkan bis yang dimaksud, meskipun sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak apa-apa ditinggal dan hafal dengan seluk-beluk Jakarta. Sudah hampir satu jam bis itu tidak datang juga, pikirku jangan-jangan bisnya sudah tidak ada jam karena ini sudah terlalu malam. Ujung-ujungnya, aku naik taxi juga. Dan ongkosnya benar-benar lima puluh ribu rupiah. Jika ditambah ongkos taxi patungan tadi berarti total ongkosnya malah jadi enam puluh ribu. Uang yang baru aku ambil dari ATM langsung hilang lagi. Aku lemas menatapi lembar lima puluh ribu terakhir untuk ongkos esok hari.

Hari selanjutnya adalah hari minggu. Kawasan Sudirman pasti ditutup oleh aktivitas car free day. Aku tidak tahu harus lewat mana dan naik apa. Maka aku tidak punya pilihan lain selain memanggil taxi. Sengaja kupilih taxi selain biru agar ongkos lebih murah, tapi ternyata sama saja. Belum lagi ongkos taxinya. Aku sudah cemas sekaligus deg-degan memerhatikan argo yang terus berjalan sekencang laju taxi di dalam tol. Memang sih kami tiba di lokasi tepat waktu, hanya lima belas menit saja dari waktu yang seharusnya satu setengah jam perjalanan. Namun ongkos yang tertera di mesin argo luar biasa: Rp. 79.900 + tol = Rp. 88.000. Uangku kurang!!!!! Aku panik seketika. Sesungguhnya ada mesin ATM BRI di depan Kemenpora, tapi yang jadi masalah adalah saldoku kosong. Badanku panas dingin, sambil tangan sibuk menggali-gali isi tas yang sebenarnya tidak penuh. Detik itu aku berusaha berpikir sejuta cara untuk membayar taxi, tapi justru tidak satu pun ada ide muncul di kepalaku. Di tengah aktivitas menggali-gali palsu itu aku menemukan sebuah harapan. Ada kantong berisi uang perbendaharaan online shop yang sedang kurintis. Ada lembar seratus ribu di sana. Ya Tuhan….. rasanya ingin aku sujud syukur di dalam taxi saat itu juga. Segera kuberikan lembar itu tanpa tambahan. Lalu meluncur ke lokasi acara dengan tepat waktu. Dan jeng…jeng….. tidak satu pun panitia sudah sampai. Perjuanganku untuk tiba di lokasi tepat waktu jadi sia-sia sudah…………………

Aku benar-benar tidak punya uang lagi. Hanya tinggal selembar sepuluh ribu di kantong yang sudah kucal dan tidak memiliki rupa. Makan siang tadi aku pun berhutang pada salah satu panitia, akan kubayar segera setelah ada pemasukan dari kas online shop. Untuk menghemat biaya aku memutuskan untuk ikut teman-teman yang naik kereta, sebelumnya kami nebeng mobil Bang Az sambil rapat-rapat kecil membahas persiapan acara YA & YLF 2015. Kami diberi tumpangan sampai stasiun Sudirman. Aku turut serta, meskipun rumah tante jauh dari stasiun. Tapi setidaknya aku tahu stasiun terdekat dan tahu rute untuk menymbung angkutan umum setelahnya. Aku transit di stasiun Manggarai dan naik kereta lain ke arah Jakarta Kota, lalu turun di stasiun pertama yaitu Cikini. Saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak menyangka sudah satu setengah jam perjalanan dari Kemenpora dan aku belum juga sampai di rumah. Setelah cukup jauh berjalan dari stasiun ke Cikini, kutunggu Kopaja atau Metromini yang seharusnya lewat, tetapi jalanan sepi sekali, tidak ada satu pun bis yang lewat. Aku sudah deg-degan. Jika malam kemarin aku masih punya harapan untuk memilih taxi setelah tidak kunjung mendapatkan bis yang ditunggu, maka malam ini aku tidak punya pilihan. Beberapa pria yang luntang-lantung di sekitar halte membuatku tidak nyaman karena sahut-menyahut menggoda,

“Assalamu’alaikum, cantik.”,

“Capek banget kayaknya, sayang?”,

“Neng, bis udah nggak ada, abang anter ya,”.

Makin tidak beres sahutan itu. Aku segera berlalu menuju keramaian. Tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki menuju Salemba. Walaupun badanku terasa sudah remuk sekali setelah dua hari mengurus acara seleksi, ditambah sedang menstruasi hari pertama yang berimplikasi badanku jadi linu dan nyeri semua, makin parahnya lagi aku rabun senja hingga aku tidak mampu melihat dengan jelas. Kondisi jalan di depan Metropole yang biasanya macet kali ini sepi dan gelap. Tiba-tiba saat ingin melalui jembatan di bawah pohon-pohon besar suasana mendadak jadi mencekam. Tidak ada orang lain yang juga berjalan kaki di depan atau pun di belakangku. Aku tidak mampu melihat dengan baik ke depan. Terbayang isu begal yang sedang marak terjadi di tengah malam di jalanan yang sepi seperti ini. Kuputuskan untuk berhenti di dekat pohon agar tidak terlihat siapa pun, lalu menunggu siapa pun yang lewat. Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang mahasiswa sebayaku muncul dari belakang, ia juga berjalan kaki. Seperti dia adalah anak UI Salemba yang berjalan mengarah ke Salemba juga. Aku segera mengekor langkahnya yang tergesa. Tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Kami melewati RSCM, YAI UPI, lalu akhirnya UI Salemba. Mahasiswa itu sudah jalan jauh di depan. Jalanan sudah ramai jadi aku sudah merasa aman sekarang. Buru-buru kuseberangi jalan raya saat lampu merah, di situ aku merasa tubuhku melayang sudah, tenagaku sudah hampir habis.

Untuk berapa lama kutunggu angkot 04 arah Rawasari, tapi jalanan sepi. Tidak ada yang lewat. Aku mulai panik. Kuputuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli pembalut sambil terus menatap ke jalan. Tetapi tidak juga ada 04 yang lewat. Tiba-tiba ada sebuah angkot yang lewat ke arah Rawasari, tapi sepertinya bapak itu tidak sedang menunggu penumpang. Segera kudekati Bapak itu dan bertanya mau ke arah mana. Dia bilang mau pulang ke arah Rawasari. Memang rejekiku. Aku meminta ijin untuk ikut dan segera melompat ke dalam, tanpa lagi peduli bila si Bapak ini punya niatan jahat akan membawaku sesukanya. Aku percayakan diriku sepenuhnya. Setelah hampir terkantuk-kantuk, tepat pukul sebelas malam, akhirnya aku tiba di depan gerbang perumahan mlik tante. Rasanya terharu, mungkin ini berlebihan tapi aku benar-benar merasa sedih yang bahagia. Akhirnya setelah perjuangan panjang, aku tiba dan bisa istirahat juga.

Dua hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Aku sudah punya jawaban atas pertanyaan kritis salah satu peserta itu. Kenapa aku mau bersusah-susah menjadi volunteer tanpa dibayar? Karena dengan melakukannya membuatku bahagia dan merasa berguna. Itu saja.

Untuk para volunteer lain di luar sana, teruslah jalani yang kauyakini. Aku yakin para volunteer di luar sana memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Suatu hari nanti perjuangan kita akan menjadi cerita yang membanggakan. Setiap perjuangan akan berbuah pelajaran.

Keep writing, keep sharing!

Nayadini.

 

Klik!

Namanya Anne. Sudah satu tahun berlalu semenjak kami bertemu untuk pertama kalinya. Aku salah tingkah. Bercerita tentang prestasi ini dan itu, tapi Anne seperti tidak sedikit pun tertarik. Bagaimana bisa ia tidak merasa bangga bisa makan malam bersama seorang art director sebuah perusahaan animasi dunia. Bahkan aku juga sudah bercerita, bahwa minggu lalu aku baru saja tiba dari New York dengan predikat animator terbaik dan termuda di Asia Tenggara. Dan Anne masih tidak tertarik. Aku bisa lihat itu dari matanya dan dari cara ia mendengarkan dengan tanpa bertanya, lebih banyak tersenyum, bahkan beberapa kali kudapati menguap. Anne adalah wanita pertama yang berani mengacuhkanku.

Sejak malam itu Anne membalas chat-ku singkat saja. Meskipun tetap aku yang selalu memulai duluan. Aku berusaha mencari tahu banyak hal tentangnya, karena aku tidak berhasil mendapatkan info tentang dirinya apa pun di malam itu. Dari situ aku tersadar. Mungkin saja Anne merasa bosan makan malam denganku, karena aku tidak memberinya kesempatan untuk balik bercerita.

Informasi tentang Anne malah lebih banyak kudapatkan dari Nanda, sahabat Anne yang mengenalkan aku padanya. Nanda bilang, Anne adalah seorang pengusaha. Keberhasilannya berasal dari selembar keripik, yang ia buat dari berbagai macam sayur dan buah. Seperti keripik daun sirih, keripik daun kemangi, dll. Cabangnya sudah meluas ke luar pulau Jawa, bahkan dieskpor ke Malaysia dan Singapura. Camilan bernama Kripik Kitik itu ternyata lahir dari tangan Anne. Kegigihan Anne membuatku takjub. Wanita muda yang luar biasa.

Sebulan setelah pertemuan di malam itu aku berusaha mencari cara agar kami tetap bisa bertemu. Aku mencari alasan dengan bilang bahwa perusahaanku membutuhkan penganan khas Indonesia untuk dijadikan bingkisan Pekan Budaya Indonesia di Amerika. Aku memesan ratusan kilo, membuat pabrik Anne meraih keuntungan tiga kali lebih banyak dari biasanya. Anne sempat menggeleng beberapa kali melihat usahaku yang setotal itu, hanya demi sebuah makan malam selanjutnya. Mulai dari situ, hubungan kami makin dekat. Dekat sekali. Jadwal kerja Anne yang fleksibel membuat kami tak pernah sehari pun tidak bertemu. Kebetulan selama sebulan ke depan aku sedang tidak ada proyek apa pun dan tidak ada panggilan untuk segera kembali ke New York.

Hubungan kami sudah dekat sekali. Seperti sepasang kekasih. Kedekatan itu membuatku memberanikan diri untuk mengecup pipinya sepulang kami tiba dari makan malam. Semenjak malam itu Anne sulit dihubungi. Aku merasa bersalah telah bersikap kurang ajar, mungkin saja Anne marah pada kelancanganku malam itu sebab pesanku tidak ada yang dibalas, telepon dariku tidak pernah diangkat. Beberapa kali aku coba mampir ke rumahnya, namun karyawannya bilang Anne tidak ada di rumah. Kuputuskan untuk mencari Nanda. Hanya dia satu-satunya yang bisa membantuku.

Kami janji bertemu di sebuah resto pinggir danau di daerah Bintaro. Sebelum aku bercerita apapun, Nanda sudah bisa menebak maksud pertemuan ini. Nanda memulai percakapan sore itu dengan mendesah berat, sambil mengaduk isi kopi yang masih hangat. Sepertinya pertemuan ini akan lama. Aku siap menyimak.

“Anne sedang tidak mau menjalin hubungan khusus dengan siapa pun, Ger.” Kalimat itu cukup menjawab, tetapi tidak valid mengingat Anne selalu menyambut setiap kebaikan dariku. Anne memberikan harapan, memberiku angin segar.

“Tapi dia nggak pernah bilang apa-apa, Nan.” aku berusaha menyanggah. Nanda tersenyum kecut mendengar ucapanku. Dan balik berkata, “Simply karena lo nggak pernah tanya. Iya kan?”

Lagi-lagi, letak kesalahan itu terdapat padaku.

“Tapi Anne juga nggak pernah berharap lo menanyakan status hubungan kalian. Makanya setelah malam itu dia buru-buru menghilang, takut kalau lo akan melakukan sesuatu yang membuat hubungan ini menjadi lebih serius.”

Kali ini giliran aku yang tertawa. Kuambil sesuatu dari saku. Sebuah kotak kecil berwarna biru, berisi cincin dengan mata berlian yang juga biru, warna kesukaan Anne.
Kuperlihatkan dengan jelas betapa indahnya cincin itu ke hadapan Nanda. Cincin yang bermaksud kuberikan pada Anne tidak lama setelah pertemuan terakhir kami.

“Bukan kah ini yang diinginkan semua wanita? Bukan kah mereka butuh status?”

Nanda mendesah lagi, mengangkat alis dan bahu seiringan.

“Itu lah bedanya Anne. Dia nggak yakin pernah membutuhkan sesosok laki-laki untuk jadi pendamping hidupnya.”

Kalimat Nanda itu membuatku amat terkejut. Sekaligus kecewa, merasa telah dipermainkan Anne selama kurang-lebih setahun ini. Namun cerita Nanda sangat menarik. Sosok Anne yang dalam cerita itu yang membuatnya menarik.

“Anne pernah hampir dibunuh ayahnya saat masih SD.”

Aku tidak tahu harus bereaksi apa ketika Nanda mengatakannya. Mulutku membuka, tidak bisa berkata-kata. Aku yakin, Anne tidak menceritakan tentang hidupnya ke banyak orang, maka aku siap mendengarkan dengan baik.

“Ayah Anne tadinya mandor konstruksi ternama. Sampai suatu saat ia kalah judi dan semua hartanya terpaksa disita sebagai bayaran. Ibu Anne tidak berjualan kue lagi, karena kehabisan modal. Uangnya habis dicuri suaminya yang masih terus berjudi, ditambah untuk mabuk-mabukan. Di tengah kemiskinan itu, Anne tetap memaksa pergi sekolah. Ayahnya melarang. Namun Anne tidak mengindahkan itu. Menurutnya lebih baik uang hasil jualan ibu digunakan untuk membayar sekolah dari pada bayar judi. Ayahnya marah sekali dan Anne dipukuli kayu sampai memar dan sempat pingsan. Suatu malam seseorang mendobrak pintu bilik Anne dan sekeluarga. Ayah Anne ditembak di tempat oleh seorang kawan berjudinya. Untungnya Anne dan ibunya selamat. Orang-orang tahu, bahwa Anne dan ibunya adalah orang baik-baik.

Ibu Anne mati-matian berjualan, menjadi kuli cuci, buruh pabrik, tapi pada akhirnya uangnya selalu habis dirampas oleh debt-collector yang dihutangi almarhum suaminya….”

Nanda menarik napas dan membuangnya susah payah. Sepertu menghadapi kesulitan untuk melanjutkan ceritanya. Aku masih mematung, menyimak dengan seksama dan tak mau terlewat satu kata pun.

“Sampai suatu hari sang renternir itu datang, bermaksud melumaskan semua hutang dengan saru syarat, Anne menjadi miliknya. Ibu Anne murka, lantas memukuli sang ibu hingga jatuh. Lalu Anne nyaris diperkosa di hadapannya. Malam itu ibu Anne mengambil pisau dari dapur. Dia bunuh diri dan menyuruh Anne untuk lari. Anne selamat tidak kehilangan keperawanannya, tapi ia kehilangan ibunya. Anne hancur. Lalu secara tidak sengaja seorang nenek-nenek menemukannya di musholla dan mengajaknya ke sebuah panti sosial. Panti asuhan lebih tepatnya. Anne berjuang di sana, membantu sang nenek merawat anak-anak kecil yang senasib dengannya, sambil bekerja paruh waktu di berbagai tempat, mulai jadi buruh pabrik, kasir minimarket, sampai pada akhirnya dia nggak sengaja ketemu Pak Hendra di minimarket itu dan ditawari posisi customer relations di ANODA. Anne merasa dia amat beruntung, maka ia membayarnya dengan bekerja keras. Sampai akhirnya dia bisa menjabat jadi Executive HR di office seperti dulu itu.

Tapi setahun kemudian dia mengundurkan diri. Untuk fokus menjalani usaha kripiknya. Dia ingin bermanfaat untuk orang lain, sama persis dengan apa yang selalu menjadi pesan ibunya. Anne memperkerjakan tetangga-tetangganya waktu di kampung dulu. Gue tahu, Anne memang pintar. Ditambah lagi dia cantik. Wajar kalau banyak banget yang ngantri. Salah satunya elo.”

Nanda menyeruput kopinya yang hampir habis. Lalu ia memanggil pelayan untuk memesan sebotol air mineral. Terlalu banyak bercerita membuat tenggorokannya haus. Sedangkan aku masih saja ternganga, masih berusaha mencerna apa yang diceritakan Nanda tentang Anne. Tentang perjuangannya. Kupikir sebelumnya Anne adalah sosok anak mami yang hidup enak dengan keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan yang bagus. Meski sifat, kecerdasan, dan kecantikannya selalu membuatku jatuh hati.

“Gue mau tanya satu hal sama lo,” Bak sedang mengikuti sebuah kompetisi cerdas cermat, aku menganggup mantap menunggu pertanyaan Nanda.

Yes, please.”

“Elo belom kenal Anne itu siapa. Kenapa lo yakin banget mau nikah sama dia? Nggak pakai pacaran dulu pula?”

Pertanyaan bagus. Mataku langsung menerawang menembus ingatanku tentang pertama kali bertemu Anne saat meeting dengan kantor Nanda. Nanda yang mengenalkan kami di sana. Sorot mata yang dibingkai bulu mata lentik tanpa mascara itu yang membuat waktu terasa berhenti seketika, sampai-sampai aku bisa mengingatnya dengan baik hingga sekarang ini. Sorot mata yang seperti pernah kukenal, entah di mana. Kita seperti sudah pernah bertemu dan sengaja dipisahkan Tuhan lalu dipertemukan kembali. Padahal kita memang belum pernah bertemu. Saat kutanyakan apa yang kualami kepada Pak Yo yang sangat mahir membaca sifat orang lain, dia bilang bahwa aku mengalami hal yang wajar. Rasa itu adalah rasa yang muncul saat bertemu seorang belahan jiwa. Saat di alam barzah Tuhan menakdirkan kami bersama, lalu kami dipisah ketika diturunkan di bumi, untuk kelak akan dipertemukan kembali. Entah apakah Pak Yo mengada-ngada dan hanya ingin menyenangkan hatiku saja. Namun firasat kuat itu yang membuatku meyakininya. Aku yakin masa depanku ada bersama Anne. Aku yakin dia dalah wanita yang kubutuhkan dan aku merasa sudah pantas untuk berani mendapatkannya. Mendengar penjelasanku yang terdengar menye-menye Nanda tertawa geli dan meledek habis-habisan. Biarlah, memang begitu adanya.

“Penjelasan yang nggak bisa dijelaskan, Nan. Ada semacam ‘klik’ ketika gue deket sama Anne. Ada chemistry.

Nanda mengangguk-ngangguk.

“Dan Anne terlalu baik untuk hanya dipacari, Nan. Dia berhak mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa dari itu. Pernikahan adalah sebuah kemuliaan, rite?”

Nanda mengangguk lagi. Kali ini sambil bertepuk tangan sebentar.

“Terus, lo mau nungguin Anne sampai kapan?”

Lagi-lagi pertanyaan yang bagus. Tidak salah persahabatanku dengan Nanda telah menginjak tahun ke delapan semenjak kami SMA. Nanda selalu mengerti apa yang sedang kurasakan dan dia selalu bisa membaca apa yang selalu kupikirkan. 

“Sampai kapan pun, Nan. Yang baik itu butuh diperjuangkan.”

Mendengarkan jawabanku, Nanda tersenyum sambil menggeleng-geleng. Sahabatnya ini tidak pernah berubah sejak dulu, masih agresif dan optimistis. 

“Gue selalu dukung apa pun keputusan lo,”

Nanda menepuk sebelah bahuku mantap, lalu sorot matanya menajam ketika mengatakan, “Gue percaya, laki-laki yang baik akan berjodoh dengan perempuan yang baik,”

Aku tersenyum sampai pulang. Semakin mantap menyongsong Anne.






Patriarchatum Andenostemma Viscosum

Masih terlalu pagi untuk memulai hari dengan kerisauan hati apalagi caci-maki, tapi apa yang saya alami ini selalu berulang setiap pagi dan akan berdampak lebih berbahaya lagi bila saya memendamnya untuk waktu yang semakin lama. Maka, saya putuskan untuk melampiaskan begitu banyak tanda seru yang ada di dalam benak saya ke atas kanvas kosong di blog ini.

Tepat pukul 07. 45 WIB saya terbiasa selesai menyapu dan mengepel. Dimulai dengan kegiatan menjemur cucian bakda subuh ketika hari masih benar-benar gelap. Hari ini hari minggu, tadi pagi-pagi sekali tetangga depan rumah yang usianya sebaya saya mengajak pergi senam rutin bersama ibu-ibu di lapangan komplek. Dulu-dulu saya gemar membuat tekad untuk berolahraga, sekarang-sekarang ini saya gemar merealisasikan tekad olahraga itu menjadi nyata. Saya sedang semangat-semangatnya menjalani hidup sehat dan mengikuti jenis olahraga apa saja yang ada di dekat rumah. Sebab saya tidak bisa meneruskan kegiatan jogging yang dulu biasa saya lakukan di kampus saat masih kost. Tidak adanya jogging track dan partner lari, juga jalanan yang rusak dan becek membuat kegiatan jogging itu tidak dapat lagi dilaksanakan di rumah. Satu hal lagi yang membuat saya senang adalah Ica, tetangga sebaya yang tinggal di depan rumah itu, akhirnya punya waktu. Biasanya saya yang selalu mengajak Ica untuk pergi duluan dan kebanyakan dia tidak bisa. Entah untuk pilates, yoga, aerobik, atau jalan sore ke kampung. Sebagai mahasiswi yang kuliah sambil kerja tentu Ica tidak punya banyak waktu senggang, apalagi Ica adalah satu-satunya teman yang saya miliki di rumah karena sejak kecil saya selalu kost di Jakarta dan hanya kembali kira-kira sebulan sekali. Kebayang kan betapa senangnya saya ketika Ica mengajak senam bersama?

Ketika mau mengiyakan untuk pergi ke lapangan, saya teringat masih banyak kewajiban yang harus saya kerjakan. Tidak lain tidak bukan, yaitu menyapu dan mengepel. Saat Ica mengajak, saya sedang menjemur pakaian. Mamanya Ica sampai ikut menanyakan kenapa tumben saya menolak ajakan senam itu, jika menjawab masih harus bebenah rumah pasti ia akan menyuruh saya untuk mengerjakannya nanti. Sedangkan Ibu saya tidak suka jika saya menunda pekerjaan, apalagi saat itu Ibu sedang pergi ke pasar dan tidak akan tahu bila saya pergi senam. Saya akhirnya berbohong dengan bilang sedang tidak enak badan akibat begadang sampai pagi mengerjakan tugas komunitas di depan leptop. Soal kerjaan itu memang benar, saya tidak berbohong. Tapi sebenarnya tubuh saya masih sehat-sehat saja jika mau sedikit digerakkan dan tidak bermalas-malasan. Mama Ica mengerti dan kemudian menyuruh ikut senam minggu depan saja. Ica pun setuju dan memutuskan untuk tidur kembali.

Hari ini hari minggu, harinya semua orang bersantai. Hari bagi semua orang untuk bangun lebih siang, karena lima hari sebelumnya mereka selalu bangun dan berangkat kerja pagi-pagi. Namun peraturan itu tidak berlaku untuk saya. Setiap hari bagi saya sama saja, ada kewajiban yang harus saya tunaikan. Yang entah siapa yang mewajibkan. Pokoknya jika tidak saya kerjakan suara Ibu akan terus menggema dan melengking meneriakkan nama saya dengan sedikit omelan. Terkadang Ibu tidak marah jika saya sedang malaas dan menunda bebenah, tetapi akhirnya dia sendiri yang mengerjakan kesemuanya hingga membuat saya tidak enak hati.

Hal ini tidak akan terjadi kalau saja Ayah mau sedikit menggunakan perasaannya dan lebih maksimal menggunakan otaknya. Rumah dua lantai ini jelas-jelas butuh Asisten Rumah Tangga. Tapi dipecat beberapa bulan lalu dengan alasan penghematan biaya. Bibi yang bekerja di rumah sampai beberapa kali datang dan menangis meminta penjelasan dan memohon untuk tidak dipecat. Ia sampai membuat hipotesa bahwa kami sekeluarga telah menuduhnya mencuri. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana Bibi, seorang single parent yang masih punya putra kecil yang bersekolah, mengiba dan meminta maaf sambil hampir bersujud. Mudah saja bagi Ayah memecat Bibi sesukanya, tanpa memikirkan siapa yang akan bebenah rumah. Bukan Bibi yang salah, kau bisa ambil kesimpulan siapa. Padahal tidak ada pengeluaran berarti yang dikeluarkan di rumah ini. Kami tidak punya telepon rumah, listrik selalu kami matikan segera setelah habis kami gunakan (tepat seperti instruksi Ayah), tidak ada elektronik yang bersifat tersier, satu-satunya adalah televisi dan yang menonton hanyalah Ayah di jam-jam yang sudah dijadwalkannya. Siapa pun tidak boleh menggunakan TV pada jam-jam itu. Betul. Terkadang saya merasa sedang tinggal di sebuah barak tentara.

Panjang kali lebar pembukaan tadi sebenarnya belum menyampaikan inti dari nurani saya yang sudah lama berteriak-teriak sendiri. Saya jelaskan hanya untuk memberi gambaran agar poin yang akan saya sampaikan dapat tervisualisasi dengan jelas dan agar terasa lebih dekat untuk dirasakan. Setiap pagi saat saya sedang bebenah rumah, jelas saya masih mengantuk meski pada akhirnya kantuk itu hilang di saat saya selesai melaksanakan tugas rumah, saya selalu membatin betapa enaknya jadi anak laki-laki di dalam rumah ini. Terlebih pada hari minggu, mereka bisa bangun siang menjelang zuhur, langsung mencari makan, kemudian mandi untuk tidur lagi, malamnya pergi sesuka hati karena semua anak laki-laki di rumah punya motor. Ada tiga orang laki-laki di rumah, yaitu Adik, Kakak, dan Ayah. Maka, ada tiga motor di rumah. Sedangkan anak perempuan di hari minggu tetap pantang tidur lagi setelah solat subuh, langsung menjemur, menyapu, mengepel, menyetrika, kadang ikut ke pasar, lalu membantu memasak di dapur. Semua kegiatan itu dilakukan sampai kurang lebih menjelang waktu zuhur. Sudah terlihat perbedaannya?

Saya benci partriarki yang diagung-agungkan di rumah ini. Anak yang terlahir menjadi seorang laki-laki di rumah ini akan merasa beruntung sekali dan anak yang terlahir berkelamin perempuan akan menderita seumur hidupnya selama ia belum menikah dan masih tinggal di rumah. Saya benci dengan sistem dan cara orang tua saya mendidik anak-anaknya di rumah ini. Dan saya bersumpah tidak akan mau mengikutinya untuk diajarkan kepada anak-anak saya kelak. Karena jelas, hal itu intimidatif.

Saya tidak sedang membahas feminisme yang seharusnya ada di dalam rumah ini. Saya juga tidak sedang mempermasalahkan soal kesetaraan gender. Namun saya hanya menuntut sebuah keadilan dan penyamarataan hak dan kewajiban anak di dalam keluarga ini. Semua anak berhak mendapatkan hak yang sama dan melakukan kewajiban yang sama pula. Tidak ada salahnya anak laki-laki membantu membersihkan rumah, jika memang tidak mampu menyapu atau mengepel mereka bisa membersihkan rumah dalam bentuk lainnya, yang mungkin akan terlihat lebih maskulin. Seperti misalnya membawa mobil ke bengkel, mengumpulkan sampah dari semua tempat sampah di dalam rumah ke TPA, menggulung karpet-karpet ketika saya ingin menyapu lantai, atau mengangkat jemuran agar saya lebih mudah untuk menjemur pakaian. Setidaknya ketika anak perempuan sudah bangun, mereka juga sudah bangun. Ketika anak perempuan diberi tugas, mereka juga mendapatkannya. Bukan masih tertidur ketika saudara perempuannya sedang menyapu dan mengepel kamarnya. Jelas itu bukan sebuah hal yang adil. Bukan kah negara ini menjunjung tinggi keadilan hingga menjadi salah satu sila negara? Bukan kah kebersihan sebagian dari Iman? Bukan kah Allah senang dengan hambaNya yang pekerja keras? Apakah Allah pernah mengharamkan seorang laki-laki menyapu atau mengepel? Apa kegiatan-kegiatan seperti menyapu dan mengepel memiliki label tugas wanita? Siapa yang melabelkannnya? Lantas apa kabar dengan pria-rpia penyapu jalan raya?

Tidak ada yang salah dengan melakukan kegiatan bebenah rumah bagi anak laki-laki, TERMASUK SEORANG AYAH. Tidak ada salahnya juga membantu meringankan pekerjaan saudara perempuan dan pekerjaan seorang Ibu yang wanita karir tapi tetap bekerja di rumah. Kebiasaan untuk bebenah adalah sebuah hal yang menurut saya perlu. Kelak mereka akan berkeluarga. Bila dalam rumah tangganya mereka mengandalkan Asisten Rumah Tangga, kemampuan bebenah itu akan sangat dibutuhkan ketika ART mudik atau tidak ada di rumah. Bila yang mengerjakan semuanya adalah istrinya, kemampuan bebenah itu akan sangat membantu jika istri mereka kelak sedang sakit atau sedang tidak bisa mengurus rumah. Terlebih lagi Adik, yang sebentar lagi akan merantau untuk berkuliah di provinsi seberang. Jelas dia harus bebenah kamar kost-nya sendiri. Sekarang pada kenyataannya, semua laki-laki di rumah ini tidak bisa melakukan apa-apa selain membuat rumah kacau balau. Laki-laki bisa mencari nafkah, tetapi tidak bisa melakukan hal-hal sederhana di rumah. Sedangkan kami para perempuan bisa mencari nafkah di luar sekaligus melakukan pekerjaan bebenah di rumah yang para laki-laki tidak bisa melakukannya. Lalu lebih lemah mana antara laki-laki dan perempuan?

Ini hanya sebuah pesan yang ingin saya sampaikan kepada kaum laki-laki yang kelak akan membina rumah tangga. Perempuan akan merasa bahagia dan bangga sekali bila suaminya dapat membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Jangan jadi laki-laki yang lemah. Jadilah laki-laki yang serba bisa. Bersikap seperti sebagaimana kau ingin anakmu meneladaninya. Judul Patriarchatum Andenostemma Viscosum adalah sebuah bahasa latin, yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi: Patriarki Tahi Babi.

Seorang anak perempuan pemberontak,

Dinara.

dari Jejak lalu Luka

Lama tidak memberi warna di blog ini. Saya pikir, setelah lulus kuliah dan memasuki masa (belum) mencari kerja akan menjadi masa-masa paling produktif untuk menulis blog. Ternyata nggak juga. Niat untuk ikut serta #30harimenulissuratcinta yang dimaksudkan agar blog ini menjadi padat berisi juga ternyata hanya menjadi sebatas niat saja. Ke”istiqomah”an itu sudah luluh-lantak di hari kedua kedua dari 30 hari yang disyaratkan ha..ha..ha…
Meskipun sulit meulis blog, alhamdulillah saya tetap menulis (selain menulis racauan berbentuk puisi di akun twitter @Nayadini). Produktifitas menulis saya larikan ke dalam bentuk cerpen proyek-proyek @thesocwriters, meskipun lebih sering maksain orang-orang buat ikutan nulis cerpen sih daripada dirinya sendiri nulis. Well, proyek TSW (biasa kami sebut begitu) yang saat ini sedang digarap ada dua buku, yang pertama antologi berjudul Jejak dan yang kedua berjudul Luka dengan tema tindak kekerasan terhadap perempuan. Jika selama ini saya sering menjelaskan tentang asal-muasal gerakan The Social Writers, kali ini saya akan menjelaskan lebih banyak tentang asal-muasal pemilihan dan perjalanan kedua tema tersebut (tema pertama dulu ya!).

Kedua tema tersebut muncul bersamaan pada akhir bulan Februari 2014. Tepat saat saya terpikir ide untuk melahirkan sebuah gerakan sosial dalam bidang penulisan, called The Social Writers. Antologi Jejak adalah sebuah antologi bertema traveling, berawal dari adventuring yang saya lakukan dalam sebuah rangkaian acara Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2014 (info selengkapnya kunjungi http://www.g-mb.org). Perjalanan dilakukan tiga hari dua malam dari Jogja ke Solo (harus mampir ke Purworejo dan Brebes dulu untuk melakukan kegiatan berbagi) dengan hanya uang seratus ribu rupiah. Kebayang nggak sih mau berbagi apa dengan uang hanya seratus ribu, yang buat diri sendiri aja belum tentu cukup? Tapi di situlah saya menemukan hikmah dari Adventure ini. Mungkin juga dirasakan oleh 46 peserta lainnya. Perjalanan selama tiga hari itu membuat saya belajar banyak hal. Yang membuat traveling itu berarti bukan lah destinasi, melainkan peristiwa yang dilalui selama di perjalanan itu sendiri. Kebanyakan kita mungkin hanya melihat foto-foto dari tempat tujuan traveling seseorang, padahal bisa saja pengalaman di perjalanan yang lebih berarti bagi mereka dan itu tidak bisa atau tidak pernah mereka bagi. Oleh karena itu, antologi Jejak ini hadir untuk secara tidak langsung menjelaskan, bahwa proses adalah hal terpenting dari setiap perjalanan. Bahwa ada kisah di setiap langkah yang tercipta.

Saya masih ingat, teman pertama yang saya ajak untuk bergabung di proyek menulis ini adalah Nda (begitu ia ingin disebut). Seorang alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2006, which is kami satu almamater. Semua cewek yang suka traveling pasti iri sama sosok Ananda Rasulia, saya  lebih tepatnya. Karena Nda menjalani hidup dengan apa yang selama ini saya impikan: makan, jalan-jalan, jajan dibayar. Traveling adalah hobinya, sekaligus mata pencahariannya. OMFG, Nda kerja di sebuah majalah traveling yang ada di Indonesia *nangis kejer di pojokan*. Kebanyakan donatur cerpen yang bergabung di TSW sudah memiliki karyanya sendiri, salah satunya Nda. Bukunya berjudul Pretend ia terbtkan secara self-publishing via nulisbuku.com.

Ada banyak penulis hebat lainnya di TSW selain Nda. Dan tentu saja butuh perjuangan ekstra keras untuk menemukan, mengajak, membujuk, melobi, dan akhirnya mendapatkan donasi cerpen :’) Proses pengumpulan cerpen seharusnya berakhir pada bulan Juni 2014. Target 13 donatur sudah ada di dalam list, tetapi mendekati deadline kebanyakan malah berguguran. Maka deadline pengumpulan cerpen otomatis harus diundur, yang berarti pencetakan kedua buku juga harus diundur. Deadline berkali-kali mundur dan diperpanjang. Hingga Februari 2015 donasi TSW akhirnya genap berjumlah 15 cerpen. Yep, lima belas! Melebihi ekspektasi. Namun ada satu hal yang mengganjal di hati. Saya merasa amat berdosa pada Nda, sebagai donatur cerpen yang paling pertama. Semacam bawa kabur karya orang tanpa royalti hu…hu… You have to read this deepest sorry, Nda. Padahal mungkin aja Nda nggak mikir buruk apa-apa, mengingat dia adalah orang yang woles abis dan pemaaf *perez*.

Kendala dari pengumpulan cerpen adalah itu tadi: tidak adanya komitmen dari calon pendonor. Kalau ada yang bantu, kami senang. Kalau orang tidak jadi bantu, kami bisa apa? Gerakan ini adalah gerakan sosial, yang mana semua dilakukan secara sukarela tanpa paksaan. Maka, kami hanya bisa move on dan mencari mangsa lainnya. 

Saat ini kedua tema sudah memasuki tahap layouting dan ilustrasi cover. Saya tidak pernah sesemangat dan senyaman ini berada dalam sebuah organisasi. Karena ini adalah passion saya dan kunci suksesnya terletak pada keberadaan kedua founder lainnya, Kak Sifa dan Kak Septi. Sebuah gerakan yang bagus hanya dihasilkan oleh tim yang baik. Rencananya, kedua buku sudah siap dicetak pada bulan Maret. I really can’t wait! Buku akan dicetak sendri dan dijual juga secara mandiri. Agar royalti yang disumbangkan nantinya bisa memiliki jumlah yang lumayan.

That’s all. I’m signing out. Bubuy!!


Keep writing, keep sharing ­čśë

Nayadini