Telah Pernah Ada

Dan. Hatiku bukan telah memutuskannya. Namun keadaan yang tak pernah terlepas dari kenyataan. Kita berbeda. Sejatinya perbedaan yang mempersatukan segalanya. Tapi tidak untuk kali ini. Ada frekuensi yang tidak mampu secara bersama kita sesapi. Saat kakiku menjejak tanah basah, saat itu kusadari bahwa kita berlainan arah. Meskipun sering kali kau mencoba berlari ke arahku. Menggapai-gapai. Tergopoh-gopoh hingga lupa kau telah melambung tinggi dan tak mampu kembali. Di akhirnya, tangan kita tak tergamit juga. Kemudian kita terjerembab dan sama-sama terluka. 

Aku ingin menjagamu dari kejauhan. Dari ganas pemikiranku akan kehidupan. Dari darah yang akhir-akhir ini terkuras banyak sekali. Ada banyak hal yang bahkan sampai sekarang tak akan dapat kau mengerti. Dan sering kali sama sekali tak kaucoba tuk pahami. Kamu tahu, aku tak pernah mau berekspektasi. Sebab kamu selalu tahu, bahwa ekspektasi sering kali menyebabkanmu mengecewakan orang lain. Teramat sering, kau tak tahu jalan keluarnya. Rela berlama-lama berada dalam jalan tanpa cahaya dengan mata yang buta. Tak berbuat apa-apa. Bila demikian, perjalanan kita tak kan beranjak ke mana-mana. Sementara dunia kian berputar dan bulan tak pernah berhenti beredar. 
Masih ada banyak hal tentangmu yang pula tak kumengerti. Salah satunya tentang kedudukanku dalam bagian di hatimu. Terkadang seperti tidak ada. Keberadaanku di matamu seperti tidak nyata. Apa yang salah dengan pria-pria di luar sana yang begitu membanggakan wanitanya? Atau barangkali menurutmu aku kurang membanggakan. Sudah kubilang, jangan tinggal. Terus melangkah dan temukan yang lain. Kau saja yang memaksa tetap di sana. Memilih untuk terluka. 
Hari yang kerap kutanya-tanya akhirnya tiba. Sebuah cerita tentang kita telah menemukan akhirnya.
Terima kasih.
Terima kasih telah pernah ada.

Rizqi Sigit Hamdillah

Masih ada secarik foto lama kita tergantung di dinding kamarku. Mungkin waktu itu kau memerhatikan kamera, namun sekarang seperti tengah menatapku setiap hari. Seolah menanggapi setiap pertanyaan yang kuberikan tiap kali kupandangi.

Aku sering bertanya-tanya, apa yang sedang kaulakukan di alam sana. Tentang kebahagiaanmu, tentang indahnya berada dalam surga yang kuyakin tengah dijanjikan untukmu. Masih ada kah ruang untukku di sana? Tanyakan Tuhan apa aku masih punya kesempatan berada lagi di sisimu?

Aku pula sering bertanya. Bila kau adalah orang yang baik, mengapa Tuhan harus mengambilmu lebih dulu? Agar banyak orang baik di muka bumi ini. Agar tak semakin jahat para manusia. Orang baik seharusnya berpulang paling lama. Karena tanpa kalian manusia kehilangan kendalinya. Karena tanpamu aku kehilangan kendaliku. Bukan kamu yang mengendalikanku, sama sekali tidak. namun aku jelas-jelas terkendali. Dan aku menikmatinya. Kerinduan terhadapmu memelukku, selalu dalam sepi yang sunyi. Dan setelahnya, hanya ada air mata yang dihujam tanya. Tak bersuara. Ada kah kau dengar di sana?

Hal tak sama lagi semenjak kaupergi. Dunia tampak tak begitu mengasyikkan karena semua bertambah rumit. Toko buku favorit kita sudah tak ada di sana. Berganti kelontong berlabel yang tentu saja ada di mana-mana dan tak ada beda. Pedagang donat yang biasa kita bajak gula bubuknya juga sudah entah di mana. Mungkin saja ia beralih profesi, mungkin juga ia menyusulmu di sana. Apakah kalian pernah berjumpa? Tidak ada lagi dendang lagumu yang memekakan telinga. Dari speaker telepon yang terdengar kini adalah suara adikmu yang menanyakan kabar. Rutinitas membosankan yang malah membuatka terpaksa mengenangmu lagi dan lagi. Tak mengubah apa-apa, selain fakta bahwa kau sudah tak lagi ada.

Bila masih ada kau semua tak kan serumit ini. Akan masih ada kau yang bijak menuntun hariku. Akan masih ada sahutan-sahutan ringan pelipur dukaku. Juga canda dan tingkah usilmu yang seringkali membuatku jengkel. Akan masih ada di sini, apa-apa yang kita kehendaki seperti dulu itu. Juga senyum dengan bingkai sepasang gigi gingsul kita.

Sepasang gingsulku pun kini sudah tak lagi ada.

Ah, sepagi ini meracau apa? Tak ada pagi tanpa usaha untuk mengikhlaskanmu. Sampai hal paling kecil yang bagi orang tak penting. Hal paling kecil yang tak pernah bisa kita lupa dan menjadi berharga.

Baik-baik di sana, Git. Baik-baik tanpa perlu terlalu banyak mencemaskanku melulu. Aku akan mengunjungimu lagi pekan depan. Saat kamboja berguguran bak sakura. Bunga yang sangat ingin kaulihat indahnya di musim semi. Bukannya ke Jepang, kau malah beralih destinasi. Apa akhirat seindah negeri sakura sampai-sampai kau ke sana?

 

 

 

 

Kita

Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Tentang kau. Tentang aku dan kau yang ketika dekat seperti mencipta energi. Tak perlu kupertanyakan. Kita pernah sedekat nadi, sebelum benar-benar sejauh matahari nantinya pasti.


Malam-malam panjang milik kita. Yang tak mampu kita dustasi syahdunya. Aku ingin selamanya di sini, bisikku tak terdengar. Aku ingin kau selamanya di sini, balasmu tak kalah pelan hingga tak terdengar. Kita pernah saling menjaga, bukan kau saja. Saat kau tengah terlelap aku menjaga pejammu. Agar tak kurusak mimpi indahmu. Kalau aku pernah mengatakan untuk kau pergi jauh, sungguh aku membual. Aku ingin kau tetap di sana, dari jarak yang tak seberapa. Yang mesti berjarak kasat mata aku tau kau menjagaku.

Kita pernah berada amat dekat. Yang sakit dekatnya kala duduk bersisian, aku merasakan tanganku merangkul pundakmu yang lebar. Sambil membaca berita. Kita sama-sama sedang membaca berita. Dan rangkulan itu memang tak pernah ada, terlebih kecup yang kautinggalkan. 
Tanpa kata, matamu mampu bicara. Kehadiranku menggenapkanmu. Dan entah kenapa, aku takut kalau pada kenyataannya sayang itu tak nyata.

Gunung Merbabu: Buka Jalur Baru

Tepat saat tengah menginjak tanah Pogalan menuju puncak Gunung Merbabu, masing-masing kami telah secara sembunyi membatin: mungkin setelah ini kami tak akan mampu lagi beredar di jejaring sosial. Atau hanya kenangan dan nama kami yang tertinggal di sana.

***
Empat hari menjelang keberangkatan menuju Solo, satu per satu anggota tim mengundurkan diri. Tiket kereta saya sudah dibeli. Mau tak mau, tekad harus selalu bulat. Saya pun berangkat sendiri dari ibu kota. Pada akhirnya terbentuk juga tim dengan tujuh orang anggota baru yang sama sekali tidak saya kenal. Adalah Gyrass sebagai pencetus ide gila untuk menyusuri jalur baru Gunung Merbabu. Kemudian teman lama dan adik-adik tingkatnya yang sama sekali belum pernah saya temui; Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra.
Berbekal cerita dari rombongan lainnya yang sudah jalan beberapa pekan sebelumnya, kami menyusul ke sana. Juga berbekal petunjuk arah seadanya. Dari barat ke timur, dari barat ke timur.. Fokus ke Timur. Di hutan selebat itu tidak ada manusia lain selain kami bertujuh. Tidak ada surat jalan karena memang jalur pogalan belum dibuka, yang artinya jika kami hilang tim SAR pun tidak akan mengetahuinya kecuali jika anggota keluarga kami yang melaporkan kehilangan.
View mirip jalur Suwanting, bukan?

Malam tiba sementara tatapan kami masih tinggi. Tidak ada camp area, maka kami harus berinisiatif menemukan tempat untuk membuka tenda. Seadanya. Tenda kami berdiri di atas tanah dengan kemiringan yang cukup curam. Tak akan lari puncak dikejar. Maka kami memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan pendakian esok harinya.

Tidak ada landai, tenda kami berdiri di lahan miring, tidur jadi merosot-merosot
Telah kami susuri pepohonan pinus, kabut, semak belukar, jalur babi (lorong ranting yang kami namakan demikian karena ukurannya hanya cukup untuk seekor babi. Juga karena untuk melaluinya kami harus tiarap dan merangkak), dan bahkan hutan lebat. Tak jua kami jumpai sang puncak. Sampai tiba kami pada lukisan Tuhan yang membuat kami terlupa tentang puncak di atas sana: Hamparan Padang Sabana. Dan tak ada siapa pun di sana selain kami. Lukisan indah itu hanya k ami nikmati sendiri. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang mampu kami dustakan?

Setelah 19 jam pendakian, akhirnya kami menemukan kehidupan. Bukan puncak yang membuat kami senang, melainkan bertemu dengan puluhan manusia lainnya. Still can’t believe that we survived!
Pendakian Merbabu mungkin tak akan semenarik ini jika tak kami susuri sang Pogalan. Semua berkat kerjasama tim dan pertolongan Allah semata. Mungkin saja setelah ini jalur Pogalan akan menjadi jalur resmi, yang tak akan semenantang yang telah kami lalui. Sebab itu, kami bersyukur pernah diijinkan merasakan kemurnian alamnya. Bahkan si jalur babi. Rupanya, kami salah jalan karena tidak ada kabar berita mengenai jalur itu sebelumnya.

Naya – Mute *muka belom mandi 3 hari*

Selamat Gyrass, Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra! Terima kasih telah menjadi partner yang baik, hebat, pula menyenangkan 🙂

Upacara Kemerdekaan Indonesia di Songo

Cerita kami di Pogalan hanyalah sebentuk petualangan. Petualangan terbesar adalah hidup itu sendiri. Dan pertarungan sejati adalah dengan diri sendiri, tentang bagaimana kau melalui petualangan hidup itu. Dirgahayu Negeriku!
***
Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Yunus: 6)
the less traveled road, 15-17 Agustus 2015
Nayadini.