Merah Padaku

Entah sejak kapan, aku jadi tergila-gila pada merah.

Masih segar di ingatanku seorang Dini kecil selalu minta dibelikan barang serba biru. Sekarang tidak lagi.

Aku suka merah dan semua gradasinya. Magenta, fuschia, maroon.

Dini kecil yang tomboy tidak pernah berteman baik dengan merah muda. Sekarang tidak lagi.

Merah muda yang gelap. Cenderung ungu. Atau warna apapun yang gelap. Aku suka. Seolah menunjukkan sisi yang lain. Yang selalu kubawa berlari.

Warna biru selalu mengingatkanku pada damai. Pada laut, pada lumba-lumba yang kucintai sejak dulu, pada langit. Warna itu teramat menetramkan, lama kelamaan membuatku menjadi lemah dan penuh drama. Terkadang sendu.

Barangkali, menyukai warna merah itu merupakan pengingat. Penanda bahwa aku harus selalu menjadi kuat. Jua berani menghadapi hidup yang berat.

Barangkali darahku tidaklah cukup, maka harus kucari merah yang lain. Yang dekat kulihat, yang selalu menjadi pengingat jika kulihat terus dan terus.

Aku sudah tau apa yang harus kulakukan sekarang. Menjadi kuat. Dan membiarkan merah itu jadi pengingat.

Ternyata warna kesukaan bisa berganti. Entah kalau warna soft apakah dapat kusuka juga nanti. Sepertinya tidak.

 

 

 

Mimpi Sederhana

Ketika sederhana menjadi sebuah cita-cita. Mungkin hanya terjadi padaku. Di saat yang lain berlomba-lomba menjadi lebih dan mewah, di saat itu pula aku merasa makin mantap bahwa menjadi biasa saja amat lebih dari cukup.

Menikah. Memiliki suami penyayang dan arief, anak-anak yang sehat dan lucu-lucu, berhubungan yang baik dengan tetangga, membahagiakan orang tua dan disayang mertua, hidup serba berkecukupan namun terus memberi, memiliki teman-teman yang juga memiliki hidup bahagia, berputar seperti itu lalu kembali lagi.

Sayangnya, hidup tidak semudah seperti kita menunjuk dengan jari.

Terdengarnya pun membosankan. Terkadang kita memang perlu serangan masalah dari segala arah. Agar hidup terasa lebih menantang, agar kita menjadi lebih kuat. Namun, bukan itu yang sedang kubicarakan.

Aku hanya ingin menjadi biasa saja dan bahagia karenanya. Dengan cita-cita yang mungkin juga bisa diimpikan oleh semua orang. Meski belum tentu diinginkan oleh semua orang. Sebab bila diingat, tidak ada yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, selain menjadi orang yang bahagia.

Aku ingin menjadi yang sederhana, namun tetap istimewa. Tidak bisa kah kita?

 

Sembunyi

Suara bising sering kali malah mempersunyi keadaan. Keramaian tak jarang membuat saya merasa kehilangan.

Entah apa dan bagaimana.

Terlalu sering ketika merasa begitu kalut, sebuah peluk terasa amat lebih dari sekadar cukup. Dan itu tak bisa didapatkan.

Saat dunia terasa tak berpihak kepada kita, seolah semuanya pergi di waktu yang sama. Menjauh. Membuat sesak.

Detik itu juga saya merasakan sebuah peluk menjadi amat diperlukan. Seperti candu, seperti penyembuh yang tak perlu usaha apapun. Kadang menjadi penawar, kadang pula menjadi tempat persembunyian.

Mungkin sekali saya hanya ingin bersembunyi. Dari hanya bayang sekali pun.

Saya masih butuh sebuah peluk. Minggu sendu.

Urusan Hati

Urusan hati menjadi tabu untuk dibicarakan. Apa yang ada di sana lebih berhak tinggal di sana. Menjadi lebih nyaman tersembunyi, karena sudah wayahnya iya tak tampak diri.

Rasa hati menjadi tak istimewa lagi. Telah dipaksa mati dan kedudukannya menjadi nomor kesekian. Suara-suaranya sering kali memberontak. Namun terpaksa ditahan untuk tidak memberontak. Tak diindahkan harapan mereka, tidak adil, abai.
Permasalahan hati adalah ego diri. Yang hanya akan melemahkanmu jika diruruti, yang jika dituruti hanya akan memperparah lebih jauh lagi. Pada akhirnya, harus kau selesaikan semua sendiri. Maka lebih baik dilindunginya kebersihan hati itu dari apa-apa yang benalu. Benalu jahat yang akan mengganggu. 
Hidup hanya punya dua pilihan. Menjadi kalah atau menjadi lebih kuat lagi. Dan tak ada pilihan yang pantas untuk sebuah kekalahan. Kita harus berjuang sekarang, meskipun akan kalah pada akhirnya. 

Cincin demi Cincin

Hari masih sama dengan kemarin. Kemelut di dalamnya. Tidak ada perkembangan. Doa yang dirapal juga tak ada. Aku ingin semua seperti ini saja, waktu tak beranjak lalu.

Tidak tahu. Selain menggigit bibir dan benamkan kepala di bawah bantal, tak ada lagi yang bisa kulakukan. 
Cincin itu menatapku dari kejauhan. Di sudut meja seperti kemarin. Seharian aku pula menatapnya. Kami bersitatap, tanpa interaksi. 
Entah cincin yang ke berapa kali. Aku hanya ingin ia juga pulang pada pemberinya yang kali ini. Aku tak mampu (lagi) jadi pemiliknya, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Notifikasi hp tiba-tiba berbunyi. Teman dekat. Lagi-lagi menanyakan hal yang sama, “mengapa tidak berkenan?”. Jawabku hanya logo centang dua berwarna biru.
Belum saat ini, bukan dia rupanya.

Masih di Sana

Matahari berusaha menorobos masuk, ke dalam kepalaku. Berhasil kali ini setelah berkali-kali tak kupeduli.

Cahayanya kering dan menggugah. Berusaha memberi dengar bahwa iklim telah berganti. September datang meningkatkan kecemasan luar biasa. Dan kau anak muda, masih di sana. 
Hampir setahun sudah kau hanya duduk di sana. Menyaksikan, segala hal yang indah. Yang bukan milikmu. Merasa bangga. Pada yang bukan kauraih. 
Belanda, Malaysia, Australia, Britania Manchester, Jepang, Swiss, Cina, Cina lagi, lalu Cina, Korea, Korea, dan kemudian adalah Korea. Sementara kau masih di sana. Mengumpulkan bulir air mata. Buru-buru menghapusnya ketika ia datang lagi dan lagi. Menyembunyikannya dari siapa pun yang bahkan tak melihatmu. Berusaha menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Kali ini mau berbohong apa lagi?
Usia tak muda. 17 hingga menginjak 22. Selama itu kau tengah bertarung dengan dirimu sendiri. Berusaha berdamai dengan apa yang datang tanpa permisi, tak pernah kauhendaki, kadang tak dengan benar berhasil kaulewati, kemudian kausesali. Lima tahun tak biasa. Lima tahun untuk selamanya. Setelah mati selalu menjadi jalan terbaik yang sepertinya dapat dipilih. Setelah gagal mengunjunginya berkali-kali.
Hari-hari menuju usia dua puluh tiga. Perang harus dituntaskan. Kau harus menjadi seperti pemuda seusiamu. Terlalu banyak berpikir tak hanya mampu mengubah muda di raut wajahmu, juga dapat mengambil hak-hakmu lainnya. Yang seharusnya kaudapat saat ini. Wajahmu tak semestinya menjadi lebih tua lagi. Sudah banyak bebannya. Terlalu banyak pahit yang kautahan di balik senyum yang kaupaksakan. Kerut-kerut di dahi seolah berjumlah sama dengan beban kehidupan. Semakin banyak kerutmu nanti. Tak dapat kau cantik lagi. Tak akan ada yang mempersuntingmu.
Mempersunting???
Bahkan begitu asing kata itu terdengar. Tak terbayang. Terlalu jauh hingga tak terbayang. Mungkin seseorang akan datang sebagai kunci dari kebahagiaan. Terdengar drama. Begitu lemah. Tak semestinya para gadis kecil diceriterakan dongeng putri yang demikian. Mereka harus bahagia dengan usahanya sendiri. Sebab menunggu tak menunjukkan kesungguhan. Doamu adalah ikhtiar, menunggu diijabahnya doa adalah malas-malasan. Selalu berikhtiar adalah menunggu yang paling benar. 
Jadi, kau akan ke mana? Sayapmu masih utuh, belum digunakan sama sekali. Namun malah rapuh. tak ada pilihan selain menjadikannya kuat. Janjimu menunggu, minta ditunaikan. Dunia luar menunggu. Eropa menunggu. Wannsee menunggu. Markus dan Johanna selalu menunggu. Kau tidak boleh. Kau harus berikhtiar. 
Kelak, mesti kausulap air mata itu jadi permata. 
Tuhan punya rencana.
Keluarlah dari peraduan, Puan. Kau tak sendiri. Kau selalu bersama dengan mimpi-mimpimu yang tersembunyi di balik kedua kelopak mata itu. Begitu banyak lipatannya. Yang menghias kedua matamu. Bukan kah mereka terlihat indah?

Sajakrasa050915

Tepat seperti apa yang Aan Mansyur alami

Langit menjatuhkan banyak sekali kata sifat
Tidak satu pun kutangkap dan kuingat
Aku hanya memandangi mereka jatuh bersusulan
Isi kepalaku gamang
Bahkan jiwa
Seperti tak ada lagi di sana
Mati rasa
Tidak berusaha kuingat suatu memori pun
Semua berputar layaknya buku cerita tanpa tanda baca
Setelah embus nafasku
Ada sesengguk yang memantul entah dari mana
Kuperhatikan seksama
Tidak ada tetes yang jatuh
Tidak ada basah sebagai bekasnya
Mungkin saja
Asalnya dari dalam sana
Ada yang sedang menangis penuh siksa
Yang sedang mencoba meronta
dan minta dipenuhi haknya