Lagu yang Tak Kusuka

Warna lembayung menari di angkasa. Pada merah muda di antaranya seolah terlempar banyak ‘jika’ dari kepalaku. Tanganku mengayun kaku, terbungkus kepal tanganmu.

Detik itu, satu per satu potongan cerita terputar begitu saja. Tentang duka, bahagia, tentang hal-hal sederhana yang tak pernah kulupa. Es krim matcha. Menu yang paling tak kausuka dari begitu banyak pilihan di restoran Jepang misalnya. Katamu rasa itu selalu mengingatkanmu pada rumput. Aku tak yakin sebab tak pernah benar-

benar mencicipi rerumputan. Pertama kalinya setelah kau katakan itu dulu, telunjukmu menjejak di bibir bawahku. Hanya sejentik namun mencipta gelombang pasang dalam diriku. Spasi di antara hati dan tenggorokku merapat, membuat dada sesak. Seolah film drama yang sengaja diperlambat, bibirmu tiba di sana. Menyesap seperti embun pagi yang singgah di muka daun, terasa sejuk dan menenangkan.

“Rasa green tea selalu pahit di lidahku. Aku butuh bibirmu untuk membuatnya menjadi manis”

Semburat jingga di pipi selalu tak pernah berhasil kusembunyikan. Kecup demi kecup yang sering kali kaucuri, rasa itu tak sama lagi kini. Langit tak turun hujan, namun terdengar gemuruh hebat dalam kepalaku sendiri. Sore itu langit cerah, tapi awan mendung tak mau pergi dari atas kepala kita. Daun-daun yang berguguran pada setapak yang kita lalui makin memperparah keadaan, seolah alam turut berduka. Memori ini adalah irama pahit yang keesokan hari akan terdengar lagi dan lagi. Tentang perpisahan.

Getir, kau dekap lagi wajahku dengan tatap itu. Ciumanmu kali ini menyedihkan. Menceritakan kepadaku tentang rasa takut, terkadang menuntut seperti tak ingin waktu beranjak pergi. Tak kunjung usai, seolah sedang menabung rindu untuk hari-hari kedepannya. Tak habis-habis, sesekali susah payah kutatap matamu hanya untuk memastikan kau tak sedang menangis. Ah ya kau tidak pernah menangis, setidaknya di hadapanku. Tidak ada percakapan yang benar-benar tercipta, namun matamu tak henti menyampaikan cinta. Lalu bermenit-menit bahkan berjam-jam setelahnya pelukmu tak mau melerai. Tangan itu tergamit erat menenggelamkan tubuhku di dalamnya. Seperti biasa dagumu terjatuh di leherku, dan peluk itu mengunci tubuhku dari segala arah. Sungguh, aku tak ingin menikmatinya kali ini, jika itu hanya membuatku meneteskan air mata setelahnya.

Aku butuh waktu untuk sanggup melihat indahnya pelangi, sebab warna-warniku  tiada lagi kini. Dan cemburu pada apa yang tak kupunya adalah sikap yang kubenci. Aku harus cemburu pada pelangi.

 

Sajakrasa031015

Tiba kita pada setapak yang ingin kautangisi

Hati demi hati yang sendiri
Tidak peduli
Berjarak makin jauh lagi
Berbeda dimensi
Aku tak pernah mengharapkan langkah ini
Keputusan yang kau inginkan
Benakmu andal memainkan peran
Aku biasa terkapar dalam kesendirian
Kau tak acuh dengan sempurna
Lari-lari kecilku berbuntut debu
Di atas kerikil dan batu
Tapak kakiku tak ada bekas
Tersapu ragu dan duka karenamu
Getir merundung
Esok akan tiba
Pasti ia bertandang
Namun aku tak yakin bagaimana mampu menjumpainya