Gunung Papandayan: Untuk Pendakian Pertama

Naik gunung sekarang sudah menjadi gaya hidup yang digandrungi berbagai kalangan dan usia. Gunung semakin ramai dan dekat dengan manusia. Sosial media menjadi salah satu alasan yang mengomporinya. Salah satu gunung yang tak pernah sepi saat ini adalah Papandayan, Jawa Barat, 2622 mdpl. Banyak yang bilang Papandayan adalah gunung yang pas untuk pemula yang ingin mencicipi pendakian. Meskipun di dalam mendaki tidak ada istilah pemula atau pun ahli. Semua orang boleh mendaki gunung jika mereka mau dan merasa mampu. Yang terpenting harus bertanggung jawab dengan tidak mencoret-coret batu (ini banyak sekali di Papandayan), membuang sampah sembarangan, dan merusak ekosistem seperti memetik Edelweiss.

Terletak di kota Garut dengan jarak tempuh empat jam dari Jakarta makin mempermudah akses masyarakat Indonesia untuk mengunjunginya. Tidak perlu membawa mobil pribadi, ada banyak sekali bis patas maupun non-AC yang sampai di terminal kota Garut. Bis biasanya berangkat pada tengah malam lalu tiba di Garut jam 3 malam. Dari tempat pemberhentian bis kita harus menyambung angkutan umum untuk bisa sampai ke masjid agung kota Garut yang terletak di kaki gunung Papandayan. Tidak heran pada pukul 5 pagi masjid agung kota Garut ramai oleh pendaki yang bersih-bersih badan dan menunggu terang melanjutkan perjalanan menuju pos pertama Papandayan. Kendaraan yang tersedia adalah mobil bak terbuka. Jadi, bagi kamu yang tidak biasa, siap-siap masuk angin ya he..he….

Ke Papandayan enakan bawa mobil sendiri daripada naik bis. Percaya deh :’)

Waktu paling pas untuk memulai pendakian gunung Papandayan adalah pagi sekitar jam 7 pagi. Yang saya suka dari Papandayan adalah kabut tebal yang menutup jalur pendakian. Selain photoable (ciye anak folk), kabut membuat hamparan jalan di depan kita jadi nggak kelihatan, nggak berasa capek deh he..he… Selain itu ada hutan mati yang menjadi ciri khas Papandayan, ada juga asap belerang yang sering jadi objek foto “nyeleneh” para pendaki, juga ada Tegal Panjang dan Tegal Alun yang cantik, yaitu padang Edelweiss. Iya, Papandayan banyak bonusnya.

Ini foto perjalanan 25-26 Mei 2016

 

Hutan Mati (September 2015)

Pos pertama Papandayan biasa disebut sebagai Camp David. Entah kenapa dinamakan demikian, saya juga nggak tahu. Mungkin kamu tahu?

Pondok Saladah. Balon-balon ini untuk games, bukan untuk dijual :p

Sebelum naik, seperti biasa team leader harus melaporkan jumlah anggota pendakiannya dan membayar Simaksi atau uang kebersihan gunung. Hati-hati terhadap pungli yang berada di luar Camp David. Jangan mudah mengeluarkan uang jika memang sudah membayar Simaksi.

Sudah kesekian kali saya mendaki Papandayan dan tidak pernah merasa bosan. Pendakian pertama saya ke Papandayan justru bukan ditujukan untuk mendaki. Saya mendaki dengan ketiga teman laki-laki di kampus (Iya, sudah biasa jadi pendaki perempuan sendiri). Jumlah kami berempat dan pendakian dilakukan dengan sangat santai. Sesuai dengan misi kami di awal bahwa pendakian ini adalah camping ceria untuk refleksi diri, tidak ada itinerary seperti biasanya. Juga tidak ada target tiba di puncak jam berapa. Kami benar-benar melakukan pendakian ini untuk bersantai dan menikmati alam. Alhasil yang kami lakukan di atas adalah tidur siang di bawah pohon, main uno sepanjang hari, bereksperimen dengan bahan masakan seadanya, dan tidur lagi. Ha..ha..ha…

 

Pengalaman Petrik saat pertama kali masak pakai nesting haha

 

Soal puncak. Ini yang menarik. Tidak ada yang tahu di mana letak puncak Papandayan sebenarnya. Ada yang bilang Tegal Alun (padang Edelweiss) lah puncak Papandayan. Ada juga yang bilang puncaknya adalah bukit di balik Tegal Alun yang tidak ada jalurnya, sehingga tidak bisa dilalui manusia. Entahlah, puncak Papandayan masih menjadi misteri. Untungnya, saya bukan tipe orang yang puncak-oriented. Yang saya cari dari sebuah pendakian adalah prosesnya dan keluarga baru dari perjalanan itu sendiri.

Addin, naik gunung demi mengejar cintanya untuk seorang gadis. Konyol? Yang lebih konyol yang nganterin, SAYA.

Ada padang sabana yang cantik di Papandayan bernama Tegal Panjang. Luasnya teramat luas sehingga jika sedang musim penghujan warna hijaunya akan tampak bagus sekali. Namun itu adalah kawasan konservasi yang tidak boleh sembarangan dikunjungi. Jadi, kalau memang nggak bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan khususnya kebersihannya mending nggak usah penasaran sama yang satu ini ya! He..he..

 

Bagi kamu yang belum pernah mendaki dan ingin merasakannya, Papandayan bisa jadi pilihan. Tetapi banyak juga yang mengeluh dan menyesal karena telah menjadikan Papandayan sebagai gunung untuk pendakian pertamanya. Sebenarnya semua tergantung dirimu sendiri. Medan yang sulit tidak akan menjadi sulit bila kita punya persiapan yang matang baik secara ligstik maupun kondisi fisik. Ini dia naya berikan tips untuk mendaki Papandayan.

 

  1. Lebih baik pergi dengan rombongan bila misi perjalananmu adalah sebagai backpackers yang hemat ongkos.

Itu akan mempermudah sharing cost untuk menyewa angkutan.

 

  1. Hindari pendakian di hari weekdays.

Sebagai seorang yang benci keramaian (ya atuh kalo nggak mau rame nggak usah jalan-jalan ke tempat umum Nay haha) dan karena ingin menikmati alam untuk refleksi diri, saya dan si teman-teman cowok itu memilih hari biasa untuk mendaki. Kebetulan waktu itu baru lulus kuliah jadi tidak masalah, sedangkan teman saya yang kerja sudah mengambil cuti dari jauh hari. Sisanya adalah freelancer yang bisa bepergian kapan saja. Ternyata mendaki weekdays itu nggak enak. Selain karena sharing cost jadi mahal, harga tiket masuk alias Simaksi juga jadi dimahalin dua kali lipat! Entah bagaimana penghitungannya. Saya pun heran sampai sekarang. Mungkin karena gunungnya sepi, pendapatan mereka jadi sedikit dalam sehari. Mungkin.

 

  1. Tidak perlu bawa air banyak-banyak.

Biasanya ketika mendaki, saya membawa 2 botol (saya pernah bawa 3) air mineral berukuran 1,5 liter. Yang cowok-cowok bawa 3 botol. Tapi di pendakian Papandayan saya hanya membawa satu botol 1,5 liter. Alasannya karena di Pondok Saladah (camp site) terdapat mata air yang sudah disediakan dalam bentuk keran-keran jadi bisa isi ulang, bahkan ada banyak toilet bersih bikinan anak ITB! Ya…. Papandayan rasa Jambore he..he… Camping ceria.

 

  1. Bawa sandal cadangan dan jas hujan karena Papandayan rawan hujan.

Mungkin karena masih termasuk dalam gunung di Jawa Barat dan Jawa barat rawan hujan (eh iya nggak sih? Haha). Saya pernah turun dari Tegal Alun-Pondok Saladah-Camp David hujan-hujanan. Hujan lebat! Pakai jas hujan aja nggak cukup. Untungnya jaket saya Cozmeed seri terbaru yang tahan angin dan air (ciye promosi) #bukanendorse.

 

  1. Jangan buang sampah sembarangan. Bawa turun sampahmu. Dan lebih bagus lagi turun gunung sambil mungutin sampah.

OKAY??? 😉 Terakhir saya ke Papandayan Alhamdulillah tidak terdapat banyak sampah di jalur pendakian. tapi tetap saja banyak sampah-sampah kecil yang mungkin menurut orang tidak penting. Padahal cukup mengganggu penglihatan saya karena berwarna-warni lain dengan bebatuan di jalur. Biasanya jika turun Papandayan kantong celana saya kanan kiri depan belakang penuh dengan sampah-sampah kecil. Mulai dari bungkus permen, choki-choki, tolak angin, chiki, sampai jas hujan bekas dibuang begitu saja di tengah jalur. Ujung-ujungnya sampah yang saya kumpulkan bisa jadi seplastik besar. Berarti nggak ngaruh, bukan? Sampah tetap sampah bagaimana pun ukurannya. Bisa mngotori alam dan merusak pemandangan. Pungut saja sampah yang kamu temukan selama perjalanan turun dari Papandayan. Di dekat Camp David ada tempat sampah besar yang sudah disediakan.

 

Addin – Petrik – Me

How to get there:
Alternatif 1
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Mobil bak – Camp David Rp. 25.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Alternatif 2
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Ojek – Camp David Rp. 35.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Sekian. Selamat mendaki!
Salam, Hijabtraveller
Nayadini.

ig: @nayadini

Catatan Kecil Untukmu

Pintaku sederhana, tidak berkenaan dengan harta. Apa yang kupinta kelak akan menjadi bagian dari syukurmu bila kau penuhi.

Inginku kau bisa diandalkan. Rumah tangga adalah bahtera dua armada yang harus kompak bekerjasama. Kisah nahkoda dan navigatornya. Namun ketika itu nanti akan ada rintangan dunia muncul tanpa jelas kita ketahui. Ketika itu nanti kita harus sigap mengambil bahkan bertukar peran. Keduanya harus bisa saling diandalkan.

Harapku kau tak hanya menjadi seorang pecinta, tapi juga seorang ayah tempat semua kanakku berkesah, seorang guru agama tempat nasehat terurai tanpa usai, seorang sahabat tempat semua suka duka bermuara. Hingga aku tak perlu yang lain. Hingga bersamamu menjadi sangat lebih dari cukup. Aku akan selalu mencari peluk hangat seorang ayah padamu tatkala gangguan-gangguan dunia yang kecil mengganggu, aku akan tak segan diceramahi ini dan itu sebab cita kita menuju surga bersama, dan aku tak segan melakukan tingkah gila bersama sahabat yang selalu ada.

Mimpiku ada mimpi demi mimpi yang jua kau citakan. Bukan tentang dunia. Sesederhana untuk tahu bahwa aku layak diperjuangkan. Bahwa kau mendambaku sangat ingin dan butuh. Sesederhana itu bahagiaku, merasa ingin kau bahagiakan setiap waktu.

Ini hanya catatan kecil yang kelak akan membantumu. Cukup untuk menjelaskan bahwa aku tak pernah menuntut apa-apa tentang hal duniawi. Meski jelas aku penuntut. Aku menuntut ketaqwaanmu yang kelak akan menjadi setapakku menuju surga, juga aku menuntut masa depan anak-anak kita. Semua bergantung dari bagaimana pohon yang membuahinya.

Temui ayah-ibuku jika kamu setuju, dan tentu mampu.

 

Berkat Ibu

“Terus kapan, Nduk?”

Tanya ibu begitu tiba-tiba. Membuat aku berhenti dari lamunan sambil menyayat tubuh ikan menjadi lembaran-lembaran.
“Kamu tuh sarjana, momong anak bisa, masak juga jago,”
Air di dalam panci berbuih, menandakan siap dibumbui.
“Dan yang paling penting, calonnya sudah ada. Lha tunggu apa lagi, Nduk?”
Butuh menghela nafas sedemikian rupa untuk menjawab pertanyaan ibu yang satu ini.
“Ibu tanya ini karena Meiyta anak Tante Susi dan anak-anak teman Ibu lainnya sudah menikah?”
Kali ini gantian ibu yang terhenyak. Tangannya terhenti dari mengiris bawang. Kemudian melangkah perlahan ke arahku seolah merasa bersalah atas topik ini.
Nduk, Ibu ndak masalah kalau yang lain sudah momong cucu.” 
Jemari ibu masuk ke sela-sela rambutku, lalu disisirnya penuh kelembutan. Kebiasaan yang selalu ibu lakukan sejak aku masih kecil, alasan yang membuat aku mempertahankan rambut panjang sepunggung ini, karena di sana letak kasih sayang ibu begitu terasa hangatnya.
“Ardan itu terlalu baik sama Ibu. Bahkan dia setiap hari menelpon untuk menanyakan kabar Ibu, lebih sering dari kamu. Dia memperlakukan Ibu seperti memperlakukan ibunya sendiri, Haura.”
Mataku lekat menatap ibu. Saking halusnya, kalimat ibu terdengar seperti tangis. Atau aku yang terlalu terbawa perasaan karena sedang merasa tersudutkan.
“Haura sudah berkali-kali bilang, kalau memang dia ingin segera menikah, menikah saja dengan yang lain. Haura beneran nggak pa-pa.”
Aku sadar intonasiku saat itu sedikit meninggi. Untungnya suara kerupuk yang digoreng lebih kencang dari itu. Nada kesalku bisa sedikit bersembunyi.
“Ardan itu memang ingin segera menikah, tapi dia ndak mau menikah dengan gadis lain. Dia hanya mau menikah dengan kamu. Dia sendiri yang berkali-kali bilang begitu ke Ibu dan Ibu percaya,”
Sepemikiranku, menikah nggak segampang itu. Menikah itu rumit. Bahkan aku memang tidak pernah menyempatkan waktu untuk memikirkannya secara khusus. 
“Menikah itu ibadah, Haura. Haram hukumnya menunda jika sudah mampu, apalagi menolak seseorang yang mau.”
Aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Semua yang ibu katakan bisa jadi benar. Kali ini aku kalah telak. Aku sudah tidak bisa lagi menghindar dari topik ini. Jelas untuk bagian ini aku tidak pernah tahu. Ardan tidak pernah bilang kepadaku tentang pilihannya yang ia jatuhkan hanya kepadaku. Dadaku seolah berbuih seperti rebusan ikan di dalam panci saat itu. Ada rasa haru, bingung, dan rasa bersalah sekaligus. Aku mengecilkan semua api, baik yang di bawah panci rebusan ikan maupun penggorengan berisi kerupuk.

Aku butuh waktu untuk mencerna ledakan di dalam hatiku saat ini. Tatap mata ibu menangkap ibaku. Ia juga menangkap tetes pertamaku yang turun ke pipi. Menggiring langkahku untuk duduk di kursi meja makan. Mendengarkan isak tangisku yang tertutup kedua telapak tangan. Setelah agak mereda ibu beranjak pamit sebentar.

Sek yo, Nduk.”

Ibu keluar dari kamar dengan sekotak kecil berwarna biru. Sebuah permata kecil memantul dari dalamnya. 
“Ini titipan Ardan. Dia bilang, tolong sampaikan kalau suatu saat Haura berubah pikiran untuk mau menikah dengannya.”
Aku bahkan nggak pernah bilang kalau aku nggak mau menikah dengannya. Apa karena aku enggan menikah lantas dia mengambil kesimpulan bahwa aku tidak mau menikah dengannya. Ya Tuhan, Ardan…. bukan begitu. Kamu selalu tahu bahwa cara pandangku terhadap sebuah pernikahan tak lagi menenangkan. Berimbas dari perceraian ibu, lalu tentang teman-teman seusiaku yang buru-buru menikah tapi langsung cerai kemudian. Aku tidak ingin menikah karena banyak orang melakukannya. Aku hanya ingin menikah kerika aku telah merasa aku siap dan butuh.
“Bu, Haura sayang sama Ardan,”
Tangisku makin menjadi. Disambut ibu dengan sebuah senyum lega. Ibu mengambil HP dari atas meja.
“Sambut perasaannya,”


Lafadz di Kaki Gunung

Setelah turun gunung dan menemukan wc umum aku segera bebersih diri. Terburu mengejar waktu ashar yang tak lama lagi usai. Bahkan belum sempat aku merapikan isi keril alias repack. Aku terlalu tergesa menuju musholla, menginjak sandal jepit seadanya, melesat seperti sedang diperhatikan guru ngaji yang siap menjewer.

Rakaat terakhir hampir selesai kutunaikan. Berakhir dengan salam yang enggan pergi. Saat-saat di tengah lafadz di bibirku, aku terhisap akan sesuatu. Ada tasbih yang berulang kali dirapal samar-samar. Dihitung dengan ruas-ruas jemari. Dari telunjuk hingga ke jari terkecil. Berulang lagi digantikan dengan dzikir lainnya. Di tengah sunyi yang terisi bisik demi bisik dzikir itu dadaku perlahan menyempit. Aku kenal betul punggung itu.

 

***

 

Dosaku karena tak dapat khusyuk berdoa setelah itu. Mataku tak lepas dari sesosok pria yang tengadah di hadap mimbar. Imam shalat jamaah tadi. Sosok yang selama ini terlalu konyol dengan semua candaannya. Yang kutebak adalah putera berwaris tahta yang arogan seperti orang-orang pada umumnya. Yang makin menyita perhatianku adalah peci dan atribut solat yang dikenakannya. Menggambarkan niatan.

Rasa kekaguman itu muncul begitu tiba-tiba, tanpa seijinku. Tak pernah kusangka, setelah belasan gunung kusambangi, sosok pendaki dengan kriteria yang selama ini menjadi pencarianku adalah seorang seniman yang baru pertama kalinya menginjak gunung.

Malam harinya aku tak bisa tidur. Menyesal karena tak banyak foto yang kami ambil berdua di puncak kemarin.