Secangkir Kopi dan Tas Gunung

Aku akan baik-baik saja tanpamu memang, tapi mungkin aku tak akan lebih bahagia.

Tanpa tanggal merah pun, bandara selalu ramai. Yang kali ini tiga kali lipat lebih ramai, sesak akan manusia. Orang-orang berlari menenteng koper, beberapa melakukan sesi foto menjelang flight, ada juga rombongan-rombongan entah keluarga atau strangers yang terpaksa disatukan oleh sebuah trip organizer.
Satu yang pasti, semua orang berlalu-lalang tanpa peduli. Aku memerhatikan semua. Siapapun yang berlalu. Menyaksikannya seolah broadway dengan beragam tema cerita. Kopi dalam gelas kertasku yang dilingkar kardus mengepulkan asap samar dari sedotan pipihnya. Saat asapnya mulai menghilang, kutenggak panas-panas tanpa ampun. Bahkan ketika sudah menghabiskannya hingga tiga gelas, aku masih tidak yakin telah sebegitunya menyukai kopi. Aku meminumnya untuk alasan lain. Kau tahu itu.
Penerbanganku masih lama. Namun aku suka berlana-lama berada di bandara. Seolah menjadi tempat yang memberi kepastian bahwa kau akan pergi dan meninggalkan, memang juga ada yang datang dan membahagiakan. Drama kehidupan nyata yang wara-wiri di hadapanku masih berlanjut. Sementara pikiranku berlarian. Suara Pak Fatah tak berhenti menggema di telingaku. Terdengar jelas meski sudah kukunyah permen keras-keras, seolah beliau sedang duduk di sisiku dan berbisik.
“Jangan melulu larikan sedihmu dengan bepergian”
For God’s sake, aku bahkan tak pernah cerita apapun soal kisah cintaku, yang, well, menyedihkan makanya tak perlu kan kuceritakan. Kalimatnya tertancap tepat di dadaku. 
“Ikhlas jawabannya. Ikhlas, Nak.”
Sesaat sebelum aku pulang, beliau akan berpesan demikian.
I really want to, Pak. I surely do.
Aku bersumpah, kali ini adalah kali terakhir aku menghindar dari beban hatiku itu. Darimu. Telah ku koordinasikan hati dan otak agar kali ini mereka kompak. Agar mereka mau berjuang untukku sejenak. Kamu, aku akan merelakan apapun yang berhubungan denganmu. Tak akan lagi aku peduli tentang hal apapun yang berkenaan denganmu. Semoga di perjalanan kali ini aku bisa menenangkan diri untuk lepas dari jerat bayangmu. 
Aku bisa. Aku akan baik-baik saja tanpamu memang, tapi mungkin aku tak akan lebih bahagia. Tapi aku harus bisa dan pasti bisa.
“Tanya?”
Yang kali ini betulan suara manusia memanggil namaku, bukan halusinasi suara Pak Fatah.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri dengan menggandeng anak perempuan seusia TK.
“Jafar?!” Aku lebih kaget, karena baru saja kupanjatkan doa untuk dijauhkan dari apa-apa yang berhubungan denganmu. Dan mengapa harus bertemu dengan seorang Jafar, di sebuah tempat yang teramat luas dengan jutaan orang ini.
“Mau kemana lo?”
Jafar tahu pasti, dulu aku tak sebegininya dengan bepergian. Dagunya menunjuk pada tas gunung yang gagah berdiri di kursi sebelahku. Kalimatnya lebih cocok terdengar seperti, “Sejak kapan lo suka naik gunung?”
Apalagi yang bisa kulakukan selain menyengir? Dia juga sudah tahu jawabannya sejak kapan.
Wait. Dan sejak kapan lo demen ngopi?”
Tuhan, ada apa dengan si Jafar ini. Mengapa sekarang ia jadi pandai berbasa-basi. Atau jangan -jangan sedang berupaya menyindirku?
“Sejak ditinggal seorang penggila kopi nomor satu. Gue tahu segala hal tentang dia, kecuali kenikmatan segelas kopi. Mungkin jawabannya ada di sini, kenapa dia pergi. Di segelas kopi ini.”
Tolol. Penjelasan yang cengeng. Dan berhasil membuat Jafar iba karena tak satu kata pun keluar dari mulutnya untuk meledek.
“Kamu cantik banget, sayang. Sini duduk di sebelah tante.”
Dulu, kamu banyak cerita soal Luna. Putri sematawayang Jafar yang tumbuh besar tanpa ibunya. Kisah cinta yang nyata memang tak semudah di FTV. Satu tahun selama kita bersama, aku tak pernah berhasil menjumpa Luna. Kau berkali-kali memamerkan fotomu dengan Luna berdua bahkan sejak ia masih balita. Kalian begitu akrab, terkadang aku bahkan merasa cemburu.
“Ayo salim sama tante?” Jafar memerintah dengan halus dan bijak. Luna tak bereaksi. Wajahnya kuyu dan bahunya turun. Luna diam-diam melirik padaku sambil menunduk.
“Maaf ya, Nya. Luna lagi nggak enak badan, kecapaian.”
Kalau saja harus merayu, mungkin kau akan mengatakan, “Ayo salim, ini pacarnya Om Dion. Katanya Luna sayang Om Dion?”
Sayangnya, tidak bisa. The option is exactly blacklisted.
“Lo sibuk apa sekarang, Far?”
Jafar menggeleng, 
“Nggak ada. Cuma akustikan aja sama Dion.”
Sesaat setelah itu matanya menatapku takut-takut. 
“Ha…ha…it’s okay. He’s a human tho, not a voldemort a.k.a. you know who
Terdengar nomor pesawatku disebut oleh pengeras suara. Boarding time.
“Gue titip Dion ya, Far. Titip dia, bukan tirip salam.”
Jafar terlihat memaksakan senyumnya. Atau aku saja yang berlebihan karena melihatnya seperti ingin menangis.
Titip rasa sayang gue, yang suatu saat bisa dia peroleh kapanpun dia butuh.


Sajakrasa200216

Lembut pagi mendendam rindu

Sesap sendu sisa rembulan malam tadi
Gemintang berserak di sudut matamu
Tersentuh haru
Aku ingin membahasakan puisi paling syahdu
Atau dendang yang melebihi merdu
Tentang nyaman yang kutemukan di dalammu
Aku ingin bersembunyi di dalamnya selamanya
Merengkuh
Memaafkan
Apa-apa yang pernah indah sebelum akhirnya mencipta luka
Memori yang enggan kurupa
Terpenjara dengan cara paling indah
Tak ingin terbebaskan
Menjumpamu adalah sebuah keniscayaan
Sosokmu adalah pembuktian Tuhan

cat: Ditulis untuk portal LogikaRasa. Baca di sini http://www.logikarasa.com/sajakrasa2016/

Antara Pulang

Tanggal 3, bulan 3 di tahun ini.

Seharusnya aku merasa senang. Salah satu target marketku tercapai sesuai dengan yang telah tertulis di kertas dan kupajang di dinding. 
Bahkan semula aku hampir saja kehilangan pekerjaan ini. Atau lebih tepatnya kehilangan percaya diri untuk melanjutkan pekerjaan ini. Sebab segala strategi pemasaran telah aku coba dan tidak memberikan hasil signifikan dalam beberapa bulan. 
Banyak urusan dengan klien yang belum selesai. Niatku untuk ijin pulang setengah hari urung terlaksana. Menit demi menit seperti berkejaran. Beberapa kali heels di kakiku juga beradu, terantuk, dan mungkin harus mendapatkan penghargaan karena masih kokoh menopang meski kubawa berlari dari kantor, manajemen pengelola apartemen, ke lokasi meeting, toko meubel, bahkan pasar. Naik ojek, angkot, taxi, bahkan losbak. Berakhir sempurna dengan razia rutin bapak polisi di jalan cawang. Lembar-lembar uang melayang.
Aku pula belum makan sejak pagi, baru teringat saat tiba2 muncul nyeri di tempurung kepala. Tapi tetap bukan itu yang kupikirkan sejak tadi. Aku ingin cepat pulang.
Baru saja aku merasakan nikmat saat punggungku rebah di atas ranjang setelah hari yang panjang. Namun jam di tangan mengejutkanku. Pukul 17.30.
Jakarta Pusat ke Selatan. Butuh waktu paling tidak tiga jam di waktu pulang kerja seperri ini bila ditempuh dengan bis. OJEK! Persetan dengan tarifnya. Puji syukur jika ada driver yang mau mengantar bahkan.
Waktu berputar. Kemacetan demi kemacetan. Asap kendaraan. Bunyi klakson. Yang terdengar ditelingaku adalah tangis orang-orang. Banyak. Banyak sekali. Harus kah kulihat lagi bendera kuning itu berkibar di gerbang rumahku?
Kakiku berlari menyusuri lorong panjang yang gelap. Sudah tak sempat untuk merasa takut pada mitos-mitos rumah sakit di malam hari. Rasa takut yang muncul di dalam diriku saat ini jauh lebih menyeramkan dari itu.
“Mbak Ni!” Tanganku membuka tuas pintu IIGD dengan kasar. Sunyinya ruangan di hadapanku membuat semua orang menatapku gusar, terlebih para suster dan bapak security. Yang ramai adalah isi kepalaku. Gaduh sejak tadi.
Sebuah tubuh yang kukenal sedang terbaring dengan mata terpejam dan selang saling silang di tubuhnya. Seorang pria tengah terduduk tanpa ekspresi di sisi kasur. Seorang pria lainnya menatap ke jendela entah memandang apa.
“Belum siuman.”
Jawab suami Mbak tanpa perlu kutanya lebih dulu.
Aku melangkah lemah menghampiri malaikat itu. Malaikat yang bersarang di tubuh seorang wanita bernama kakakku. Tersenyum. Aku harus tersenyum dan menahan tangis ini, tapi tanganku refleks memegang dada, menyadari benjolan kecil seperti milik Mbak Ni yang juga ada di payudara sebelah kananku.