Merindu Biru

Mendung pagi ini. Entah sudah hari ke berapa sapamu tak mampir di pagiku dan senyummu tiada singgah di malamku. Rupanya angin ingkar janji lagi malam tadi, rinduku tak kunjung disampaikannya.

Biru, apa kabarmu? Hari-hariku tak cerah lagi, dirundung pilu jadi kelabu.
“Apa kau lihat-lihat?”
Kamu tak menghindar. Lantas tertawa menang karena mendapati aku membentak dengan wajah merah padam. 
Tanganmu yang berpangku tak bergeser dari sana. Membiarkan sepasang mata itu mengunci sikapku yang mendadak kaku.
“Aku suka mereka”
Telunjuk itu mengetuk lembut kelopak mataku. 
“Bulu matamu banyak sekali. Indah seperti mimpi”
“Memang”
Pertama, aku menjawab sesingkat itu masih karena salah tingkah, matanya tak mau berpindah tatap atau mengerjap barang sebentar.
Kedua, sama sekali tidak kusangka, kamu yang pemalu dapat mengatakan yang barusan itu. Saat sedang dirayu, apa yang bisa dilakukan selain menunduk malu?
“Kalau begitu, aku berharap menjadi salah satu di antaranya”
Sepulang dari kedai sore itu tidak ada percakapan terujar di antara kita. Ninja merahmu berlari kalap. Seperti menyesal telah mengungkapkan terlalu banyak hal padaku karena sikapku langsung berubah total, tapi juga seperti merasa lega karena berani bersikap layaknya seorang pria pada umumnya.
Tidak ada yang mampu dan ingin kusampaikan malam itu. Hanya ada keinginan untuk melingkarkan erat kedua tanganku di tubuhmu. Aku merasa begitu nyaman berada di sana, bertumpu pada dekap di tubuhmu. Aku ingin seperti itu selamanya. 
Biru, apa kabarmu? Semoga kau berminat untuk menjumpaku dalam mimpi malam ini.
Sebab aku masih tak mampu menjejak ke pusaramu. Rasanya seperti ingin ikut masuk ke dalamnya. Hanya untuk menjawab bahwa kau adalah satu di antara mimpi-mimpi di balik kelopak mataku.