Gunung Rinjani: Cantiknya Torean dan Bonus Lainnya

Kata orang, Rinjani amatlah cantik. Sayang seribu sayang letaknya begitu jauh dari Jakarta, akan tetapi saya yakin suatu saat nanti saya akan menjejakkan kaki di sana dan melihat langsung keindahannya. Niat aja lah dulu, saya selalu membatin demikian jika ada teman yang memanas-manasi. Hingga sebuah keajaiban terjadi! Sebuah tiket atas nama saya mendarat masuk ke email. Wohooo!

Nggak pernah terpikir akan kembali mengunjungi Lombok untuk kedua kalinya! Pertama kali saya ke Lombok adalah dengan misi keliling gili dan wisata di kota, seperti museum dan pasar seni. Dulu, tahun 2014 saat masih jadi anak pantai, belum terpikir akan berkeinginan mencumbu Rinjani suatu hari nanti. And here I am, kembali menginjakkan kaki di bandara Lombok International Airport – Praya (LOP) pada H+3 lebaran! Yang secara logika isi kantong udah terkuras habis buat pengeluaran ini dan itu.

Kami tiba di bandara malam hari dengan penerbangan terakhir, juga Damri terakhir (Flash tip: Hubungi dulu call center Damri kalau kamu mengambil penerbangan malam hari, khawatir ketinggalan Damri terakhir, jadi bisa ditungguin). Tujuan kami adalah Desa Masbagik, tempat Andre dibesarkan. Rumah keluarga Andre sangat damai, ramah, dan menyenangkan. Rumahnya sederhana namun artsy, musik indie dan reggae juga berputar berkali-kali. Di sebelah rumahnya terdapat bale yang langsung bersisian dengan ladang luas nan hijau. Yang paling menyenangkan adalah keluarga Andre yang super baik dan ramah, penialian saya orang Lombok memang ramah dan royal terhadap tamu. Royal dengan kesederhanaan mereka. Jadi, tidak perlu takut-takut nyasar kalau ke Lombok, warganya baik-baik 🙂

Keesokan harinya kami berangkat dari Masbagik menuju basecamp Sembalun. Gunung Rinjani memiliki banyak pilihan jalur pendakian. Pendakian pada umumnya dimulai dari basecamp Sembalun dan berakhir di jalur Senaru. Jalur Senaru terhitung landai meskipun cukup memakan waktu lama, yaitu hingga 12 jam. Kami memilih untuk mendaki melalui Sembalun dan turun melalui jalur Torean. Alasannya, jalur tersebut memiliki view paling bagus, banyak bonusnya (melalui Goa & Air Terjun), dan banyak mata air, meskipun terbilang memiliki kesulitan paling tinggi dibanding Senaru, di beberapa titik awal harus merayap miring menyusuri bibir jurang.

Kami mendaki tanpa menggunakan jasa porter. Kalau ingin mendaki Rinjani dengan menggunakan jasa porter kamu hanya perlu membayar Rp.250.000/porter dan seluruh bawaan kamu akan dibawain. Bukan hanya itu, kamu juga akan dimasakin dan didirikan tenda. Bener-bener terima beres deh! Bila ingin menggunakan jasa porter kamu bisa bertanya saat registrasi di basecamp Sembalun atau bisa juga hubungi Naya (waktu di Rinjani sempat kenalan sama seorang porter dan kami bertukar kontak).

Sembalun kala Senja

Pendakian melalui jalur Sembalun membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam sampai ke Pelawangan. Mendakilah pada pagi hari, jangan mencontoh kami yang kebangetan santai dan baru berangkat pada sore hari. Apalagi sampai terlena pada sunset di Sembalun, jadilah dikit-dikit berhenti untuk foto. Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki kemiringan lahan bervariasi, dari mulai datar, bergelombang, berbukit, hingga bergunung-gunung. Oleh sebab itu, jalur pendakian Rinjani pada umumnya panjang, terlebih lagi Sembalun. Flash tip: Kalau mendaki pada siang hari, jangan lupa bawa payung/topi dan gunakan sunblock. FYI, itu salah satu alasan mengapa kami memilih berangkat pada sore hari.

Di Tengah Bukit Penyesalan

Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Bukit Penyesalan – Pelawangan. Seharusnya demikianlah urutan pendakian melalui jalur Sembalun. Niat hati kami ingin sekali menghajar pendakian langsung hingga Pelawangan dan baru mendirikan tenda setibanya di sana. Namun, kaki salah satu dari kami kram dan sulit digerakkan, sehingga kami terpaksa untuk menghentikan pendakian dan menunda perjalanan untuk lanjut esok hari. Kami tiba di Pos 3 pukul sembilan malam. Banyak tenda yang berdiri di dekat sumber air. Sedangkan kami memilih untuk menaiki bukit dan menenda di atas. Sendirian, syahdu~. Flash tip: kamu bisa ambil air di Pos 2 atau Pos 3.

Nggak nyesel sempat bermalam di kaki Bukit Penyesalan. Sunrise-nya di pagi hari bikin meleleh dan nggak mau pulang. Wait, ada yang tahu kenapa dinamakan 7 Bukit Penyesalan?

Mari melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Kami berangkat pada pukul 09.00 pagi. Di sepanjang jalan sudah banyak pendaki yang melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan, beberapa di antaranya adalah orang bule. Gunung Rinjani mungkin adalah gunung yang paling ramai oleh pendaki berkebangsaan asing. Ada beragam bule yang saya temui selama di pendakian, berasal dari Kanada, Belgia, Belanda, Swiss, Jerman, Prancis, Denmark, Australia, dan bahkan UK. Alasan mereka mengunjungi Rinjani adalah karena Indonesia terkenal dengan pegunungannya dan Rinjani memiliki banyak bonus, seperti pemandian air panas, danau penuh dengan ikan, air terjun, dan goa. Pastinya adalah karena Rinjani berada dekat dengan Gili Trawangan, salah satu pulau kecil di sehingga yang sangat dikenal warga asing, mereka bisa mendapatkan pantai dan gunung dalam satu wilayah destinasi bernama Lombok.

Kami tiba di Pelawangan Sembalun pada pukul 12.20 WIB dan mendirikan tenda di sebelah ujung dekat dengan sumber air (nggak dekat-dekat amat juga sih, butuh berjalan kira-kira 15 menit menuju sumber air). View sunset di sini masyaallah bagusnya, terlihat Danau Segara Anak yang membentang luas, seperti lautan karena di mana ujungnnya tidak terlihat. Flash tip: Jangan meninggalkan bahan atau bekas makanan di luar tenda. Ada banyak monyet yang akan berkeliaran di sini. Boro-boro mau ngumpetin bahan makanan.

SEMANGKA KAMI GELINDING T_T

KOL NYA JUGA IKUTAN GELINDING T_T

 

Siap-siap summit malam harinya. Kami berangkat pukul 02.00 pagi (ini kesiangan, yang lain sudah berangkat pukul 12.00 malam). Dan titik-titik cahaya terlihat berbaris di kejauhan, alias macet. Biasanya saat ingin summit, saya minum susu dulu untuk mengisi perut yang kosong. Namun ini malah ikut-ikutan makan Spaghetti Tuna. Memang dasar nggak bisa mengonsumsi makanan kalengan, baru berapa meter summit perut saya mual nggak karuan. Saya muntah-muntah di sisi jalur pendakian, kadang menunggu jalur sepi dulu karena nggak enak sama pendaki lain, takutnya malah jadi ikutan mual karena melihat saya muntah. Lucunya, bau amis tuna kalengan tersebut menguar begitu kuat saat saya mual itu. Padahal sebelumnya pas makan nggak terlalu kecium, mungkin karena lapar 😦 Flash tip: Jangan konsumsi makanan yang nggak biasa kamu makan menjelang summit!

Andre dan Ivan saya pinta untuk duluan, khawatir Ivan mau mengejar sunrise untuk koleksi fotonya, sedangkan saya akan jalan belakangan ditemani Bayu. Kami berpisah di puncak Pelawangan. Untungnya, setelah muntah saya merasa agak baikan. Setelah saya baikan, malah gantian Bayu yang mual. Oh ya, satu lagi hobi saya dan Bayu kalau summit, yaitu suka tidur di jalur. Ingat pendakian saya dan Bayu sebelumnya di Semeru?  (Pendakian Gunung Semeru http://www.nayadini.com/2016/05/gunung-semeru-komplek-di-atap-jawa.html) Kami tidur pulas sampai matahari muncul ha..ha… Kami berdua nggak pernah ngoyo buat sampai puncak. Tidak pernah memaksakan diri apalagi jika kondisi tidak fit seperti ini. Yang penting, kami akan terus berjuang untuk tiba di puncak, bagaimanapun dan berapa lamapun. Jangan pernah menyerah! Bersama kita bisa! Dua anak lebih baik. #eh

ALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN, SUMMIT!

 

Di Gunung Rinjani terdapat banyak sekali pendaki berkebangsaan asing

 

Andre bilang, sekarang puncak Rinjani memiliki kontur yang sudah sedikit berbeda. Dulu, track pasirnya panjang hingga puncak Pelawangan. Sekarang hanya sampai diujung tanjakan tearkhir menuju puncak.. Apapun itu, bagi saya Rinjani memiliki jalur pendakian dan jalur summit terpanjang dibanding gunung-gunung sebelumnya yang pernah saya datangi. Baru kali ini saya mendaki dan jempol kaki saya lecet-lecet. Kamu hebat kaki! Kamu hebat! Flash tip: Bawa sunblock kemanapun bahkan pas summit. Gunakan secara berkala dan sesering mungkin. Rinjani adalah gunung terbikin-gosong, pasca summit saya dan teman-teman saling ejek muka satu sama lain yang jadi gosong bin dekil nggak karuan. Saya juga dapat bonus jerawat di mana-mana ha…ha…

Saatnya menuju Segara Anak!!! *drumroll* (lagi-lagi kebangetan santai, baru jalan pukul 04.00 sore).

Difoto menggunakan OPPO F1 plus Smartphone

Bonus view di mana-mana

Butuh waktu 4 jam untuk tiba di Segara Anak. View yang kami lalui di sepanjang jalan bikin betah. Jalan dikit, cekrek.

Beberapa kembang api heboh mewarnai langit malam menyambut kedatangan kami, persis seperti sedang berada di pasar malam. Bukan, kembang apinya dipasang bukan buat menyambut kami, pas aja kebeneran kami datang waktu kembang api itu dinyalakan oleh seorang (atau serombongan) pendaki entah siapa he..he… Segara Anak penuh tenda. Untungnya, kami bertemu rombongan abang-abang yang nenda dekat kami saat di Pelawangan, jadilah kami diberi lahan untuk mendirikan tenda bersebelahan, meski tidak dekat dengan bibir danau. Berhubung sudah malam dan di mana-mana penuh tenda.

“Untuk sementara kita nenda di sini dulu ya. Besok kita pindah ke pinggir danau dan cari pohon buat masang hammock.” kalimat Andre tersebut serempak kami iyakan. Ay, ay, captain!

Bayu – Andre – Naya (me) – Ivan

 

Pinggir danau yang dimaksud Andre bukanlah bibir danau alias batas dilarang mendirikan tenda, melainkan sebuah dataran tinggi di atas danau. Harus berputar dulu kalau mau sampai ke danau di bawah itu, apalagi buat mancing. Ini view terbaik untuk pasang tenda dan hammock. Di hadapan kami terhampar megah Segara Anak dan cantiknya Gunung Baru Jari. Oh ya, pemandian air panas Aik Kayak dan mata air hanya terletak 15 menit dari situ. Ah, berlama-lama di Rinjani pun aku mau. Semua ada lengkap ada di sini. Satu lagi, bisa makan enak. Ikan-ikan Segara Anak hasil mancing dan dikasih orang diolah Andre dengan sangat enak. Kalau kami bawa chef, untuk apa sewa porter kan huehehehe.

Danau Segara Anak. (in frame: Ivan)

Masya Allah pemandangan dari depan tenda kami. Nb: tidak untuk dicontoh, abis makan nasi bungkus langsung tidur hahaha

Naya, dikit-dikit mau berendem air panas. Konon katanya, banyak orang yang datang ke Rinjani khusus untuk berendam di air panas tersebut dalam rangka berikhtiar menyembuhkan penyakit. Wallahualam bisshowab, sakit nggak sakit saya aja senang berendam di sana, dari mulai mandi keramasan, cuma sikat gigi, atau bahkan sekadar bengong di dalam kolam. Iya benar, pemandian air panas itu adalah tempat di mana beberapa waktu lalu meninggalnya seorang pendaki yang tenggelam karena memang pemandian air panasnya cukup dalam. Air terjunnya juga lumayan tinggi, mungkin sekitar 3 meter. Beberapa pendaki melompat dari atas air terjun ke kolam pemandian, dengan catatan, pastikan kamu bisa berenang dan tidak melakukannya sendirian tanpa pengawasan orang lain ya.

Gara-gara keasikan mandi air panas jadi lupa pulang. Kami baru jalan pukul satu siang (lagi-lagi kebangetan santai). Kami berpisah dengan rombongan abang-abang asli Lombok yang sudah dua hari ini menghabiskan waktu bersama (ciye), karena mereka akan pulang lewat jalur Sembalun lagi. Sedangkan kami akan menyusuri jalur Torean yang merupakan jalur pertama pendakian gunung Rinjani.

 

Berendam samba menatap alam yang indah nan megah. Terharu….

Sepanjang jalan sebelum memasuki hutan pemandangan yang akan kamu temui adalah keindahan yang tidak ada habis-habisnya. Kamu akan melewati Goa Susu dan Goa Manik, bahkan kami sempat masuk ke Goa Manik yang ukurannya sangat kecil.

Goa Manik

Sama seperti view pendakian jalur Pogalan, Gunung Merbabu (baca di sini http://www.nayadini.com/2016/06/buka-jalur-baru-gunung-merbabu.html ), jalur Torean, Gunung Rinjani ini membuat saya tidak henti-hentinya bertasbih. Saya dan sepertinya semua anggota tim kami jatuh cinta pada jalur Torean. Sampai-sampai kami membuat jingle dan nyanyi di sepanjang perjalanan,”Torean… Tooooorean…. Torean anak yang manis~”. Kamu pasti tahu lirik itu plesetan dari lagu apa.

Jalur Torean banyak air terjun

Selepas view megah yang disuguhkan Torean, kita akan memasuki jalur hutan yang panjang. Kurang-lebih jalurnya mirip Gunung Ciremai. Hanya ada beberapa tanjakan curam di penghabisan track pinggir jurang, sisanya jalur landai dan memanjang menyusuri hutan. Beberapa ayam hutan berkokok gagah mengisi kekosongan.

 

Jalur Torean berada di sisi pantai. Sekeluarnya dari hutan yang akan kamu temui adalah ladang jagung dan kebun cokelat & kopi. Andre meminta ijin pada warga (dengan bahasa Lombok) untuk memetik buah cokelat agar kami bisa mencicipnya. Hmm… rasanya mirip buah sirsak!

Nggak nyangka, kami berada di Rinjani 5 hari 4 malam lamanya. Itu pun masih terbilang belum puas. Suatu hari nanti harus balik lagi dan mencicip jalur lain, Senaru contohnya. I’ll be back, Dewi Anjani. Kau sungguh cantik sekali 🙂

Bersama teman-teman tenda sebelah yang bersedia berada dalam satu flysheet dengan kami di Segara Anak

 

nb: Foto dan video lebih lengkap mengenai perjalanan ini dapat kamu lihat di Steller-ku, id: nayadini

Budget (belum PP):

Alternatif 1 (jika kamu ingin mampir dan bermalam di sekitaran Lombok)

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Damri Bandara LOP – Mataram/Senggigi/Selo : 25.000 – 35.000/orang

Transport Masbagik – basecamp Sembalun : 25.000/orang

Simaksi : 10.000/malam

 

Alternatif 2

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Transport Bandara LOP – basecamp Sembalun : 500.000/mobil

Simaksi : 10.000/malam

Saya tidak pernah ikut open trip, jadi ini adalah catatan perjalanan lepas alias backpacking. Jika anggota timmu memiliki pengalaman cukup tentang mountaineering dan ingin backpacking menuju Rinjani, boleh tanya saya untuk kontak transport antar-jemput keliling Lombok dan/atau porter melalui email nayadini@icloud.com. Jika tidak, saya sarankan untuk ikut open trip pendakian. Open trip pendakian Rinjani ada banyak, apalagi di tengah tahun menjelang 17 Agustus-an seperti ini. Biasanya dikenakan biaya sebesar Rp. 1.400.000.

Selamat mencumbu Anjani!

 

Salam,

Nayadini.

 

 

 

 

 

 

 

Hanya Waktu

Selalu ada yang terasa kosong tiap kali aku membuka mata. Yang terbaca hanya gelap dan ketiadaan manusia. Juga selalu terasa hampa tiap kali aku memejam mata. Selalu bayangmu muncul di sana. Ada yang kurang dari kehidupanku. Kurang hadirmu.

Aku bertahan dengan tidak menerima siapapun yang mencoba untuk menapaki isi hatiku lebih jauh lagi. Kubangun pagar tinggi-tinggi mengurung hati dan egoku. Semua butuh waktu. Aku butuh waktu untuk tak lagi mencintai engkau. Seolah terlupa tentang perilaku-perilaku buruk yang pernah kau lakukan. Semua seolah termaafkan.

Kau menghilang dari duniaku. Meninggalkan aku begitu saja di tengah labirin gelap yang pada akhirnya hanya memuatku jatuh ke dalam lubang bernama rindu. Kau seperti tak pernah ada di dunia, kau bagai tak nyata. Namun rasa yang kau tinggalkan adalah satu-satunya bekas jejak yang tak fana. Pada awalnya kupikir mungkin ini baik. Semesta berusaha bekerjasama agar hidupku kembali sedia kala, seperti sebelum ada kau dan kita belum saling mengenal. Bukankah semua baik-baik saja? Namun sayangnya, menghilangnya kau tak membuatku lantas mudah untuk melupakanmu. Dan bahkan untuk menerima orang baru.

Setengah tahun berlalu dan aku masih akan terus menikmati betapa perihnya menanggung rindu yang tak akan mungkin terbayar temu. Sudah tidak ada kemungkinan-keungkinan yang berusaha kuciptakan untuk menghibur diriku sendiri agar bisa menjumpamu, atau lebih-lebih dipersatukannnya kita kembali. Kau tak akan pernah melakukannya, semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku tak henti-hentinya gundah gulana, bertanya pada kau dalam benakku sendiri, “Apa yang sebenarnya ada di pikirmu tentangku dan semua ini?”.

Aku seolah tak mampu percaya bahwa kini kau bahagia. Seperti apa yang pernah terlontar dari kata-kata di mulutmu bahwa hanya aku yang dapat menghadiahkanmu begitu banyak bahagia dan cita-cinta. Bahkan dengan cara membodohiku, aku begitu mudahnya menerima. Seolah tak cukup, setelahnya kau hujam aku dengan luka yang sempurna. Dan mau kah kau tahu, sayang itu tak jua mau sirna. Aku masih mencintaimu dalam kesendirian dan traumaku.

Pagi ini, pagi-pagi sekali, aku terduduk di teras, menyisir rambut yang sudah rapi dengan jari sambil membaca buku ditemani secangkir kopi. Sebuah mobil menderu lalu berhenti tepat di depan rumah.

Seperti tersambar petir, kau muncul dari dalam sana. Melepas jaket dan bergeming menatapku. Demi Tuhan, tidak seharusnya aku mengkhayal lagi tentang kedatanganmu. Sudah pasti kau tidak akan pernah datang! Sudah pasti kau akan menikah dengan gadis lain dan teramat bahagia.

Aku tergesa berlari menuju kran air, membasuh muka, lalu menatap ke depan teras lagi. Demi Tuhan, kau nyata adanya! Itu kau!

Detik itu aku merasa air raksa menjalari seluruh aliran darahku. Terasa perih dan menyengat, membayangkan kau mengantar sebuah undangan. Untuk apa mengundangku? Masih kurang puas membuatku terluka dengan bahagia milik kalian berdua?

Kau mendekat. Demi Tuhan, kau mendekat!

Ingin rasanya aku menangis haru dan meluapkan semua rindu, namun auramu terasa asing, sehingga hal itu menjadi tabu. Aku bisa apa selain menatapmu lekat-lekat secara nyata, sebab selama ini kau hanya muncul dalam mimpi-mimpi semata. Persetan dengan luka apa yang akan kau ciptakan lagi setelah ini, bertemu kau sekali lagi terasa seperti mimpi.

“Ayra,” Dingin tanganmu mendarat di ujung dagu setelah menyisir panjang rambutku.

Sungguh, aku amat ingin berkata-kata. Berkata amat banyak. Mencaci maki kau kalau bisa, yang muncul tiba-tiba dan kini berani-beraninya menyentuhku setelah kau injak-injak harga diriku dengan mudahnya.

Tidak ada kata selanjutnya keluar dari mulutmu. Kau terbenam di pundakku, berguncang dengan tangis yang begitu tiba-tiba.

“Maaf…” lirih, kata itu hampir tidak terdengar kalau saja bibirmu yang basah air mata tidak menempel ke telingaku. Setelahnya, kau menangis lagi. Membenamkan wajahmu sedalam-dalamnya karena tak ingin aku melihat air mata itu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kau menitikkan air mata. Apa lagi ini?

Setelah beberapa lama akhirnya tak ada lagi sedu-sedan dari mulutmu. Kau mengeringkan muka, lalu bersimpuh di lututku dengan menggenggam kedua tanganku.

“Hanya kau, Ayra. Hanya kau yang bisa.”

Aku berusaha mencerna pepatahku. Semua butuh waktu. Apakah juga dengan luka? Bahwa tidak segala hal yang pernah menyakitimu tidak akan memberikan bahagia suatau saat kelak?

Aku, Kau, dan Bandar Udara

Sore merangkum detik. Dan aku menikmatinya satu per satu. Menjumpamu adalah haus yang terbayar, namun tak ingin kuhabiskan airnya sekaligus. Sebab jika kau pergi aku akan mati kehausan.

Akhir pekan selalu jadi alasan yang masuk akal mengapa bandara amat ramai. Gate check in yang kecil dan hanya ada dua membuat penumpang harus sabar mengantre dan tentu saja aku harus bersabar menggendong carrier lebih lama lagi. Ruang tunggu ternyata tidak bisa terlalu banyak diharapkan. Hampir tidak ada tempat duduk tersisa dan kalaupun ada orang-orang menaruh barang-barang sesukanya, membajak alias melarang secara halus siapapun duduk di kursi sampingnya. Saat satu penerbangan berangkat baru lah ada slot untuk siapapun duduk, termasuk aku. Napasku terengah, punggungku lelah. Aku mencuri pandang ke sebelah, menatap dadamu yang lapang dan berangan rebah di sana. Tidak berandai sampai menggantungkan lengan ke leher bermanja-manja, cukup bersandar di sebelah pundakmu dan sepertinya aku akan merasakan nyaman yang menyeluruh. Rasa nyaman yang aman.

Aku membuka buku. Membalik lembar demi lembarnya tanpa benar-benar membaca. Berusaha mencuri lirik padamu dari sudut mata dan tidak ingin melewatkan gerak-gerikmu setiap detiknya. Seperti…. menabung rindu. Aku menyebutnya demikian. Kamu gelisah tak karuan, bingung akan melakukan apa sebab aku malah mengunci diri dengan buku dan kuping yang dijejal headset. Seolah tak ingin diajak berbincang. Seolah pertemuan denganmu tidaklah spesial. Bukan begitu. Aku hanya tak ingin menciptakan momen indah denganmu lebih banyak lagi, sebab itu hanya akan menyakitkanku setelahnya. Aku hanya akan menjadi semakin jatuh dan sulit menarik diri.

Bersambung….

 

 

 

Sajakrasa050716

Dadaku menderu

Gigi geligi yang saling menggilasi
Aku menyana
Kita ini tak akan menjadi apa-apa
Cinta ini mengada-ada
Suatu kali saat mata kita terpagut
Aku menyusup ke dalamnya
Mencari-cari
Tak menemukan
Bukan bayangku yang ada di sana