Getback

Aku duduk di Getback Coffee yang ternyata tak begitu ramai di akhir pekan. Di sepulang kerja setiap Senin hingga Jumat justru tempat ini lebih banyak pengunjung. Biasanya ada banyak remaja berseragam putih abu-abu yang datang untuk berteduh dari terik matahari atau untuk foto-foto dengan mirrorless yang entah apakah selalu dibawa ke sekolah setiap harinya. Coffee shop itu terletak di sebelah SMA swasta yang cukup bonafit. Ukurannya terbilang sempit memang, tapi aku terlanjur nyaman untuk berpindah tempat ngopi. Mbak Ririn (seniorku di kantor yang gila ngopi) selalu saja memaksaku untuk mau menemaninya mampir di coffee shop populer yang ada di lobi gedung kantor kami.

Hari ini hari Minggu dan aku datang ke Getback. Beberapa menit yang lalu Yondi baru saja pamit beranjak dari kursi di depanku. Aku belum bergerak sedikitpun setelah mengatakan “hati-hati” kepadanya dan memberi senyum sebisaku. Pada kenyataannya, aku mematung meski pikiranku berlari-lari ke masa lalu. Aku benci harus mengatakan ini, tapi lagu Benci untuk Mencinta dari Naif dengan lancang bersuara dari speaker di sudut-sudut atas cafe. Seolah sengaja menyindirku atau bahkan hanya ingin memperburuk benakku yang berkecamuk.

Detik itu, aku menemukan diriku seperti terseret arus dalam hitungan detik. Kemudian terjerembab ke dalam kesedihan yang begitu pilu. Percakapan dengan Yondi terekam begitu jelas, aku ingat betul bagaimana ia tidak tahu harus memulai dari mana hingga Espresso di gelasnya sudah habis.

“Emm… gue hargai keberanian lo buat datang malam ini, padahal kita belum saling kenal.”

Yondi akhirnya angkat suara. Dari caranya bersikap, aku jelas melihat bahwa ia sangat berusaha untuk hati-hati, bahkan terkesan kikuk.

“Tapi gue kenal elo kok. Demas banyak cerita soal lo,” aku tersenyum, merasa sedikit takjub ketika bibirku bisa dengan santai dan wajar mengecap nama itu, “dulu.”

“Maksud gue ngajak ketemu malam ini adalah…..” Yondi menatapku lekat, sambil berusaha melanjutkan kalimatnya. “…demi Demas.”

Ia hanya ingin memastikan bahwa aku akan baik-baik saja ketika ia atau siapapun menyebutkan nama itu di hadapanku. Saat itu memang aku baik-baik saja. Demas hanyalah sebuah nama, sama seperti Yondi, Hesti, Agus, Budi, atau Ani, entah siapa mereka aku hanya asal sebut. Aku baik-baik saja dan Yondi seperti tidak percaya bahwa aku sudah baik-baik saja.

Selalu ada jeda cukup panjang ketika Yondi akan mulai bicara. Di saat itu aku selalu mengisi waktu dengan memutar sedotan di segelas Iced Matcha yang sebenarnya tak perlu diaduk. Hanya untuk mencari kesibukan atau membuat Yondi lebih rileks dengan tidak menatapnya sebagai aksi dari menunggu kata-katanya yang tak kunjung meluncur.

“Gue bingung harus mulai dari mana.” aku Yondi kemudian.

“Elo nggak perlu cerita kalau memang nggak bisa, anyway.”

Nope. Gue harus ceritain ini.”

Okay, then. Langsung ke poinnya juga nggak apa-apa. Just take it easy, gue orangnya santai kok.”

Yondi menarik gulungan baju di lengannya yang sedikit turun. Lalu menghela napas perlahan.

“Gue bener-bener nggak tahu kapan kalian putus. Tiba-tiba muncul notifikasi di facebook kalau Demas jadian sama cewek lain. Jujur, gue shock saat itu.”

Menarik. Yondi sudah lebih santai sekarang.

“Kenapa? Bukannya lo memang biasa jadi tempat curhat dia? Dia nggak pernah cerita soal rencana untuk putusin gue?” tanyaku dengan nada sedatar mungkin. Seolah tidak begitu tertarik dengan pembicaraan ini, meskipun diam-diam aku membatin bahwa akan ada pembicaraan yang seru malam ini dengan Yondi. Seru yang kumaksud adalah sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja tidak pernah kuduga. Bagiku cerita bersama Demas hanyalah bagian dari kenangan yang pernah mewarnai hari-hariku, sama seperti kenangan-kenangan lainnya. Tidak ada bumbu-bumbu perasaan yang bagaimana saat kisah itu harus tergali kembali. Atau kasarnya, bagiku Demas sudah lama mati dan mengharapkannya menjadi milikku lagi adalah menyalahi kehendak Tuhan.

“Nggak pernah. Gue shock karena tau-tau dia jadian dengan orang lain. Secepat itu.”

Aku tertawa.

Say thanks to his bae dong. Kalau nggak karena ceweknya nge-tag di FB, elo mungkin nggak bakal tahu kalau dia udah putus sama gue dan jadian sama cewek itu.”

Yondi tidak terlihat sama sekali ingin tertawa. Jelas ia bisa menerjemahkan tawaku adalah sebuah sarkasme yang tak lucu. Humor yang tak berguyon. Ia mengangguk setuju, Yondi adalah teman Demas sejak kecil. Tentu ia tahu bagaimana seorang Demas selalu menjaga hal privasinya terlebih lagi di sosial media. Menulis status hubungan di facebook adalah salah satu contoh keajaiban yang seperti tidak akan pernah mungkin dilakukannya.

“Permasalahannya, dia jadian dengan cewek itu setelah putus sama lo atau sebelum.”

Kali ini aku hanya tersenyum.

“Elo yang lebih kenal siapa Demas.”

“Udah gue duga.” Yondi menghempaskan pundaknya ke sofa. Satu tahun lalu saat aku dan Demas sering berkunjung ke kafe ini sepulang kuliah ia sangat senang duduk di situ. Tapi dulu belum sofa, masih kursi dengan bantalan busa yang empuk meski tegak. Bantalan busa itu ditutup tenun berwarna merah dan stripe kuning.

“Udah? Itu aja?” maksudku, apakah hanya itu yang ingin ditanyakan Yondi dari pertemuan malam ini denganku. Namun Yondi langsung menggeleng dan duduk tegak kembali.

“Bukan. Ada yang lebih penting yang mau gue omongin.”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar memasang tampang menunggu.

“Beberapa hari lalu Demas kirim SMS ke gue, pakai nomor baru.”

Aku tidak tahu kalau Demas ganti nomor dan memang tidak perlu tahu. Apakah ia ganti nomor untuk mencegah aku menghubungi dia? Siapa bilang aku mau menghubunginya?

“Dia nyuruh gue ke rumahnya. Terus terang, kita memang udah lama banget nggak pernah ketemu. Terakhir waktu lo mau wisuda, gue nemenin dia ke florist.”

Aku memutar bola mata, “Kalian udah nggak ketemu seteahun?”

Yondi mengangguk. Selanjutnya ia bercerita bahwa Demas merasa tertekan menjalin hubungan dengan pacarnya saat ini. Saat Yondi menceritakan bahwa HP Demas disita oleh pacarnya sungguh aku ingin tertawa. Namun wajah Yondi sangat serius dan iba, aku urung untuk mengajaknya bercanda.

Jika ada istilah untuk yang lebih parah dari over-protektif, istilah itu akan sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana sikap (sebut saja Mawar, aku lupa namanya dan tidak mau ingat) Mawar kepada Demas. Yondi mengatakan demikian. Bahkan kata yang keluar dari mulut Yondi saat itu adalah “freak“. Pacarnya Demas adalah seorang freak.

Pertemuan gue malam itu dengan Demas berakhir dengan lesu. Gue nggak yakin Demas nangis depan gue karena itu anak paling anti mengeluarkan air mata. Tapi gue kenal siapa Demas.”

Aku yakin tidak salah dengar, saat Yondi mengatakan,

“Demas bilang, gue kangen Alya. Demas kangen elo, Al.”

 Sehalus mungkin aku berusaha menahan untuk tidak terkejut. After all this time dan semua yang sudah dia lakukan kepadaku, sekarang dia dengan mudahnya mengumbar rindu?

“Gue rasa bukan karena ceweknya begitu lalu dia membandingkannya dengan lo dan akhirnya merasa menyesal,” gelas kedua Yondi diantar waitress, “tapi ya itu bisa jadi salah satu faktornya.”

Kedua mataku menatap tajam kepada Yondi, menunggu ia mengklarifikasi kalimatnya.

“Maksud gue, ketika dia meninggalkan lo dan memilih cewek itu pasti dia berekspektasi bahwa cewek itu adalah sosok yang lebih baik atau lebih cocok buat masa depannya, bukan? Nyatanya, enggak sama sekali. Demas patut menyesal buat itu.”

Tidak ada kata yang benar-benar ingin aku ungkapkan. Jauh di dalam hatiku ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Setahun berlalu semenjak aku memantapkan hati untuk membuang jauh-jauh semua memori tentang Demas ternyata tidak menjadi jaminan bahwa semua sudah selesai. Perasaanku belum selesai.

“Gue nggak tahu apakah lo udah punya pacar lagi atau bahkan udah tunangan. Sebelum gue ngajak lo ketemu malam ini gue berusaha cari informasi, setidaknya lo belum menikah. Gue nggak mau jadi perusak rumah tangga orang.”

Semakin Yondi menceritakan tentang inti dari pertemuan ini justru aku merasa semakin tidak ada gunanya. Harus kukemanakan harga diriku untuk seorang Demas yang tidak tahu malu? Namun ada yang berkata lain. Ada suara kecil yang muncul dari benakku yang mengulang-ulang nama itu dan menarik seluruh emosi dan memori besertanya.

Semua orang menuduh kalau status kesendirianku ini adalah karena masih ada nama Demas baik di hati maupun pikiranku. Aku tidak pernah mau menanggapinya serius, karena tuduhan itu bisa jadi benar adanya. Seperti candu, kesalahan Demas yang seberat apapun selalu termaafkan bagiku. Dan aku membayangkan betapa hancurnya ia kini, setelah kehilangan pekerjaan dan usaha yang bangkrut karena terlalu banyak menuruti keinginan Mawar yang bukannya membantu untuk lebih maju malah mempersulit keadaan. Aku kenal bagaimana Demas. Aku tahu dengan baik apa saja yang harus kulakukan saat Demas menghadapi masa-masa sulitnya.

“Demas butuh lo, Al. Please maafin dan kasih dia kesempatan.”

Demas pernah berkata, bahwa bersamaku dia menjadi berani untuk bermimpi banyak hal, karena semua mimpi-mimpi itu terasa realis dan mungkin untuk dicapai. Orang-orang terdekatnya juga tidak segan memujiku karena merasa Demas mengalami banyak perubahan sikap maupun habit ke arah yang lebih baik. Dari hal terkecil sekalipun, yaitu penampilan. Berpasangan dengan Demas benar-benar memunculkan sifat keibuanku. Bahkan untuk urusan baju saja ia memintaku untuk menyetrika. Mamanya berkali-kali melarangku untuk tidak terlalu melayani kemanjaan Demas. Setiap Demas dimarahi mamanya soal itu aku malah tertawa, sebab aku melakukan apapun untuk Demas dengan sama sekali tidak merasa terbebani.

Membayangkan Demas hancur membuat aku ikut hancur. Yang muncul adalah rasa kesal karena bersama gadis itu justru Demas menjadi berantakan. Jika Demas menjadi lebih baik bersamanya daripada denganku tentu saja aku ikhlas.

“Demas nggak tau kalau kita ketemuan malam ini. Tapi gue yakin dia akan cari tahu tentang lo.”
Itu kalimat penutup dari Yondi sebelum dia berpamitan. Ia sukses membuatku kacau malam ini. Yondi berhasil menguak rindu yang selama dua belas bulan lamanya telah kuabaikan. Ia juga berhasil membuat aku berharap muncul notifikasi dari Demas di ponselku.

Anganku melaju. Membayangkan kami akan duduk bersama lagi di Getback Coffee.

Typicali Coffee; Rooftop Cafe di Bekasi

“Di deket rumah ada tempat ngopi baru. Kamis sore sibuk?”

Notifikasi dari Riski, teman main sejak SMP, muncul.

Hmm…kalau diajak ke warung kopi mana bisa nolak? Ketika dipikir-pikir, saya pun belum pernah bertualang ke warung kopi di daerah Bekasi. Maka, sebuah balasan “oke” menjadi jawaban yang saya kirim.

Interior di lantai 1
Add caption

Tempat yang dimaksud bernama Typicali Coffee. Lokasi tepatnya adalah di Jalan Ujung Aspal. Bukan hanya halaman parkirnya yang cukup luas, tetapi juga ruangan di dalamnya. Sudah dapat terlihat dari luar karena dinding kafe adalah terbuat dari kaca. Typicali Coffee mengusung warna yang sama dengan coffee shop pada umumnya. Warna hitam yang merepresentasikan kopi dan kesederhanaan selalu menjadi pilihan tepat bagi cat dinding sebuah coffee shop. Namun yang saya sukai dari Typicali Coffee bukan hanya itu, melainkan konsep berbeda pada setiap lantai yang dimilikinya. Typicali Coffee memiliki tiga lantai, lantai pertama dengan konsep dinding hitam dengan paduan susunan bata merah dan furniture yang terbuat dari kayu juga tong-tong yang dicat hitam doff.

Pada lantai dua dekorasi memiliki konsep hitam-putih dengan hiasan quotations dalam bingkai-bingkai sederhana di dinding. Bertentangan dengan lantai satu, konsep interior di lantai ini cukup manis dan sangat cocok untuk acara gathering karena lighting yang sangat bagus untuk berfoto.

Interior lantai 2

Lantai terakhir adalah lantai tiga, lantai yang mungkin paling menjadi incaran para pengunjung. Ialah konsep kafe di atap terbuka, alias rooftop. Pijar lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di sekeliling menambah cantik suasana rooftop di malam hari. Bila di sore hari, akan terlihat pemandangan gunung (entah gunung apa) di kejauhan, sehingga membuat view menjadi indah. Suasana yang romantis, sejuk, juga harum. Saya katakan harum karena letaknya dekat dengan dapur. Aroma masakan sang chef tentu saja akan terbang ke penjuru rooftop. Dapur Typicali Coffee berada di lantai ini, berbeda dengan coffee bar yang terletak di lantai dasar langsung di hadapan pengunjung. Meskipun begitu, dapur yang terletak di rooftop tersebut terbilang cukup rapi dan menarik untuk ditengok, itu mungkin alasan sang pemilik membiarkannya mudah dilihat oleh pengunjung. Masih di lantai yang sama tepatnya di sebelah dapur tersebut terdapat musolah yang bersih dan luas. Perfect!

Interior lantai 3

Selesai mendeskripsikan soal interior (i just can’t help myself. Interior semua lantai sangat saya suka), sekarang waktunya membahas soal kopi. Seperti biasa, mata saya mengembara ke lembar menu card dan mencari signature coffee dari Typicali. Yang saya temukan bukan jenis kopi hitam, melainkan berhenti pada tulisan Red Velvet Coffee, Taro Coffee. Riski yang bukan seorang pecandu kopi mempersilakan saya untuk memesankan dia minuman yang saya ingin. Oke, maka saya pesan kedua nama di menu tadi. Lidah saya sudah tidak sabar menerka-nerka seperti apa red velvet yang terhidang di sebuah cangkir kopi versi Typicali.

Taro Coffee – Red Velvet Coffee

Tidak berapa lama kedua cangkir berwarna sesuai dengan si warna kopi diantar ke atas meja tong di depan kami. Rasanya? Saya lebih suka Taro Coffee milik Riski. Rasanya manis dan saking manisnya sampai tidak terasa kandungan kopi di dalamnya. Temperatur kopinya juga menurut saya kurang panas, sehingga mengurangi kenikmatan kopi tersebut. Namun saya akan memesan menu yang sama bila datang lagi ke kafe ini.

Soal harga? Terbilang cukup mahal bagi kami yang notabene-nya adalah anak kost. Percakapan yang tercipta antara saya dan Riski saat itu adalah, “harganya sesuai dengan betapa megah ruangannya ya?”. Bisa jadi. You know what i meant.

Untuk pelayanannnya? Saya akan berikan dua bintang dari lima. Sebagai informasi, review kali ini adalah karena atas inisiatif saya pribadi (karena saya terlalu suka dengan konsep Typicali), bukan atas permintaan pihak kafe seperti biasanya. Namun seseorang yang tidak berseragam karyawan (yang direkomendasikan oleh staf untuk saya tanya) di Typicali Coffee tidak menyambut keramahan dan niat baik saya saat meminta ijin untuk foto dan membuat review yang sebenarnya adalah menguntungkan bagi promosi kafe tersebut. Ketidakramahan itu yang sangat saya sayangkan. Seperti yang kita ketahui kini, kopi adalah kebutuhan sehari-hari kebanyakan orang saat ini. Intensitas pengunjung ke warung kopi terbilang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari. Dan pelayanan yang ramah dapat menjadi alasan utama yang menciptakan rasa nyaman seperti di rumah sendiri, agar pengunjung mau datang sesering mungkin bahkan setiap hari menjadi pelanggan loyal. Sense “berada di rumah sendiri” tidak saya dapatkan dari kunjungan saya ke Typicali Coffee. Hasil foto dan video yang saya ambilpun tidak maksimal, saya merasa agak sangsi mau ambil gambar banyak-banyak. Apakah foto-foto di Typicali Coffee dilarang? Entahlah. Terlepas dari kejadian itu, saya akui Typicali Coffee memiliki interior unik dan keren. Apalagi rooftop-nya. 

Selamat mampir ke Typicali Coffee!
Typicali Coffee
Jl. Raya Hankam No.384
Ujung Aspal, Pondok Gede
Open hour: Everyday 09.00 am – 12.00 pm
instagram: @typicalicoffee

Meramal Nasib di Klenteng Tjo Soe Kong

Sebagai seorang muslim, saya merasa perlu untuk mempelajari agama lain yang ada khususnya di Indonesia, tidak hanya mempelajari tentang Islam saja. Tidak pernah ada kata sia-sia untuk memperluas wawasan dan membuka pikiran. Bagi saya, semakin kita mempelajari tentang agama lain akan membuat kita semakin mengenal diri kita dan akan bertambah pula keislaman kita. Saya begitu bangga dan bahagia dengan adanya keberagaman agama di Indonesia. Saya sangat senang berkunjung ke tempat ibadah orang lain. Salah satu tempat ibadah yang baru-baru ini saya kunjungi adalah sebuah vihara yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai relief dewa berjajar di dinding yang sangat menarik karena baru saja direnovasi

Klenteng Tjo Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Tidak hanya untuk beribadah, klenteng ini juga kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun asing untuk berwisata. Biasanya pemandu akan dengan sangat senang hati mendatangi wisatawan yang berkunjung dan menjelasksan sejarah maupun ornamen yang ada di klenteng. Nama Klenteng Tjo Soe Kong diambil dari nama seorang tabib yang hidup pada masa Dinasti Song, yang berasal dari Propinsi Hokkian. Sang tabib dikenal dengan sifatnya yang murah menolong masyarakat sekitar tanpa meminta imbalan apapun. Oleh karena itu, saat sang tabib wafat para masyarakat di Kecamatan Mauk berinisiatif untuk membangun sebuah klenteng sebagai sebuah klenteng sebagai sebuah persembahan dan untuk mengenang kebaikan tabib Tjo Soe Kong.

Sejarah selanjutnya dari vihara Tjo Soe Kong adalah terjadinya peristiwa besar pada tahun 1883. Meletusnya Gunung Krakatau menimbulkan potensi Tsunami yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Banten dan Sumatera, bahkan beberapa pulau di sekitar Krakatau menjadi lenyap. Mengutip dari http://www.djurnal.com bahwa peristiwa Tsunami tersebut merupakan salah satu yang terparah di dunia.

“Bencana tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.”

 

Klenteng ini luas sekali

Tjo Soe Kong merupakan saksi bisu sekaligus keajaiban pada peristiwa tsunami di Selat Sunda masa itu, karena meskipun letaknya di bibir pantai bangunannya tetap kokoh berdiri diterjang Tsunami, sementara sekitarnya hancur lebur. Latar belakang sejarah ini adalah salah satu alasan yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Tjo Soe Kong.

Namun itu baru salah satunya, karena ada hal lain lagi yang sangat menarik bagi saya dari kunjungan ke klenteng Tjo Soe Kong, ialah meramal nasib. Saya tidak pernah percaya ramalan, tetapi sangat penasaran ingin mengetahui tata cara meramal di Tjo Soe Kong dan penasaran dengan jawaban yang akan keluar dalam bentuk kertas. Tata cara meramalnya adalah seperti ini, pengunjung harus memperkenalkan diri di dalam hati dari mulai nama, usia, dan mengutarakan permohonannya. Lalu melempar dua batu pipih setengah lingkaran yang ringan. Kondisi batu itu harus sama-sama terbuka atau tertutup, yang artinya permohonan disetujui oleh Dewa dan Dewa mau menjawab permohonan tersebut. Namun bila kedua batu memiliki posisi tidak sama, maka permohonan harus diganti.

 

Veronita sedang menggoyangkan silinder bambu berisi batang bambu pipih yang memiliki nomor-nomor

 

Saya ingat betul dengan permohonan yang saya cetuskan dalam hati. Namun setelah dilempar batu berlawanan posisi hingga tiga kali, kebetulan bapak pemandu saya saat itu adalah orang yang lucu dan menyenangkan. Menurut beliau, permohonan saya sepele dan atau seperti main-main, sehingga ditertawakan oleh Dewa, oleh sebab itu harus diganti. Akhirnya, saya ganti pertanyaannya dengan yang sangat berat, berkaitan dengan masa depan saya. Ajaib! Batu itu mengeluarkan posisi yang sama langsung di kali pertama saya melemparnya. Setelah itu pengunjung harus menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi batang-batang bambu pipih yang sudah bertuliskan nomor-nomor. Satu batang bambu pipih yang keluar kemudian akan ditukar dengan kertas sesuai dengan nomor yang ada di batang bambu tadi. Kertas tersebut bertuliskan jawaban ramalan yang terdiri dari deretan kata-kata berbahasa tinggi menyerupai sajak, bisa positif ataupun negatif.

Hal ini tentu menjadi sangat menarik, karena akan muncul jawaban-jawaban yang mungkin saja di luar ekspektasi pengunjung. Salah satu teman perempuan saya menanyakan tentang masa depan percintaannya ketika diramal, ternyata kesimpulan dari jawaban yang ia dapatkan adalah bahwa suatu saat nanti ia akan ditemukan dengan bannyak pilihan dan memiliki potensi poliandri. Kami semua sontak menakut-nakuti sambil bergurau, karena menurut kami sebuah ramalan adalah tindakan untuk mengantisipasi masa depan, bukan sebuah kutukan yang harus kita terima mentah-mentah dan bukan juga sebuah takdir yang hanya bisa kita ratapi dengan pasrah. Semua kembali ke individu masing-masing. Bila terjadi kesamaan antara fakta di masa depan dengan hasil ramalan di masa lalu, bisa jadi orang tersebut tersugesti yang menguasai alam bawah sadar, sehingga ramalan itu menjadi kenyataan.

 

Akan ada seorang “penjaga” yang akan membantumu menerjemahkan ramalan nasib yang muncul

 

 

Terlepas dari percaya atau tidak, tidak ada salahnya dicoba karena jawaban dari ramalan di kertas tersebut sangat indah dan sulit dimengerti. Saya senang sekali membacanya berulang-ulang, karena terdengar mirip syair seperti di Timur Tengah. Ramalan ini mungkin bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke klenteng Tjo Soe Kong, karena jumlah pengunjung Tjoe Soe Kong makin berkurang tiap tahunnya. Saya sangat senang pernah berkunjung ke sana dan sangat ingin kembali untuk mengutarakan lagi pertanyaan-pertanyaan saya tentang apapun. Yuk, kunjungi klenteng Tjo Soe Kong, Tangerang!

 

How to get there:
– dari Stasiun Tangerang naik angkot R04 Psar Anyar – Sewan atau angkot R05 Psar Anyar – Jurumudi / Pasar Anyar – Cikokol, turun di Pintu Air
– sambung elf jurusan Pintu Air – Kampung Melayu. Turun di pasar Kampung Melayu, Teluk Naga
– sambung naik angkot jurusan Kampung Melayu – Pakuhaji – Tanjung Kait. Turun di Tanjung Kait
 
Salam, 
Hijabtraveller

Lovely Dori Dabu-Dabu

Bagi saya, selain untuk berbagi, life is also about networking. Dengan mengikuti organisasi, komunitas, atau aktivitas apapun di luar akademis kita dapat meningkatkan branding diri sendiri juga menambah kenalan. Siapa sangka kemarin siang saya bisa duduk bersama seorang profesional HR manager, hanya untuk chit-chat semata. She is…. Citra Aulia a.k.a Kak Oli a.k.a Bunda Oli. Kami akan bertemu di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan. Tepatnya di sebuah resto bernama Incognito. Resto ini sudah ada di mana-mana, tetapi saya belum pernah mencicipi seperti apa makanannya. Enaknya jadi saya adalah sering kali saya yang ngajak orang untuk ketemuan, tapi ujung-ujungnya malah saya yang ditraktir. Tentu saja saya diperbolehkan makan sepuasnya. Huwa… I love eating!

Dori Dabu-Dabu ala Incognito

Wait…kenapa Incognito? Ternyata Kak Oli hampir setiap hari saat istirahat kantor makan di resto ini, karena menurutnya semua pilihan makanan di sini enak-enak dan memliki cita rasa yang konsisten. Makanan favoritnya adalah Dori Dabu-dabu. Pernah suatu kali lidahnya menangkap ada yang janggal dengan fillet tepung pada pesanan Dori Dabu-dabu-nya. Ia lantas memanggil waitress dan bertanya, “Tepungnya diganti ya?”

“Ibu tahu aja?!” sang waitress terbelalak takjub. Mungkin yang ada di pikirannya, kalau saja ada penghargaan untuk pengunjung terloyal Incognito mungkin Ibu Citra Aulia ini akan menjadi juaranya he..he..

Semua komponen dari Dori Dabu-dabu dari Incongnito saya akui memang enak. Dari mulai sayur, yaitu campuran tumis kangkung dan brokoli, fillet ayam yang matangnya pas dan renyah, sambal bawang di atas kerupuk pangsit, hingga nasi yang dimasak tidak terlalu lembek dan porsi cukup. Menu satu ini memang rekomen!

Iced Coffee Jelly

Untuk hidangan minumnya juga tidak diragukan lagi. Bukan hanya makanan yang membuat Kak Oli betah makan di sini, tetapi juga dari hidangan minumannya. Incognito memiliki Iced Coffee Jelly pada menunya. Sebagai pecinta kopi yang sehari bisa ngopi hingga tiga kali tentu menu ini menjadi andalan beliau. Saya pun ikut mencicipi. Rasanya memang benar enak. Cocok untuk menjadi teman menyantap main course. Yummy!

Fruit Salad
Ups….. saking enaknya baru ingat foto pas sudah habis

Saya lupa memberitahu, bahwa sebelum makan Dori Dabu-Dabu kami lebih dulu menikmati Fruit Salad. Porsinya banyak, sehingga cukup untuk 2-3 orang. Buahnya pun memiliki komposisi yang pas dan sangat segar. Bersamaan dengan itu Kak Oli juga memesan menu di bawah ini sebagai camilan. Jadi, sudah terbayang berapa macam makanan yang sudah kami makan? Belum, kami masih belum puas karena belum memesan dessert hi..hi…

Enaaaaaaaa

Harga makanan Incognito yang dipatok bagi saya sangat sesuai dengan rasa dan pelayanan resto. Untuk satu porsi makanan range harganya adalah Rp.50.000-65.000. Well, thank you, Kak Oli, sudah memperkenalkanku betapa lezatnya Incognito. Jangan lupa makan di Incognito jika mampir ke Gandaria City, ya!

GMB: A Place We Called Home

Apa sebenarnya bagian yang paling penting pada organ tubuh manusia?

Acara tahunan Gerakan Mari Berbagi, yaitu Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2016 telah sukses terselenggara. 48 peserta resmi dinobatkan menjadi Pemuka Pemuda Indonesia dan menjadi bagian dari keluarga GMB http://www.g-mb.org/. YA & YLF 2016 bukan hanya acara yang ditunggu-tunggu oleh para peserta semenjak mereka lolos seleksi tahap akhir, tetapi juga ajang yang sangat dinanti oleh para alumni karena ini adalah momen yang tepat entah untuk berkumpul kembali setelah setahun tidak bertemu atau juga untuk mengenang ketika menjadi peserta.Baru beberapa hari berlalu beranda Facebook saya ramai dengan tulisan para peserta tentang betapa GMB memberikan pengalaman baru dalam hidup mereka, maka melalui postingan ini saya juga ingin bertutur kisah tentang bagaimana GMB memberikan rasa nyaman yang membuat kami selalu pulang kepadanya, karena GMB merupakan rumah kedua bagi kami dan tak jarang juga GMB merupakan keluarga pertama bagi beberapa di antara kami sebagai pengganti yang tidak ada.

Saya ingat seperti apa Naya yang dulu, dua tahun lalu, sebelum bertemu dengan keluarga Gerakan Mari Berbagi. Sebagai seorang yang supel dan talk active banyak orang yang tidak percaya bahwa saya memiliki sifat introvert yang cukup kuat. Saya memiliki kesulitan untuk bersikap terbuka, terlebih dalam mengungkapkan isi hati. Saya selalu merasa kesulitan untuk percaya. Biasanya semua hal tersebut akan berakhir dengan diam dan saya pendam sendiri.

Namun dengan GMB semua berbeda. Dua hari lalu pada rapat evaluasi setelah para peserta YA & YLF 2016 dipulangkan, semua panitia (dengan sisa-sisa tenaga di dalam tubuh dan kantuk yang bertubi-tubi) duduk melingkar di atas panggung. Para volunteer diberikan kesempatan untuk memberi apresiasi kepada satu sama lain dan bahkan mengungkapkan uneg-uneg yang dirasakannya selama mengurus acara YA & YLF 2016. Saya? Memulai kalimat dengan isak. Saya menangis hanya karena sebuah hal yang sepele. Sesuatu yang menurut saya janggal selama pelaksanaan YA & YLF 2016. Yang saking sepelenya setelah mengutarakan segalanya saya sampai ingin menghakimi diri saya sendiri, mengapa barusan saya harus menangis?! Saat itu saya memiliki keinginan untuk bertanya kepada diri sendiri apakah saya terlalu berlebihan dan kalimat barusan sebenarnya tak perlu saya ungkapkan. Namun rasa nyaman yang saya percayakan kepada GMB membuat saya tidak ingin ada sedikit pun kecacatan pada kenyamanan itu. Saya merasa segala masalah (sekecil apapun) dapat terselesaikan di keluarga ini karena ini adalah rumah bagi kami. Hari itu juga masalah saya terselesaikan, ditandai dengan sebuah hadiah peluk haru yang menenangkan. Hanya di GMB, saya berani mengungkapkan apa yang saya pikirkan dengan begitu lepas dan bahkan dengan menyertakan emosi di dalamnya. Rasanya begitu melegakan. GMB membuat kami menjadi orang yang jujur, terlebih pada diri sendiri.

Keterbukaan itu rupanya tak hanya dirasakan oleh saya seorang. Satu per satu alumni kemudian turut angkat suara. Mereka tak segan mengungkapkan perasaan mereka kepada siapa saja di keluarga ini. Entah rasa senang atau sedih. Entah pula kata maaf atau terima kasih. Dan dengan caranya sendiri-sendiri. Sederhana, karena kami merasa akan selalu diterima seperti apapun keadaan kami. Di keluarga ini siapapun sangat tidak dibenarkan untuk berpikiran negatif bahkan meski hanya di dalam pikirannya sendiri. Tidak boleh ada yang merendahkan dan membicarakan keburukan orang lain, tidak boleh tidak menerima perbedaan, tidak boleh tidak berubah menjadi lebih baik. Keluarga ini adalah sumber energi positif bagi siapa saja. Sering kali tanggung jawab yang diamanahkan kepada kami membuat kami menghindar dan menghilang bak ditelan bumi. Masing-masing kami pernah ada di fase itu. Fase di mana kami merasa jenuh, lelah, dan lemah motivasi. Pada akhirnya setelah itu kami akan menyesalinya, begitu menyesal tidak mengakui bahwa GMB adalah rumah bermagnet yang akan selalu membuat kami kembali dengan cara yang tak kami sadari dan di luar kehendak kami. Menjauhnya kami adalah disebabkan oleh asumsi-asumsi pribadi yang tidak beralasan. Sebenarnya, tidak pernah ada GMBers yang menjauhi atau menyudutkan seorang alumni yang tetiba pulang setelah menghilang sekian lamanya. Siapapun akan kami sambut dengan hangat. Tidak ada yang akan menyalahkan, melalui rasa sungkan tersebut sebenarnya ia sedang menyalahkan dirinya sendiri dengan mengasingkan diri.

Saya merasa tidak menyesal telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk pelaksanaan YA & YLF 2016 meski tanpa dibayar. Begitu pula alumni yang lainnya, terlebih lagi board member. Sudah menghabiskan jatah cuti di kantor, membolos sesi kuliah, bahkan mengurangi jam istirahat. Kami bangun sebelum peserta membuka mata dan kami masih terjaga saat para peserta tengah terlelap me-recharge tenaga. Keluarga ini makin kuat dengan bertambahnya anggota baru di setiap tahunnya. Keluarga ini makin hebat dengan lahirnya pemuda-pemuda tangguh yang berintegritas, seperti Ivan, sang ketua acara yang juga terpaksa merangkap menjadi bendahara. Saya merasa bangga terhadap semua panitia YA & YLF 2016. Begitu bangga dan bahagia melihat para GMBers tumbuh semakin hebat dan luar biasa.

Bagi saya, definisi keluarga atau sahabat tidak semudah ketika bibir yang mengucapkannya. Maknanya jauh lebih dalam dari itu. Pemahaman itu hanya dapat dirasakan dengan adanya chemistry yang kuat dan tidak terlihat oleh mata. Dan chemistry itu sangat jelas ada di antara kami para GMBers dan mengikat antara satu dengan yang lain tanpa keterpaksaan. Bagi yang bukan keluarga sudah bisa dipastikan mereka tidak akan turut merasa berduka ketika melihat saya menangis, tetapi mungkin malah menganggap saya remeh dan sikap negatif lainnya. Nyatanya? Tidak. Keluarga sudah pasti akan memikul beban bersama dan melindungi rahasia sesama. Dan para GMBers amat saling menjaga pribadi satu dan yang lainnya.

Ini pesan sederhana untuk para GMBers yang baru saja menyelesaikan YA & YLF 2016. GMB adalah rumah yang akan melindungi, menumbuhkembangkan, mendukung apapun dan bagaimanapun kalian. Ingat kah yang dikatakan Bang Az inisiator GMB kala kita akan berpisah seusai acara? Apa bagian tubuh yang paling penting dari organ manusia? Ialah bahu. Pulanglah ketika kalian butuh bahu untuk bersandar.

 

Saya selalu senang melihat foto ini. Keceriaannya tidak dibuat-buat, seperti foto di studio dengan skenario.

Selamat datang para GMBer 2016. Sejauh apapun kalian melangkah nantinya, akan selalu ada kami, rumah untuk kalian kembali.