Tanpa Judul

Sudah dua minggu ini hujan menyelimuti langit, tetapi tidak pernah sekalipun menampakkan utas pelangi. Langit sekalipun enggan memberiku alasan untuk bisa tersenyum. Di sana hanya ada duka dan kebencian yang akhir-akhir ini marak meramaikan negara. Aku benci dihujani air mata mereka yang tercipta karena cakar mereka sendiri. Hujan air mata yang berdarah-darah. Yang kerap mereka banggakan atas nama agama.

Ayah, aku curiga tentang alasan kepergianmu adalah untuk menjumpa kedamaian dan menghindar dari nyata yang makin hari membuatku mual dan pening. Damai kah di sana, Ayah? Harus kah pula aku menjumpanya? Aku begitu paham tentang pemahamanmu bahwa aku mampu melindungi diriku sendiri. Namun, Ayah, boleh kah sekali ini aku mengaku lelah. Orang-orang beragama di luar sana kerap membuatku takut. Damai yang dijanjikan tidak kutemukan di mata mereka, yang ada hanya kebencian yang tersulut mengapi-api. Di mana dapat kutemukan refleksi cinta kasih yang diwariskan para pendahulu. Nyatanya, egoisme dan emosi selalu lebih memenangkan diri mereka. Tidak ada kedamaian bisa kudapatkan selain dekapmu yang nyaman. Dan kau salah besar dengan menganggapku gadis dewasa yang cerdas dan akan tumbuh baik-baik saja. Sebab dunia selalu lebih cerdas lagi dalam membuatku bodoh.

Terasa aneh membayangkan betapa banyak waktu dan uang mereka punya dan dihabiskan untuk hal yang benar menurut mereka. Dengan cara yang benar menurut mereka. Kau harus dengar dengan baik, Ayah. Aku berjuang hidup dan mati untuk bertahan hidup. Namun Tuhan selalu punya cara untuk menunda pertemuan kita. Aku harus lebih bersabar menahan rindu akan kedamaian. Mungkin Tuhan bermaksud menjadikanku pahlawan dan mengambil andil untuk semua kekacauan. Energi dan napasku sudah berkali-kali hampir habis, dan kutenggak karbon dioksidaku sendiri, yang terkadang membuatku tersedak dan yang termuntahkan hanya luka yang makin menganga kasat atau pun nyata. Para pandai agama di luar sana masih meneriakkan jihad fi sabilillah versi mereka, dan di sini ada saudara mereka yang hampir mati tak terpedulikan. Bila mereka benci dengan kata toleransi untuk keimanan lain, lantas apa yang sudah mereka lakukan untuk toleransi pada sesamanya? Tidak ada, Ayah. Aku tak minta dikasihani, tapi ketidak acuhan mereka malah membuatku berpikir mereka perlu dikasihani.

Aku melangkah, Ayah. Aku tak punya pilihan lain selain terus melangkah dalam penderitaan panjang seperti dongeng malam yang berperankan nenek sihir dalam balutan busana Cinderella. Menjanjikan happy ending di pukul 12 malam yang entah kapan harinya. Itu sebabnya aku tak pernah tidur menjelang tengah malam. Bersiap akan datang bahagia dan damai menjemputku di pergantian hari.

Saat ini kepalaku terasa sakit, Ayah. Perutku kosong, lebih kosong isi hati para pandai agama itu memang. Itu yang membuatku bertahan. Merasa perlu ada orang waras di dunia karena jumlahnya semakin langka saja. Tidak ada yang salah dengan memperjuangkan agama mereka, yang jelas salah adalah cara mereka. Sebagai cendekiawan, mereka seharusnya malu. Oh, mana mungkin cendekiawan bersikap demikian? Peduli apa karena mereka tak memberiku makan. Dan sekarang aku benar-benar kelaparan

Kau tak perlu merasa berhutang pada siapa-siapa atasku, Ayah. Sebab siapa-siapa tak berjasa apa-apa. Mereka sedang memperjuangkan agama mereka dengan cara yang menurut mereka benar. Biar aku memperjuangkan agamaku dengan cara yang menurutku benar. Yang tak memakai kekerasan dan sikap buruk lainnya. Kau pernah bilang, agama kita tak mengajarkan hal itu.

 

Aku rindu damai di pelukmu, Ayah. Kapan aku bisa kembali merasakannya? Menunggu tangisku jadi samudera?

 

 

Tertanda,

 

Amira.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s