Racau Pagi

Aku tak ingin membicarakan apa-apa yang ku tak ingin. Namun segalanya menjadi harus karena waktu berputar dan rasa makin terasah. Sementara aku masih bergetar membayangkan tubuhmu dijamah orang lain. Lebih luka lagi bila binar matamu terpancar sepaket dengan itu. Seharusnya senyumku yang melekat di bibirmu, juga dahiku yang rekat di punggung tanganmu sebagai bentuk lain dari sujud-sujud panjangku.

Aku mengaduh tiada sampai ke telingamu. Satu tahun rupanya masih belum cukup untuk memberi warna-warni baru di pucat langitku. Terkadang semua seperti tak nyata, tapi sering juga terlihat jelas seperti Dejavu. Ada kah aku tersisip di sela-sela ingatanmu? Pernah kah terlintas kilat mataku di antara tatap mata itu yang bertautan?

Sepagi ini aku meracau apa. Terlalu pagi untuk mengigau. Nampaknya aku harus kembali pergi tidur panjang agar tak terkenang. Sampai nanti saat aku tak lagi melihatmu di mana-mana.

 

di atas kereta Jakarta Kota, 09.18

 

Sajakrasa061216

Padaku, tatap matamu seperti palung dalam yang menjebak tubuhku

Dan barangkali aku mulai memercayai Theoresia Rumthe dalam lirih sajaknya, jarak baik bagi kesehatan jiwa

Namun tidak bagi rinduku
Aku masih mencari-cari
Bagaimana caranya mencinta dengan ketakutan
Ingin kuselami setiap waktu kedua matamu hanya untuk mencari kebenaran
Sungguh aku ingin mencintaimu tanpa kekhawatiran 
Serta segala kesederhanaan rencana Tuhan
Sajakrasa061216
di Atas Kereta Jakarta Kota, 09.04

Hukuman Andalan

Keretaku terlambat. Malam makin larut dan kereta terkutuk itu belum juga muncul. Aku mulai merindukan suara berisik nan mengganggu roda kereta di atas rel panjang berbatu. Seolah masih belum cukup banyak ujian yang kudapati untuk menjumpamu. Kini masinis ikut-ikutan menghukumku dengan memperlambat pertemuan kita. Brengsek. Kau dan semesta ternyata bekerjasama untuk menghukumku.

Tugu Monas berwarna jingga detik ini, beberapa saat lagi akan berganti jadi yang lainnya. Keindahan pemandangan itu tak jua mampu menghibur dan menghilangkan kemelut dalam benakku. Kesal, sesal, dan rindu yang menggebu. Kau hadir di mana-mana, di otakku, mungkin juga di dalam paru, sehingga membuatku sesak. Barangkali juga di dalam lambung, sehingga menyebabkan aku mendadak kenyang dan tak berselera untuk makan. Menahan diri untuk tidak terlebih dulu menyapamu melalui dialogue chat membuat rinduku makin gelisah. Aku benci hanya mampu bercengkrama denganmu di dalam ruang imaji.

Masih harus menempuh waktu kurang lebih setengah hari untuk akhirnya bisa menjumpamu. Kau selalu tahu, aku tak pernah pandai menahan rindu. Kau boleh saja menghukumku karena aku pantas untuk dihukum. Namun jangan dengan cara ini. Melarangku untuk merindu selalu ampuh membuatku jera.

 

Stasiun Gambir, 02 – 12 – 2016