Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

 

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik.

Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada Jingga, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu.

Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu Antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama.

 

Menemukan Pria Idaman di Gunung

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan untuk turut menulis di hipwee.com. Ajakan itu tentu merupakan sebuah kehormatan bagi saya yang pamali untuk ditolak. Saya ingin menulis tentang sesuatu yang bertema travelling namun dikemas ringan. Jadilah sebuah artikel sesuai dengan yang saya amati selama beberapa kali mendaki gunung: Bahwa gunung adalah tempat paling ideal untuk menunjukkan apakah dia adalah pria yang tepat atau bukan. Yang mungkin tidak bermakna sama dengan judul artikel di Hipwee: Cowok Naik Gunung Itu Suami-able Banget. Judul terebut dibuat oleh editor Hipwee. Mungkin agar terlihat fenomenal dan menarik. Namun bagi saya agak berlebihan dan memiliki makna yang berbeda dengan yang saya maksud. Tidak apa-apalah asal bukan isinya yang diubah total, pikir saya.

 

Makin ganteng ya mantan aku kalo lagi naik gunung

 

Pada awalnya, hanya ada tiga poin yang saya buat, namun saya tambah dua lagi karena jenis tulisan Listicle pada Hipwee harus minimal sebanyak 5 poin. Berikut adalah alasannya mengapa paling tepat menilai seorang pria idaman ketika naik gunung:

  1. Jiwa Kepemimpinanya

Jelas, akan terlihat seperti apa dia menyikapi para anggota tim. Jiwa kepimimpinan itu dapat dilihat secara personal, tidak serta merta harus jadi pemimpin regu terlebih dahulu. Yang ditunjuk menjadi ketua regu dan memandu tim belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan daripada yang tidak. Yang  sweeping di belakang juga belum tentu tidak bisa memimpin, siapa tahu justru dia malah lebih mengayomi karena memastikan segalanya aman terkendali.

  1. Sikapnya Memperlakukan Perempuan

Saya memiliki begitu banyak teman laki-laki dan mereka sering memperlakukan saya sama rata, seperti teman laki-laki lainnya. Saya tidak masalah dengan hal ini karena dengan begitu saya merasa mereka mengakui bahwa saya tidak manja dan sama kuatnya dengan mereka. Namun mereka sering kali tidak tahu bahwa diam-diam saya menilai karakter mereka sebagai seorang laki-laki. Saya sangat senang mengamati orang lain khususnya dari hal-hal kecil yang biasanya dianggap tidak penting. Pada artikel di hipwee tersebut saya menjelaskan bahwa hal-hal kecil bagi saya sangat penting dan menentukan hal besar. Seperti misal sensitifitasnya. Sedekat-dekatnya teman laki-laki dengan seorang perempuan, tetap saja kita bisa menilai bagaimana sifat mereka menyikapi hal tersebut. Terlepas dari dia menyimpan perasaan kepada kita atau tidak. Faktor satu ini bagi saya cukup untuk mewakili bagaimana ia memperlakukan ibunya di rumah.

  1. Ibadah yang Dijaganya

Naik gunung itu capek, dingin, susah air, boro-boro deh kuat wudhu mau gerak aja mager. Nah, ada banyak banget emang alasan buat meinggalkan ibadah. Banyak juga yang berpikiran, “Tuhan pasti ngerti kalau kita lagi kesulitan air dan dalam keadaan kotor (literally)” atau “Kita kan musafir, dikasih kemudahan masa’ nggak digunakan.”. Entahlah…. tapi banyak juga yang masih bisa menjaga solatnya kalau mendaki gunung. Jadi, menurut saya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Dan hal-hal semacam itu kerap menjadi pertimbangan besar saya terhadap seseorang. Urusan seseorang dengan Tuhan-Nya memang privasinya. Namun merupakan salah satu kriteria terpenting bagi saya untuk menentukan calon pasangan.

 

Itu lah 3 dari lima artikel listicle yang saya buat di Hipwee. Dua poin lainnya bisa kamu lihat sendiri melalui link di bawah ini. Jika ada ketidaknyambungan antara sub judul dengan artikel, maka itu adalah perbuatan editor Hipwee ya. Huhuhu.

http://www.hipwee.com/list/mencari-pria-idaman-paling-tepat-adalah-di-gunung-ini-5-alasannya/